
Ada satu bentuk perjuangan orang tua yang jarang terlihat, belajar melepaskan anak demi masa depannya. Hari ketika anak diantar ke pesantren, sesungguhnya bukan hanya anak yang memasuki gerbang kehidupan baru. Orang tua pun sedang memasuki ruang ujian yang berbeda. Ada pelukan yang dipanjangkan, ada senyum yang dipaksakan, dan ada air mata yang diam-diam diseka sebelum anak melihatnya.
Sepulang dari pesantren, rumah mungkin masih sama. Barang-barang anak masih tersusun. Kamarnya masih ada, namun suasananya terasa berbeda. Ada ruang yang tiba-tiba sunyi karena suara yang selama ini memenuhi rumah kini berada jauh di asrama.
Pada tahap ini, orang tua belajar tentang ikhlas, bahwa mencintai anak tidak selalu berarti berada di sisinya, dan menyayangi tidak selalu berarti memenuhi semua keinginannya. Namun, ujian sesungguhnya sering kali datang setelah beberapa hari atau minggu.
Telepon berbunyi atau pesan dikirim..
“Ayah, aku tidak betah…”
“Bunda, aku ingin pulang…”
“Di sini capek…”
“Teman-temannya tidak seperti yang aku bayangkan…”
“Tolong jemput aku…”
Ditambah lagi permintaan-permintaan kecil yang menggugah rasa iba, makanan kesukaan, camilan dari rumah, tambahan uang saku, atau berbagai titipan yang sebenarnya bisa ditunda. Di sinilah hati orang tua diuji untuk kedua kalinya, apakah akan menguatkan tujuan, atau menyerah kepada rasa kasihan?, tidak semua tangisan berarti harus pulang. Tangisan anak tentu tidak boleh dianggap remeh. Perasaan anak perlu didengar, dipahami, dan dihargai. Tetapi mendengarkan bukan berarti selalu menuruti. Ada perbedaan besar antara anak yang sedang terluka dan anak yang sedang belajar bertumbuh.
Anak yang menghadapi kekerasan, perundungan berat, gangguan kesehatan, atau persoalan serius tentu membutuhkan intervensi dan penanganan yang sungguh-sungguh. Orang tua dan pesantren harus hadir bersama. Tetapi jika keluhan muncul karena rindu rumah, belum terbiasa dengan jadwal, merasa lelah mengikuti aturan, belum menemukan teman yang cocok, atau sedang belajar hidup mandiri, maka persoalannya mungkin bukan “anak harus pulang”, melainkan anak membutuhkan pendampingan untuk melewati masa adaptasi.
Bukankah orang dewasa pun demikian?, hari pertama bekerja terasa asing, memasuki kampus terasa canggung. Merantau membuat seseorang merindukan rumah. Lingkungan baru membutuhkan waktu untuk diterima. Maka, mengapa kita berharap seorang anak mampu menjalani kehidupan pesantren tanpa pernah merasa berat?
Pesantren memang bukan tempat untuk membuat anak selalu nyaman. Pesantren adalah ruang pendidikan yang mengajarkan bahwa kehidupan memiliki aturan, tanggung jawab, keterbatasan, dan perjuangan, di sanalah karakter ditempa.
Belajar dari Kesabaran Nabi Ya’qub
Al-Qur’an menghadirkan gambaran yang sangat dalam tentang hati seorang ayah melalui kisah Nabi Ya’qub `Alaihis Salam. Ketika anak-anaknya membawa baju Yusuf yang telah dilumuri darah palsu, Ya’qub tidak serta-merta menerima cerita mereka. Beliau mengatakan:
فَصَبْرٌ جَمِيلٌ
“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).” (QS. Yusuf: 18)
Dalam Tafsir Al-Mishbah, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kesabaran sebagaimana tergambar dalam ungkapan Nabi Ya‘qub, فَصَبْرٌ جَمِيلٌ (fa shabrun jamīl), bukanlah sikap pasif yang menerima keadaan tanpa ikhtiar. Sabar bukan pula membiarkan diri dikuasai oleh keadaan hingga kehilangan daya untuk berbuat.
Allah Swt. membekali setiap makhluk dengan kemampuan untuk mempertahankan diri. Potensi tersebut merupakan anugerah yang harus dijaga dan diarahkan secara tepat. Karena itu, kesabaran sejatinya berfungsi menjaga keseimbangan emosi agar seseorang tidak kehilangan kejernihan ketika menghadapi persoalan. Dari ketenangan itulah lahir kemampuan untuk mencari jalan keluar, menghadapi masalah dengan proporsional, bahkan menemukan peluang kebaikan di tengah keadaan yang sulit.
Dalam kehidupan tarbiyah di pesantren, makna ini menjadi sangat relevan. Ketika seorang santri mengeluh karena rindu rumah, merasa lelah, belum nyaman dengan lingkungan, atau menghadapi kesulitan dalam beradaptasi, sikap sabar bukan berarti membiarkannya menghadapi persoalan seorang diri. Sabar berarti memberikan ruang baginya untuk merasakan proses, sekaligus mendampinginya agar mampu menemukan cara untuk melewati proses tersebut.
