Memahami Kitab Suci dengan Pola SOAP
City skyline at sunset with heavy rain streaking down, wet rooftops and water cascading over edges, and a rain-slick avenue leading toward the glowing sun.


Refleksi sebelum terlelap di 10 malam terakhir Ramadhan

Kemarin sore sepanjang perjalanan pulang kantor, seperti biasa sambil menyetir saya mendengarkan kajian dan obrolan podcast yang bermanfaat via YouTube, kajian yang saya nikmati sore ini adalah program “Daniel Tetangga Kamu” dari Daniel Mananta di Daniel Mananta Network, yang kali ini menghadirkan Felix Siauw sebagai narasumber.

Dalam obrolan yang santai namun penuh makna tersebut, ada sebuah insight menarik yang disampaikan Daniel tentang cara memahami kitab suci dengan pendekatan yang sederhana namun sistematis. Ia menyebutnya dengan pola SOAP.
SOAP merupakan singkatan dari:
• Scripture (Kitab Suci)
• Observe (Mengamati)
• Application (Menerapkan)
• Prayer (Doa)

Yang menarik, kata SOAP sendiri dalam bahasa Inggris berarti sabun. Analogi ini terasa sederhana, tetapi cukup dalam maknanya.

Sebagaimana sabun digunakan untuk membersihkan tubuh dari kotoran, pendekatan SOAP dapat membantu membersihkan cara kita memahami pesan spiritual, sehingga pemahaman tidak hanya berhenti di permukaan, tetapi menjadi lebih jernih dan bermakna.

Tahap pertama adalah Scripture.
Pada tahap ini, seseorang membaca bagian dari kitab suci secara langsung. Fokusnya adalah pada teks itu sendiri—membaca dengan perhatian, memperhatikan kata-kata, dan mencoba memahami pesan yang disampaikan.

Langkah ini mengingatkan kita bahwa memahami ajaran spiritual selalu dimulai dari perjumpaan dengan teks.

Tahap kedua adalah Observe.
Setelah membaca, kita mencoba mengamati lebih dalam. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh teks tersebut? Apa konteksnya? Mengapa pesan itu penting?
Proses observasi ini seperti ketika sabun mulai bekerja mengangkat kotoran yang menempel di kulit. Ia membantu kita melihat sesuatu yang sebelumnya mungkin tidak kita sadari.

Dalam perspektif ilmu komunikasi, proses ini dapat dikaitkan dengan konsep interpretasi pesan dalam teori komunikasi. Stuart Hall melalui teori Encoding–Decoding menjelaskan bahwa pesan tidak selalu dimaknai secara langsung oleh penerima. Pesan perlu dipahami melalui proses penafsiran berdasarkan konteks, pengalaman, dan kerangka berpikir pembaca.

Artinya, membaca teks saja tidak cukup; pemahaman muncul melalui proses mengamati dan menafsirkan makna.

Tahap ketiga adalah Application.
Pemahaman yang baik tidak berhenti pada pengetahuan. Ia perlu diterjemahkan dalam kehidupan nyata.

Di tahap ini kita bertanya: bagaimana pesan ini relevan dengan kehidupan saya hari ini? Bagaimana ia dapat mempengaruhi cara saya berpikir, bersikap, atau memperlakukan orang lain?

Dalam analogi sabun, tahap ini seperti proses membilas tubuh setelah dibersihkan—kotoran yang sebelumnya menempel mulai benar-benar hilang.

Dalam kajian komunikasi dan pembelajaran, tahap ini sejalan dengan konsep experiential learning yang dikembangkan oleh David A. Kolb. Kolb menjelaskan bahwa pengetahuan menjadi bermakna ketika seseorang tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman nyata.

Dengan kata lain, pesan menjadi hidup ketika ia dipraktikkan.

Tahap terakhir adalah Prayer.
Doa menjadi ruang refleksi dan komunikasi spiritual. Ia bukan sekadar penutup, tetapi cara untuk meneguhkan niat agar pemahaman yang diperoleh dapat dijalankan dengan tulus.
Jika kita kembali pada analogi sabun, doa adalah proses yang membuat seseorang merasa segar kembali setelah membersihkan diri.

Dalam perspektif komunikasi spiritual, doa dapat dipahami sebagai bentuk komunikasi transendental, yaitu komunikasi antara manusia dan Tuhan. Konsep ini banyak dibahas dalam kajian komunikasi spiritual, salah satunya oleh James W. Carey yang melihat komunikasi tidak hanya sebagai transmisi informasi, tetapi juga sebagai ritual yang membangun makna dan hubungan spiritual dalam kehidupan manusia.

Menariknya, pendekatan SOAP ini tidak hanya relevan dalam memahami kitab suci. Ia juga mengajarkan pola berpikir reflektif dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam dunia yang dipenuhi oleh informasi yang datang begitu cepat, kita sering kali membaca sesuatu tanpa benar-benar mengamati maknanya, apalagi menerapkannya.
Padahal memahami pesan—baik pesan spiritual maupun pesan kehidupan—memerlukan proses yang tidak instan.

Mendengar insight sederhana dari podcast tersebut mengingatkan saya bahwa belajar memahami sesuatu sebenarnya tidak harus selalu rumit.

Kadang kita hanya perlu sebuah pola sederhana—seperti SOAP.

Seperti sabun yang membantu membersihkan tubuh, pendekatan ini membantu menjernihkan pemahaman kita terhadap pesan-pesan yang kita baca.

Dan mungkin, di tengah kehidupan yang sering terasa penuh dengan “debu” kesibukan, pola sederhana ini bisa menjadi cara kecil untuk menjaga kejernihan pikiran dan hati.