
Setiap pelanggaran yang dilakukan santri selalu menghadirkan satu pertanyaan penting bagi para pendidik, apa yang sesungguhnya ingin kita capai setelah memberikan hukuman? Apakah tujuan kita sekadar membuat santri berhenti melakukan kesalahan, ataukah membantu mereka bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang?
Dalam kehidupan pesantren, disiplin memang merupakan salah satu fondasi pendidikan. Aturan dibuat bukan untuk membatasi kebebasan, melainkan membentuk karakter. Karena itu, ketika ada santri yang terlambat, melanggar tata tertib, berbohong, mengambil yang bukan haknya, menunjukkan sikap yang kurang sopan, pemberian sanksi sering kali menjadi langkah pertama yang dilakukan. Hal itu wajar, bahkan dalam batas tertentu diperlukan. Tanpa disiplin, proses pendidikan akan kehilangan arah.
Namun, pengalaman menunjukkan bahwa hukuman saja tidak selalu menyelesaikan persoalan. Ia mungkin mampu menghentikan sebuah perilaku untuk sementara waktu, tetapi belum tentu mengubah orang yang melakukannya. Tidak sedikit santri yang mengulangi kesalahan yang sama, meskipun sudah berkali-kali diberi sanksi. Yang berubah sering kali bukan perilakunya, melainkan cara ia menyembunyikan pelanggaran agar tidak lagi diketahui.
Di sinilah kita perlu membedakan antara mengendalikan perilaku dan membangun karakter. Mengendalikan perilaku relatif lebih mudah, cukup dengan aturan yang tegas dan hukuman yang konsisten. Akan tetapi, membangun karakter membutuhkan proses yang jauh lebih panjang karena menyentuh cara berpikir, cara merasakan, hingga cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Perilaku yang tampak di permukaan sering kali hanyalah ujung dari gunung es. Di balik seorang santri yang tampak “bermasalah”, bisa jadi tersimpan pergulatan yang tidak terlihat oleh mata. Ada yang belum mampu mengelola emosinya dengan baik. Ada yang mencari perhatian karena merasa kurang diterima. Ada yang sedang berjuang menghadapi kerinduan kepada keluarga, tekanan akademik, pengaruh teman sebaya, atau kebingungan menemukan jati dirinya. Semua faktor itu tidak selalu membenarkan kesalahan, tetapi membantu kita memahami mengapa kesalahan itu terjadi.
Sayangnya, dalam praktik pengasuhan, kita terkadang terlalu cepat menyimpulkan bahwa seorang santri memang “nakal”. Laqob/Label semacam ini justru berbahaya. Ketika seseorang terus-menerus diberi cap buruk, ia bisa kehilangan keyakinan bahwa dirinya mampu berubah. Padahal tugas pendidikan bukan memberi label, melainkan membuka jalan perubahan.
Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah menjadikan hukuman sebagai tujuan akhir. Sanksi dirancang agar santri kapok, tetapi tidak diikuti dengan upaya memahami akar persoalan maupun menyusun langkah-langkah perubahan perilaku. Dalam dunia pendidikan, proses semacam ini dikenal sebagai intervensi perilaku, yaitu usaha yang dirancang secara sadar untuk membantu peserta didik membangun kebiasaan baru yang lebih baik.
Karena itu, setiap kali seorang santri melakukan pelanggaran, pertanyaan yang seharusnya muncul bukan hanya, “Apa hukumannya?” tetapi juga, “Perilaku apa yang ingin kita bangun setelah ini?” Pertanyaan sederhana ini mengubah cara pandang kita. Hukuman tidak lagi menjadi akhir dari proses pendidikan, melainkan salah satu bagian kecil dari perjalanan pembinaan.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara seorang penegak aturan dan seorang musyrif atau murabbi/ Musyrif/Musyrif/Musyrifah Bapak/ibu asuh atau bapak atau ibu asuh. Penegak aturan bertugas menghentikan pelanggaran. Sementara murabbi/ Musyrif/Musyrif/Musyrifah Bapak/ibu asuh bertugas menumbuhkan manusia. Ia tidak hanya melihat kesalahan hari ini, tetapi juga membayangkan pribadi seperti apa yang kelak akan lahir dari proses pembinaan yang dijalankannya.
Cara pandang ini sejalan dengan ruh tarbiyah dalam Islam yang memandang pendidikan sebagai proses membimbing, menumbuhkan, dan mengantarkan seseorang menuju kebaikan secara bertahap. Pendidikan bukan sekadar memperbaiki tindakan lahiriah, tetapi juga menumbuhkan hati, akal, dan jiwa. Sebab itu, ketika santri melakukan kesalahan, hukuman saja tidak cukup. Setidaknya ada lima unsur yang perlu berjalan berdampingan: doa, refleksi, tanggung jawab, pendampingan, dan monitoring.
