Kajian Rutin Asmaul Husna ke-11: al-Aziz

Syekh Ahmad Zarruq mengartikan al-Aziz sebagai Tuhan yang dzat-Nya mustahil untuk diterka oleh keterbatasan manusia, Tuhan yang kuasa-Nya mendominasi dalam setiap perkara, dan Dia yang Maha Luhur dari segala macam sifat makhluk.

العزيز هو الممتنع عن الإدراك، الغالب على أمره، المرتفع عن أوصاف المخلوقين

Dari makna di atas, dapat dipahami bahwa kesempurnaan Allah swt tidak dapat diterka oleh keterbatasan indra dan kecilnya penalaran manusia. Menghabiskan waktu untuk menjangkau Dzat Allah swt hanya akan menyampaikan seorang manusia kepada titik keheranan. Itulah mengapa Imam Fakhrurrazi, seorang ahli tafsir yang juga menggeluti ilmu kalam, menggubah bait pada akhir kitab tipis yang ia beri judul Aqsam adz-Dzat.

نهاية إقدام العقول عقال * وأكثر سعي العالمين ضلال

Menjelaskan makna bait di atas, Dr. Nashir al-Aql dalam kitab syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah berkata bahwa mengedepankan akal untuk berupaya menerka keutuhan eksistensi Tuhan hanya akan berujung kepada kebingungan bahkan semakin seseorang mendalami pikirannya tentang Dzat Tuhan, dapat berakibat pada kesesatan.

Pengakuan Fakhrurrazi tentang keterbatasan manusia menjangkau Tuhan adalah bukti kuat yang menunjukkan bahwa Allah Dialah al-Aziz.

Makna kedua dari al-Aziz adalah Allah yang mendominasi dalam setiap perkara. Hal ini sebagaimana termaktub dalam al-Quran surat Yusuf ayat 21.

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.

Al-Qurtubi menafsirkan bahwa ayat di atas menunjukkan tentang kemutlakan kuasa Allah swt. Tidak ada sesuatu apapun yang mampu menandingi apalagi mengalahkan Allah.

Sementara makna ketiga adalah luhurnya Allah swt daripada penyerupaan dengan makhluk. Baik dari segi Dzat, sifat maupun perbuatan. Tiada sesuatu apapun yang menyerupai Allah swt. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah swt dalam al-Quran surat asy-Syura ayat 11.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Al-Qurtubi dalam tafsirnya menegaskan bahwa Allah swt tidak dapat diserupakan dengan makhluk dari segi apapun. Dzat-Nya tidak seperti dzat makhluk, nama-Nya tidak seperti nama makhluk, sifat-Nya tidak seperti sifat makhluk, perbuatan-Nya tidak sama dengan perbuatan makhluk. Semua itu hanya sama dalam penyebutan. Adapun maknanya sangat berbeda.

Ketiga makna di atas merupakan terjemahan dari nama Allah al-Aziz. Dampak yang nampak dari mengetahui makna al-Aziz adalah adanya keagungan Allah swt dalam hati yang melahirkan ketundukan kepada Allah swt, pengagungan, penghormatan, dan penghormatan kepada Allah swt. Hati yang sudah dihuni oleh al-Aziz akan melupakan selain-Nya sebagai bentuk pengagungan. Kemudian Syekh Ahmad Zarruq berdalil dengan surat al-Munafiqun ayat 8 yang menyatakan tentang kemuliaan yang hanya dimiliki oleh Allah, Rasulullah ﷺ dan orang-orang beriman.

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

.. padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tidak mengetahui.