Dari Dza ‘Izza ke Universiti Malaya: Kisah Alumni Menapaki Dunia Arsitektur
Smiling woman in a white hijab posing in front of a blue "Universiti Malaya" sign and crest with palm trees behind

Bagi sebagian orang, merantau ke luar negeri mungkin merupakan keputusan besar yang tak jarang bercampur kebimbangan. Namun bagi Aisyah Azzahrawani Hasan, alumni Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, keinginan untuk menjelajahi dunia sudah tumbuh sejak kecil.

Lahir dan besar di Sumatra membuatnya terbiasa memandang dunia sebagai ruang yang luas untuk dijelajahi. Bahkan sebelum berpikir tentang kuliah di luar negeri, ia terlebih dahulu meninggalkan kampung halaman untuk menempuh pendidikan di Daar el-Qolam 3. Pengalaman itu menjadi langkah awal yang membentuk keberaniannya menghadapi tantangan yang lebih besar.

Menurut Aisyah, setiap perjalanan selalu membuka kesempatan baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

“Sebagai anak Sumatra, keinginan saya dari kecil adalah keluar pulau dan menjelajahi tempat baru. Saya juga percaya bahwa dengan memulai perjalanan, kita akan menggapai banyak opportunity. Maka dari itu jangan takut, jalani saja. Tapi tentu harus mempersiapkan bekalnya terlebih dahulu,” tuturnya saat diwawancara pada Selasa 9 Juni 2026.

Keyakinan itulah yang kemudian membawanya melanjutkan studi ke Malaysia, menempuh pendidikan di salah satu universitas terbaik di Asia Tenggara.


Menyalurkan Seni Melalui Arsitektur
Saat ini Aisyah tercatat sebagai mahasiswa tahun ketiga Program Bachelor of Science in Architecture di Universiti Malaya, Malaysia.
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Di balik ketertarikannya pada dunia bangunan dan desain, tersimpan kecintaan yang besar terhadap seni. Baginya, arsitektur merupakan ruang pertemuan antara kreativitas, estetika, dan pemecahan masalah.

Sebagai seseorang yang menyukai seni, ia ingin menghasilkan karya yang dapat merepresentasikan gagasan dan ekspresinya. Arsitektur menjadi media yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut dalam bentuk yang nyata dan bermanfaat bagi banyak orang.

“Sebagai seniman, saya ingin menghasilkan karya yang bisa mengekspresikan diri saya. Karena itu saya memilih arsitektur untuk merealisasikan karya seni dalam bentuk bangunan,” ujarnya.

Lebih dari itu, dunia arsitektur juga melatih berbagai kemampuan penting seperti brainstorming, creative thinking, hingga project management. Keterampilan tersebut menjadi bekal berharga yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja masa kini.

Young woman in black hijab smiling and pointing beside a tall person wearing ornate gold traditional dress and headdress.


Enam Bulan Persiapan Menuju Universiti Malaya
Perjalanan menuju Universiti Malaya tidak berlangsung secara instan. Setelah memperoleh informasi resmi dari kampus dan melakukan berbagai riset melalui situs web maupun media sosial, Aisyah mulai menyusun strategi persiapan.

Salah satu fokus utamanya adalah meningkatkan kemampuan bahasa Inggris melalui tes IELTS. Kemampuan bahasa menjadi faktor penting dalam proses seleksi mahasiswa internasional.

Saat itu, proses penerimaan mahasiswa mencakup beberapa tahapan, mulai dari seleksi dokumen, penilaian portofolio, hingga wawancara. Dengan waktu persiapan yang relatif singkat, sekitar enam bulan, ia berusaha memenuhi seluruh persyaratan yang dibutuhkan.

“Alhamdulillah, dengan waktu yang cukup mepet saya bisa mempersiapkan semuanya dan akhirnya diterima di Universiti Malaya,” ungkapnya.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa perencanaan yang matang dan kesungguhan dalam mempersiapkan diri mampu membuka jalan menuju impian.


Menjadi Pelopor dalam Keluarga
Di balik keberhasilannya menembus perguruan tinggi luar negeri, tersimpan tantangan yang tidak ringan. Aisyah merupakan orang pertama dalam keluarganya yang menempuh pendidikan di luar negeri.

Situasi tersebut membuatnya harus mencari dan mengelola hampir seluruh informasi secara mandiri. Mulai dari proses pendaftaran universitas, pengurusan visa, pencarian akomodasi, hingga berbagai kebutuhan administrasi lainnya.

Orang tuanya memberikan dukungan penuh, namun belum memiliki pengalaman terkait sistem pendidikan internasional. Karena itu, hampir seluruh proses harus ia pelajari sendiri dari awal.

“Minimnya informasi dan sumber daya manusia menjadi tantangan terbesar. Saya orang pertama di keluarga yang kuliah di luar negeri, sehingga mau tidak mau harus mengurus semuanya dari A sampai Z,” katanya.

Beruntung, perkembangan teknologi memudahkan akses terhadap berbagai informasi. Internet, media sosial, dan komunitas mahasiswa internasional menjadi sumber pengetahuan yang sangat membantu selama proses persiapan.


Ditempa Pesantren untuk Menghadapi Dunia
Ketika ditanya mengenai manfaat yang paling dirasakan dari kehidupan di Daar el-Qolam 3, Aisyah memberikan jawaban yang singkat, namun sarat makna.

“Mental saya benar-benar ditempa,” ujarnya.

Kalimat sederhana itu merangkum pengalaman panjang yang ia jalani selama menjadi santri. Kehidupan pesantren yang penuh disiplin, kemandirian, dan tantangan sehari-hari ternyata menjadi modal penting ketika harus hidup jauh dari keluarga dan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Kuliah di luar negeri tidak hanya menuntut kemampuan akademik, tetapi juga ketahanan mental. Mahasiswa dituntut mampu mengambil keputusan sendiri, menyelesaikan berbagai persoalan secara mandiri, serta beradaptasi dengan budaya dan sistem yang berbeda.

Dalam konteks itulah, pengalaman nyantri memberikan bekal yang tidak ternilai. Apa yang dahulu terasa sebagai rutinitas pendidikan di pesantren, kini menjadi kekuatan yang membantunya bertahan dan berkembang di lingkungan internasional.