
Belajar AI Bersama Microsoft Elevate
Kemajuan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan mengakses informasi. Dunia pendidikan pun tidak luput dari perubahan tersebut. Tantangannya bukan lagi sekadar mengenalkan AI kepada guru dan peserta didik, melainkan bagaimana memanfaatkannya secara bijak, kritis, dan tetap berpegang pada etika.
Kesadaran inilah yang melandasi hadirnya AI Teaching Power, sebuah program peningkatan kompetensi guru madrasah dan pesantren yang diinisiasi NU Care-LAZISNU, bekerja sama dengan Kementerian Agama RI dan Microsoft Elevate. Program ini merupakan tindak lanjut dari gagasan peningkatan literasi AI di lingkungan pendidikan keagamaan yang sebelumnya mendapat perhatian pemerintah. Program ini berlangsung secara bertahap sejak November 2025 hingga Juni 2026.
Di antara para peserta program tersebut, terdapat nama Ustazah Raden Nur Tsawaabit Faheim Yasin, S.Kom., M.TI., guru Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza. Pada angkatan ke-5 tahun 2026, ia tidak hanya mengikuti seluruh rangkaian pelatihan, tetapi juga terpilih sebagai Teacher of The Batch, sementara Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza meraih predikat School of The Batch. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas semangat belajar sekaligus kesungguhan pesantren dalam mengembangkan kompetensi pendidik di era digital.

Belajar dari Dua Raksasa Teknologi Dunia
Bagi Ustazah Nur Tsawaabit, mengikuti AI Teaching Power Batch 5 merupakan kelanjutan dari perjalanan panjangnya di bidang pendidikan berbasis teknologi.
Selama ini, ia aktif sebagai pelatih dalam program Koding dan Kecerdasan Artifisial yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk guru-guru SD, SMP, dan SMA di berbagai daerah.
“Selama ini saya terlibatnya di Kemendikdasmen yang pernah mengisi pelatihan di Makassar, Bali, dan lainnya dengan nama kegiatan Bimbingan Teknis Training of Trainers (ToT) Calon Pengajar Pe,belajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk guru-guru Jenjang Pendidikan Dasar,” jelas Ustazah Nur Tsawaabit.
Ketika mengetahui adanya AI Teaching Power yang diselenggarakan Kementerian Agama bersama Microsoft, ia melihat kesempatan untuk memperkaya sudut pandang. Sementara dari Kemendikdasmen bekerja sama dengan Google.
Menurutnya, setiap perusahaan teknologi memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengembangkan AI. Karena itu, memahami berbagai perspektif menjadi bekal penting bagi seorang pendidik.
“Saya ingin tahu sudut pandang dari kedua perusahaan besar teknologi ini. Saya ingin belajar lebih mendalam dari sudut pandang yang berbeda,” ungkapnya. Baginya, rasa ingin tahu merupakan modal utama untuk terus berkembang.
Belajar Sebulan Sebelum Masuk Kelas
Pelatihan AI Teaching Power tidak berlangsung secara instan. Sebelum mengikuti sesi bersama mentor Microsoft, seluruh peserta diwajibkan belajar mandiri selama kurang lebih satu bulan melalui Learning Management System (LMS) yang disediakan NU Care Global.
Sekitar 13 modul dipelajari secara bertahap, mulai dari konsep dasar AI, penerapannya dalam pembelajaran, hingga berbagai tantangan yang menyertainya. Setelah memiliki bekal tersebut, peserta mengikuti dua kali sesi pelatihan daring bersama para mentor.
Pendekatan itu membuat diskusi selama pelatihan berlangsung lebih mendalam karena seluruh peserta telah memiliki pemahaman dasar mengenai materi yang dibahas.
AI Harus Berjalan Bersama Etika
Salah satu hal yang paling berkesan bagi Ustazah Nur Tsawaabit ialah penekanan terhadap aspek etika dalam penggunaan AI.
Menurutnya, kecanggihan teknologi tidak akan memberi manfaat apabila digunakan tanpa nilai moral dan tanggung jawab.
“Kita dibekali pembelajaran abad ke-21 hingga etika dalam menggunakan AI. Etika penggunaan AI itu tidak boleh dipisahkan ketika diajarkan kepada murid. Kita harus selalu bekali etika penggunaannya,” jelas.
Ia juga mengingatkan bahwa AI bukanlah sumber pengetahuan utama yang dapat menggantikan proses belajar secara mendalam. Buku, jurnal ilmiah, dan website resmi yang terpercaya tetap menjadi rujukan utama. AI hanya berfungsi sebagai alat bantu karena masih memiliki kemungkinan menghasilkan informasi yang bias, mengalami hallucination, maupun melakukan kesalahan.
Karena itu, menurutnya, manusia harus terlebih dahulu memiliki kemampuan berpikir kritis agar mampu memverifikasi setiap informasi yang dihasilkan AI.

Pesantren dan AI Dapat Berjalan Beriringan
Keberhasilan Daar el-Qolam 3 meraih predikat School of The Batch menunjukkan bahwa pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai pendidikan Islam.
Teknologi tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran apabila dimanfaatkan secara tepat.
Melalui berbagai alat AI (AI Tools) yang kini tersedia, guru dapat merancang pembelajaran yang lebih efektif, efisien, dan kreatif. Namun, seluruh proses tersebut tetap membutuhkan kesiapan sumber daya manusia yang mau untuk terus belajar mengikuti perkembangan zaman.
Belajar Sepanjang Hayat di Era AI
Di penghujung wawancara, Ustazah Nur Tsawaabit menegaskan bahwa kemampuan menghadapi perubahan berawal dari kerendahan hati untuk terus belajar.
Menurutnya, semakin banyak seseorang belajar, semakin luas pula sudut pandang yang dimilikinya. “Menyadari kita ini belum apa-apa.”
Baginya, AI bukan tujuan akhir, melainkan salah satu pintu untuk memperluas wawasan. Ketika rasa ingin tahu terus dipelihara, seorang pendidik akan semakin kaya pengalaman, mampu melihat persoalan dari berbagai sisi, sekaligus lebih siap mendampingi peserta didik menghadapi masa depan.
Prestasi sebagai Teacher of The Batch dan School of The Batch merupakan sebuah langkah dari proses panjang untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi, pesantren menunjukkan bahwa inovasi dan nilai-nilai keislaman dapat berjalan berdampingan, saling menguatkan demi melahirkan generasi yang cakap secara digital sekaligus kokoh secara moral.