
Ada sebuah cerita menarik yang saya dengar dari sebuah podcast yang dibawakan oleh Tanadi Santoso melalui instagram @BusinessWisdomPodcast. Dalam cerita itu, ada sebuah TV show yang mewawancarai dua orang dengan latar belakang yang sangat berbeda.
Yang pertama adalah seorang gangster. Ketika ditanya, “Mengapa kamu menjadi gangster?” jawabannya terdengar pahit, tetapi terasa “masuk akal”. Ia bercerita bahwa ia lahir dari seorang ayah yang juga gangster, dan seorang ibu yang hidup dalam dunia kelam. Lingkungannya keras. Kehidupan sehari-harinya dipenuhi dengan kekerasan. Hingga suatu hari, ayahnya meninggal karena ditembak. Tak lama kemudian, ibunya juga meninggal. Ia pun tumbuh tanpa arah yang jelas, berpindah ke panti asuhan. Dan akhirnya, ia menjadi apa yang ia lihat sejak kecil—seorang gangster.
Bagi banyak orang, cerita itu terasa logis. Seolah-olah hidupnya memang sudah “ditentukan” sejak awal.
Namun wawancara berikutnya justru menghadirkan kejutan. TV show itu kemudian menghadirkan seorang pengusaha sukses. Pertanyaannya sama, “Bagaimana Anda bisa menjadi seperti sekarang?” Dan jawabannya… hampir identik. Ia juga lahir dari ayah seorang gangster dan ibu yang hidup dalam dunia yang keras. Ia juga tumbuh di lingkungan yang penuh kekerasan. Ia juga kehilangan kedua orang tuanya dalam kondisi tragis. Ia juga sempat hidup di panti asuhan. Namun ada satu hal yang berbeda. Ia berkata, “Saya melihat kehidupan orang tua saya… dan saya bersumpah, saya tidak ingin hidup seperti itu.”
Dari pengalaman yang sama, lahir keputusan yang berbeda.
Dan di situlah cerita ini mencapai puncaknya. TV show tersebut kemudian mempertemukan keduanya. Dan ternyata, mereka adalah kakak beradik. Lahir dari orang tua yang sama, tumbuh dalam lingkungan yang sama, mengalami luka yang sama, namun menjalani hidup yang sangat berbeda.
Cerita ini sederhana, tetapi mengguncang cara kita melihat kehidupan. Selama ini, kita sering menjadikan masa lalu sebagai alasan. “Lingkungan saya seperti ini.” “Orang tua saya seperti itu.” “Keadaan saya tidak mendukung.” Semua itu bisa benar. Namun cerita ini menunjukkan satu hal penting: bahwa pengalaman tidak selalu menentukan arah—cara kita memaknainya yang menentukan.
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai locus of control. Sebagian orang merasa hidupnya sepenuhnya ditentukan oleh keadaan, sementara yang lain percaya bahwa mereka masih memiliki kendali atas pilihan hidupnya. Kedua orang dalam cerita tadi memiliki pengalaman yang sama. Namun yang satu memilih untuk mengikuti, sementara yang lain memilih untuk memutus. Yang satu melihat masa lalu sebagai “takdir”, yang lain melihatnya sebagai “peringatan”.
Di sinilah letak perbedaannya. Bukan pada apa yang terjadi, tetapi pada bagaimana kita merespons apa yang terjadi.
Jika kita refleksikan lebih dalam, kita mungkin menemukan versi kecil dari cerita ini dalam kehidupan kita sendiri. Ada orang yang dibesarkan dalam keterbatasan lalu menjadikannya alasan untuk berhenti, namun ada juga yang menjadikannya bahan bakar untuk berjuang lebih keras. Ada yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak ideal lalu mengikuti arus, namun ada juga yang memilih untuk menjadi berbeda. Keduanya sama-sama manusia, sama-sama pernah terluka, tetapi pilihan mereka tidak sama.
Maka mungkin, pelajaran terpenting dari cerita ini adalah ini: kita tidak selalu bisa memilih dari mana kita berasal, tetapi kita selalu punya kesempatan untuk memilih akan menjadi apa. Masa lalu memang membentuk kita, tetapi tidak harus menentukan kita. Lingkungan memang memengaruhi, tetapi tidak harus mengunci. Dan luka tidak selalu harus diwariskan, ia bisa dihentikan.
Dalam dunia yang sering kali penuh dengan alasan, cerita ini mengingatkan kita untuk kembali pada satu hal yang paling mendasar: pilihan. Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang cerita apa yang kita miliki, tetapi tentang keputusan apa yang kita ambil dari cerita itu. Dan mungkin, di antara semua hal yang tidak bisa kita kendalikan, satu hal yang tetap menjadi milik kita adalah ini: apakah kita ingin mengulang cerita yang sama, atau menulis akhir yang berbeda?