
Ta’lim al-Muta’allim merupakan salah satu kitab rujukan yang sangat penting bagi para penuntut ilmu. Isinya penuh dengan ajaran-ajaran tentang adab bagi penuntut ilmu yang sangat bermanfaat dan relevan hingga saat ini bagi keberhasilan dalam menuntut ilmu—tentu dengan penjelasan dan pemaknaan yang sesuai dengan keadaan sekarang. Pada Rabu, 6 Agustus 2025, Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., mengajarkan kitab tersebut di hadapan santri SMP Kelas 1 di Ballroom Asy-Syahid. Berikut materi pelajaran yang beliau sampaikan, semoga bermanfaat (Redaksi).
Anak-anakku yang saya cintai. Kita akan belajar tentang bagaimana menuntut ilmu dari Kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Syekh Burhanuddin al-Zarnuji. Kita bacakan al-Fatihah terlebih dahulu kepada penulis kitab ini semoga bisa meresap ilmunya, barakah ilmunya, dan bisa mengamalkannya dengan baik. Al-Fatihah…
Kitab ini mengajarkan kiat sukses menuntut ilmu. Ternyata menuntut ilmu itu banyak persyaratannya. Kita baca satu persatu. Syekh Burhanuddin al-Zarnuji mengatakan:
وبعد…فلما رأيت كثيرا من طلاب العلم فى زماننا يجدون إلى العلم ولايصلون [ومن منافعه وثمراته ـ وهى العمل به والنشر ـ يحرمون] لما أنهم أخطأوا طريقه وتركوا شرائطه، وكل من أخطأ الطريق ضل، ولاينال المقصود قل أو جل.
Aku melihat banyak penuntut ilmu di zaman ini bersungguh-sungguh menuntut ilmu, tapi banyak dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya, yaitu berupa pengamalan dari ilmu tersebut dan menyebarkannya. Hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. Karena, barangsiapa salah jalan, tentu tersesat tidak dapat mencapai tujuan.
Buah dari ilmu itu pengamalan atau pelaksanaannya, serta kita menyebarkannya pada orang lain. Kalau kita terhalang dari hal itu, berarti ada yang salah.
Kalau kita tidak paham, padahal sudah serius belajar. Mengapa? Ternyata jangan-jangan kita salah jalan. Mungkin kita meninggalkan syarat-syaratnya. Dan siapa pun yang menempuh jalan yang keliru maka dia akan tersesat.
Kita tidak bisa menggapai ilmu kalau kita salah jalan. Sebagaimana halnya kita tidak akan sampai ke suatu kota jika salah jalan. Karena itu tidak boleh salah jalan kalau kita mau belajar sesuatu.
Karena itu dalam belajar banyak syarat-syaratnya. Syekh al-Zarnuji mengatakan:
ثم لابد له من النية فى زمان تعلم العلم، إذ النية هى الأصل فى جميع الأفعال لقوله عليه السلام: إنما الأعمال بالنيات. حديث صحيح.
Wajib berniat waktu belajar. Sebab niat itu menjadi pokok dari segala hal, sebagaimana sabda Nabi saw: Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya”
[روى] عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: كم من عمل يتصور بصورة عمل الدنيا، ثم يصير بحسن النية من أعمال الآخرة، وكم من عمل يتصور بصورة عمل الآخرة ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النية.
Dari beliau pula diriwayatkan sebuah hadits: “Banyak amal perbuatan yang berbentuk amal dunia, lalu menjadi amal akhirat karena niatnya baik. Dan banyak amal yang berbentuk amal akhirat, lalu karena buruk niatnya maka menjadi amal dunia.”
وينبغى أن ينوى المتعلم بطلب العلم رضاء الله والدار الآخرة، وإزالة الجهل عن نفسه، وعن سائر الجهال، وإحياء الدين وإبقاء الإسلام، فإن بقاء الإسلام بالعلم، ولايصح الزهد والتقوى مع الجهل.
Di waktu belajar hendaklah berniat mencari rida Allah Swt., kebahagiaan akhirat, memerangi kebodohan sendiri dan kebodohan orang lain, mengembangkan agama dan melanggengkan Islam sebab kelanggengan Islam itu harus diwujudkan dengan ilmu. Zuhud dan taqwa pun tidak sah jika tanpa berdasar ilmu.
وينوى به: الشكر على نعمة العقل، وصحة البدن, ولا ينوى به إقبال الناس عليه، ولا استجلاب حطام الدنيا، والكرامة عند السلطان وغيره.
