
Tulisan ini adalah tanda terima kasih yang tidak sederhana kepada Dr. Abdul Latief. Lewat tulisannya yang berjudul ‘Di Mana Ada Jalan, Di Sana Ada Kemauan’, beliau mampu memantik nalar para pembaca hingga paling tidak mereka akan memberikan respon yang sama ketika baru saja membaca judulnya: ‘Oh, iya juga ya.’ Di tengah kesibukannya, beliau menyempatkan untuk tidak hanya memperkaya diri dengan pengetahuan, namun juga membagikan pengalaman kecilnya yang sarat dengan ilmu dan perenungan. Keadaan itu pula yang kami temukan pada guru-guru kami sewaktu di Tunisia. Perjalanan tidak dihabiskan hanya dengan makan dan tidur. Selain kami muridnya, kitab menjadi teman perjalanannya. Bahkan, khatam kitab menjadi sebuah kelaziman bagi mereka setiap kali melakukan rihlah ilmiah. Budaya ini patut kita hidupkan dan lestarikan. Sebenarnya, budaya luhur semacamnya lebih berhak dipelihara oleh penggelut dunia pendidikan. Semoga tulisan ini tidak lain hanyalah bentuk resonansi yang terjadi karena ada kesamaan frekuensi di antara para pecinta ilmu pengetahuan. Semoga beliau senantiasa dalam penjagaan Tuhan di mana pun berada. Amin.
Dalam tulisannya, beliau memberikan pandangan lain dari slogan yang sering kita dengar: Di mana ada kemauan, di sana ada jalan. Beliau justru membaliknya sehingga menjadi: Di mana ada jalan, di sana ada kemauan. Di sana, beliau membandingkan realita yang ada dari kedua sudut pandang tersebut. Beliau berpandangan atas dasar banyak teori yang beliau paparkan bahwa kemauan akan lebih diharapkan tumbuh saat ada jalan terhampar di hadapan. Indah sekali pemikiran yang beliau sampaikan. Hanya saja, tulisan beliau menyisakan pertanyaan lain yang menggantung: Jadi, apa yang harus ada lebih dulu, jalan atau kemauan? Melalui tulisan ini, penulis akan menerka jawabannya berdasarkan perspektif al-Qur’an.
Dalam Bahasa Arab, salah satu arti kata jalan adalah (سبيل) bentuk jamaknya adalah (سبل). Ada banyak ayat dalam al-Qur’an yang menggunakan kata tersebut. Dari banyak ayat itu, setidaknya ada 8 jalan yang disebutkan dalam al-Qur’an:
1. Sabilillah (Jalan Allah)
وَلَا تَقُولُوا لِمَن يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَـٰكِن لَّا تَشْعُرُونَ
Janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Namun, (sebenarnya mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (al-Baqarah : 154)
2. Sabil al-Mukminin (Jalan Orang Beriman)
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Siapa yang menentang Rasul (Nabi Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dalam kesesatannya dan akan Kami masukkan ke dalam (neraka) Jahanam. Itu seburuk-buruk tempat kembali. (an-Nisa : 115)
3. Sabil al-Mujrimin (Jalan Pendosa)
وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ
Demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Qur’an secara terperinci (agar terlihat jelas jalan kebenaran) dan agar terlihat jelas (pula) jalan para pendurhaka. (al-An’am : 55)
4. Sabil al-Mufsidin (Jalan Perusak)
وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ۚ وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ
Kami telah menjanjikan Musa (untuk memberikan kitab Taurat setelah bermunajat selama) tiga puluh malam. Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi). Maka, lengkaplah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Musa berkata kepada saudaranya, (yaitu) Harun, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, perbaikilah (dirimu dan kaummu), dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (al-A’raf : 142)
5. Sabil ar-Rusyd/ar-Rasyad (Jalan Kebenaran)
سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِن يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِن يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku). Jika mereka melihat semua tanda-tanda itu, mereka tetap tidak mau beriman padanya. Jika mereka melihat jalan kebenaran, mereka tetap tidak mau menempuhnya. (al-A’raf : 146)
وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ
Orang yang beriman itu berkata, “Wahai kaumku, ikutilah aku! Aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. (Ghafir : 38)
6. Sabil al-Ghayy (Jalan Kesesatan)
وَإِن يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ
(Sebaliknya,) jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya. (al-A’raf : 146)
7. Jalan Orang Bodoh
قَالَ قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, permohonan kamu berdua telah diperkenankan. Maka, tetaplah kamu berdua (pada jalan yang lurus) dan janganlah sekali-kali kamu berdua mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” (Yunus : 89)
8. Jalan Orang Tobat
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ
Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. (Luqman : 15)
Keragaman jalan yang disebutkan dalam al-Qur’an, sama seperti pemandangan yang dilihat oleh Dr. Abdul Latief dari dalam kabin Boeing 737 yang kemudian membawa beliau ke dalam perenungannya tentang jalan yang berperan menentukan arah perjalanan seseorang. Dari titik inilah muncul pertanyaan: Jika kemauan dianggap tidak selalu mampu menemukan jalannya dan akan meredup seiring buntunya jalan, apakah keberadaan banyak jalan dapat mendorong langkah seseorang menempuh keinginan? Jadi, apa yang menentukan apa? Penulis masih akan mencarinya dalam tumpukan ayat al-Qur’an.
Dalam surat al-Insan ayat 29 dan surat al-Muzzammil ayat 19, Allah swt lebih dulu menyebutkan kemauan seseorang dalam mengambil jalan kebenaran. Kemauan pada ayat tersebut digambarkan sebagai kebebasan dan kepemilikan hak pilih seorang manusia dalam menentukan jalan kehidupan.
اِنَّ هٰذِهٖ تَذْكِرَةٌۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ سَبِيْلًا
Sesungguhnya ini adalah peringatan. Maka, siapa yang menghendaki (kebaikan bagi dirinya) tentu mengambil jalan menuju Tuhannya. (al-Insan : 29)
اِنَّ هٰذِهٖ تَذْكِرَةٌۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ سَبِيْلًا
Sesungguhnya ini adalah peringatan. Siapa yang berkehendak niscaya mengambil jalan (yang lurus) kepada Tuhannya. (al-Muzzammil : 19)
Dari sudut pandang ini, Allah swt seolah menjadikan kemauan kuat sebagai syarat awal yang harus terpenuhi setelah jalan dihamparkan di hadapannya. Sebagaimana yang diisyaratkan pada akhir surat al-Ankabut, Allah swt berfirman:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ
Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. (al-Ankabut : 69)
Pada ayat di atas, kemauan dinarasikan sebagai sebuah bentuk kesungguhan dalam mewujudkan keinginan. Jika benar kemauannya, maka Tuhan menjanjikan kejelasan jalan baginya. Dari ayat inilah pepatah Arab yang dipelajari oleh para santri di pesantren diambil. Pepatah itu berbunyi:
إذا صدق العزم وضح السبيل
Jika benar ada kemauan, niscaya akan jelas arah jalannya.
Menariknya, dalam Bahasa Arab, kemauan dibahasakan dengan banyak kata. Di antara banyak kata yang menerjemahkan kemauan, pada pepatah tersebut, diksi yang dipilih adalah (عزم). Ibnu Hibban dalam bukunya, al-Musnad ash-Shahih ala at-Taqasim wa al-Anwa’, memberikan definisi singkat terhadap kata tersebut. Beliau mengatakan:
العزم نهاية الهم
Azam adalah puncak keinginan.