Doa, Mengakui Bahwa Hati Berada dalam Genggaman Allah
Sehebat apa pun metode pendidikan, perubahan hati tetap merupakan karunia Allah. Dalam diri setiap manusia terdapat ruang batin yang tidak dapat disentuh hanya dengan aturan, nasihat, ataupun hukuman. Perubahan yang sejati sering kali lahir ketika sisi terdalam itu tersapa melalui keteladanan, kasih sayang, dan kesadaran dari dalam diri. Hanya hidayah yang mampu mengetuk pintu hati seseorang.
Karena itu, seorang murabbi/ Musyrif/Musyrif/Musyrifah Bapak/ibu asuh tidak pernah berhenti mendoakan santrinya. Ia membawa nama mereka dalam munajatnya, memohon agar Allah melembutkan hati mereka, memperbaiki akhlaknya, menjaga pergaulannya, serta meneguhkan keimanan mereka.
Sering kali kita begitu sibuk berbicara kepada santri hingga lupa berbicara tentang mereka kepada Allah. Padahal boleh jadi, doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan menjadi sebab dibukanya pintu perubahan yang selama ini tidak mampu ditembus oleh berbagai nasihat. Ikhtiar mendidik dan doa bukanlah dua hal yang dipertentangkan. Keduanya justru saling menguatkan.
Refleksi, Menumbuhkan Kesadaran, Bukan Sekadar Kepatuhan
Banyak santri mengetahui bahwa suatu tindakan itu salah, tetapi belum memahami mengapa tindakan tersebut salah. Padahal pemahaman inilah yang menjadi fondasi perubahan. Daripada sekadar berkata, “Antum melanggar aturan,” akan lebih sesuai dengan semangat tarbiyah apabila kita mengajak mereka berdialog, menggali alasan di balik perbuatannya, lalu membimbing mereka menemukan hikmah dan jalan perbaikan.
“Coba antum renungkan, siapa yang mungkin merasakan dampak dari keputusan yang antum ambil ini?”
“Apa yang mungkin terjadi jika kebiasaan ini terus berulang?”
“Langkah apa yang bisa antum lakukan agar tidak mengulanginya?”
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membantu santri melihat dampak dari tindakannya. Mereka belajar bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Kesadaran seperti inilah yang perlahan membangun pengendalian diri. Sebab orang yang memahami alasan di balik sebuah aturan akan lebih mudah menjaganya daripada orang yang sekadar takut kepada hukuman.
Tanggung Jawab, Kesalahan Harus Menjadi Jalan Belajar
Islam tidak mengajarkan budaya saling menyalahkan. Sebaliknya, Islam mengajarkan keberanian untuk memperbaiki. Sebagaimana yang termaktub dalam hadist arbain nawawi, hadist 18 yang diriwayatkan oleh Imam at-Tarmidzi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
]رَوَاهُ التِّرْمِذِي[
Artinya: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)
Santri yang merusak fasilitas tidak cukup diminta menyesal, tetapi belajar ikut memperbaikinya. Yang mengotori lingkungan diberi kesempatan membersihkannya kembali. Yang melukai hati temannya dibimbing meminta maaf dan memulihkan hubungan. Yang mengkhianati amanah belajar mengganti kerugian serta menunaikan tanggung jawabnya.
Di sinilah pendidikan karakter benar-benar berlangsung. Santri belajar bahwa orang baik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah, melainkan orang yang berani mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas akibatnya. Bekal inilah yang akan mereka bawa ketika kelak hidup di tengah masyarakat.
Pendampingan, Mencari Akar, Bukan Sekadar Gejala
Jika pelanggaran terus berulang, mungkin persoalannya bukan terletak pada kurang beratnya hukuman, melainkan karena akar masalahnya belum tersentuh.
Alih-alih segera menambah sanksi, seorang murabbi/ Musyrif/Musyrif/Musyrifah Bapak/ibu asuh perlu menyediakan ruang untuk mendengar.
“Antum sebenarnya sedang menghadapi kesulitan apa?”
Sering kali dari pertanyaan sederhana itu muncul cerita yang selama ini tidak pernah diketahui. Ada santri yang sedang kehilangan semangat belajar, ada yang mengalami konflik dengan teman, ada yang sedang bergumul dengan masalah keluarga, bahkan ada yang merasa gagal memenuhi harapan orang tuanya.
Memahami latar belakang bukan berarti membenarkan pelanggaran. Aturan tetap ditegakkan dan konsekuensi tetap diberikan. Namun dengan memahami akar persoalan, pembinaan menjadi lebih tepat sasaran. Kita tidak hanya mengobati gejala, tetapi juga membantu menyembuhkan penyebabnya. Seorang musyrif sejatinya adalah pendamping perjalanan, bukan sekadar pemberi hukuman.
Monitoring, Menjadikan Perubahan Sebagai Kebiasaan
Karakter tidak dibangun melalui satu nasihat yang menyentuh atau satu hukuman yang keras. Karakter lahir dari latihan yang dilakukan berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan. Karena itu, setelah proses pembinaan selesai, masih ada tahap yang sering terlupakan, yaitu monitoring.
