Dari Dza ‘Izza ke China: Alumni Daar el-Qolam 3 Belajar Ilmu Data Science di Negeri Tirai Bambu
Young man in a dark puffer jacket and gloves leaning on a wooden railing, shading his eyes with mountains and terraced river behind him

Tidak banyak yang membayangkan bahwa langkah menuju kampus internasional di negara industri maju bisa berawal dari kehidupan di lingkungan pesantren. Di sela rutinitas menghafal pelajaran, salat dan mengaji, belajar hingga malam, dan hidup disiplin bersama ratusan santri lain, tumbuh sebuah mimpi besar dalam diri Adam Raysa Javier, alumni 2025 Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza. Ia berhasil melangkah jauh hingga ke negeri China.

Bagi Adam, pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, melainkan ruang yang membentuk cara berpikir, keberanian bermimpi, serta keyakinan bahwa santri juga mampu bersaing di dunia global. Dari sana, ia dapat melihat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung, sekaligus membawa nilai-nilai pesantren ke lingkungan internasional

“Sebagai alumni Pesantren Daar el-Qolam 3, saya termotivasi memilih kuliah di luar negeri karena ingin memperluas wawasan dan pengalaman, baik dalam bidang akademik maupun kehidupan sosial. Lingkungan pesantren mengajarkan pentingnya disiplin, kemandirian, dan semangat mencari ilmu tanpa batas. Dari situ muncul keinginan untuk melihat bagaimana ilmu dan teknologi berkembang di negara lain, sekaligus membawa nilai-nilai yang telah diajarkan di pesantren ke lingkungan internasional,” ungkapnya saat diwawancara pada Selasa, 12 Mei 2026.

“Selain itu, kuliah di luar negeri memberi kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang dari berbagai budaya dan cara berpikir yang berbeda. Pengalaman tersebut bisa melatih kemampuan komunikasi, adaptasi, serta memperkuat rasa percaya diri. Saya juga ingin membuktikan bahwa lulusan pesantren mampu bersaing secara global,” sambungnya.


Diterima di Tiga Universitas Internasional
Perjalanan Adam menuju kampus luar negeri tidak berhenti pada angan-angan. Ketekunan dan persiapannya membuahkan hasil ketika ia berhasil diterima di tiga universitas sekaligus, dua di China dan satu di Malaysia.

“Saya telah diterima di 3 universitas, yaitu Guangxi University (广西大学) with a major Bachelor of Computer Science and AI, Guangxi University of Finance and Economics (广西财经学院) with a major Bachelor of Data Science, dan juga Universiti Utara Malaysia with a major Bachelor of Business Management. Di kampus Guangxi University (广西大学) saya mendapatkan full scholarship dan di Guangxi University of Finance and Economics (广西财经学院) saya mendapatkan scholarship tuition fee dan accommodation,” jelas Adam.

Saya memilih Guangxi University of Finance and Economics (广西财经学院) with a major Data Science karena hampir di semua bidang menggunakan data, misalnya, teknologi, bisnis, keuangan, media sosial, bahkan kesehatan. Jurusan ini menciptakan inovasi, juga membantu mengambil keputusan yg lebih efektif,” sambungnya.

Di antara berbagai pilihan tersebut, Adam akhirnya memilih Guangxi University of Finance and Economics dengan jurusan Data Science. Baginya, bidang tersebut memiliki peran besar di masa depan karena hampir seluruh sektor kini bergantung pada pengolahan data.

Teenage boy wearing glasses and earbuds stands beside a stone plaque with four Chinese characters on a textured wall.

Persiapan Panjang dan Dokumen yang Tidak Sedikit
Di balik kabar diterimanya Adam di universitas luar negeri, terdapat proses panjang yang harus dijalani dengan penuh kesabaran. Mulai dari riset kampus hingga menyiapkan berbagai dokumen administrasi, semuanya membutuhkan ketelitian dan kerja keras.

Ia menjelaskan bahwa, proses untuk dapat diterima di universitas tujuan bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan usaha, persiapan yang matang, serta dukungan penuh dari orang tua selama menjalani seluruh tahapan pendaftaran.