Terkadang, anak sedang membutuhkan seseorang yang berkata: “Ayah tahu kamu sedang berat. Bunda juga rindu. Kami tidak menganggap remeh perasaanmu. Tetapi kami percaya kamu mampu melewati ini. Bersabarlah. Minta pertolongan kepada Allah. Kalau ada masalah, ceritakan kepada bapak atau ibu asuh. Jangan dipendam sendiri. Kami akan terus mendoakanmu.”
Kalimat semacam ini memiliki dua pesan sekaligus: “Kami memahami perasaanmu” dan “Kami percaya kamu mampu.” Keduanya sama-sama penting dalam pengasuhan.
Ada Anak yang Harus Ditolong, Ada Anak yang Harus Dikuatkan
Salah satu kedewasaan orang tua adalah mampu membedakan keduanya. Anak yang benar-benar menghadapi persoalan harus ditolong. Tetapi anak yang sedang menghadapi ketidaknyamanan sebagai bagian dari proses pertumbuhan perlu dikuatkan, bukan selalu diselamatkan. Jika setiap kali anak merasa sulit lalu orang tua segera menghilangkan kesulitannya, anak mungkin belajar satu pola, ketika keadaan tidak nyaman, aku harus keluar dari keadaan itu.
Sebaliknya, ketika orang tua mendampingi anak melewati kesulitan dengan sabar, anak belajar bahwa ketidaknyamanan dapat dihadapi, masalah dapat dibicarakan, dan kesulitan dapat menjadi jalan menuju kedewasaan. Dalam bahasa sederhana, jangan selalu mengangkat beban anak, ajarkan pula bagaimana ia belajar memikulnya. Bukankah bayi yang disapih pun menangis? Tangis itu bukan tanda bahwa seorang ibu kehilangan kasih saying, justru karena kasih sayang itulah proses pertumbuhan tetap dijalankan. Demikian pula pendidikan di pesantren. Tujuannya bukan memisahkan anak dari orang tua, melainkan membantu anak belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri, bertanggung jawab, disiplin, dan dekat dengan Allah.
Di Balik Kisah Ibrahim, Cinta yang Disertai Tawakal
Ada satu lagi pelajaran yang sangat indah dari Nabi Ibrahim `Alaihis Salam. Ketika beliau meninggalkan keluarganya di lembah yang tandus, beliau berdoa:
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ
“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di Mekah, lembah yang tak berpenghuni dan tidak mempunyai tanam-tanaman, di lokasi yang dekat dengan rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan, aku tempatkan mereka di sana agar mereka melaksanakan salat. Maka, aku mohon ya Allah, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan dengan anugerah-Mu itu mereka selalu bersyukur kepada-Mu.”
Perhatikan, Nabi Ibrahim tidak sekadar “meninggalkan”. Beliau menitipkan keluarganya kepada Allah dengan sebuah tujuan yang luhur. Di sinilah kita menemukan makna mendalam dari pengasuhan. Ada saatnya cinta membuat kita mendekap. Ada saatnya cinta mengharuskan kita melepaskan. Namun dalam kedua keadaan itu, orientasinya tetap sama, agar anak semakin dekat kepada Allah dan tumbuh menjadi manusia yang baik. Nabi Ibrahim tidak hanya meninggalkan keluarganya di sebuah tempat, Beliau meninggalkan sebuah doa.
Maka orang tua yang menitipkan anak di pesantren pun semestinya tidak berhenti pada kalimat, “Semoga anakku betah.” Lebih tinggi dari itu: “Ya Allah, jadikan tempat ini jalan bagi anak kami untuk mengenal-Mu, mencintai-Mu, menjaga salatnya, tumbuh akhlaknya, luas ilmunya, dan kuat menghadapi kehidupan.” Dengan doa seperti itu, pesantren tidak lagi sekadar tempat anak tinggal jauh dari rumah. Ia menjadi bagian dari ikhtiar orang tua dalam menanamkan masa depan.
Jangan Biarkan Rasa Kasihan Mengalahkan Tujuan
Rasa kasihan adalah fitrah, bahkan orang tua yang tidak merasa iba ketika anak menangis justru perlu bertanya kepada hatinya sendiri. Tetapi kasih sayang membutuhkan kebijaksanaan. Tidak semua yang membuat anak menangis harus segera dihilangkan. Tidak semua kesulitan harus dijauhkan. Dan tidak semua ketidaknyamanan adalah sesuatu yang buruk. Sebagian kesulitan justru menjadi ruang tumbuh. Karena itu, ketika anak mengeluh, jangan buru-buru bertanya, “Kapan harus dijemput?” Cobalah bertanya:
Apa yang sebenarnya ia rasakan?
Apakah ini sekadar rindu rumah?
Apakah ia sedang kesulitan beradaptasi?
Apakah ada masalah yang serius?
