
Sejumlah santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza tampak sibuk membuka lembar demi lembar buku berbahasa Arab. Sebagian mengulang kosakata, sebagian lain mendiskusikan pola kalimat dan soal-soal latihan. Di tangan mereka, kamus kecil tak pernah jauh terbawa. Bahkan, kamus itu nyaris selalu menemani ke mana pun mereka pergi.
Kesungguhan itu menjadi bagian dari persiapan menghadapi Olimpiade Bahasa Arab (OBA) tingkat nasional, sebuah kompetisi tahunan yang mempertemukan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN).
Guru Pembimbing sekaligus Kepala Subagian Dirasah IsIamiyah dan Lughawiyah, Ustaz Alif Hendrawan, Lc., menjelaskan bahwa kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Forum MGMP Bahasa Arab se-Indonesia dan berlangsung dalam beberapa tahapan.
“Olimpiade Bahasa Arab ini adalah ajang kompetisi tahunan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Forum MGMP Bahasa Arab se-Indonesia. Kompetisi ini dibagi menjadi 3 tingkatan, yakni tingkat kabupaten, tingkat provinsi dan tingkat nasional. Yang dimana kompetisi pada tingkat kabupaten selalu dilaksanakan secara online. Adapun, tingkat provinsi dan nasional akan dilaksanakan secara offline di tempat yang ditentukan oleh panitia terkait,” jelas Ustaz Alif, saat diwawancara pada Kamis, 7 Mei 2026.
Kompetisi tersebut diikuti pelajar dari berbagai penjuru Indonesia. Tidak hanya sekolah dalam negeri, sejumlah peserta dari SILN di Riyadh, Jeddah, dan Makkah juga turut ambil bagian. Tahun ini, jumlah peserta mencapai sekitar 23 ribu orang.
Persiapan dari Ruang-Ruang Belajar Pesantren
Di tengah persaingan yang begitu besar, Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza mengirimkan santri terbaiknya dari jenjang SMP dan SMA.
Untuk jenjang SMP, peserta yang mengikuti Olimpiade Bahasa Arab ialah Adzmar Aulia Ridhanto, Ahmad Qaiser Azmi Hael, Muhammad Yusuf Afandi, Daffa Nurali Alvarul, Ratu Nayla Mustika, dan Fatuh Aulia Hanifah.
Sementara dari jenjang SMA, peserta yang mewakili pesantren ialah Alfathan Fathurachman Sastrawidjaja, Humaidi Hafidz Dhiya Ul Haq, Muhammad Nabil Na’imullah, Evan Firja Imtiyaz, Muhammad Fachry Zainuddin, dan Cantika Ummi Ramadhani.
Persiapan para santri, tentu saja, tidak dilakukan secara dadakan. Mereka mempelajari kumpulan soal Olimpiade Bahasa Arab dari tahun-tahun sebelumnya, memperdalam materi melalui buku Al-Arabiyah Bayna Yadaik, hingga membiasakan diri memperkaya kosakata dalam keseharian.
“Para santri mempelajari kumpulan soal Olimpiade Bahasa Arab tahun-tahun lalu, serta buku Arabiyah Bayna Yadaik. Tidak hanya itu, mereka terus memperkaya kosakata Bahasa Arab mereka dengan membawa kamus ke manapun,” ujar Ustaz Alif.

Tantangan dari Sekolah Unggulan dan SILN
Namun perjalanan menuju tingkat nasional bukan perkara mudah. Mereka harus berhadapan dengan sekolah-sekolah unggulan yang selama ini dikenal kuat dalam bidang Bahasa Arab, termasuk peserta dari SILN yang kesehariannya hidup di lingkungan berbahasa Arab.
“Tantangan besar kami datang dari sekolah yang terkenal dengan selalu mencatatkan namanya di tingkat nasional, juga datang dari SILN yang secara kemampuan Bahasa Arab tentu mereka lebih unggul karena hidup di lingkungan orang-orang Arab,” tuturnya.
Persaingan yang ketat tidak membuat semangat para santri surut. Justru, tantangan itu menjadi dorongan untuk belajar lebih tekun dan memperkuat kemampuan mereka.
Menjaga Harapan untuk Kembali ke Tingkat Nasional
Bagi Daar el-Qolam 3, Olimpiade Bahasa Arab bukan sekadar perlombaan akademik. Ajang ini juga menjadi ruang pembuktian bahwa santri pesantren mampu bersaing di tingkat nasional melalui kemampuan bahasa, ketekunan belajar, dan daya juang yang kuat.
Pesantren ini sebelumnya pernah mencatat capaian membanggakan pada Olimpiade Bahasa Arab dua tahun lalu. Kini, harapan itu kembali tumbuh dengan semangat yang lebih tinggi.
“Harapan saya, kami bisa sampai pada tahap nasional sebagaimana yang telah dicapai anak kami pada Olimpiade Bahasa Arab pada 2 tahun lalu. Meskipun kami yakin itu tidak mudah, karena menjaga tentu lebih sulit. Tapi keyakinan itu selalu datang dari kemampuan dan semangat anak-anak kami yang begitu luar biasa, bismillah,” ungkap Ustaz Alif.
Di balik lembar soal, hafalan mufradat, dan latihan yang terus diulang, tersimpan satu hal yang lebih besar: semangat belajar yang tidak mudah padam. Dari ruang-ruang belajar di pesantren, para santri itu sedang menapaki jalan panjang untuk membuktikan bahwa ketekunan mampu membawa mereka bersaing di panggung nasional. Dan tentunya, doa dari kiai dan guru.
—————-
Mari bergabung mengukir prestasi di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza.
Berikut link pendaftarannya: