Kajian Rutin Jumat ke-2: Merawat Taubat, Menjaga Hati



Jumat, 07 Agustus 2026, Ustaz Nur Ramadhan melanjutkan kajian rutin Jumat dengan tema kajian tasawuf yang merujuk pada kitab al-Minah as-Saniyyah karya Syekh asy-Sya’rani. Pada kajian pekan ini, Ustaz Rama mengawali kajian dengan selawat bersama para santri. Kegiatan selawatan memberikan warna segar pada kegiatan kajian Jumat Subuh. Suara tabuhan rebana membuat suasana masjid semakin syahdu mengiringi syair puji-pujian kepada Rasulullah ﷺ yang terhimpun dalam kitab adh-Dhiya al-Lami.

Usai disiram dengan lantunan selawat, para santri Ahlul Izzah disuguhi dengan sajian materi kajian akhlak yang kali ini membahas tentang istikamah dalam bertaubat. Ustaz Rama meluruskan pemahaman sebagian orang yang menganggap bahwa taubat hanya dilakukan sesekali saja setiap kali selesai berbuat dosa. Padahal, menurut ulama salaf, taubat adalah fondasi yang setiap saat harus dibangun agar mampu menopang amalan saleh yang berdiri di atasnya.

Selanjutnya, Ustaz Rama menjelaskan akibat taubat yang tidak berkesinambungan. Beliau menerangkan setidaknya, ada tiga perkara yang diakibatkan dari taubat yang tidak konsisten. Pertama, ia tidak akan mencium sedikit pun aroma taubat. Hatinya tidak peka lagi terhadap hal-hal yang menjauhkan dari Allah swt.

Kedua, ia tidak mampu menjaga lintasan hatinya. Pikiran dan was-was buruk akan terus datang silih berganti.

Ketiga, yang paling berbahaya: lintasan maksiat itu akan mengalahkannya. Sampai-sampai bayangan maksiat bisa hadir di dalam salatnya. Padahal salat seharusnya menjadi mi’rajnya hati.

“Tanpa istikamah, taubat hanya jadi penyesalan sesaat, bukan perubahan hakiki.” Pungkasnya.

Keistikamahan dalam bertaubat merupakan teladan agung yang dicontohkan oleh manusia yang sebenarnya tidak butuh taubat karena ia terlindungi dari perbuatan maksiat. Siapa lagi kalau bukan Nabi Muhammad ﷺ. Kendati demikian, beliau senantiasa memperbarui taubatnya untuk menjulang kepada keluhuran dan kedekatan kepada Allah swt. Sebagaimana dalam surat Hud ayat 112, Allah swt berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ

Maka istiqamahlah kamu sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang yang bertaubat bersamamu.

Ustaz Rama menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah langsung dari Allah swt kepada Rasulullah ﷺ beserta umatnya agar senantiasa melanggengkan kebaikan. Di antara bentuk kebaikan adalah bertaubat, mengakui dan memperbaiki kesalahan. “Padahal, Rasulullah ﷺ adalah makhluk paling maksum (terlindung dari dosa), paling mulia, dan sudah diampuni dosa yang lalu dan akan datang. Jika beliau saja diperintah untuk istikamah, bagaimana dengan kita?” Tegasnya.
Kemudian kajian ditutup manis dengan kalam hikmah kedua guru dari Syekh al-Matbuli: Syekh Muhammad bin Annan dan Syekh Ali al-Khawwas. Keduanya memberikan pandangan bijak tentang taubat yang bukan hanya sebagai jalan penebus dosa. Melainkan, sebagai kebutuhan seorang hamba yang penuh kesalahan untuk terus melangkah mendekat kepada penciptanya dengan bertaubat.

Syekh Muhammad bin Annan berkata: “Barangsiapa yang istikamah dalam taubatnya dari pada kemaksiatan, maka derajatnya akan meningkat serta terhindar dari segala hal yang tidak bermanfaat.”
Sementara Syekh Ali Al-Khawwash berkata:

“Barangsiapa yang istikamah dalam taubatnya dan zuhud di dunia, maka sungguh telah terpenuhi di dalam dirinya dari segala urusannya dan keperluannya dengan baik.”