Kajian Rutin Asmaul Husna ke-7: al-Quddus dan Makna Kesucian


Al-Quddus bermakna Maha Suci. Syekh Ahmad Zarruq menjelaskan dalam kitabnya, di antara hakikat dari nama al-Quddus adalah Allah swt yang tidak menerima perubahan pada Dzat, sifat, atau pun perbuatan-Nya. Dia tetap sebagaimana adanya, tidak berkurang, tidak juga bertambah. Allah berada pada kesempurnaan-Nya.

حقيقة القدوس: الاعتلاء عن قبول التغير

Hakikat makna al-Quddus adalah Dia Dzat yang Maha Luhur dari sifat perubahan

Di antara penggunaan makna serupa dalam kata al-Quddus adalah istilah al-Ardhu al-Muqqadasah, sebutan bagi negeri Palestina yang berarti tanah yang suci. Disebut demikian karena tempat tersebut tidak akan pernah berubah menjadi milik orang kafir, sebagaimana tempat lainnya. Selamanya ia akan tetap milik umat muslim. Begitu ungkap Syekh Zarruq.

القدوس هو الذي لا يجوز عليه نقص في ذات ولا وصف ولا فعل ولا اسم

Al-Quddus ada Dia yang tidak boleh terdapat kekurangan pada dzat, sifat, perbuatan mau pun nama.

Menariknya dari makna al-Quddus yang berarti Maha Suci, menimbulkan pertanyaan setelahnya: jika Allah Maha Suci, apakah Dia masih perlu disucikan oleh kita dengan ucapan tasbih, Subhanallah yang artinya maha suci Allah? Jika tidak, mengapa dalam banyak firman-Nya, Allah swt memerintahkan kita untuk bertasbih? Bahkan dalam ayat yang lain pula, Dia berfirman bahwa seluruh makhluk yang ada di langit mau pun di bumi senantiasa bertasbih kepada-Nya? Kalau begitu, apa manfaat tasbih makhuk bagi Tuhan yang sudah Maha Suci?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (الأحزاب : 41-42)

Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (al-Ahzab : 41-42)

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ (الجمعة : 1)

Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah Yang Maharaja, Mahasuci, Mahaperkasa, lagi Mahabijaksana. (al-Jumuah : 1)

Menjawab pertanyaan di atas, Syekh Ahmad Zarruq menjelaskan dalam kitabnya bahwa Allah swt tidak butuh klaim suci dari hamba-Nya. Kesucian-Nya tidak ternodai dengan tuduhan dan lecehan makhluk. Dia tetap luhur pada kesempurnaan-Nya. Tidak pula berkurang kesucian-Nya sekali pun tidak ada satu pun makhluk yang mensucikan-Nya.

الحق تعالى منزه عن التنزيه.. كل تنزيه توجه الخلق إلى الحق فهو عائد إليهم. لأن الحق سبحانه وتعالى في جلاله لا يقبل ما يحتاج
للتنزيه منه

Allah swt tidak butuh klaim suci dari makhluk mana pun. Segala macam bentuk penyucian yang berasal dari makhluk kepada Allah swt, maka kesucian tersebut akan kembali kepada diri mereka masing-masing. Karena Allah swt tidak menerima sesuatu yang membutuhkan penyucian dari Allah swt.

Bentuk pengamalan yang lahir dari pemaknaan nama al-Quddus adalah membersihkan akidah kita dari selain kesucian Allah swt, membersihkan hati kita dari segala bentuk keterikatan kepada selain-Nya, serta membersihkan amal kita dari menyelisihi perintah-Nya. Sehingga bentuk kesucian itu akan kembali kepada diri dengan dijadikannya kita sebagai hamba yang bersih dari noda dosa.