
Pada Ahad, 10 Agustus 2025, redaksi berkesempatan mewawancarai Ustazah Ina Purwanti, M.Hum., guru di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza. Dalam wawancara ini, Ustazah Ina mengupas sebuah hadis tentang tiga perkara yang dibenci oleh Allah: menyebarkan desas-desus (qila wa qala), menghambur-hamburkan harta, dan banyak bertanya secara berlebihan. Melalui penjelasannya, beliau memberikan panduan tentang bagaimana menjaga lisan, harta, dan akal dengan bijak sesuai tuntunan Islam. Berikut ini, kami sajikan hasil wawancara yang mengandung hikmah dan penuh pelajaran ini.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
روى المغيرة بن شعبة رضي الله عنه أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : (إن الله كره لكم ثلاثا : قيل وقال ، وإضاعة المال ، وكثرة السؤال)
Diriwayatkan Al-Mughirah bin Syu’bah ra bahwa sesungguhnya ia mendengar Rasulullah saw: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membenci tiga perkara : menyebarkan desas-desus, menghambur-hamburkan harta, banyak pertanyaan. [Shahih al-Bukhari no. 1477]
Ada tiga hal yang dibenci Allah Swt sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Pertama, menyebarkan desas-desus atau qila wa qala. Bisa dijelaskan apa yang dimaksud qila wa qala itu dan apa konteksnya? Mengapa termasuk perkara yang dibenci Allah Swt?
Dalam hadis ini Rasulullah saw mengabarkan kepada kita tiga hal yang dibenci oleh Allah Swt agar tidak kita lakukan. Rasulullah saw mengajarkan kepada kita bagaimana cara memelihara lisan, harta, dan akal kita dengan bijak dan benar.
Allah Swt membenci orang yang menyebarkan desas-desus. Yang dimaksud dengan desas-desus (qila wa qala) di sini menurut penjelasan beberapa ulama ada beberapa definisi.
- Qila wa qala itu menyebarkan rumor, gosip, kabar bohong (khabar kadzib), bahkan fitnah kepada orang lain. Termasuk membicarakan keburukan orang lain dengan informasi atau berita yang tidak bisa diverifikasi kebenarannya;
- Qila wa qala juga digunakan untuk makna pembicaraan yang ke sana kemari, tidak jelas maknanya atau tidak bermanfaat, sia-sia, membuang-buang waktu dan energi. Orang-orang yang sering melibatkan diri dalam pembicaraan semacam ini rentan terjerumus dalam fitnah, gosip, rumor yang tidak jelas dan tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Kenapa Allah membenci penyebaran desas-desus atau qila wa qala ini? Tentunya karena hal ini sangat berbahaya, bisa menimbulkan permusuhan, putusnya silaturahmi, kecurigaan, keresahan, dan ketidakpercayaan di antara masyarakat, bahkan bisa menimbulkan kebencian terhadap seseorang tanpa alasan yang benar. Dan itu sangat berbahaya. Hal ini pernah terjadi kepada Sayyidah Aisyah ra. Dalam hadits al-ifki ketika beliau difitnah mempunyai affair dengan seorang sahabat, padahal itu tidak benar. Nah, itu sangat berbahaya, karenanya Allah Swt sangat membenci penyebaran desas-desus. Maka diingatkan oleh Rasulullah saw agar kita belajar bagaimana memelihara lisan dengan baik dan bijak.
Perkara kedua yang dibenci Allah Swt adalah menghambur-hamburkan harta atau boros. Seperti apa yang dimaksudkan dengan menghamburkan harta? Bagaimana dengan menginfakkan di jalan Allah yang menghabiskan seluruh harta seperti Abu Bakr? Ini memang luar biasa, tapi apakah tidak menyulitkan bagi keluarga?