Maka seharusnya jika benar dan besar kemauannya terhadap sesuatu, pasti alam akan menuntunnya pada akhir tujuannya. Hal ini didukung oleh konsep Law Of Attraction yang dipopulerkan oleh Rhonda dalam The Secret. Bahwa energi yang ada dalam pikiran kita akan menarik energi lain disekitar kita. Baik yang positif mau pun negatif. Kemauan dalam kebaikan merupakan bagian dari energi positif dari dalam diri manusia yang semestinya mampu menarik energi positif semesta untuk mendukung dengan menunjukkan ke mana jalannya.
Lalu, bagaimana jika jalan tidak jua menampakkan alamatnya? Dr. Abdul Latief menerangkan dalam tulisannya tentang seseorang yang kehilangan arah, bukan berarti tidak memiliki kemauan yang kuat. Bukan juga karena usahanya kurang keras. Ia hanya belum menemukan jalan yang tepat. Begitu ungkapnya. Hal demikian bisa jadi disebabkan karena dua kesalahan: salah tujuan atau salah jalan. Sebesar apa pun tekadnya dan benar alamatnya, jika jalan yang ditempuh salah, maka ia tidak akan mencapai tujuannya. Seperti singgungan Penyair era Abbasiyyah, Abu al-Atahiyah dalam bait syairnya:
ترجو النجاة ولم تسلك مسالكها * إن السفينة لا تجري على اليبس
Engkau menginginkan kesuksesan, namun tidak menempuh jalannya dengan benar. Sesungguhnya perahu tidak berjalan di daratan.
Di sinilah peran ilmu pengetahuan dan pengalaman sebagai peta yang menunjukkan ke arah mana seharusnya berjalan. Jalan sudah dihamparkan dengan beragam bentuknya. Tinggal bagaimana kemauan dan pengetahuan mampu mengantarkan seseorang pada apa yang ia inginkan. Maka yang harus ada selain kemauan dan jalan adalah ilmu pengetahuan. Jika diibaratkan seperti kendaraan, kemauan berperan sebagai mesin yang mendorong dan ilmu adalah navigator yang menuntunnya pada jalan yang dikehendaki.
Dalam al-Qur’an, bukan hanya pengetahuan yang diperankan sebagai penunjuk jalan. Ada saatnya seseorang tak mendapatkan akses pendidikan yang memadai seperti yang disebutkan Dr. Latief dalam artikelnya. Baginya, al-Qur’an menawarkan solusi alternatif berupa perintah untuk mengikuti jalan orang-orang hebat yang dalam bahasa Dr. Latief disebut sebagai mentor. Sebagaimana disebutkan dalam surat Ghafir ayat 38:
وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ
Orang yang beriman itu berkata, “Wahai kaumku, ikutilah aku! Niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.
Selain itu, tertutupnya jalan juga dapat disebabkan karena seseorang tidak mengambil sebab yang mendekatkannya pada jalan. Seperti yang disebutkan dalam surat an-Nisa ayat 34:
وَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًاۗ
Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, berilah mereka nasihat, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu,) pukullah mereka (dengan cara yang tidak menyakitkan). Akan tetapi, jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.
Ayat di atas sedang membahas tentang 3 pilihan jalan yang boleh ditempuh bagi seorang suami ketika mendapati istrinya melakukan pembangkangan (nusyuz). Pada ayat itu, nusyuz adalah sebab yang membuka 3 jalan tersebut bagi seorang suami. Jika tidak ada sebabnya, maka tertutuplah jalannya.
Sebab itu bisa berupa usaha membangun koneksi kepada orang yang lebih dulu menggeluti bidang tertentu yang ingin ditempuh, mencari informasi dasar berkaitan dengan hal yang diminati dsb. Apalagi hari ini informasi sudah sangat mudah dicari lewat berbagai media. Artinya, jalan sudah semakin banyak dan mudah diakses. Tinggal dengan apa dan bagaimana jalannya. Pertanyaan yang lebih penting dari bagaimana membuka jalan adalah bagaimana memunculkan kemauan yang kuat?