Menembus Ketatnya Persaingan Olimpiade Bahasa Arab, Santri Daar el-Qolam 3 Siap Melangkah ke Tingkat Provinsi


Tanggal 16 Mei 2026 menjadi hari yang menegangkan bagi ribuan pelajar yang mengikuti Olimpiade Bahasa Arab (OBA) tingkat Kabupaten. Meski berlangsung secara daring, atmosfer kompetisi tetap terasa. Di berbagai ruang kelas yang ubah menjadi ruang ujian, para peserta berhadapan dengan soal-soal yang menguji penguasaan bahasa Arab, ketelitian, serta kemampuan berpikir.

Di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, suasana itu pun tidak berbeda. Sejumlah santri duduk tenang di depan perangkat masing-masing. Mereka tidak hanya membawa bekal ilmu yang dipelajari selama ini, tetapi juga doa, latihan panjang, dan harapan untuk memberikan hasil terbaik.


Di Balik Layar Kompetisi Daring, 23 Ribu Peserta Bersaing
Pembimbing Olimpiade Bahasa Arab Daar el-Qolam 3, Ustaz Alif Hendrawan, Lc., menjelaskan bahwa pelaksanaan OBA tingkat Kabupaten tahun ini dilakukan secara daring.

“Kegiatan ini dilaksanakan pada 16 Mei 2026 secara online. Karena itu, tempat pelaksanaannya kami menggunakan ruang kelas yang ada di pondok,” ujarnya.

Di balik pelaksanaan yang terlihat sederhana, tersimpan persaingan yang tidak ringan. Ribuan peserta dari berbagai sekolah turut ambil bagian dalam ajang tersebut.

Menurut Ustaz Alif, jika digabung antara jenjang SMP dan SMA, jumlah peserta mencapai sekitar 23 ribu orang di tingkat kabupaten.

“Persaingan ini tentu sangat ketat dan tidak mudah. Ada juara bertahan yang berusaha mempertahankan namanya, ada peserta yang sebelumnya pernah gagal lalu datang dengan ambisi yang lebih besar, dan ada pula semangat baru dari mereka yang baru pertama kali mengikuti Olimpiade Bahasa Arab,” tuturnya.


Prestasi yang Lahir dari Ketekunan
Di tengah kompetisi sebesar itu, santri Daar el-Qolam 3 berhasil menunjukkan kemampuan yang membanggakan.

Pada jenjang SMP, Muhammad Yusuf Afandi berhasil meraih Juara I, Fatuh Aulia Hanifah memperoleh Juara II, sedangkan Ratu Nayla Mustika meraih Harapan I.

Prestasi serupa juga datang dari jenjang SMA. Muhammad Nabil Naimullah berhasil menjadi Juara I, Humaidi Hafidz Dhiyaa Ul Haq meraih Juara III, sementara Muhammad Fachry Zainuddin memperoleh Harapan I.


Bukan Sekadar Menghafal Kosakata
Prestasi tersebut bukan hasil yang lahir dalam waktu singkat. Ada proses panjang yang dijalani para santri bersama para pembimbing.
Ustaz Alif mengungkapkan bahwa materi pembinaan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan sekolah lain, yakni mempelajari soal-soal Olimpiade Bahasa Arab dari tahun-tahun sebelumnya sekaligus memperkaya penguasaan kosakata bahasa Arab.

Namun, menurutnya, ada satu hal yang menjadi kekuatan utama para santri Daar el-Qolam 3.

“Yang membanggakan bagi kami, dan mungkin menjadi pembeda, adalah semangat juang, mental juara, serta kegigihan mereka dalam mempersiapkan olimpiade ini, baik selama bimbingan formal maupun di luar bimbingan formal.”

Baginya, setiap peserta memiliki peluang yang sama untuk meraih hasil terbaik. Yang membedakan adalah kesungguhan dalam berusaha.

“Siapa pun pesertanya, hasil terbaik tetap menjadi hak setiap orang yang berjuang. Kami hanya berusaha memaksimalkan perjuangan kami. Mohon doanya selalu,” katanya.


Keteladanan yang Ikut Berprestasi
Keberhasilan Daar el-Qolam 3 ternyata tidak hanya datang dari kategori santri.

Pada kategori guru, salah seorang pembimbing sekaligus guru Bahasa Arab Daar el-Qolam 3, Ustaz Ahmad Ramdani, Lc., M.A., berhasil meraih Juara II.

Menurut Ustaz Alif, mekanisme perlombaan pada kategori guru tidak jauh berbeda dengan kategori siswa. Perbedaannya hanya terletak pada jadwal pelaksanaan yang lebih dahulu.

“Salah satu ustaz kami, partner pembimbing kami sekaligus guru saya, yakni Ustaz Ahmad Ramdani, Lc., M.A., berhasil menempati Juara II. Alhamdulillah, semoga ke depan beliau terus memperoleh hasil yang semakin baik,” ujarnya.


Melangkah ke Provinsi, Menatap Nasional
Kini, perjuangan belum selesai. Para juara tingkat Kabupaten akan melanjutkan langkah menuju Olimpiade Bahasa Arab tingkat Provinsi.
Harapan besar tentu menyertai perjalanan mereka. Tidak hanya ingin memberikan hasil terbaik di tingkat provinsi, tetapi juga membuka jalan menuju kompetisi tingkat nasional.

“Untuk tahap selanjutnya di tingkat provinsi, kami berharap bisa tampil maksimal dan memperoleh hasil yang baik. Harapan besarnya tentu bisa melangkah hingga tingkat nasional. Mohon doa dari semuanya,” tutur Ustaz Alif.


“Mundur Bukanlah Pilihan”
Menutup wawancara, ia menyampaikan pesan yang bukan hanya ditujukan kepada peserta OBA, tetapi juga kepada seluruh santri Daar el-Qolam 3.

“Di era yang begitu canggih dan serba cepat ini, kesempatan menuju kesuksesan terbuka sangat lebar. Kita hidup di hamparan kesempatan. Jika bukan kita yang menjemputnya, kesempatan itu tidak akan pernah kita raih. Mundur bukanlah pilihan. Teruslah melangkah meskipun terasa lambat. Sadarlah, hari-hari yang kita jalani hari ini adalah hari yang dulu sempat kita ragukan dan kita takutkan. Jadi, bergeraklah,” pungkasnya.