Alumni Daar el-Qolam 3 Diterima di Enam Kampus Internasional
Young graduate in cap and gown holding diploma and trophy, flanked by proud parents wearing patterned batik and hijab.

Dari bangku kelas dua SMP, ketika sebagian pelajar masih belum memikirkan cita-cita, Firza Khoirul Qalbani justru sudah memandang jauh ke depan melampaui batas negeri. Alumni Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza ini berhasil diterima di enam perguruan tinggi luar negeri.

“Mimpi untuk bersekolah di luar negeri sudah ada sejak saya menduduki kelas 2 SMP. Saya merasa kualitas pendidikan tidak hanya terletak pada akreditasi sekolah, tapi juga environment yang ada. Lalu dari segi akreditasi dan dukungan lingkungan, saya merasa bahwa perguruan tinggi di luar negeri bisa memberikan keduanya di tingkat yang maksimal. Lalu ketika saya mengetahui adanya program internasional di Daar el-Qolam 3, saya melihat ini sebagai wadah untuk mempersiapkan diri secara holistik maupun kognitif sebelum memulai masa studi,” ungkap Firza saat diwawancara pada Sabtu, 9 Mei 2026.

Firza diterima di sejumlah kampus ternama, di antaranya Bond University untuk program Bachelor of Commerce, James Cook University untuk Bachelor of Information Technology, Massey University untuk Bachelor of Artificial Intelligence, Victoria University of Wellington untuk Bachelor of Human Genetics Molecular Pathology, Lincoln University untuk Bachelor of Agribusiness and Food Marketing, serta Asia Pacific University of Technology & Innovation untuk Bachelor of Cyber Security.

Menatap Masa Depan di Dunia Digital
Di antara berbagai pilihan bidang studi, Firza berkesempatan menapaki langkahnya pada bidang digital. Baginya, dunia sedang bergerak cepat ke arah teknologi, dan kebutuhan industri terhadap tenaga ahli di bidang tersebut terus meningkat.

“Saya diterima di beberapa universitas di bidang digitalisasi seperti AI dan cyber security. Lulusan di bidang digitalisasi itu sangat diminati karena demand industri yang melonjak. Saya memandang ini sebagai kesempatan yang layak untuk dicoba,” ujarnya.

Pilihan itu menunjukkan satu hal: santri hari ini tidak hanya bergerak di bidang keagamaan, tetapi juga menapaki bidang-bidang strategis yang akan menentukan wajah masa depan.

Proses Panjang di Balik Surat Penerimaan
Namun, surat penerimaan dari kampus luar negeri tidak datang dengan mudah. Di baliknya ada proses panjang yang melelahkan: sertifikasi bahasa, pemberkasan, penerjemahan dokumen, tes kesehatan, hingga pembuatan paspor. Firza mengakui, semuanya menuntut energi, waktu, dan biaya yang tidak sedikit.

“Pastinya proses administrasi, pemberkasan, dan tes, merupakan suatu hal yang rumit. Dimulai dari hal mendasar seperti sertifikasi bahasa Inggris. Saya membutuhkan dua kali percobaan untuk mencapai nilai yang cukup, yang berarti biaya yang dikeluarkan juga berlipat. Pada proses administrasi dan pemberkasan, menerjemahkan berkas juga butuh waktu yang lumayan lama, karena saya sulit untuk menemukan penerjemah dengan harga yang sesuai. Proses tes kesehatan dan pembuatan passport juga cukup melelahkan, karena membutuhkan kehadiran fisik,” jelasnya.

Di tahap pendaftaran, ada satu bagian yang menurut Firza paling menentukan: menulis esai. “Di tahap pendaftaran kuliah, bagian writing essai itu bagian yang paling penting menurut saya. Karena untuk mendapatkan satu halaman penuh, saya harus meriset orientasi dan prioritas kampus, lalu saya juga harus memerhatikan murid seperti apa yang mereka butuhkan,” ungkapnya.

Esai, bagi Firza, bukan sekadar tulisan. Ia adalah pintu pertama yang mempertemukan gagasan pribadi dengan visi sebuah universitas.

Beasiswa: Harapan Besar
Setelah diterima kampus, perjuangan belum selesai. Justru tantangan terbesar datang setelahnya: pembiayaan. Firza menyadari bahwa kesiapan mental dan akademik tidak cukup jika tidak ditopang kemampuan finansial. Karena itu, ia aktif berburu berbagai peluang beasiswa penuh.

“Tantangan paling utama dan paling besar, menurut saya, ada di pembiayaan. Meskipun kampus sudah menerima, mental sudah siap, dan segalanya sudah dipersiapkan, tapi kalau finansial tidak mendukung, semuanya tidak bisa terlaksana. Untuk mengatasi ini pastinya bersikeras mencari beasiswa dengan tanggungan seratus persen. Kurang lebih ada sepuluh beasiswa pemerintah luar, lalu beberapa beasiswa yayasan yang saya daftar,” terangnya.

Langkah Awal dari Daar el-Qolam 3
Bagi Firza, Daar el-Qolam 3 menjadi tempat yang menguatkan fondasi awal sebelum melangkah lebih jauh. Program internasional yang ada di pesantren memberinya ruang untuk bertumbuh, baik secara intelektual maupun mental.

“Belajar di Daar el-Qolam 3, khususnya di program internasional, selalu memberikan dukungan persiapan yang kuat. Pembekalan-pembekalan dari para asatiz dan ustazah, dalam bentuk bimbingan pribadi maupun program khusus, sangat membantu dalam pembentukan mentalitas dan menciptakan dorongan yang kuat untuk berani bermimpi sebesar mungkin,” ungkap Firza.

Hal itu sejalan dengan pandangan Ustaz Mohammad Iqbal, guru Daar el-Qolam 3 yang kini tengah melanjutkan studi di Turkey. Menurutnya, santri harus hadir di berbagai sektor kehidupan.

“Saya ingat pesan almarhum Kiai Syahid bahwa santri harus ada di semua bidang, tidak harus jadi kiai, tapi bisa menjadi pebisnis, lawyer dan sebagainya namun tetap berpegang pada nilai-nilai Islam,” kata Ustaz Iqbal, saat diwawancara pada Sabtu, 9 Mei 2026.

“Umat Islam ini butuh pengusaha, teknokrat, dan lainnya,” sambungnya.

Untuk membantu santri menyiapkan studi luar negeri, Ustaz Iqbal juga pernah mengadakan workshop persiapan kuliah sebelum haflah. Materi yang diberikan meliputi motivation letter, personal statement, penulisan esai, hingga teknik menyusun CV. Baginya, bekal seperti itu penting agar santri lebih siap menghadapi persaingan global.

“Harapannya, mereka yang kuliah ke luar negeri ini bisa membawa nama baik Daar el-Qolam 3 khususnya, dan membawa nama baik Indonesia secara umum, bisa mengamalkan ilmunya. Dan kalau sudah lulus bisa berbagi ilmu ke adik-adiknya,” pungkas Ustaz Iqbal.

Perjalanan Firza mungkin baru dimulai. Tetapi langkah kecil yang dulu tumbuh dari bangku SMP kini telah berubah menjadi pintu menuju dunia yang lebih luas. Dari pesantren, dari ruang belajar, seorang santri sedang membuktikan bahwa mimpi besar bukan milik mereka yang lahir dengan banyak kemudahan, tetapi milik mereka yang berani merawatnya hingga menjadi kenyataan.


Mari bergabung mengukir prestasi di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza.

Berikut link pendaftarannya:

https://psb.daarelqolam3.sch.id/auth/login