Kenapa Hati Belum Bergetar Ketika Nama “Allah” Disebut?

Di antara ciri keimanan, sebagaimana yang tersebut dalam Al-Qur’an pada Q.S. al-Anfal ayat kedua, adalah bergetarnya hati ketika nama “Allah” disebut. Bahkan jika standarnya dinaikkan, ungkapan “Allah” tersebut tidak hanya menggetarkan hati yang bersangkutan namun juga mampu menggetarkan hati orang yang mendengarkannya, sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw pada saat beliau diancam oleh Du’tsur ibn al-Harits pada perang Ghathafan (3 Hijriah) dengan sebilah pedang. Ketika itu Du’tsur bertanya kepada beliau, “Siapa yang bisa menghalangimu dari pedangku ini, wahai Muhammad?” Dengan mantap Rasulullah Saw menjawab, “Allah”. Apa efeknya? Badan Du’tsur bergetar dan pedang pun terlepas dari genggamannya. Riwayat ini terdokumentasi secara apik dalam banyak kitab hadis seperti dalam Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan al-Baihaqi dan lain-lain.

Namun yang menjadi persoalan sekarang adalah banyak di antara kita yang manakala nama “Allah” disebut, jangankan untuk menggetarkan hati orang lain sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Saw pada riwayat di atas, menggetarkan hati sendiri pun tidak. Hati tidak memberikan respons apa-apa ketika nama agung itu disebut. Sehingga muncullah beberapa pertanyaan seperti apa makna “bergetar” pada Q.S. Al-Anfal ayat kedua tersebut? Bagaimana jika hati tidak bergetar ketika nama “Allah” disebut, apakah kita masih dianggap beriman? Apakah ada yang salah dengan hati yang seperti itu? Dan bagaimana cara agar hati bisa tersentuh ketika nama “Allah” disebut? Tulisan sederhana ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, insya Allah.

Pertama, apa makna bergetar pada ayat kedua dari Q.S. al-Anfal tersebut? Bergetar di sana adalah ibarat dari adanya rasa cinta dan perhatian kepada Allah Swt karena keagungan dan kemuliaan-Nya, bukan takut terhadap ancaman dan siksaan-Nya. Meskipun ada juga sementara ahli tafsir yang menafsirkan seperti itu sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu ‘Ajibah dalam karyanya Tafsir al-Bahr al-Madid. Namun penulis lebih cenderung kepada makna yang pertama, yaitu getaran yang dimaksud adalah getaran sebagai ekspresi cinta kepada-Nya. Perihalnya mungkin bisa dianalogikan kepada seseorang yang bergetar hatinya ketika nama kekasihnya disebut. Semakin besar getaran itu, maka semakin besar juga rasa cintanya kepada sang kekasih dan begitu juga sebaliknya.

Kedua, lalu bagaimana jika hati tidak bergetar ketika nama “Allah” disebut? Apakah kondisi itu menjadi bukti kalau yang bersangkutan tidak cinta kepada Allah Swt ataukah bahkan tidak beriman lagi kepada-Nya? Mayoritas ulama, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ismail Haqqi al-Khalwati dalam tafsirnya Tafsir Ruh al-Bayan, mengatakan bahwa efek getar yang disebutkan pada ayat tersebut hanyalah bukti kesempurnaan iman semata, bukan bukti apakah yang bersangkutan masih beriman kepada Allah Swt atau tidak. Artinya seseorang masih dianggap beriman –sekalipun hatinya tidak bergetar ketika nama “Allah” disebut– asalkan ia telah mengucapkan dua kalimat syahadat sebagaimana yang diatur dalam hukum syariat (sebut Fikih).

