Empat Nilai Pendidikan Dza ‘Izza yang Menjadi Bekal Alumni di Yordania
Four people standing in an office receiving a glass award, with a man in a grey religious robe and cap, flags and ornate emblem behind them.
Penyerahan plakat dari Mahasiswa Indonesia bersama Prof. Amany Lubis untuk Daarul Ifta (Departemen Fatwa Umum) oleh Syaikh Dr. Ahmad Al-Hasanat (Grand Mufti untuk kerajaan Yordania)

Bagi Muhammad Zein Maulana, alumni Angkatan Ryoleta 2023, Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, kuliah di luar negeri bukan sekadar melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ada pengalaman hidup yang jauh lebih luas yang ingin ia raih.

Saat diwawancara pada Ahad, 7 Juni 2026, Zein menuturkan bahwa mahasiswa yang belajar di luar negeri memiliki kesempatan untuk merasakan pengalaman yang berbeda dibandingkan mahasiswa yang menempuh studi di dalam negeri.

“Privilege mahasiswa diaspora itu berbeda daripada mahasiswa di dalam negeri. Mahasiswa diaspora dia memiliki privilege pengalaman yang tidak akan pernah dimiliki oleh mahasiswa dalam negeri. Dan juga kita bisa mempelajari banyak sekali budaya baru di negerinya langsung,” ujarnya.

Keinginan untuk memperluas wawasan itulah yang kemudian membawanya ke Yordania, salah satu pusat studi Islam yang menjadi tujuan banyak pelajar dari berbagai negara.

Memilih Yarmouk University

Saat ini Zein menempuh pendidikan di Yarmouk University, Yordania, pada program Dirasat Islamiyah dan Tarbiyah Islamiyah. Pilihan tersebut tidak datang begitu saja. Ia memiliki cita-cita untuk berkiprah di dunia pendidikan, sehingga jurusan yang dipilih selaras dengan arah cita-citanya di masa depan.

Selain kualitas pendidikan yang baik, Yordania juga menawarkan kemudahan bagi mahasiswa Indonesia. Salah satunya berupa keringanan biaya kuliah yang diberikan oleh Kerajaan Yordania bagi mahasiswa internasional yang memenuhi persyaratan akademik dan administrasi.

“Saya ingin melanjutkan karir saya di dunia pendidikan. Dan kenapa saya memilih di Yordania padahal bisa melanjutkan di Indonesia? Karena kuliah di sini mendapatkan potongan biaya kuliah langsung dari Kerajaan Yordania hanya dengan syarat pemberkasan dan nilai kita ketika lulus,” jelasnya.

Hal lain yang menurutnya menarik adalah proses penerimaan mahasiswa yang relatif sederhana. Calon mahasiswa tidak diwajibkan mengikuti ujian masuk akademik. Mereka hanya menjalani tes kemampuan bahasa Arab untuk menentukan apakah dapat langsung mengikuti perkuliahan atau perlu mengikuti program persiapan bahasa terlebih dahulu.

Menaklukkan Tantangan Bahasa

Meski demikian, perjalanan belajar di negeri orang tetap menghadirkan tantangan tersendiri. Bagi Zein, tantangan terbesar adalah bahasa.

Di lingkungan pesantren, bahasa Arab telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun ketika berada di Yordania, situasinya berbeda. Tidak ada lagi ruang untuk bergantung pada penjelasan dalam bahasa Indonesia ketika menemui kesulitan memahami suatu materi.

“Tetapi hal itu bisa dilewati dengan banyak berinteraksi dengan orang lokal dan belajar dari beberapa talaqi yang dibuka di sini,” ungkapnya.

Berinteraksi dengan masyarakat setempat menjadi salah satu cara efektif untuk memperkaya kosakata sekaligus memahami ragam bahasa Arab yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Proses itu memang tidak mudah, tetapi justru menjadi bagian penting dari perjalanan akademiknya.

Group of volunteer aid workers wearing beige vests posing in a conference room in front of a "Humanitarian Aid Act" banner
Mahasiswa Indonesia bersama Anies Baswedan di acara Irbid Expo 2025 setelah menyalurkan bantuan untuk pengungsi Palestina di Yordania

Dza ‘Izza Membentuk Jiwa Pemimpin

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Zein merasa kehidupan di Daar el-Qolam 3 telah memberinya bekal yang sangat berharga.

Menurutnya, salah satu hal terpenting yang ia peroleh selama menjadi santri adalah mentalitas pejuang. Kehidupan pesantren membiasakan seseorang untuk siap menghadapi berbagai kondisi dan lingkungan yang berbeda.

“Daar el-Qolam 3 membentuk jiwa dan mentalitas pejuang yang tangguh, di mana pun kita berada kita harus siap dengan lingkungan kita berada,” ujarnya.

Bekal itu membuat proses adaptasi di luar negeri menjadi lebih ringan. Ketika harus menghadapi budaya baru, sistem pendidikan yang berbeda, maupun dinamika kehidupan mahasiswa internasional, ia sudah terbiasa untuk terus belajar dan bertahan.

Bahasa, Adab, dan Kepemimpinan

Selain mentalitas yang kuat, Zein juga merasakan manfaat besar dari pendidikan bahasa asing yang diterapkan secara disiplin di Daar el-Qolam 3.

“Daar el-Qolam 3 benar-benar mendidik kita khususnya di bahasa asing dengan bagus dan disiplin yang membuat kita para alumni bisa bersaing dengan lulusan pondok lain di sini,” katanya.

Namun menurutnya, keunggulan santri tidak hanya terletak pada kemampuan bahasa. Nilai adab yang ditanamkan selama mondok justru menjadi pembeda yang paling terasa ketika berinteraksi di lingkungan kampus.

“Mahasiswa di sini sangat-sangat diunggulkan karena memiliki nilai adab yang sangat tinggi dan sudah diakui oleh semua dosen di sini,” ungkapnya.

Di tengah kehidupan akademik yang kompetitif, sikap hormat kepada guru, etika dalam pergaulan, serta kemampuan menjaga hubungan baik dengan sesama menjadi nilai yang semakin dihargai.

Two young men in suits standing on stage holding a certificate together, one wearing a black songkok hat.
Penyerahan jabatan oleh Wakil Presiden HPMI Yordania 2025-2026 Ukaasyah Ahmad Kusyairi (kiri) kepada Presiden HPMI Yordania 2026-2027 Muhammad Zein Maulana (kanan)

Dari Organisasi Pesantren Menuju Pimpinan Mahasiswa Yordania

Bekal lain yang tak kalah penting adalah pengalaman kepemimpinan. Selama menjadi santri, Zein pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal Kelas Akhir tahun 2022–2023. Pengalaman itu menjadi batu pijakan untuk berkiprah lebih jauh di Yordania.

Perjalanan organisasinya terus berkembang. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Koordinator Divisi Pendidikan HPMI Irbid periode 2024–2025, kemudian dipercaya sebagai Gubernur HPMI Irbid periode 2025–2026. Kini, amanah yang lebih besar berada di pundaknya sebagai Presiden HPMI Yordania periode 2026–2027.

“Daar el-Qolam 3 juga mendidik kita sebagai pemimpin,” tuturnya.

Kisah Zein menunjukkan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya menyiapkan santri untuk memahami ilmu agama, tetapi juga membentuk mentalitas pejuang, kemampuan bahasa, berakhlak mulia, dan jiwa kepemimpinan.