
Pertemuan bulanan santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza kembali berlangsung pada Senin (4/5/2026) di Aula Tasabuq. Kegiatan rutin ini menjadi ruang evaluasi, pembinaan, dan penguatan nilai-nilai kepesantrenan bagi seluruh santri.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ahmad Nabil Hafizh, santri kelas 5 SMAWI A. Setelah itu, diumumkan hasil evaluasi kebersihan kelas dan kamar, baik putra maupun putri, mulai dari kategori terbersih hingga terkotor, sebagai bahan perbaikan bersama agar budaya kebersihan dan kerapian terus meningkat. Dalam kesempatan yang sama, nama-nama santri berprestasi juga disampaikan sebagai bentuk apresiasi sekaligus penyemangat bagi seluruh santri untuk terus meningkatkan prestasi.
Selanjutnya, Mudir al-Ma’had K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T. menyampaikan tausiyah yang menitikberatkan pada kesiapan santri menghadapi waktu-waktu penting ke depan, terutama ujian semester kedua Tahun Ajaran 2025/2026 serta berbagai agenda kepesantrenan yang akan dijalani.
Bulan Ujian dan Persiapan Sungguh-sungguh
Dalam tausiyahnya, Kiai Zahid mengingatkan bahwa masa-masa yang akan datang adalah masa ujian, dan seluruh santri harus menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh.
“Tidak ada santri yang ikut ujian sebelum melaksanakan kewajiban hafalan al-Qur’an. Artinya, ujian imla, ujian core subject, ujian LOTEA, termasuk di dalamnya bukan hanya ujian lisan ataupun tulisan yang termaktubkan itu. Ini adalah bulannya ujian,” ujar beliau.
Menurut Kiai Zahid, ujian tidak boleh dipandang secara terkotak-kotak atau dianggap lebih penting satu dibanding yang lain. Semua bentuk ujian adalah bagian dari kewajiban yang harus ditunaikan dengan keseriusan.
“Maka santri harus cerdas,” kata beliau.
Kiai Zahid menjelaskan bahwa kecerdasan bukan hanya soal kemampuan akademik, melainkan bagaimana seseorang mengoptimalkan potensi akalnya.
“Cerdas itu adalah orang yang mampu memaksimalkan otaknya untuk berpikir, untuk mencerna,” sambungnya.

Akal sebagai Amanah dan Bentuk Syukur
Dalam penjelasannya, Kiai Zahid mengaitkan pentingnya akal dengan wahyu pertama yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw., sebagaimana termaktub dalam Qur’an Surah Al-‘Alaq ayat 1:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
“Itu tugas manusia diberikan akal, maka itulah wahyu pertama yang diturunkan,” ungkap beliau.
Kiai Zahid menjelaskan bahwa otak adalah bentuk zhahir manusia, sedangkan akal adalah nilai yang terkandung di dalamnya. Karena itu, akal harus digunakan secara maksimal sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt.
“Berpikir yang shalih itu harus benar. Kalau akal digunakan untuk berpikir yang salah, yang buruk, maka salah kita memaksimalkan arti bersyukur kepada Allah Swt.,” tegas Kiai Zahid.
Beliau menegaskan bahwa belajar dengan sungguh-sungguh adalah bagian dari rasa syukur, karena akal digunakan untuk hal yang benar. Demikian pula menghormati orang tua, guru, kakak kelas, dan menyayangi adik kelas merupakan bentuk syukur yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Menjadi Khairu Ummah
Selain menyinggung soal belajar, Kiai Zahid juga kembali mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan kerapian, mulai dari lingkungan sekitar hingga penampilan pribadi. Semua itu dimulai dari diri masing-masing.
Beliau juga menegaskan bahwa seluruh perjalanan menuntut ilmu harus dimulai dari hati yang bersih.
“Hati yang bersih, langkahnya (rencananya) tertata dan adabnya dijaga,” ujar beliau.
