Menumbuhkan Budaya dan Kejujuran Ilmiah di Pesantren, Santri Dza ‘Izza Tempuh Proses Panjang KTI
Collage of students and a teacher in a classroom; girls in hijabs present projects while a male teacher gestures and listens.

Santri kelas 2 dan kelas 5 SMAWI, Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, tampak sibuk membuka laptop, menelusuri referensi, dan mendiskusikan kalimat demi kalimat yang mereka tulis. Ada yang masih memperbaiki latar belakang penelitian, ada yang membaca buku-buku referensi dan jurnal ilmiah, sementara yang lain mempersiapkan diri untuk giliran sidang kelompok.

Di balik suasana itu, tersimpan satu proses panjang yang tidak sederhana: penyusunan Karya Tulis Ilmiah (KTI). Kegiatan ini tidak hanya menjadi tugas akademik, tapi perlahan menjadi ruang latihan bagi santri untuk belajar berpikir ilmiah, kritis, sistematis, sekaligus berani mempertanggungjawabkan gagasannya di hadapan para penguji.
Program KTI tahun ajaran 2025–2026 di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza pun kembali berjalan dengan berbagai tahapan yang terstruktur dan pendampingan intensif.

Dimulai dari Stadium General
Penanggung jawab kegiatan KTI, Ustaz Ade Rumaidi, S.Pd., menjelaskan bahwa program penyusunan KTI tahun ajaran 2025–2026 telah dimulai sejak 16 November 2025 melalui kegiatan stadium general. Kegiatan tersebut menjadi pembukaan sekaligus pembekalan awal bagi seluruh peserta KTI dari kelas 2 dan kelas 5 SMAWI.

Sehari penuh, para santri mendapatkan pengarahan mengenai berbagai aspek penyusunan karya ilmiah, mulai dari teknis penulisan, metodologi penelitian, hingga penyusunan latar belakang penelitian.

Kegiatan dibuka oleh Wakil Mudir Bidang Pengajaran, Ustaz H. Indra Jaya, yang memberikan arahan umum terkait pentingnya KTI. Selanjutnya, Kepala Sekolah Ustaz Eka Sugandi menyampaikan berbagai hal teknis mengenai pelaksanaan program. Materi penulisan KTI disampaikan oleh Ustazah Nur Tsawabit agar format karya tulis para santri tetap seragam, sedangkan metodologi penelitian dibahas oleh Ustazah Dzikroh. Adapun Ustaz Ade sendiri memberikan pembekalan mengenai penyusunan Bab I atau latar belakang penelitian.

“Alhamdulillah, program penyusunan KTI tahun ajaran 2025-2026 sudah dimulai lagi,” ungkap Ustaz Ade saat diwawancara pada Senin, 18 Mei 2026.

Collage of four students in modest school uniforms giving presentations, standing by screens showing slides and graphics.


Menyusun KTI Selama Satu Semester
Selepas stadium general, para santri memasuki tahap yang paling panjang, yakni proses bimbingan bersama guru pembimbing yang telah ditentukan. Dalam setiap kelompok, terdapat sekitar lima hingga enam santri yang dibimbing secara intensif sejak November hingga awal Mei 2026.

Menurut Ustaz Ade, proses tersebut berlangsung hampir selama satu semester penuh. Para santri tidak hanya diminta menyusun tulisan, tetapi juga belajar mencari referensi, membangun kerangka berpikir, menyusun data, hingga memperbaiki hasil revisi secara berulang.

Batas pengumpulan KTI ditetapkan pada 7 Mei 2026, baik dalam bentuk soft file maupun hasil cetak. Setelah itu, para santri mulai menyiapkan presentasi dalam bentuk powerpoint untuk menghadapi sidang kelompok.

“Mereka mengerjakan hampir kurang lebih sekitar satu semester untuk KTI ini,” papar Ustaz Ade.