Getaran yang dimaksud pada ayat tersebut lebih sebagai pertanda kematangan iman bagi kalangan yang hatinya sudah sampai kepada tingkatan muntahi (tingkatan tertinggi dalam peristilahan ahli Tasawuf). Mereka yang sudah sampai pada level ini biasanya akan dan senantiasa menjadikan Allah Swt dan Rasulullah Saw sebagai tujuan dan orientasi utama dalam kehidupannya. Mereka sudah selesai dengan dirinya, dalam artian mereka telah melepaskan sekat-sekat nafsiyah (nafsu tabiat) dari dalam dirinya. Mereka inilah yang dimaksudkan dalam hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari yang bersumber dari Sahabat Anas ibn Malik di mana Rasulullah Saw pernah mengatakan bahwa di antara ciri orang-orang yang akan mendapatkan kemanisan iman adalah mereka yang menjadikan Allah Swt dan Rasul-Nya sebagai objek keimanan tertinggi, bukan harta, jabatan, keluarga, ataupun bahkan diri mereka sendiri.

Ketiga, lantas bagaimana cara agar hati bisa tersentuh ketika nama “Allah” disebut? Caranya tidak lain dan tidak bukan dengan memperdalam ilmu yang berkaitan dengan hati. Ilmu terkait hal ini tidak terdapat dalam ilmu Akidah karena ilmu ini hanya membahas tentang konsep akal dalam memahami keberadaan Allah Swt dan segala hal yang berkaitan dengan-Nya. Begitu juga ilmu tentang hati juga tidak akan ditemukan dalam ilmu Fikih ataupun Ushul Fikih, karena ia hanya membahas tentang amaliyah lahiriah sehari-hari umat Islam dalam rangka beribadah kepada Allah Swt. Betapa banyak orang yang ahli Akidah dan pakar dalam ilmu Fikih, namun hatinya tidak bergetar ketika nama “Allah” disebut? Mereka tidak takut kepada Allah ketika melakukan dosa dan kesalahan dan bahkan ada yang terang-terangan menyalahgunakan kedua ilmu tersebut untuk kepentingan duniawi serta mendurhakai Allah Swt dan Rasul-Nya.

Lalu dari mana ilmu tentang hati itu bisa kita dapatkan? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan lewat ilmu Ihsan atau yang disebut juga dengan Ilmu Tasawuf (atau Ilmu Tarekat secara spesifik) sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah Saw dalam hadis Jibril yang masyhur itu. Ilmu ini jugalah yang dimaksudkan oleh Imam al-Ghazali dalam karyanya Ihya’ Ulumiddin sebagai ilmu al-Hal, yaitu sebuah ilmu yang menjadi wadah untuk semua ilmu yang ada, termasuk ilmu Akidah dan Fikih. Bahkan tujuan utama yang memotivasi Imam al-Ghazali menuliskan kitab Ihya’ tersebut adalah untuk “mengobati” sebagian ahli Fikih dan ahli Akidah yang kering spiritualnya dari merasakan kehadiran Allah Swt dan juga Rasul-Nya di dalam hatinya. Banyak yang paham agama, namun spiritualnya kering dari hakikat agama yang mereka pelajari. Wal ‘iyadzu billah!

Untuk itu penting kiranya masing-masing kita mempunyai guru spiritual (rohani) atau yang lazim juga disebut dalam ilmu Tasawuf dengan istilah mursyid. Sebagaimana halnya dalam ilmu zahir kita butuh guru yang akan membimbing kita menyelami keluasan ilmu Allah Swt yang bersifat zahir (lahiriah), begitu pula kita juga butuh kepada guru yang akan membimbing kita untuk menyelami keluasan ilmu Allah Swt yang bersifat batin (istilah “batin” di sini berbeda dengan “ilmu kebatinan” yang justru sangat berbahaya dan bisa merusak hati itu sendiri). Terkadang sebagian kita tidak adil dalam memperlakukan ilmu, lebih tersilaukan dengan ilmu-ilmu zahir yang hanya akan terpakai –sebagiannya– pada kehidupan dunia saja, namun buta dengan ilmu rohani yang akan kita gunakan sampai ke akhirat kelak, yaitu ilmu yang membuat hati kita bergetar ketika nama “Allah” dan Rasul-Nya disebut. Allahu a’lam bi al-shawab!