Le Français à Dza ‘Izza: Ketika Santri Belajar Bahasa dan Budaya Prancis
Teenage boy in a patterned shirt standing in a library aisle holding a French textbook titled "Civilisation progressive du français."

Bahasa bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah jalan untuk memahami cara berpikir, kebiasaan, hingga budaya suatu bangsa. Ketika seseorang mempelajari bahasa asing, sesungguhnya ia sedang membuka jendela menuju dunia yang lebih luas.

Hal itu pula yang dirasakan para santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza melalui program LOTEA (Language Other Than English and Arabic). Program tersebut menjadi ruang bagi santri untuk mengenal berbagai bahasa asing selain bahasa Inggris dan Arab, salah satunya bahasa Prancis atau le français.

Di tengah berkembangnya kebutuhan komunikasi global, kemampuan berbahasa asing kini bukan hanya menjadi nilai tambah, tetapi juga bekal penting untuk melanjutkan pendidikan, memperluas relasi internasional, hingga membuka peluang karier di masa depan.


Dari Kelas LOTEA Menuju Juara Nasional
Manfaat program LOTEA mulai dirasakan secara nyata oleh para santri. Salah satunya melalui prestasi Ahmad Fairuz Kamil (5 Dirasah Islamiyah), Alfathan Faturrachman (4 Dirasah Islamiyah), dan Chandra Setyo Nugroho (3 A) yang berhasil meraih juara 2 lomba Bahasa Prancis tingkat nasional di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada Rabu, 22 April 2026. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa santri juga mampu bersaing dalam bidang bahasa asing di tingkat nasional.

Pengalaman itu kemudian dibagikan kembali dalam kegiatan Dza ‘Izza Inteleksia yang berlangsung di Perpustakaan Dza ‘Izza pada Selasa, 12 Mei 2026. Dalam suasana diskusi yang hangat dan santai, Chandra berbicara mengenai bahasa serta budaya Prancis, didampingi oleh Ustaz Ahmad Furqoni, M.Pd., pengajar Bahasa Prancis di Dza ‘Izza. Kegiatan tersebut dipandu oleh Ustaz Khoir Akbar, S.Sos., selaku pustakawan Dza ‘Izza.

Students and teacher seated around a long table in a bright library, many wearing batik shirts and hijabs, bookshelves behind them


Bahasa Prancis dan Budaya Membaca
Dalam diskusi itu, Chandra menjelaskan bahwa bahasa Prancis memiliki pengaruh besar di dunia internasional.

“Penutur bahasa Prancis di dunia kira-kira sekarang itu ada lebih dari 300 juta. Makanya penting bagi kita untuk berbicara bahasa Prancis. Di samping itu, Prancis juga sekarang menjadi bahasa PBB, bahasa UNESCO, dan bahasa instansi internasional lainnya,” ungkap Chandra.

Ia juga menyoroti budaya kerja masyarakat Prancis yang terkenal menghargai keseimbangan hidup (life work balace).

“Jam kerja Prancis termasuk yang paling pendek di dunia. Sekitar 35 jam/minggu. Namun GDP/PDB mereka terhitung tinggi dibanding negara lain, termasuk Indonesia,” katanya.

Selain itu, Chandra menjelaskan gambaran sistem pendidikan di Prancis, mulai dari pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi.

Menurut Chandra, di Prancis terdapat beberapa jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan usia dini seperti PAUD, pendidikan dasar, kemudian collège setara SMP, lycée setara SMA, hingga universitas. Ia juga menjelaskan bahwa wajib belajar di Prancis berlangsung hingga 16 tahun (sampai jenjang perguruan tinggi).

Namun, satu hal yang paling menarik perhatian dalam diskusi tersebut adalah budaya membaca masyarakat Prancis.

“Warga Prancis suka membaca buku. Dalam seminggu membaca satu atau dua buku, dalam sebulan membaca empat hingga delapan buku. Dalam setahun bisa jadi empat puluh delapan buku,” ujar Chandra.

Budaya literasi yang kuat itu menjadi salah satu alasan mengapa dunia intelektual dan kebudayaan Prancis terus berkembang hingga sekarang.

Students and a teacher seated around a long library table with bookshelves in the background, teacher speaking to the group.


Fête de la Musique dan Diskusi Buku-Buku Indonesia
Dalam kesempatan yang sama, Ustaz Ahmad Furqoni turut membagikan pengalamannya berinteraksi langsung dengan komunitas Prancis di Indonesia.

Ia menjelaskan tentang Fête de la Musique, festival musik internasional yang rutin diperingati setiap 21 Juni, biasanya di empat kota besar Indonesia yang memiliki IFI (Institut Français d’Indonésie), seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. IFI sendiri berada di bawah naungan Kedutaan Besar Prancis. “Biasanya ada acara musik di kota besar itu,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Ustaz Furqoni juga pernah bergabung dalam komunitas diskusi bersama warga Prancis di Indonesia, Indonesia, yaitu Indonesian Heritage Society (IHS). Ini merupakan organisasi nirlaba kebudayaan yang berdiri sejak 1970 di Jakarta dan berfokus pada pelestarian warisan budaya Indonesia, kegiatan literasi, diskusi, museum, tur budaya, serta komunitas bahasa asing. Di dalamnya terdapat beberapa section bahasa seperti French Section, Japanese Section, Korean Section, dan lainnya.

“Saya pernah bergabung di Indonesian Heritage Society French Section. Saya ikut kelompok Prancis. Kumpulan orang Prancis yang ada di Indonesia. Tiap bulan kita diskusi buku. Yang menariknya, mendiskusikan buku-buku terbitan Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Misalnya, buku Pramoedya Ananta Toer. Itu ada versi Prancisnya,” ungkapnya.

Menurutnya, tokoh-tokoh Indonesia juga cukup dikenal di kalangan masyarakat Prancis.

“Kita juga pernah mendiskusikan tentang Sukarno. Sukarno itu mendunia walaupun presiden zaman dulu tapi dikenal banyak orang,” katanya.


Belajar Serius, Istirahat pun Serius
Ustaz Furqoni menjelaskan salah satu karakter masyarakat Prancis yang menurutnya menarik untuk dipelajari, yaitu sikap profesional dan fokus dalam menjalani aktivitas.

Menurut Ustaz Furqoni, orang Prancis, meskipun jam kerjanya tidak panjang, mereka fokus dan serius. Waktunya kerja, mereka bekerja sepenuhnya tanpa terganggu atau teralihkan hal lain. Liburnya demikian pula, waktu libur sepenuhnya untuk beristirahat atau rekreasi. Sekolah juga demikian, belajar serius, istirahat juga sepenuhnya.

Diskusi sore itu bukan hanya menjadi ruang belajar bahasa asing, tetapi juga membuka wawasan para santri tentang budaya, literasi, dan cara pandang masyarakat dunia. Dari ruang perpustakaan sederhana di Dza ‘Izza, percakapan tentang le français perlahan membawa para santri melihat dunia yang lebih luas.