Menularkan Semangat belajar untuk Berprestasi
Colourful poster titled Data Prestasi Santri T.A 2025–2026 from Pondok Pesantren Daar El-Qolam 3 Kampus Dza ’Izza listing student achievements with accompanying photos of groups—a Pencak Silat team in black uniforms at the bottom, Paskibra in white uniforms, a student in purple graduation attire, marching band/percussion images and a science lab scene—set on a hexagon-patterned background with trophy graphics and a QR code.

Semangat belajar, ketekunan, dan kolaborasi sangat penting dalam mendorong prestasi. Pada umumnya, siswa berprestasi memang memiliki karakteristik semacam ini, bukan hanya mengandalkan bakat.

Lalu, bagaimana upaya untuk menularkan semangat belajar di kalangan santri sehingga budaya belajar tumbuh dan berkembang dengan baik sehingga mendorong prestasi?

Menurut Ustaz Eka Sugandi, Kepala SMAS 2, Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, Semangat belajar tidak lahir secara instan, tetapi tumbuh dari lingkungan yang mendukung dan memaknai belajar sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban.

“Di pesantren, kami berupaya menularkan semangat belajar dengan menanamkan kesadaran bahwa belajar adalah bagian dari ibadah dan proses thalabul ‘ilmi yang bernilai keberkahan. Upaya konkret yang kami lakukan antara lain dengan menciptakan suasana belajar yang positif, aman, dan menyenangkan; mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata santri; serta membangun budaya apresiasi terhadap usaha dan proses belajar, bukan hanya hasil akhir. Dengan demikian, santri merasa dihargai, termotivasi, dan terdorong untuk terus berkembang,” jelas Ustaz Eka saat diwawancara pada Jum’at (2/1/2026).

Dalam hal ini peran guru jelas sangat signifikan untuk menularkan semangat belajar kepada para santri. Menurut Ustaz Eka, Guru memiliki peran yang sangat sentral. Lebih dari sekadar penyampai materi, guru adalah teladan semangat belajar itu sendiri. Ketika guru hadir dengan antusias, persiapan yang matang, sikap terbuka, dan ketulusan dalam membimbing, maka semangat itu akan menular secara alami kepada santri.

“Di pesantren, guru juga berperan sebagai murabbi –pendidik yang membimbing akal, akhlak, dan ruh santri. Guru yang mampu membangun kedekatan emosional, memahami karakter santri, serta memberikan motivasi yang tepat, akan menjadikan proses belajar lebih bermakna dan membekas,” ujarnya.

Ustaz Eka mengungkapkan beberapa program yang terbukti meningkatkan semangat belajar santri antara lain pembelajaran berbasis proyek dan kolaborasi, pemanfaatan media digital dan teknologi pembelajaran, serta kegiatan akademik yang dikemas secara kreatif seperti diskusi tematik, dan presentasi karya. Selain itu, program pendampingan belajar, penguatan literasi, serta kegiatan yang mengintegrasikan nilai keislaman, sains, dan keterampilan abad 21 juga memberikan dampak positif.

“Santri merasa belajar bukan sesuatu yang membosankan, tetapi menantang, relevan, dan menyenangkan,” katanya.

Ustaz Eka menyampaikan pesan kepada orang tua/wali santri agar dapat mendukung semangat belajar anak-anak mereka di pesantren.

“Kami mengajak orang tua/wali santri untuk menjadi mitra utama pesantren dalam mendampingi proses belajar anak. Dukungan orang tua/wali santri tidak selalu harus dalam bentuk akademik, tetapi juga melalui doa, komunikasi yang hangat, serta kepercayaan kepada proses pendidikan yang dijalani anak di pesantren,” ujarnya.

“Orang tua/wali santri diharapkan terus memberikan motivasi, tidak membanding-bandingkan anak secara berlebihan, dan lebih menekankan pada proses serta perkembangan karakter. Dengan sinergi yang baik antara pesantren, guru, dan orang tua/wali santri, insyaAllah semangat belajar santri akan tumbuh kuat dan berkelanjutan,” pungkasnya.