Sidang Kelompok dan Ujian Keaslian Karya
Saat ini, program KTI telah memasuki tahap sidang kelompok. Para peserta dibagi ke dalam 12 kelompok, yang terdiri atas empat kelompok KTI berbahasa Indonesia, dua kelompok berbahasa Arab, dan enam kelompok berbahasa Inggris. Setiap kelompok berisi sekitar 10 hingga 11 peserta.

Di ruang-ruang sidang itu, suasana berlangsung serius. Sejak jam pertama hingga jam terakhir pelajaran, para peserta diuji satu per satu dengan durasi sekitar 20 menit. Menurut Ustaz Ade, sidang tersebut bukan hanya menguji isi tulisan, tetapi juga menggali sejauh mana keaslian karya dan pemahaman peserta terhadap penelitian yang mereka susun.

“Penguji berusaha mencari tahu tentang banyak hal mulai dari keaslian KTI, proses bimbingannya, proses pembuatannya dan sebagainya,” terangnya.

Bagi para santri, sidang kelompok menjadi pengalaman penting untuk belajar berbicara di depan forum ilmiah, menjelaskan ide penelitian, sekaligus mempertahankan argumentasi mereka secara langsung.


Menuju Sidang KTI Terbaik
Setelah sidang kelompok selesai, panitia akan memasuki tahap pengolahan nilai dan penentuan karya terbaik. Seluruh hasil sidang akan dibahas bersama para pembimbing dan penguji sebelum diputuskan karya mana yang layak tampil dalam sidang KTI terbaik.
Saat ini, menurut Ustaz Ade, proses tersebut masih menunggu seluruh nilai dari para penguji terkumpul.

“Nanti kalau sudah terkumpul semua akan kami olah, kemudian hasil itu akan kami sampaikan kepada para pembimbing dan penguji untuk disidangkan mana yang layak untuk kita tampilkan di sidang KTI terbaik nanti,” jelasnya.

Rencananya, sidang KTI terbaik akan dilaksanakan pada tahun ajaran baru di aula pesantren dengan menghadirkan orang tua dari para santri terpilih.


Judul Penelitian Semakin Berkembang
Meski seluruh penilaian belum selesai dilakukan, Ustaz Ade melihat adanya perkembangan positif dari kualitas tema penelitian para santri tahun ini. Ia menilai banyak judul yang lebih menarik dibandingkan tahun sebelumnya.

“Dari beberapa judul saja yang saya lihat banyak yang bagus-bagus yang sangat menarik dibanding tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa para santri mulai memiliki keberanian untuk mengangkat tema yang lebih matang dan lebih luas dalam karya ilmiah mereka.

Four students in formal dress and songkok giving presentations in front of classroom screens, one female in a hijab gesturing.

Dari Pesantren Menuju Budaya Ilmiah
Bagi Ustaz Ade, program KTI bukan semata-mata tentang menghasilkan tulisan terbaik. Lebih dari itu, program ini menjadi sarana untuk membentuk pola pikir ilmiah, kejujuran ilmiah, dan sikap kritis di kalangan santri.
Ia berharap para peserta setidaknya mulai memahami dasar-dasar penyusunan karya ilmiah serta memiliki kemampuan berpikir yang lebih sistematis dan analitis.

“Anak-anak setidaknya mulai paham, mengetahui, bisa membuat karya ilmiah atau minimal bertambah pengetahuan dan keterampilan berpikir ilmiah dan berpikir kritisnya,” sambungnya.

Tidak hanya itu, ia juga berharap karya-karya yang dihasilkan santri Dza ‘Izza suatu saat dapat tampil dalam berbagai ajang lomba ilmiah di tingkat yang lebih luas. Bahkan, ia memiliki harapan agar ke depan Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza dapat menjadi tuan rumah lomba karya tulis ilmiah berskala nasional.

“Harapan terbesar saya mudah-mudahan ke depannya kita bisa mengadakan lomba karya tulis ilmiah yang sifatnya besar atau nasional dan kita sebagai tuan rumahnya,” pungkasnya.