“Langkah awal yang saya lakukan adalah mencari informasi dan melakukan riset mengenai universitas, program studi, serta persyaratan yang dibutuhkan agar dapat memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan tujuan pendidikan saya. Setelah memahami persyaratan yang diperlukan, saya mulai menyiapkan berbagai dokumen administrasi, seperti ijazah, transkrip nilai, surat rekomendasi, paspor, sertifikat kemampuan bahasa, Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), study plan, hasil medical check up, serta video perkenalan diri. Seluruh dokumen tersebut harus dipersiapkan dengan baik dan sesuai dengan ketentuan masing-masing universitas,” paparnya.

Proses itu, menurut Adam, menjadi pengalaman yang melatih kesabaran sekaligus kedisiplinan. Setiap tahapan harus dipersiapkan secara detail agar dapat memenuhi standar universitas tujuan.

Belajar Mandarin dan Beradaptasi dengan Budaya Baru
Selain urusan administrasi, tantangan lain yang tidak kalah besar adalah persoalan bahasa dan budaya. China memiliki lingkungan akademik dan kehidupan sosial yang sangat berbeda dengan Indonesia.

“Tantangan utama yang saya hadapi untuk dapat kuliah di luar negeri adalah perbedaan bahasa, budaya, serta lingkungan yang tentunya sangat berbeda dengan kehidupan di Indonesia. Selain itu, setiap negara memiliki sistem pendidikan, pola belajar, dan cara berkomunikasi yang berbeda sehingga membutuhkan proses adaptasi yang tidak singkat.”

Bagi Adam, bahasa Mandarin menjadi salah satu tantangan terbesar dalam mempersiapkan studi di China. Karena itu, ia mulai mempersiapkan diri sejak masih berada di Indonesia.

“Salah satu tantangan terbesar dalam mempersiapkan studi di luar negeri adalah kemampuan bahasa, terutama karena bahasa yang digunakan dalam kegiatan akademik maupun kehidupan sehari-hari adalah bahasa Mandarin. Oleh karena itu, sebelum memulai perkuliahan, saya terlebih dahulu mengikuti kursus bahasa Mandarin di Indonesia sebagai bentuk persiapan awal agar dapat berkomunikasi dan beradaptasi dengan lebih baik,” ujarnya.

“Setelah tiba di China, saya juga melanjutkan pembelajaran melalui kelas bahasa Mandarin untuk memperdalam kemampuan berbahasa sekaligus memahami budaya dan pola komunikasi masyarakat setempat. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam membantu saya beradaptasi dengan lingkungan baru serta mempersiapkan diri menghadapi sistem pendidikan di luar negeri,” terangnya.

Proses adaptasi itu tidak hanya membantunya memahami bahasa, tetapi juga membuka cara pandang baru tentang kehidupan masyarakat dan budaya di negeri orang.


Pesantren sebagai Bekal Kehidupan Internasional
Di balik seluruh perjalanan akademiknya, Adam merasa bahwa kehidupan di Daar el-Qolam 3 menjadi bekal penting yang membantunya bertahan dan berkembang di lingkungan baru.

“Pengalaman selama menempuh pendidikan di Daar el-Qolam 3 memberikan banyak manfaat sebagai bekal untuk melanjutkan studi di luar negeri. Kehidupan di pesantren melatih saya untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri, disiplin, bertanggung jawab, serta mampu menghargai waktu dengan baik,” jelasnya.

Menurut Adam, Nilai-nilai tersebut sangat membantu dalam mempersiapkan diri menghadapi kehidupan dan sistem pendidikan di luar negeri yang menuntut kemandirian tinggi. Selain itu, kehidupan di Daar el-Qolam 3 juga mengajarkannya untuk mampu mengatur waktu, hidup sederhana, serta bersosialisasi dengan banyak orang yang memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda.

“Pengalaman tersebut membantu saya menjadi lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk ketika harus berinteraksi dengan masyarakat dan budaya yang berbeda di luar negeri,” pungkasnya.

Kehidupan pesantren yang dahulu dijalani setiap hari ternyata menjadi tempaan panjang dalam menghadapi kehidupan global. Kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, serta kebiasaan hidup mandiri menjadi bekal yang terus ia bawa hingga hari ini.


Mari bergabung mengukir prestasi di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza.

Berikut link pendaftarannya:

https://psb.daarelqolam3.sch.id/auth/login