
Sejak sehari yang lalu, ruang ujian terasa sedikit lebih hampa. Tidak padat dengan kemumetan santri yang sedang berkutat dengan pertanyaan. Pasalnya, wajah tegang dan kebingungan yang kerap mereka pasang, pagi itu berganti dengan ekspresi datar dengan mata yang berat. Seperti tidak ada gairah. Nampaknya mereka hanya raga, entah kemana jiwanya. Di rumahkah? Begitulah kiranya yang aku rasakan sejak dulu masih duduk di tempat yang mereka duduki saat ini. Bahkan, seingatku jika musim ujian tiba, bukan bahan pelajaran yang disiapkan, malah tanggalan yang menghitung mundur hari liburan. Sungguh, ingatan itu hingga kini melekat kuat dalam kenangan. Kelucuannya masih bisa membuatku tersenyum saat menuliskannya di atas secarik kertas ini.
Barangkali itu salah satu cara yang membuat ujian terasa sedikit lebih mudah. Ya, dengan membayangkan tibanya hari kepulangan. Sama halnya dengan apa yang mereka rasakan saat itu. Dekatnya hari libur, mengambil banyak bagian dari fokus mereka menghadapi ujian. Suasana belajar malam sebelum hari terakhir mereka ujian, lebih ramai terdengar rencana liburan daripada rapalan rumus hitung-hitungan. Tidak sedikit dari mereka yang kutemukan sedang makan mie instan yang lunak bukan karena direbus, tapi direndam dengan air hangat. Keberadaanku yang kebetulan lewat di dekatnya ternyata cukup mengganggu kekhusyukan makan mereka. Sehingga tiga anak yang sedang melingkari suguhan itu menoleh ke arahku, seraya berkata: ‘Makan, Ustaz!’ Menawarkan kompak dengan sumringah lepas di wajah mereka. Alih-alih menegur dan memarahi mereka karena makan bukan pada waktu dan tempatnya, aku lebih memilih berusaha memahami dan memaklumi lambung laparnya. Lebih dari itu, iba melihatnya makan dua bungkus mie seduh yang waktu habisnya lebih cepat daripada menunggunya matang. Tapi tak apa. Mereka harus belajar menyederhanakan bahagia.
Tawaran makan itu, tentu tidak menahanku untuk turut. Bukan apa, aku hanya tak mau mengurangi jatah suapannya. Akhirnya, hanya sorot pandang kasihan dengan seutas senyuman berusaha mengembalikan rasa aman mereka saat makan. Sebelum berlalu, kusempatkan bertanya menyela kunyahannya: ‘Besok ujian terakhir pelajaran apa, Nak?’ Salah seorang di antara mereka menjawab antusias: ‘Matematika, Ustaz.’ Aku sempat mengira antusiasnya datang dari kesenangannya memecahkan kerumitan mata pelajaran yang sangat kuhindari hingga kini. Ternyata ia meneruskan jawaban singkatnya: ‘Besok kan hari terakhir ujian, Ustaz. Habis salat Jumat, kita pulang.’ Sambil menggelengkan kepala keheranan, aku mengakhiri percakapan singkat itu dengan pesan agar mereka merapikan dan membersihkan kembali bekas makanannya.
Tidak berbeda keadaannya di masjid. Malam itu, berbeda dari malam-malam biasanya. Sekilas tidak ada yang berbeda dari mereka. Seperti biasa, pada malam Jumat, anak-anak mengenakan pakaian putih-putih. Hanya saja, setelah kuperhatikan secara saksama, sarung mereka bersatu warna: kelas tujuh warna hitam, kelas delapan warna hijau, kelas sembilan warna merah, kelas sepuluh warna putih dan kelas sebelas gagah berjas. Ada apa gerangan? Siapa yang menyuruhnya? Adakah itu gambaran kebahagiaan mereka menyambut hari rayanya?