Siapa yang dapat membantu mendampinginya di pesantren?
Dengan demikian, orang tua tidak menjadi pihak yang pasif menerima setiap keluhan, tetapi menjadi mitra pendidikan yang membantu anak membaca persoalannya sendiri. Komunikasi dengan wali kelas, bapak atau ibu asuh, musyrif, dan pihak pesantren tetap penting. Jika ditemukan masalah serius, jangan ditunda. Namun jika yang terjadi adalah bagian dari proses adaptasi yang wajar, berikan ruang agar anak belajar melewatinya.
Sebab terkadang, yang paling dibutuhkan anak bukan pintu keluar dari kesulitan, melainkan seseorang yang berdiri di sampingnya sambil berkata, “Kamu tidak sendirian. Mari kita lewati ini.” Pada akhirnya, pesantren bukan hanya menguji anak. Pesantren juga menguji orang tua. Anak belajar disiplin, orang tua belajar percaya. Anak belajar mandiri, orang tua belajar melepaskan. Anak belajar sabar menghadapi aturan, orang tua belajar sabar menghadapi kerinduan. Anak belajar tawakal ketika menghadapi kesulitan, orang tua pun belajar menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik. Mungkin inilah salah satu bentuk cinta yang paling dewasa, tidak selalu memudahkan jalan anak, tetapi memastikan ia tidak berjalan sendirian. Sebab cinta yang matang tidak hanya bertanya, “Bagaimana agar anakku tidak sedih?”
Ia bertanya lebih jauh:
“Bagaimana agar kesedihan ini, jika memang harus ia lalui, menjadi jalan yang mendewasakan dan mendekatkannya kepada Allah?”. Dan ketika hati orang tua kembali gelisah mendengar suara anak di ujung telepon, ingatlah Nabi Ya’qub: “fa sabrun jamil.” Lalu ingatlah doa Nabi Ibrahim: “Rabbana…”
Pada akhirnya, perjalanan ini mengajarkan orang tua bahwa mencintai anak bukan selalu tentang menggenggamnya erat, tetapi juga tentang memberi ruang baginya untuk tumbuh. Ada saatnya kita mendampingi dari dekat, dan ada saatnya kita harus belajar berdiri sedikit jauh sambil tetap menghadirkan doa.
Sebab melepaskan anak ke pesantren bukanlah kehilangan, melainkan sebuah bentuk kepercayaan, percaya pada proses pendidikan, percaya pada ikhtiar para pendidik, dan terutama percaya kepada pertolongan Allah.
Sumber Bacaan
Al-Faruq, Abu Abdurrahman. 2020. Cara Nabi SAW Mendidik Anak Laki-Laki. Yogyakarta: Pro U-Media.
Al-Ghazali. 2011. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Diterjemahkan oleh Ibnu Ibrahim Ba’adillah. Jakarta: Republika.
al-Nawawī, Abū Zakariyyā Yaḥyā bin Syaraf. 1431 H. Al-Arba’īn al-Nawawiyyah. Suriah: Dār al-Ghautsānī.
Az-Zarnūjī, Burhān al-Dīn. 2009. Ta’lim al-Muta’allim. Diterjemahkan oleh Abdul Kadir Aljufri. Surabaya: Mutiara Ilmu.
Covey, Stephen R. 2013. 7 Kebiasaan Orang yang Sangat Efektif: 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif. Edisi Revisi. Tangerang Selatan: Penerbit Binarupa Aksara.
Huda, N., dan M. Hamim. 2018. Mondok sebagai Potret Cinta Tanah Air. Kediri: Santri Salaf Press.
Kasturi, Taufik, dan Faza Izzudin Nuha. 2026. Psikologi Pengasuhan di Pesantren dan Sekolah Berasrama. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Mandres, I., dan P. Santoso. 2024. Tujuh Karakter Pengasuh Pesantren. Solo: Penerbit DEA.
Mandres, I., dan P. Santoso. 2025. Musyrif Teladan. Solo: Penerbit DEA.
Nawawi, Imam. 2018. Adabul ‘alim wal muta’allim. Diterjemahkan oleh Hijrian A. Prihantoro. Yogyakarta: Diva Press.
Rajasam, Wahab. 2023. Enam Bekal bagi Pendidik dan Pengasuh. Bekasi: Khazanah Fawaid.
Shihab, M. Quraish. 2012. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Vol. 6. Jakarta: Lentera Hati.
‘Ulwan, Abdullah Nashih. 2020. Tarbiyatul Aulad fil Islam. Diterjemahkan oleh Arif Rahman Hakim. Sukoharjo: Insan Kamil.
Yoga, Miarti. 2018. Adversity Quotient: Agar Anak Tak Gampang Menyerah. Solo: Tiga Serangkai.
Zakaria, M. 2023. Kitab Pengasuhan: Pesantren Cahaya, Tanpa Marah, Tanpa Hukuman, Tanpa Bullying, Pesantrenku Surgaku. Belitung: Maktabah Fajrul Islam.