Sekolah Tidak Penting?
Two schoolboys in white shirts and red trousers sitting barefoot on a wooden bench under a tree, reading books quietly.

Dalam sebuah kesempatan silaturahmi, saya berkesempatan untuk bertemu dengan seorang rekan yang sudah saya kenal cukup lama. Niat hati kita bertemu dengan sekedar makan-makan bersama. Tapi dia mengajak saya untuk ikut mengunjungi saudaranya sambil sekalian makan-makan di sana.

Sampailah kita di tempat yang dimaksud, lalu makan-makan di sana sambil bercengkrama. Sambil santai terlontar pertanyaan dari saudaranya.

“Nanti mau disekolahkan di mana ?”

Teman saya dengan mantap menjawab.

“Saya mah gak mau sekolahkan anak.”

Bagi kita yang mendengar jawaban tak umum itu langsung terhenyak. Teman saya yang memang saya pun sudah mengenal karakternya, sadar dengan respons kita dan langsung memberikan alasannya.

“Untuk apa sekolah ? Lagi pula kita yang dulu pernah sekolah pun tidak merasakan apa yang dulu kita pelajari di sekolah berguna di kehidupan kita sekarang.”

Seketika kita pun tidak bisa menahan respons dengan menyangkalnya. Berbagai pendapat kita lontarkan, baik dari sudut pengalaman dan pemahaman masing-masing yang pastinya mengarah kepada pentingnya sekolah.

Teman saya memandang sekolah hanya menghabiskan waktu dan uang. Ujung-ujungnya tidak memberikan kontribusi ilmu yang optimal dalam kehidupan sehari-hari. Ia berpendapat sekolah bisa berdampak baik dan menunjang kehidupan apabila sistem yang dibuat juga menunjang dengan apa yang dibutuhkan atau apa yang menjadi keahlian bagi masing-masing orang.

“Berarti bukan sekolah itu tidak penting dong. Yang penting bagaimana kita bisa memilah sekolah seperti apa yang cocok dan baik untuk anak.” Tegas saudaranya.

“Nah, iya itu masalahnya, sekolah yang memiliki kurikulum dan pembelajaran yang dibutuhkan untuk anak itu mahal.” Teman saya masih tegas juga dengan pahamnya.

“Pendidikan yang mahal itu menjadi bisnis.” Semakin tegas lagi teman saya itu.

Perdebatan hari itu cukup panjang dengan berbagai argumen dan sudut pandang. Mungkin perdebatan itu hampir menjadi debat kusir karena semua terus mempertahankan sudut pandangnya masing-masing. Tapi ada sebuah khazanah yang penulis ambil dari perdebatan itu. Bagaimana bisa ada orang yang sudah hidup di tengah majunya perkembangan yang sudah dimudahkan dengan teknologi, masih berpikir bahwasanya sekolah itu tidak penting? Apakah ia salah dengan pahamnya?

Bagi khalayak umum saat ini, pemahaman sekolah itu tidak penting menjadi sangat tabu. Karena rasanya sulit untuk berkarir tanpa adanya validasi pendidikan formal. Tapi bukan berarti pemahaman teman menjadi salah sepenuhnya, karena ada sesuatu yang melatar belakanginya. Itulah pentingnya untuk melihat dari sudut pandangnya, bukan hanya sudut pandang kita.

Berdasarkan teori dialektika Hegel atau yang sering disebut idealisme absolut, kita harus bisa melalui proses kontradiksi. Sehingga kita bisa melihat permasalahan yang ada dalam diri manusia secara menyeluruh. Dalam hal ini, idealisme seseorang dalam memahami pendidikan.

Saya pahami yang disoroti oleh pemahaman teman saya adalah bagaimana perkembangan pendidikan bisa berjalan beriringan dengan perkembangan ekonomi. Pemerataan terhadap keduanya sama-sama penting. Tapi pemerataan dalam pendidikan jauh lebih penting termasuk segala sesuatu yang terlibat dan menunjang di dalamnya.

Pendidikan yang layak dan optimal saat ini adalah hak setiap manusia untuk mendapatkannya. Tidak akan ada peradaban yang berkembang maju tanpa adanya pendidikan dan ilmu pengetahuan. Karena produk yang dihasilkan dari pendidikan adalah peradaban itu sendiri.