Dengan belajar pula, hendaklah diniatkan untuk mensyukuri nikmat akal dan badan yang sehat. Belajar jangan diniatkan untuk mencari pengaruh, kenikmatan dunia ataupun kehormatan di depan sultan dan penguasa-penguasa.
1. Memperbaiki Niat dalam Menuntut Ilmu
Sebelum belajar perbaiki dulu niatnya. Ilmu milik Allah, maka dalam belajar harus memperhatikan adabnya. Bagaimana niat yang benar?
Pertama, mencari rida Allah Swt dan mengharapkan pahala-Nya. Kita harus niat belajar itu mencari rida Allah dan mencari pahala, bukan mencari kepintaran, bukan mencari harta, tapi mencari ridha Allah Swt dan mengharapkan pahala dari-Nya.
Kedua, menghilangkan kebodohan dalam diri sendiri. Setiap muslim wajib berusaha mengikis kebodohan dari dirinya sendiri karena ilmu merupakan cahaya yang menerangi jalan hidup. Tanpa ilmu, seseorang akan terperangkap dalam kegelapan kebodohan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”, maka proses menghilangkan kebodohan ini harus dimulai dari diri sendiri sebelum mengajarkannya kepada orang lain.
Ketiga, menghilangkan kebodohan dari orang-orang yang bodoh. Artinya, kalau sudah mengetahui ilmunya, berbagilah kepada banyak orang. Maka bagi ilmunya, ajari teman kita untuk belajar. Itu buah dari ilmu dengan cara mengajarkannya. Berbagi harta akan berkurang nominalnya, tapi kalau kita punya ilmu justru ilmu akan bertambah. Kita makin bertambah paham. Ini bedanya harta dengan ilmu. Jika harta diberikan jumlahnya berkurang, ilmu diberikan maka makin bertambah.
Keempat, untuk menghidupkan agama. Agama kita dibela dengan ilmu. Kalau bodoh akan diadu domba. Dulu umat Islam mengembangkan matematika oleh al-Khawarizmi. Yang mengembangkan ilmu kedokteran Ibnu Sina. Itu semua orang Islam yang pintar-pintar. Dulu juga Spanyol (Andalusia) berjaya di bawah kekuasaan kerajaan Islam. Dulu Eropa itu di bawah kekuasaan umat Islam. Ada Toledo, di sana ada masjid yang diubah fungsinya menjadi gereja. Panglima Muslim Thariq bin Ziyad yang membuka jalan ke Eropa dari Maroko. Maroko ke Spanyol itu dekat hanya dua jam saja naik kapal laut. Banyak peninggalan-peninggalan sejarah umat Islam di Spanyol.
Kelima, untuk bersyukur atas nikmat akal dan sehat badan. Kita bisa berpakaian yang rapi, bersih, menjaga kesehatan, karena kita punya akal. Hewan tidak seperti itu. Maka bersyukurlah punya akal. Allah ciptakan manusia lebih terhormat dibandingkan malaikat karena akal. Karena itu dalam al-Qur’an disebutkan, malaikat diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada manusia (Nabi Adam as), agar hormat kepada manusia.
وشرف العلم لايخفى على أحد إذ هو المختص بالإنسانية لأن جميع الخصال سوى العلم، يشترك فيها الإنسان وسائر الحيوانات: كالشجاعة والجراءة والقوة والجود والشفقة وغيرها سوى العلم.
Tidak seorang pun yang meragukan akan pentingnya ilmu, karena ilmu itu khusus dimiliki umat manusia.
وبه أظهر الله تعالى فضل آدم عليه السلام على الملائكة، وأمرهم بالسجود له.
Allah Ta’ala mengangkat derajat Nabi Adam as. di atas para malaikat. Oleh karena itu, malaikat diperintah oleh Allah agar sujud kepada Nabi Adam as.
Karena akalnya, manusia terhormat, makanya harus bersyukur. Karenanya, punya akal digunakan untuk menuntut ilmu, fungsinya akal untuk belajar. Kalau kita ingin dihormati, akalnya digunakan, ilmunya diamalkan. Dengan akal kita tahu adab. Akal dalam bentuk fisiknya berupa otak yang berfungsi untuk mengatur tubuh. Hewan memiliki otak hanya untuk mengatur tubuhnya, tapi pada manusia berfungsi untuk berpikir, selain untuk mengatur tubuh.
