
Peribahasa “Di mana ada kemauan, di sana ada jalan” sudah sangat akrab di telinga kita. Kalimat ini sering diucapkan dalam banyak kesempatan—dalam pidato motivasi, dalam ruang kelas, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Pesannya sederhana dan kuat: jika seseorang benar-benar memiliki kemauan, ia pasti akan menemukan jalan untuk mencapai tujuannya.
Tulisan ini saya ketik di dalam kabin Boeing 737 yang sedang membawa saya terbang dari Semarang menuju Jakarta. Dari jendela pesawat, hamparan kota dan jalan-jalan terlihat seperti garis-garis kecil yang saling terhubung. Ada jalan besar, jalan kecil, bahkan jalan yang tampak berliku-liku.
Pemandangan itu tiba-tiba memunculkan satu renungan sederhana: dalam kehidupan manusia pun, jalan sering kali menentukan arah perjalanan seseorang.
Selama ini kita terbiasa percaya bahwa kemauan adalah kunci utama keberhasilan. Tetapi dalam realitas kehidupan, saya sering bertemu dengan orang-orang yang sebenarnya memiliki kemauan yang kuat. Mereka rajin bekerja. Mereka tidak malas. Mereka memiliki semangat untuk memperbaiki hidup.
Namun perjalanan mereka tidak selalu mudah. Bukan karena mereka tidak memiliki kemauan, melainkan karena mereka belum menemukan jalan yang tepat.
Ada orang yang bekerja keras setiap hari tetapi tidak memiliki akses pendidikan yang memadai. Ada yang memiliki semangat belajar tinggi tetapi tidak memiliki mentor yang membimbing. Ada yang memiliki ide yang bagus tetapi tidak memiliki jaringan yang bisa membuka peluang.
Dalam kondisi seperti ini, masalahnya bukan semata-mata pada kemauan. Masalahnya sering kali pada jalan.
Karena itu, kadang saya merasa ada sudut pandang lain yang juga layak dipertimbangkan: “Di mana ada jalan, di sana ada kemauan.”
Ketika seseorang mulai melihat jalan—ketika peluang terbuka, ketika akses tersedia, ketika lingkungan mendukung—sering kali kemauan itu justru tumbuh semakin kuat. Jalan yang terbuka menyalakan harapan. Dan harapan sering kali melahirkan energi baru dalam diri manusia.
Dalam kajian psikologi motivasi, gagasan ini sejalan dengan Hope Theory yang dikembangkan oleh Charles R. Snyder. Snyder menjelaskan bahwa harapan manusia terdiri dari dua komponen utama: agency (kemauan untuk bergerak menuju tujuan) dan pathways (kemampuan atau persepsi bahwa ada jalan untuk mencapai tujuan tersebut). Ketika seseorang tidak melihat adanya jalan, motivasi bisa melemah. Sebaliknya, ketika jalur menuju tujuan mulai terlihat, kemauan sering kali meningkat.
Dalam perspektif sosiologi, pemikiran ini juga berkaitan dengan konsep Social Capital yang dipopulerkan oleh Pierre Bourdieu dan kemudian dikembangkan oleh Robert D. Putnam. Social capital menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pribadi, tetapi juga oleh jaringan sosial, hubungan, dan akses yang dimilikinya. Jaringan tersebut sering kali menjadi “jalan” yang membuka peluang baru.
Artinya, keberhasilan manusia tidak hanya ditentukan oleh kemauan individu, tetapi juga oleh peluang yang tersedia di sekitarnya.
Pemikiran ini juga sejalan dengan Capability Approach dari Amartya Sen yang menjelaskan bahwa pembangunan sejatinya adalah upaya memperluas kapabilitas manusia—yaitu kemampuan nyata seseorang untuk memilih dan menjalani kehidupan yang mereka nilai berharga. Tanpa akses terhadap pendidikan, informasi, atau peluang ekonomi, kemauan seseorang sering kali tidak memiliki ruang untuk berkembang.
Itulah sebabnya kita sering melihat seseorang yang tampak biasa saja tiba-tiba berkembang pesat ketika ia menemukan lingkungan yang tepat, mentor yang tepat, atau kesempatan yang tepat. Bukan karena kemauannya baru muncul, tetapi karena ia akhirnya menemukan jalan yang sebelumnya tidak terlihat.
Di titik inilah kita semua sebenarnya memiliki peran.
Sering kali kita terlalu mudah memberikan nasihat motivasi kepada orang lain:
“Harus semangat.”
“Harus kerja keras.”
“Kalau mau sukses pasti ada jalannya.”
Nasihat seperti ini tentu tidak salah. Tetapi kadang yang dibutuhkan seseorang bukan hanya kata-kata penyemangat.
Yang mereka butuhkan adalah jalan.
Jalan bisa berbentuk banyak hal.
Kadang berupa informasi yang belum pernah mereka dengar.
Kadang berupa kesempatan kecil yang membuka pintu besar.
Kadang berupa jaringan yang mempertemukan mereka dengan orang yang tepat.
Kadang hanya berupa seseorang yang berkata, “Coba kamu ke arah ini.”
Membuka jalan tidak selalu berarti memberikan bantuan besar. Terkadang membuka jalan hanya berarti berbagi pengalaman, memperkenalkan seseorang kepada jaringan yang kita miliki, atau memberi akses kepada pengetahuan yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Dalam kehidupan sosial, kemajuan sering terjadi karena orang yang lebih dulu menemukan jalan bersedia menunjukkannya kepada orang lain.
Itulah sebabnya tanggung jawab kita sebagai manusia—terlebih jika kita memiliki pengalaman, pendidikan, atau posisi tertentu—bukan hanya memotivasi orang lain, tetapi juga membantu membuka jalan bagi mereka.
Karena bagi sebagian orang, satu jalan yang terbuka bisa mengubah seluruh perjalanan hidupnya.
Pesawat yang saya tumpangi kini mulai menurunkan ketinggian menuju Jakarta. Dari jendela, jaringan jalan di bawah terlihat semakin jelas—bercabang, bersilangan, dan saling terhubung.
Dan saya kembali teringat pada satu hal sederhana: dalam kehidupan manusia, terkadang yang paling dibutuhkan bukan hanya kemauan untuk berjalan, tetapi juga jalan yang memperlihatkan ke mana langkah harus diarahkan.
Karena mungkin benar bahwa di mana ada kemauan, di sana ada jalan.
Tetapi kehidupan juga sering menunjukkan hal yang sebaliknya:
Di mana ada jalan yang dibukakan, di sana kemauan manusia bisa tumbuh lebih kuat.