Yang dimaksud dengan mnghambur-hamburkan harta (idha’atu al-mal) adalah:
- Menggunakan harta benda secara berlebih-lebihan, melebihi batas kebutuhan, dan biasanya pada hal-hal yang tidak ada manfaatnya, tidak ada tujuan yang baik di dunia maupun di akhirat. Misalnya kita sangat boros dalam membelanjakan uang kita untuk barang-barang mewah, untuk memenuhi ego dan gengsi kita semata, padahal itu melampaui batas-batas kebutuhan dan kewajaran. Sampai kadang ada beberapa orang yang memaksakan diri, sehingga ketika seseorang ini sangat boros untuk hal yang tidak bermanfaat, lalu mengabaikan kewajiban finansial dia yang lain, kewajiban yang harus dia penuhi, karena uangnya sudah habis untuk hal-hal yang tidak penting tersebut. Inilah yang dimaksud menghambur-hamburkan uang terhadap hal yang tidak penting dan bermanfaat, bahkan cenderung mengabaikan kewajiban finansial yang seharusnya dipenuhi. Maka dalam hal ini Rasulullah saw mengajarkan kita agar bijak menggunakan harta dan harus ada prioritas mana yang harus didahulukan untuk kita tunaikan.
- Berikutnya, menghamburkan harta untuk membiayai hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt. Misalnya untuk membiayai maksiat seperti miras, judi online, dan hal-hal lain yang termasuk bagian dari kemaksiatan. Itu termasuk menghambur-hamburkan harta karena haram.
Adapun infak sebagaimana yang dilakukan Sayyidina Abu Bakar ra itu tidak termasuk dalam definisi menghambur-hamburkan harta, karena infak tersebut dilakukan dengan tujuan yang sangat jelas dan ada manfaatnya, yaitu menolong dakwah Rasulullah saw menegakkan kalimatillah yang tentunya sangat bermanfaat di dunia dan akhirat. Kemudian, kenapa tidak disebut menghamburkan harta, karena infak tersebut lahir dari keimanan dan keyakinan yang kuat bahwa Allah swt akan mengganti dengan yang lebih baik di sisi-Nya, sehingga harta tersebut tidak akan pernah sia-sia. Sayyidina Abu Bakar ra paham dan tidak khawatir, bahwa infak ini tidak akan sia-sia dan akan diganti oleh Allah Swt dengan yang lebih baik di sisi-Nya. Tujuannya sangat mulia, manfaatnya sangat besar dan mendatangkan pahala yang besar di sisi Allah swt, baik di dunia maupun di akhirat.
Perkara ketiga yang dibenci Allah Swt adalah banyak bertanya. Apa yang dimaksudkan oleh hal tersebut? Lalu, seperti apa bertanya yang benar dan bijak?
Yang dimaksud adalah banyak bertanya yang berlebihan, bertanya hanya untuk berdebat, mencari-cari celah, menyelisihi jawaban orang yang ditanya. Pertanyaan yang diajukan itu bukan untuk mencari kebenaran dan ilmu, tetapi tujuannya hanya untuk membantah atau menunjukkan kehebatan diri sendiri. Bisa juga bertanya yang tujuannya untuk menyulitkan orang yang ditanya, bukan untuk mencari informasi, kebenaran atau ilmu, tetapi untuk menguji apakah orang yang ditanya itu mampu menjawab atau tidak. Dia cenderung menanyakan hal-hal yang sulit. Bisa jadi, bertanya tentang sesuatu yang tidak relevan sama sekali atau belum terjadi sehingga akan menyulitkan dan menambah beban bagi orang yang ditanya dan bagi mereka yang mendengar. Itu juga sesuatu yang dibenci oleh Allah swt.
Bertanya yang bijak dan benar yaitu:
- Bertanya dengan tujuan mencari informasi, menggali kebenaran, mencari ilmu, bukan untuk berdebat atau menyelisihi jawaban, mencari-cari kesalahan atau menguji orang yang ditanya;
- Bertanya untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi untuk mencari solusi. Itu juga bertanya yang sangat bagus dan ada manfaatnya;
- Bertanya tentang hal-hal yang relevan sehingga tepat sasaran, dan tidak panjang lebar atau bertele-tele.
Intinya hadis ini mengajarkan kita bagaimana cara mengelola hidup dan bersikap bijak sehingga akan menimbulkan keharmonisan dan kebahagiaan untuk kita sebagai manusia di dunia dan akhirat.