Kajian Dza ‘Izza Inteleksia, Mengungkap Pesan Moral Novel Dunia Anna

“Kita punya kewajiban menjaga kelestarian alam terhadap generasi setelah kita,” demikian kata Fanan Aqwam Ahmadi Usman, santri kelas 3A selaku pembicara dalam kajian Dza ‘Izza Inteleksia, pada Rabu, 23 September 2026.

Dalam kegiatan yang mengupas novel Dunia Anna karya Jostein Gaarder tersebut, Fanan menjelaskan bahwa pesan moral novel itu adalah menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab setiap generasi dalam menjaga kelangsungan hidup di bumi.

Novel yang ditulis Jostein Gaarder, pengarang Norwegia yang dikenal luas melalui Dunia Sophie, tidak hanya membawa persoalan lingkungan sebagai latar cerita saja. Gaarder menjadikannya sebagai persoalan filosofis: bagaimana manusia seharusnya hidup ketika tindakan generasi sekarang dapat menentukan seperti apa kehidupan generasi mendatang?

Kerusakan Alam di Masa Kini Berdampak Parah Bagi Generasi Mendatang
Tokoh utama novel ini adalah Anna, seorang gadis Norwegia yang berusia 16 tahun. Ia memiliki kegelisahan yang tidak biasa bagi anak seusianya. Anna memikirkan perubahan iklim dan kondisi alam, termasuk nasib berbagai spesies yang terancam kehilangan habitat. Kegelisahan itu kemudian berkembang menjadi pengalaman yang menghubungkan dirinya dengan masa depan.

Dalam sebuah mimpi, Anna mengalami seolah-olah dirinya menjadi Nova, cicitnya yang hidup pada tahun 2082. Dari perspektif masa depan itu, ia berhadapan dengan konsekuensi dari apa yang dilakukan manusia pada masa hidupnya sendiri.

Bumi yang dilihat melalui pengalaman Nova bukan lagi bumi yang sama. Pemanasan global telah mengubah kehidupan. Banyak spesies telah hilang, habitat rusak, dan kondisi lingkungan menjadi jauh lebih berat bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya.

Di sinilah Gaarder menggunakan perjalanan waktu bukan sekadar sebagai unsur fantasi. Masa depan menjadi semacam cermin bagi masa kini.

Anna dipaksa melihat dunia yang mungkin terjadi apabila generasinya gagal menjaga bumi. Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi apa yang akan terjadi pada bumi, melainkan siapa yang bertanggung jawab atas keadaan itu?

Bumi Bukan Hanya Milik Generasi Sekarang
Gagasan inilah yang menjadi salah satu inti pembacaan Fanan. Manusia hidup pada satu masa, tetapi menggunakan sumber daya yang ada secara tak terkendali. Hutan yang semakin habis, habitat yang rusak, sumber daya alam yang dieksploitasi, serta peningkatan emisi yang memperburuk perubahan iklim. Kajian terhadap Dunia Anna pun menempatkan tanggung jawab antargenerasi sebagai salah satu gagasan penting novel tersebut.

Dalam perspektif itu, generasi sekarang bukan sekadar pengguna bumi. Mereka berada dalam sebuah mata rantai. Mereka menerima bumi dari generasi sebelumnya dan, pada saat yang sama, memiliki kewajiban untuk menyerahkannya kepada generasi berikutnya.

Manusia dan Alam Bukan Dua Dunia yang Terpisah
Fanan kemudian membawa pembahasan tersebut pada cakupan yang lebih luas.

“Kewajiban menjaga bumi bukan kewajiban berskala global, tapi skala kosmik. Menjaga bumi sama dengan menjaga alam semesta, karena bumi adalah bagian alam semesta,” kata Fanan.

Cara pandang tersebut sejalan dengan pembacaan ekologis terhadap Dunia Anna yang melihat manusia bukan sebagai entitas yang berdiri di luar alam. Kajian terhadap novel ini pun mengungkap gagasan tentang keseimbangan, keterhubungan, keberagaman, kemitraan, dan hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan.

Manusia membutuhkan alam, tetapi pada saat yang sama manusia memiliki kemampuan untuk mengubah alam secara sangat besar. Kemampuan tersebut melahirkan sebuah tanggung jawab.

Jika manusia menyadari dirinya sebagai bagian dari alam semesta, maka alam tidak semestinya hanya dipandang sebagai kumpulan sumber daya yang dapat digunakan. Hutan bukan hanya kayu. Sungai bukan sekadar sumber air. Hewan bukan hanya komoditas. Lingkungan merupakan jaringan kehidupan yang memungkinkan manusia sendiri bertahan hidup. Dengan demikian, menjaga alam pada akhirnya juga berarti menjaga kehidupan manusia seluruhnya, kini dan generasi setelahnya.