Silaturahmi Wali Santri Kelas Akhir, Bekal Menuju Perguruan Tinggi Agar Sepakat dan Sepaket

Aula Tasabuq Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza dipenuhi suasana hangat pada Ahad, 4 Oktober 2026. Wali santri kelas akhir berkumpul bersama pihak pesantren dalam acara silaturahmi yang menjadi jembatan komunikasi antara orang tua, anak, dan pondok dalam mempersiapkan masa depan para santri menuju jenjang perguruan tinggi.

Kegiatan ini demi memastikan bahwa setiap santri kelas akhir atau Nihai memiliki rencana yang matang, terukur, dan didukung penuh oleh orang tua serta pondok.

Menyiapkan Masa Depan, Membangun Komunikasi

Ustaz Faza Haikal, S.T., selaku penanggung jawab kegiatan, menjelaskan bahwa tujuan utama silaturahmi ini adalah memberikan informasi secara langsung kepada orang tua mengenai berbagai rencana dan program yang telah disiapkan pondok untuk mendampingi anak-anak kelas akhir.

“Persiapan tersebut mencakup beberapa hal, mulai dari persiapan TKA, persiapan beasiswa, hingga persiapan menghadapi SNBT/UTBK dan berbagai jalur masuk perguruan tinggi lainnya,” ujarnya saat diwawancarai pada Ahad (4/10/2026).

Tidak hanya itu, pesantren juga menghadirkan representatif dari IPB University untuk memberikan orientasi mengenai jalur masuk perguruan tinggi. Sesi talkshow bersama alumni turut melengkapi acara, memberikan gambaran nyata bahwa perjalanan menuju kampus dapat ditempuh melalui berbagai jalan, tidak terbatas pada SNBP atau SNBT saja.

“Melalui kegiatan ini kami ingin agar orang tua mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai apa saja yang sedang dan akan dipersiapkan oleh pondok, sekaligus dapat mulai berdiskusi dengan anak mengenai rencana pendidikan mereka ke depan,” tambah Ustaz Faza.

Rangkaian Acara yang Bermakna

Acara dibuka dengan penampilan Tari Saman yang dibawakan oleh santri kelas akhir. Penampilan ini tidak hanya menjadi pembuka, tetapi juga simbol semangat dan kebersamaan para santri yang sebentar lagi akan menempuh babak baru dalam pendidikan mereka.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sesi orientasi perguruan tinggi yang memberikan informasi mengenai berbagai pilihan dan jalur pendidikan tinggi. Suasana semakin hidup ketika sesi talkshow bersama alumni berlangsung. Para alumni berbagi pengalaman mengenai perjalanan mereka menuju perguruan tinggi, memberikan motivasi dan gambaran nyata kepada santri maupun orang tua.

“Alumni berbagi pengalaman mengenai perjalanan mereka menuju perguruan tinggi, sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran dan motivasi kepada para santri maupun orang tua bahwa terdapat banyak alternatif dan strategi yang dapat ditempuh untuk mencapai kampus yang dituju,” jelas Ustaz Faza.

Kegiatan kemudian ditutup dengan tausiyah dan doa dari Mudirul Ma’had. Dalam arahannya, beliau menyampaikan berbagai rencana dan strategi yang telah disiapkan pondok untuk mendampingi anak-anak kelas akhir menghadapi tahapan pendidikan selanjutnya.

Kehadiran yang Menunjukkan Keseriusan

Acara ini dihadiri oleh jajaran pesantren. Tampak hadir Mudirul Ma’had K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T. beserta Mudiroh Ustazah Hj. Nyai Lilis Hafidzoh, S.K.M., Majelis Khidmat, para Wakil Mudir, wali kelas kelas akhir, serta para santri kelas akhir atau Nihai. Tidak ketinggalan, wali santri kelas akhir turut memenuhi undangan.

“Kehadiran orang tua menjadi sangat penting karena proses persiapan menuju perguruan tinggi tentunya tidak hanya menjadi tanggung jawab anak atau pondok saja, tetapi membutuhkan komunikasi dan kerja sama yang baik antara anak, orang tua, dan pondok,” tegas Ustaz Faza.

“Sepakat dan Sepaket”: Pesan Penting Mudirul Ma’had

Dari sekian banyak arahan yang disampaikan Mudirul Ma’had, ada satu poin yang perlu digarisbawahi: pentingnya kolaborasi antara rencana orang tua dan rencana anak. Mudirul Ma’had menyampaikan dua istilah menarik, yaitu “sepakat” dan “sepaket”.

Yang dimaksud dengan sepakat adalah adanya kesepakatan antara orang tua dan anak mengenai rencana perguruan tinggi, baik kampus maupun program studi yang akan dituju. Jangan sampai anak memiliki keinginan sendiri, sementara orang tua memiliki rencana yang berbeda, sehingga justru menjadi sumber konflik.

Sedangkan “sepaket” berkaitan dengan keselarasan antara keinginan atau passion anak dengan potensi akademiknya. Selama proses persiapan, pondok akan terus melakukan drilling soal, try out, dan pemetaan kemampuan akademik anak.

“Hasil dari proses tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu pertimbangan untuk melihat apakah pilihan kampus dan program studi yang diinginkan anak juga sesuai dengan potensi dan kemampuannya,” jelasnya.

Harapannya, bukan hanya anak dan orang tua yang sepakat mengenai tujuan, tetapi juga pilihan tersebut sepaket dengan passion dan potensi anak.

Harapan Setelah Silaturahmi

Ustaz Faza berharap, setelah kegiatan ini terbangun kondisi yang sepakat dan sepaket antara orang tua dan anak.

“Kami berharap tidak ada lagi orang tua dan anak yang masih berselisih atau berbeda pandangan mengenai pilihan jurusan maupun kampus tujuan. Justru kami berharap setelah kegiatan ini mereka bisa mulai duduk bersama, berdiskusi, dan menyusun rencana yang disepakati bersama,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia juga berharap hasil belajar dan nilai-nilai akademik anak, khususnya pada mata pelajaran utama seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika, serta mata pelajaran pendukung lainnya, dapat menjadi validasi terhadap potensi mereka.

“Dengan begitu, passion atau keinginan anak untuk melanjutkan ke bidang tertentu dapat didukung oleh potensi akademik yang mereka miliki,” tambahnya.

Pada akhirnya, Ustaz Faza menegaskan harapan besar dari seluruh rangkaian kegiatan ini: agar anak-anak kelas akhir tidak hanya memiliki cita-cita tentang kampus atau jurusan yang ingin dituju, tetapi juga memiliki rencana yang realistis, terukur, dan didukung oleh orang tua serta pondok.

“Kami ingin agar anak-anak kelas akhir tidak hanya memiliki cita-cita tentang kampus atau jurusan yang ingin dituju, tetapi juga memiliki rencana yang realistis, terukur, dan didukung oleh orang tua serta pondok,” pungkasnya.