Lebih lanjut, beliau mengingatkan bahwa santri harus menjadi khairu ummah, yakni generasi terbaik yang menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat. Hal itu sebagaimana firman Allah Swt. dalam Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 110:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
Hidup Harus Punya Arah
Kiai Zahid juga menekankan pentingnya refleksi diri atau muhasabah. Menurutnya, santri tidak boleh hanya terpaku pada nilai akhir, tetapi harus menilai bagaimana proses perjuangannya. Jika hasilnya baik, tetap harus dievaluasi, karena mungkin saja hanya kebetulan. Jika hasilnya kurang baik, jangan menyalahkan orang lain. Yang paling penting adalah mempersiapkan diri dengan matang dan tidak bermalas-malasan.
“Karena itu sejatinya ujian bukan hanya menguji apa yang kita hafal, ujian sejatinya menguji kedisiplinan kita, kejujuran kita, kebiasaan, dan kesungguhan kita,” tegas Kiai Zahid.
Beliau kemudian mengutip firman Allah Swt. dalam Qur’an Surah Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Kiai Zahid menjelaskan bahwa ayat itu merupakan perintah dari Allah Swt. yang mengandung pelajaran penting. Pertama, agar hidup jangan tanpa arah. Segalanya harus tersusun dan dipersiapkan. Kedua, jangan sekadar menajalani hari tapi harus ada nilai lebih. Al-hayatu harakatun wa jihadun, hidup adalah gerak dan perjuangan. Ini adalah value-nya. Meningkatkan akhlak dan ilmu.
“Semakin orang berakhlak di dunia ini, semakin berharga. Apalagi dengan berilmu, paling berharga,” tegas Kiai Zahid.
Ketiga, lihat kembali apa yang sudah kita persiapkan. Hari esok bukanlah datangnya esok pagi, tapi kepastian kematian menghadap Allah Swt. Maka harus dipersiapkan bekal menghadapinya, karena kita tidak tahu kapan waktunya.
“Karena itu biasakanlah dirimu dengan good habits,” ujar beliau.
Membangun Good Habits
Kiai Zahid menjelaskan bahwa membangun good habits bukan tentang perubahan besar secara tiba-tiba tapi tentang langkah kecil.
“Good habits adalah langkah kecil yang dilakukan terus-menerus secara konsisten,” jelas beliau.
“Kebiasaan baik itu lahir bukan dari semangat sesaat, melainkan dari sebuah komitmen yang terus dijaga, bahkan ketika rasa malas itu datang,” sambungnya.
Dalam prosesnya rasa jenuh akan muncul, namun, kata Kiai Zahid, kalau tahu target kita di masa depan, maka good habit itu akan terus dilaksanakan.
Kiai Zahid mengutip nasihat Imam Ibn al-Qayyim bahwa, “Malas adalah musuhnya jiwa. Ia akan menghalangi seseorang dari kebaikan dunia dan akhirat. Tidak akan muncul rasa malas itu bila kita ingin melaksanakan yang tidak bermanfaat. Tapi akan muncul rasa malas itu ketika kita ingin melaksanakan kebaikan dunia dan akhirat. Maka lawanlah.”
“Jadi, rasa malas adalah penyakit bagi jiwa yang merusak kepribadian, dan menghilangkan semangat hidup, dan menyebabkan nilai-nilai kita sebagai manusia menunda-nunda pekerjaan, yang akhirnya lupa, itu membahayakan kita sebagai manusia,” jelas Kiai Zahid.
Beliau kemudian mengingatkan etos perjuangan almarhum K.H. Ahmad Syahiduddin agar tidak menunda pekerjaan yang dapat diselesaikan hari ini.
Sebagaimana ungkapan hikmah:
لا تُؤَخِّرْ عَمَلَكَ إِلَى غَدٍ
“Jangan menunda pekerjaanmu sampai esok hari.”
Pertemuan bulanan santri tersebut ditutup dengan motivasi dari Kiai Zahid agar seluruh santri terus menjaga semangat juang, memperbaiki kualitas diri, dan belajar dengan sungguh-sungguh.