Kajian Rutin Asmaul Husna ke-10: Al-Muhaimin

Mengartikan makna al-Muhaimin, Syekh Ahmad Zarruq mengutip salah satu firman Allah swt dalam surat al-Ma’idah ayat 48.

وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

Kami telah menurunkan kitab suci (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan (membawa) kebenaran sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai penjaganya (acuan kebenaran terhadapnya). (al-Ma’idah : 48)

Beliau mengartikan kata Muhaimin dalam ayat tersebut dengan asy-Syahid, Sang Maha Menyaksikan.

إن المهيمن هو الشاهد المحيط بداخله ما شهد فيه

Sesungguhnya Allah al-Muhaimin adalah asy-Syahid, Maha Menyaksikan yang meliputi bagian terdalam dari apa yang Dia saksikan.

Oleh karena itu, nama al-Muhaimin ini lebih khusus hanya disematkan kepada Allah swt. Kesaksian secara menyeluruh tidak terdapat pada diri manusia. Sebab, Allah swt memiliki pengetahuan yang meliputi apa yang Dia saksikan dan ketetapan Allah swt kepada hal tersebut bersifat kebenaran mutlak. Tidak mungkin meleset apalagi salah.

Kemudian, Syekh Zarruq mengingatkan kita yang sudah mempelajari makna al-Muhaimin bagaimana seharusnya bersikap setelah mengenal kesaksian Tuhan yang mencakup segala hal.

من عرف أنه المهيمن، خضع تحت جلاله وراقبه في كل أحواله

Barang siapa yang mengenal Allah al-Muhaimin, niscaya ia akan tunduk di bawah keagungan-Nya dan selalu merasa dalam pengawasan Tuhan di setiap keadaannya.

Pengamalan yang lahir dari pengetahuan ini adalah hendaknya seorang hamba senantiasa memelihara dan menyaksikan keadaan nafsunya. Selalu memperhitungkan maksud dan tujuannya sebelum melakukan sesuatu dan mengawasinya dalam setiap keadaan. Karena sadar, bahwa tidak ada satu hal di dunia ini yang tersembunyi dari kesaksian dan pengawasan Allah swt.

Dalam kitab Tarikh al-Islam karya Imam adz-Dzahabi diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab senantiasa bermuhasabah, memperhitungkan dirinya atas apa yang telah atau akan ia lakukan. Salah satu riwayatnya mengatakan bahwa suatu hari Umar pernah menggantung qirbah (kantong minum dari kulit) di lehernya. Kemudian, para sahabat yang melihat itu bertanya tentang apa maksud dari perbuatan Umar yang tidak lazim itu. Kemudian, beliau menjawab:

إن نفسي أعجبتني فأردت أن أذلها

Sesungguhnya hawa nafsuku telah mengagumi diriku sendiri. Dengan perbuatan semacam ini, aku hendak menghinakannya.

Khasiat yang dimiliki dari nama al-Muhaimin adalah memberikan kemuliaan kepada jiwa serta kehormatannya dengan tingginya semangat dan kemauan dalam kebaikan. Dibaca sebanyak seratus kali setelah mandi dan salat dalam keadaan sendiri. Al-Muhaimin juga dikatakan mampu untuk mengabulkan hasrat keinginan. Wallahu a’lam.