Jangan punya niat menuntut ilmu untuk menarik perhatian orang lain. Karena ingin dibilang pintar, ingin dihormati, karena ingin kaya. Nantinya tidak akan barakah. Jadi, harus karena Allah Swt.
2. Bersungguh-sungguh dan Semangat dalam Menuntut Ilmu
Jangan malas, jangan mengantuk. Semangatlah dalam menuntut ilmu, kelak akan membentuk kualitas, nilai (value) bagi seseorang. Tidak perlu khawatir dengan pekerjaan, jodoh, dan semacamnya, karena orang yang berkualitas dan bernilai akan dihargai orang lain, bahkan dicari dan dibutuhkan. Maka bersungguh-sungguh dan bersemangatlah dalam menuntut ilmu.
Penuntut ilmu harus bersungguh-sungguh, tekun, dan istikamah. Namun jangan memaksakan diri yang akan membuat jiwanya letih, sehingga akhirnya meninggalkan kegiatannya. Maka hendaknya lemah lembut dan pertengahan. Harus seimbang dengan istirahat atau kegiatan lainnya. Semua dilakukan pada waktunya. Belajar, istirahat, tidur, makan, berolahraga sesuai dengan waktunya.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة
اعلم, بأنه لايفترض على كل مسلم، طلب كل علم وإنما يفترض عليه طلب علم الحال كما قال: وأفضل العلم علم الحال، وأفضل العمل حفظ الحال
ويفترض على المسلم طلب ما يقع له فى حاله، فى أى حال كان، فإنه لابد له من الصلاة فيفترض عليه علم ما يقع له فى صلاته بقدر ما يؤدى به فرض الصلاة
ويجب عليه بقدر ما يؤدى به الواجب، لأن ما يتوسل به إلى إقامة الفرض يكون فرضا، وما يتوسل به إلى إقامة الواجب يكون واجبا وكذا فى الصوم، والزكاة، إن كان له مال، والحج إن وجب عليه. وكذا فى البيوع إن كان يتجر.
قيل لمحمد بن الحسن، رحمة الله عليه: لما لاتصنف كتابا فى الزهد؟ قال: قد صنفت كتابا فى البيوع، يعنى: الزاهد من يحترز عن الشبهات والمكروهات فى التجارات
وكذلك فى سائر المعاملات والحرف، وكل من اشتغل بشيئ منها يفترض عليه علم التحرز عن الحرام فيه. وكذلك يفترض عليه علم أحوال القلب من التوكل والإنابة والخشية والرضى، فإنه واقع فى جميع الأحوال.
Rasulullah saw bersabda: “Menuntut ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”.
Perlu diketahui bahwa kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk semua ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang menerangkan cara berperilaku atau bermuamalah dengan sesama manusia. Sehingga ada yang berkata, “Ilmu yang paling utama ialah ilmu hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku.” Yang dimaksud ilmu hal ialah ilmu agama islam, salat misalnya.
Karena setiap orang islam wajib mengerjakan salat, maka mereka wajib mengetahui rukun-rukun dan syarat-syarat sahnya salat, supaya dapat melaksanakan salat dengan sempurna.
Setiap orang islam wajib mempelajari atau mengetahui rukun salat dan amalan ibadah yang akan dikerjakannya untuk memenuhi kewajiban tersebut. Karena sesuatu yang menjadi perantara untuk melakukan kewajiban, maka mempelajari perantara tersebut hukumnya wajib. Ilmu agama adalah sebagian wasilah untuk mengerjakan kewajiban agama. Maka, mempelajari ilmu agama hukumnya wajib. Misalnya ilmu tentang puasa, zakat bila berharta, haji jika sudah mampu, dan ilmu tentang jual beli jika berdagang.
Muhammad bin Al-Hasan pernah ditanya mengapa beliau tidak menyusun kitab tentang zuhud, beliau menjawab, “Aku telah mengarang sebuah kitab tentang jual beli.” Maksud beliau adalah yang dikatakan zuhud ialah menjaga diri dari hal-hal yang syubhat dalam berdagang.
Setiap orang di dunia perdagangan, wajib mengetahui cara berdagang dalam islam supaya dapat menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan. Setiap orang juga harus mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan batin atau hati, misalnya tawakal, tobat, takut kepada Allah, dan rida. Sebab, semua itu terjadi pada segala keadaan.
