
Dzata Yaumin, ada rasa di mana hari-hari tertentu terasa berat mencekam. Bagi saya, salah satunya ketika Ayah saya melepaskan genggaman tangan di depan gerbang pesantren. Waktu itu, di antara barang bawaan yang menumpuk dan riuh rendah suara perpisahan, ada ketakutan yang merayap pelan, ada cemas yang ditahan rapat-rapat oleh saya dan “sebenarnya” juga mungkin orang tua saya. Jika mengingat momen itu, timbul pertanyaan besar yang menggantung di kepala, apakah ini tempat yang saya inginkan, atau justru awal hukuman atas kenakalan remaja dengan mengasingkan saya dari dunia luar?
Syahdan, situasi tersebut baru terasa maknanya ketika kita sudah berada jauh di depan. Bagi saya, hal tersebut muncul kembali hari ini, 22 Oktober 2026. Bertahun-tahun setelah momen itu berlalu, sebagai seorang yang pernah di berikan kesempatan mempelajari kehidupan melalui ekosistem pesantren di Desa Pangkat, lalu kemudian melanjutkan langkah pengabdian di kehidupan yang lebih luas, saya gatal sekali ingin membisikkan kepada siapa pun yang kini sedang berdiri di persimpangan yang sama, entah yang memasukkan atau dimasukkan ke pesantren. Hei, Atlub Qalil rasa yakin ente untuk merekomendasikan pesantren, jangan sungkan untuk menaruh rasa percaya pada pendidikan pesantren.
Beberapa kali ketika kita nongkrong atau ngobrol tentang pesantren, orang luar mungkin pernah membayangkan pesantren sebagai lorong sempit yang membatasi langkah dan mengecilkan cita-cita. Padahal di sanalah, di balik kesederhanaan bilik-bilik pondok, mimpi kita justru pernah dibiarkan tumbuh setinggi langit. Rasanya, kita pernah diajarkan menelaah kitab-kitab klasik untuk memperdalam rasa, sembari diajak membuka mata lebar-lebar menghadapi sains, teknologi, dan kemajuan zaman. Pesantren tidak pernah melarang kita santrinya untuk bercita-cita menjadi apapun, berdaya dan berkarya. Justru di tempat inilah kita dibekali kompas moral yang amat bernilai, sebuah pegangan agar kelak, setinggi apa pun kita terbang dan sejauh apa pun kita melangkah, kita tetap tahu cara membumi, ingat jalan pulang, dan paham bagaimana memberi manfaat bagi sesama.
Kecerdasan otak mungkin bisa dibeli dan didapat di mana saja, tetapi kelembutan hati dan ketahanan mental rasanya mempunya tempat khusus di dalam pesantren. Di sanalah kita belajar arti persaudaraan yang sesungguhnya. Saat rindu rumah datang menyapa di tengah malam, teman satu biliklah yang menjadi keluarga terdekat. Kita belajar berbagi diantara jatah dan kiriman makanan kita, Atlub Qalil Sohibi, begitulah kira kira password pamungkasnya, termasuk saya. Belum ditambah berusaha mengurus atau merawat saat ada rekan yang sakit, serta belajar menurunkan ego di tengah ratusan kepala yang berbeda latar belakang.
Plus, yang paling tak ternilai adalah hadirnya kiai, nyai, asatiz, dan ustazah yang tidak pernah sekadar menjadi pengajar di depan kelas. Mereka mengasuh kami dengan ketulusan jiwa. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga meminta kepada sang Khalik, nama-nama mungil kita di dalam sujud malam mereka yang sunyi. Rasanya, keberkahan doa dan keteladanan hidup merekalah yang sampai hari ini menjadi salah satu wasilah dan pengingat kita saat harus mengambil keputusan-keputusan dalam hidup.
Pada momen Hari Santri ini pula, izinkan saya menyampaikan bisikan tulus lainnya. Memang beberapa kali di berbagai platform media dan perbincangan kita, ada berita yang tidak mengenakkan di dunia pesantren. Jika anda atau keluarga anda sedang menjadi korban, saya tidak akan melakukan pembelaan atas nama kesakralan, saya akan mengutuk kebejatan, pengalaman anda adalah valid. Namun jika setelah keyakinan dan proses ikhtiar melakukan pencarian referensi dan kemudian tetap memutuskannya masuk ke pesantren, seperti Dza Izza misalnya. Maka melepas anak, saudara, keluarga kita ke pesantren akan selalu diwarnai rasa was-was, air mata, dan rasa rindu yang berat. Percayalah, air yang menetes di gerbang pondok itu adalah benih dari pohon kebaikan yang kelak tumbuh rindang. Kemudian coba pikirkan bisikan berikut juga. Pesantren yang bertahun tahun menjaga standar kualitasnya bukankah juga layak pula untuk kita kibarkan ? Ya benar, begitulah rasanya pesantren kita. Ia Ibu yang tidak meminta dan menuntut banyak hal. Seringkali yang muncul hanya Atlub Qalil, meminta Sedikit. Itupun bukan karena ia tak mampu, tapi karena ia rindu menanti kabarmu serta yakin pada caramu menceritakannya.
Akhirnya, anggota keluarga yang kita percayakan kepada pendidikan pesantren tidak akan pernah kehilangan masa depannya. Pesantren memang tidak bisa menjaminnya, bisa jadi anggota keluarga kita juga tidak mulus perjalanannya, saya pun mengalaminya. Tapi, menurut keyakinan saya, pesantren berdiri di jajaran model pendidikan berkualitas untuk membentuk manusia yang utuh, yang tak hanya tajam pikirannya, tetapi juga lembut hatinya, mandiri langkahnya, dan tak pernah lupa menempatkan kebaikan di setiap helaan napas. Sekali lagi Atlub Qalil ya, percayalah pada pesantren, sebab dari sanalah kedamaian dan kebaikan masa depan bisa jadi bermula.
Terimakasih pondokku, kiaiku, guruku. Selamat Hari Santri ! Hidup Santri yang Berjuang, Hidup Santri yang Melawan Ketidakadilan !
Khozin Zaki, A.Md., S.E., M.A., CWC adalah Alumni Angkatan ke 2, Lulus Tahun 2013, Direktur Industri Halal KDEKS Bengkulu.