Buatlah kesepakatan sederhana bersama santri. Evaluasi perkembangannya selama beberapa hari atau beberapa pekan. Catat perubahan yang terjadi. Berikan apresiasi atas kemajuan sekecil apa pun. Ingatkan ketika ia mulai kembali pada kebiasaan lama. Pendekatan seperti ini memberikan pesan bahwa pesantren tidak hanya peduli pada kesalahannya, tetapi juga peduli pada pertumbuhannya. Santri akan merasakan bahwa dirinya tidak sedang dihakimi, melainkan ditemani untuk menjadi lebih baik.
Mendidik untuk Menumbuhkan
Pada akhirnya, tujuan pendidikan pesantren bukanlah melahirkan santri yang sekadar takut terhadap hukuman. Yang ingin dibentuk adalah pribadi-pribadi yang memiliki kesadaran sehingga mampu mengawasi dirinya sendiri, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Hukuman yang hanya menanamkan rasa takut sering kali melahirkan santri yang semakin pandai menyembunyikan kesalahan. Yang mereka pikirkan bukan lagi apakah perbuatannya benar atau salah, melainkan bagaimana agar tidak diketahui oleh pengasuh.
Sebaliknya, ketika hukuman dipadukan dengan doa, refleksi, tanggung jawab, pendampingan, dan monitoring, proses pendidikan berubah menjadi jalan pembentukan karakter. Santri belajar memahami dirinya, mengakui kekeliruannya, memperbaiki dampak perbuatannya, serta melatih dirinya untuk terus bertumbuh.
Dalam kitab Ta’līm al-Muta’allim, Imam Az-Zarnuji mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ilmu yang diajarkan, tetapi juga oleh keberkahan proses pembinaannya. Karena itu, seorang murabbi/ Musyrif/Musyrif/Musyrifah Bapak/ibu asuh tidak cukup hanya mampu menegakkan aturan. Ia juga dituntut memiliki kesabaran, kasih sayang, dan pandangan jauh ke depan terhadap setiap anak didiknya.
Barangkali inilah hakikat pengasuhan di pesantren. Kita tidak sedang berusaha memenangkan pertarungan dengan santri yang berbuat salah. Kita sedang membersamai perjalanan mereka menuju kedewasaan. Sebab kemenangan terbesar seorang murabbi/ Musyrif/Musyrif/Musyrifah Bapak/ibu asuh bukanlah ketika santri tunduk karena takut kepada hukuman, melainkan ketika mereka memilih melakukan kebaikan karena hati, akal, dan imannya telah tumbuh menjadi penuntun hidupnya.
Sumber Bacaan
Al-Faruq, Abu Abdurrahman. 2020. Cara Nabi SAW Mendidik Anak Laki-Laki. Yogyakarta: Pro U-Media.
Al-Ghazali. 2011. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Diterjemahkan oleh Ibnu Ibrahim Ba’adillah. Jakarta: Republika.
al-Nawawī, Abū Zakariyyā Yaḥyā bin Syaraf. 1431 H. Al-Arba’īn al-Nawawiyyah. Suriah: Dār al-Ghautsānī.
Az-Zarnūjī, Burhān al-Dīn. 2009. Ta’lim al-Muta’allim. Diterjemahkan oleh Abdul Kadir Aljufri. Surabaya: Mutiara Ilmu.
Covey, Stephen R. 2013. 7 Kebiasaan Orang yang Sangat Efektif: 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif. Edisi Revisi. Tangerang Selatan: Penerbit Binarupa Aksara.
Huda, N., dan M. Hamim. 2018. Mondok sebagai Potret Cinta Tanah Air. Kediri: Santri Salaf Press.
Kasturi, Taufik, dan Faza Izzudin Nuha. 2026. Psikologi Pengasuhan di Pesantren dan Sekolah Berasrama. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Mandres, I., dan P. Santoso. 2024. Tujuh Karakter Pengasuh Pesantren. Solo: Penerbit DEA.
Mandres, I., dan P. Santoso. 2025. Musyrif Teladan. Solo: Penerbit DEA.
Nawawi, Imam. 2018. Adabul ‘alim wal muta’allim. Diterjemahkan oleh Hijrian A. Prihantoro. Yogyakarta: Diva Press.
Rajasam, Wahab. 2023. Enam Bekal bagi Pendidik dan Pengasuh. Bekasi: Khazanah Fawaid.
‘Ulwan, Abdullah Nashih. 2020. Tarbiyatul Aulad fil Islam. Diterjemahkan oleh Arif Rahman Hakim. Sukoharjo: Insan Kamil.
Yoga, Miarti. 2018. Adversity Quotient: Agar Anak Tak Gampang Menyerah. Solo: Tiga Serangkai.
Zakaria, M. 2023. Kitab Pengasuhan: Pesantren Cahaya, Tanpa Marah, Tanpa Hukuman, Tanpa Bullying, Pesantrenku Surgaku. Belitung: Maktabah Fajrul Islam.