3. Memahami Prioritas dalam Mempelajari Ilmu
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة
اعلم, بأنه لايفترض على كل مسلم، طلب كل علم وإنما يفترض عليه طلب علم الحال كما قال: وأفضل العلم علم الحال، وأفضل العمل حفظ الحال
ويفترض على المسلم طلب ما يقع له فى حاله، فى أى حال كان، فإنه لابد له من الصلاة فيفترض عليه علم ما يقع له فى صلاته بقدر ما يؤدى به فرض الصلاة
ويجب عليه بقدر ما يؤدى به الواجب، لأن ما يتوسل به إلى إقامة الفرض يكون فرضا، وما يتوسل به إلى إقامة الواجب يكون واجبا وكذا فى الصوم، والزكاة، إن كان له مال، والحج إن وجب عليه. وكذا فى البيوع إن كان يتجر.
قيل لمحمد بن الحسن، رحمة الله عليه: لما لاتصنف كتابا فى الزهد؟ قال: قد صنفت كتابا فى البيوع، يعنى: الزاهد من يحترز عن الشبهات والمكروهات فى التجارات
وكذلك فى سائر المعاملات والحرف، وكل من اشتغل بشيئ منها يفترض عليه علم التحرز عن الحرام فيه. وكذلك يفترض عليه علم أحوال القلب من التوكل والإنابة والخشية والرضى، فإنه واقع فى جميع الأحوال.
Rasulullah saw bersabda: “Menuntut ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”.
Perlu diketahui bahwa, kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk semua ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang menerangkan tentang perilaku atau bermuamalah dengan sesama manusia. Sehingga ada yang berkata, “Ilmu yang paling utama ialah ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku.” Yang dimaksud ilmu hal ialah ilmu agama islam, salat misalnya.
Oleh karena setiap orang islam wajib mengerjakan salat, maka mereka wajib mengetahui rukun-rukun dan syarat-syarat sahnya salat, supaya dapat melaksanakan salat dengan sempurna.
Setiap orang islam wajib mempelajari atau mengetahui rukun maupun salat amalan ibadah yang akan dikerjakannya untuk memenuhi kewajiban tersebut. Karena sesuatu yang menjadi perantara untuk melakukan kewajiban, maka mempelajari perantara tersebut hukumnya wajib. Ilmu agama adalah sebagian wasilah untuk mengerjakan kewajiban agama. Maka, mempelajari ilmu agama hukumnya wajib. Misalnya ilmu tentang puasa, zakat bila berharta, haji jika sudah mampu, dan ilmu tentang jual beli jika berdagang.
Muhammad bin Al-Hasan pernah ditanya mengapa beliau tidak menyusun kitab tentang zuhud, beliau menjawab, “Aku telah mengarang sebuah kitab tentang jual beli.” Maksud beliau adalah yang dikatakan zuhud ialah menjaga diri dari hal-hal yang syubhat (tidak jelas halal haramnya) dalam berdagang.
Setiap orang di dunia perdagangan, wajib mengetahui cara berdagang dalam Islam supaya dapat menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan. Setiap orang juga harus mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan batin atau hati, misalnya tawakal, tobat, takut kepada Allah, dan rida. Sebab, semua itu terjadi pada segala keadaan.
Penutup
Kelemahan dari generasi Z adalah mudah menyerah, tidak memiliki daya tahan yang kuat. Terkadang menyepelekan dan merendahkan orang lain. Santri, apapun tingkat generasinya, semuanya wajib memiliki sikap hormat dan dihormati. Kalian adalah mutiara-mutiara yang dihormati orang. Orang lain menghargai kalian sebagai seorang santri. Maka kalian harus belajar menghargai diri sendiri dengan perbuatan dan akhlak mulia.
Kakak-kakak dititipkan di pondok ini, karena orangtua punya harapan. Pertama, kakak menuntut ilmu agar menjadi orang baik. Kedua, kakak menjadi orang yang terhormat. Ketiga, dihargai orang lain karena kakak punya nilai yang berbeda dari orang lain. Nilai apa? Nilai ketawadukan, nilai kesalehan, daya tahan (resilience) dan lainnya.
Doakan ayah dan ibu kalian agar kalian sukses dan berkah. Buat agar mereka tersenyum, belajarlah dengan baik dan berprestasi. Mereka tidak meminta ganti apapun atas semua perjuangan mereka. Semoga cita-cita tercapai dan Allah mengabulkan doa-doa kalian. Semoga niat dan tujuan belajar kalian sebagaimana yang tadi kita pelajari dalam Kitab Ta’lim al-Muta’allim.