Terima Kasih Orang Baik
Young boy in white clothing seen from behind, cupping his hands and holding brown prayer beads while praying inside a mosque with patterned carpet and arched windows blurred in the background


Sungguh sangat bersyukur kita hidup dikelilingi orang-orang baik: orang tua yang baik, anak-anak yang baik, guru-guru yang baik, sahabat dan teman yang baik, serta tetangga yang baik—singkatnya, lingkungan yang baik. Mereka adalah anugerah yang membuat hidup kita berjalan di atas kebaikan. Sebagai wujud rasa syukur, kita pun berupaya membalas kebaikan mereka sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

Rasulullah saw. mengajarkan betapa pentingnya bersyukur dan membalas kebaikan orang lain. Hal tersebut sebagaimana tertuang dalam sejumlah hadis berikut:


لا يُشكر اللهَ من لا يشكر الناسَ
“Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia.”
(HR. Abu Daud)

من لم يشكر الناس لم يشكر الله
“Barangsiapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi)

من صنع إليكم معروفًا فكافئوه، فإن لم تستطيعوا فادعوا له
“Barangsiapa yang diberi kebaikan kepadamu, maka balaslah. Jika tidak mampu, maka doakanlah dia.”
(HR. Ahmad)

Menurut Ustazah Ina Purwanti, M.Hum., saat diwawancarai pada Kamis (1/1/2026), syukur yang dimaksud dalam hadis-hadis tersebut tidak berhenti pada ucapan lisan, melainkan juga tampak dalam tindakan nyata. Dimensi syukur mencakup pengakuan atas kebaikan yang diterima, rasa senang atas nikmat tersebut, serta perwujudan sikap yang sesuai dengan ungkapan rasa syukur.

“Secara bahasa, syukur itu berarti menampakkan. Jadi, orang yang bersyukur adalah orang yang menampakkan nikmat yang diterima dirinya, baik dengan hati (kesadaran), lisan (pujian), maupun perbuatan—misalnya lebih taat jika hubungannya dengan Allah, atau membalas kebaikan jika hubungannya dengan sesama manusia,” jelasnya.

Ustazah Ina juga mengungkapkan bahwa Allah mengaitkan rasa syukur kepada-Nya dengan rasa syukur kepada manusia, karena manusia sering kali menjadi sebab, perantara, atau media datangnya nikmat Allah.

“Hubungan atau muamalah kita dengan sesama manusia itu bisa jadi merupakan perantara kita mendapat nikmat dan rezeki. Jika kita tidak menghargai manusia yang membantu kita—yang menjadi perantara datangnya kenikmatan—berarti kita tidak benar-benar tulus bersyukur kepada Allah, karena kita tidak menghargai sebab datangnya nikmat itu,” paparnya.

Lebih lanjut, Ustazah Ina menegaskan bahwa bersyukur kepada manusia bukan berarti menyamakan manusia dengan Allah sebagai Pemberi Nikmat. Bersyukur kepada manusia berarti mengapresiasi, menghargai, serta mengakui kebaikannya karena telah menjadi perantara turunnya nikmat Allah.

“Perwujudannya bisa dengan ucapan terima kasih, seperti menyebut Jazakallah khairan katsiran. Itu bentuk pengakuan yang sederhana, tetapi sarat makna, karena mengandung doa dan harapan kebaikan,” terangnya.

“Selain ucapan, kita juga dianjurkan membalas dengan tindakan. Misalnya, di lain waktu membalas dengan kebaikan serupa atau memberikan manfaat dalam bentuk lain, sehingga ukhuwah semakin erat,” sambungnya.

Menurut Ustazah Ina, apabila seseorang tidak mampu membalas dengan kebaikan yang setimpal, sebagaimana disebutkan dalam hadis, maka dianjurkan untuk mendoakan secara sirr dan ikhlas.

“Dalam Islam ada konsep mendoakan sebagai pengganti ketika kita tidak mampu membalas secara langsung. Bahkan, mendoakan bisa menjadi balasan terbaik, karena kita memohon kepada Allah untuk membalasnya. Dan tentu, balasan Allah jauh lebih baik daripada balasan kita,” ucapnya.

“Selain mendoakan, menjaga hubungan baik dengan orang tersebut, keluarganya, dan lingkaran pertemanannya juga termasuk bentuk rasa terima kasih. Kita tahu membalas budi, minimal dengan sikap yang baik,” lanjutnya.

Ustazah Ina menambahkan bahwa teladan Rasulullah saw. dalam hal ini sangat banyak. Di antaranya, Rasulullah saw. selalu memuliakan keluarga dan sahabat dekat Sayyidatina Khadijah ra. Beliau kerap mengirimkan daging kepada sahabat-sahabat Khadijah sebagai bentuk penghormatan atas kesetiaan mereka semasa hidupnya.

Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah saw. sangat menghormati kaum Anshar. Bahkan, beliau pernah bersabda bahwa apabila manusia menempuh suatu jalan dan kaum Anshar menempuh jalan lain, maka beliau akan memilih jalan kaum Anshar. Hal ini menunjukkan betapa besar penghargaan Rasulullah saw. atas jasa dan kebaikan kaum Anshar–sejak beliau hijrah ke Yatsrib (Madinah).

Ada pula riwayat tentang kebaikan Rasulullah saw. kepada Muth‘im bin ‘Adi, seorang nonmuslim yang pernah memberikan perlindungan kepada beliau ketika di Thaif. Setelah Perang Badar, Rasulullah saw. bersabda bahwa seandainya Muth‘im masih hidup dan meminta pembebasan tawanan perang, beliau akan mengabulkannya sebagai penghormatan atas jasanya.

“Rasulullah saw. sering membalas pemberian atau hadiah dengan sesuatu yang setimpal, bahkan lebih baik. Itu merupakan kebiasaan beliau dalam menerima hadiah, lalu mengembalikannya dengan nilai yang sama atau lebih,” pungkas Ustazah Ina.