Hingga tiba saatnya, Pak Kiai menutup botol mereka agar pulang ke rumah ilmunya tidak tumpah. Beliau membekali mereka dengan sejumlah hikmah. Tak lupa, Pak Kiai juga berpesan agar mereka tidak melupakan ilmu yang didapatkan di pesantren selama liburan. Tidak juga meninggalkan kebiasaan baik yang dilazimkan di pesantren. Beliau berwasiat agar mereka membawanya sebagai buah tangan terbaik untuk kedua orang tua dan keluarga di rumah. Nasihat itu disempurnakan dengan khotbah Jumat yang pada kesempatan kali itu disampaikan oleh Ustaz Syahroni.
Barisan saf salat yang semula rapi, membuncah pecah bersama lantunan doa penutup majelis. Masing-masing mereka mencari tempat pulangnya. Begitu pun ayah-bunda yang sedari pagi memadati asrama, menanti buah hatinya tiba. Aku melihat ayah yang melongok ke bagian dalam masjid mencari putranya yang bergamis sama dengan temannya. Ada juga ibu yang sibuk merekam langkah putranya yang dari jauh berlari menghampirinya. Hiruk-pikuk itu berlangsung hingga Ashar menjelang. Sesak lalu-lalang perlahan mulai terurai bersama temaram senja. Usai bertugas, langkahku tidak langsung bergegas membawaku pulang. Ia tertahan oleh pemandangan sore itu yang cukup memilukan. Pemandangan itulah yang kerap kali kusaksikan di antara waktu pergantian siang dan malam pada hari perpulangan. Kerumunan ramai siang tadi, menyisakan dua anak santri kelas delapan yang duduk menghadap gerbang, hanyut di tengah keheningan.
Ke sanalah langkah kakiku tertuju. Enggan memecah renungannya, aku diam-diam melangkah kecil dari arah punggungnya, memastikan ada percakapan kecil yang menghangatkan keduanya. Meski hanya sekadar mengadu nasib, tentang siapa yang paling terakhir dijemput. Nyatanya sepi. Bahkan keduanya tidak sempat saling tatap. Sorot pandangnya tajam ke arah gerbang, memperhatikan dan menantikan kapan mobil jemputannya datang. Saat itu kulihat waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB. Matahari sudah hampir pergi, tapi ayah-bunda kedua anak itu belum juga menghampiri. Barangkali pekerjaannya belum usai, kesibukannya belum terurai, atau lupa kalau anaknya pulang hari ini. Menyedihkan sekali. Membayangkan sebagian besar temannya sudah bersama keluarganya di rumah, tapi dua anak ini masih harus menatap gerbang dari kejauhan.
Kepiluan ini tidak datang begitu saja. Ia ada karena dulu pernah merasakannya. Hanya bedanya, ibuku tidak terlambat karena disibukkan pekerjaannya. Tidak juga karena lupa. Ia tidak dapat datang lebih awal karena tidak ada kendaraan cepat yang mengantarnya dari depan rumah sampai ke pesantren. Untuk sampai sini, ia harus naik ojek selama satu jam ke terminal bus. Sesampainya di sana, ia harus menunggu penuh penumpang kendaraan umum yang ia tumpangi. Bukan lima atau tujuh orang yang harus ia tunggu. Mobil itu hanya berjalan jika dua puluh penumpang sudah memadati kursinya yang sempit. Setelah penuh, mobil itu tidak berjalan dengan kecepatan penuh. Karena sangat berbahaya bagi mobil yang membawa beban melebihi kapasitas. Sehingga jalan yang sebenarnya bisa ditempuh dengan waktu satu jam, bisa melambat hingga 2-3 jam. Itu pun tidak sampai pesantren.
Kendaraan kumal itu hanya berhenti tepat di depan pintu tol Balaraja Barat. Masih sekitar tiga puluh menit lagi untuk tiba di pesantren. Turun dari mobil merah tadi, ia pindah ke mobil bercat putih yang berjanji akan mengantarnya sampai depan kecamatan Jayanti. Barangkali pembaca belum pernah naik angkutan umum, penulis sedikit memberikan deskripsi singkat yang melambangkan bagaimana caranya berjalan: kura-kura. Benar. Lama sekali. Padahal tidak ada hambatan, tidak juga ada penumpang yang mau naik. Memang begitu caranya berjalan. Akhirnya, waktu perjalanan melar lagi. Bayangkan, jika perjalanan itu dimulai pada pukul 13.00 WIB, ibuku baru muncul helai kerudungnya sepuluh menit sebelum Maghrib, saat di mana aku duduk sendiri bersama sunyi persis seperti dua anak kelas delapan itu duduk termenung dengan tatapan kosong ke arah gerbang. Ibu benar-benar membuatku khatam bab menunggu.
Nak, tapi itu sama sekali tidak lantas membuatku benci. Aku beruntung ibu bukan hanya mengajarkanku soal menanti. Dia juga mengajarkan bagaimana kita bisa saling mengerti. Bukan saling menuntut. Di tengah keterbatasan itu, ibu tidak pernah mengeluh soal peluh. Meski melangkah sendiri, ia tetap teguh dan tidak rapuh. Segala kesulitan yang dilalui sepanjang perjalanan hanya mempertegas betapa luar biasanya kasih sayang ibu untukku. Lihatlah, bagaimana dia menghadapi cemberutku karena sudah terlalu panjang menunggu. ‘Nak, ibu minta maaf, ya kalau datang menjemput terlalu larut.’ Aku tidak kuasa dibuatnya. Permohonan maafnya bahkan mendahului salam. Sebenarnya ia tidak perlu meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Karena memang seperti itu kondisi perjalanan. Aku pun mengerti. Karena begitulah jalan yang aku lalui pada waktu kembali ke pesantren ini. Rasanya ingin marah seperti anak-anak lainnya yang dibuat kesal oleh tingkah orang tuanya. Tapi pada saat itu, rasa iba kepada ibu menguasai hatiku hingga tak terasa air mata mengungkapkannya. Tak ada sepatah kata. Hanya pelukan dan air mata.
Nak, bersabarlah sebentar lagi. Ibumu akan tiba dengan mobil mewah milik ayahmu. Sekali pun jalanan macet, ia duduk nyaman di kursinya sendiri. Kulitnya tidak terpapar matahari, paru-parunya aman dari polusi. Belajarlah memaklumi dan memahami ayah-ibumu. Sebagaimana mereka yang sejak kamu dilahirkan hingga hari ini masih selalu berusaha memaklumi dan memahamimu. Carilah seribu alasan pemakluman atas kekhilafan yang barangkali orang tuamu lakukan. Percayalah, mereka tidak pernah sengaja. Sekali pun mereka lupa kalau hari ini adalah hari liburmu, maklumilah. Itu menunjukkan betapa semakin tuanya mereka dan masih banyak hal penting lainnya yang harus mereka pikirkan di hari tuanya. Salah satunya kamu, anaknya. Barangkali ingatannya tentangmu tertumpuk di antara beban hutang yang sebentar lagi jatuh tempo.
Pesan ini tidak pernah kusampaikan kepada dua anak itu yang sedang diam menunggu. Aku hanya berusaha hanyut dalam penantiannya. Sambil mengenang bagaimana dulu aku melakukannya. Barangkali mulut mereka terkunci. Tapi siapa yang tahu kalau mereka hanya meredam suara dari ramai yang ada di kepala? Sampai mereka akhirnya menyadari kehadiranku yang tak sengaja memecah keheningan, aku bertanya dan menawarkan gawai tentang siapa yang sedang mereka tunggu agar mereka menghubunginya. Aku yakin sekali kehadiranku benar-benar memberikan mereka sedikit harapan. Hal itu terpancar dari bagaimana mereka melihatku dengan binar matanya. Ketika dering terhubung, terdengar suara ibu paruh baya mengucapkan salam: ‘Assalamualaikum, ini siapa ya?’ Sontak saja anak bertubuh kecil itu menjawab: ‘Waalaikumussalam. Ini aku, Ali. Bu, jemput aku.’