Hikmah dari Rabi’ al-Muradi: Ketika Berkhidmah Membuka Pintu Ilmu

Dalam perjalanan panjang menuntut ilmu, para ulama telah meninggalkan warisan hikmah yang tak lekang dimakan zaman. Di antara mutiara itu, Syekh al-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim—pada bab ketiga tentang menjaga ilmu, guru, sahabat, dan ketabahan—menyampaikan nasihat emas dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallāhu wajhah:

أَلَا لَا تُنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيكَ عَنْ مَجْمُوعِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ، وَحِرْصٌ، وَاصْطِبَارٌ، وَبُلْغَةٌ، وَإِرْشَادُ أُسْتَاذٍ، وَطُولُ زَمَانٍ
Ingatlah, kamu tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara yang akan aku jelaskan kepadamu secara ringkas: kecerdasan, minat yang besar, kesabaran, bekal yang cukup, bimbingan guru, dan waktu yang panjang.

Enam syarat ini ibarat kunci-kunci yang membuka pintu gudang ilmu. Dalam perjalanan mencari ilmu, seorang santri/murid/pelajar/peserta didik/siswa pasti akan menghadapi berbagai rintangan. Ada saatnya ia merasa lelah, goyah, bahkan hampir menyerah. Tetapi justru di saat itulah kesungguhan dan kesabarannya diuji. Diceritakan, di sebuah majelis ilmu yang dipenuhi nasihat dan hikmah, ada seorang santri dari imam besar yang terkenal sepanjang masa. Santri ini bukan tipe yang cepat paham. Ia harus berjuang keras melawan keterbatasannya sendiri. Satu pelajaran dari sang guru terasa begitu sulit dipahami. Empat puluh kali sang guru menjelaskan, bahkan meluangkan waktu khusus di luar majelis untuk membimbingnya dengan penuh kesabaran. Namun, ia tetap belum memahaminya.

Kisah seorang murid dan khadim dari Imam Syafi’i yang bernama al-Rabi’ ibn Sulaiman Abu Muhammad, yang masyhur dan menginspirasi, sering dimuat di beragam situs web. Salah satunya di https://alif.id/tokoh/murid-murid-imam-syafii-4-rabi-bin-sulaiman-al-muradi-khadim-kesayangan-imam-syafii.

Dalam Biografi Imam Syafi’i karya Dr. Tariq Suwaidan, disebutkan bahwa al-Rabi’ ibn Sulaiman Abu Muhammad adalah imam kedua di Mesir yang menjadi murid Imam Syafi’i. Ia adalah putra Abdul Jabbar ibn Kamil al-Muradi. Tugasnya sebagai muadzin di masjid agung Fusthat hingga ia meninggal dunia. Ia orang yang mulia dan periwayat terpercaya dan konsisten periwayatannya.

Dalam al-Intiqa’, Ibn Abdul Barr berkata, “Ia selalu menemani Imam Syafi’i dan banyak mendapat ilmu darinya. Ia juga selalu melayani Imam Syafi’i. Setelah Imam Syafi’i meninggal dunia, para penuntut ilmu banyak yang datang kepadanya untuk belajar dan mengkaji kitab-kitab Imam Syafi’i”. Yaqut berkata tentangnya, “al-Rabi’ adalah sahabat setia Imam Syafi’i. Ia meninggal dunia pada tahun 270 H dan ia orang terakhir yang meriwayatkan dari Imam Syafi’i. Al-Rabi’ orang yang mulia dan penulis buku. Ia meriwayatkan semua kitab Imam Syafi’i dan banyak orang yang mengutip darinya”.

Di akhir kitab Manaqib Syafi’i, al-Baihaqi berkata: “al-Rabi’ ibn Sulaiman al-Muradi adalah periwayat kitab-kitab Syafi’i. Jika kata ‘al-Rabi’’ disebutkan dalam periwayatan kitab-kitab Imam Syafi’i, dialah al-Rabi’ ibn Sulaiman yang biasa meriwayatkannya”.

Dalam an-Nujum az-Zahirah, Abu al-Mahasin at-Tabaqi menggambarkan al-Rabi’ sebagai seorang fakih, terpercaya, berakhlak baik, dan memiliki banyak keutamaan. Ia juga menjadi khadim setia Imam asy-Syafi’i, melayani gurunya dengan sepenuh jiwa di mana pun beliau berada. Karena kesetiaan itu, Imam asy-Syafi’i memuji: “Tidak ada muridku yang melayaniku sebaik dan seikhlas Rabi’ al-Muradi.”

Meski demikian, di awal masa belajarnya, al-Rabi’ dikenal memiliki pemahaman yang lambat (batīʾ al-fahm). Dikisahkan, Imam asy-Syafi’i pernah mengulang sebuah pelajaran hingga 40 kali, namun Rabi’ belum juga memahaminya. Malu terhadap teman-temannya, ia pun meninggalkan majelis. Seusai mengajar, Imam asy-Syafi’i memanggilnya secara pribadi dan mengulang pelajaran hingga al-Rabi’ benar-benar mengerti.

Kecintaan Imam asy-Syafi’i pada muridnya ini begitu besar, hingga beliau berkata:

لَوِ اسْتَطَعْتُ أَنْ أُطْعِمَكَ الْعِلْمَ لَأَطْعَمْتُكَهُ
“Seandainya aku bisa memberi ilmu lewat makanan, niscaya aku akan melakukannya.”

Berkat ketekunan dan pantang menyerah, Allah membukakan pintu pemahaman (futūḥ) bagi Rabi’. Ia kemudian menjadi salah satu ulama penting dalam pengembangan Mazhab Syafi’i, terutama dalam periwayatan karya-karya gurunya.

Ibnu Khalikan mengabadikan keteguhan Rabi’ dalam bait syair di Wafayāt al-A’yān:

صَبْرًا جَمِيلًا مَا أَسْرَعَ الْفَرَجَا
مَنْ صَدَقَ اللهَ فِي الْأُمُورِ نَجَا
مَنْ خَشِيَ اللهَ لَمْ يُلِمْ بِهِ أَذًى
وَمَنْ رَجَا اللهَ كَانَ حَيْثُ رَجَا
“Ia (Rabi’) adalah sosok yang sangat sabar dan tidak mudah menyerah (dalam mencari ilmu).
Barang siapa mempercayakan urusannya pada Allah (seperti Rabi’), niscaya ia akan selamat.
Barang siapa takut pada Allah (sebagaimana Rabi’), maka ia tidak akan mendapat kekecewaan.
Barang siapa mengharap kepada Allah (seperti Rabi’), niscaya akan ia dapatkan apa yang diharapkan.”

Jika al-Muzanni dikenal sebagai nashir (pembela) mazhab, maka al-Rabi’ adalah riwayat (penyampai) mazhab. Julukan ini muncul karena ia menguasai hafalan dan periwayatan kitab-kitab Imam asy-Syafi’i lebih baik dari sahabat-sahabatnya, bahkan al-Buwaithi mengakuinya. Imam asy-Syafi’i sendiri pernah berkata: “Rabi’ adalah riwayat mazhabku.”

Tidak heran, setelah wafatnya sang guru, lebih dari 200 penuntut ilmu dari berbagai daerah datang untuk mempelajari langsung karya-karya Imam asy-Syafi’i dari lisan al-Rabi’. Rabi’ wafat pada Senin, 20 Syawal 270 H, dan dimakamkan keesokan harinya. Shalat jenazahnya dipimpin oleh Raja Khumarawaih bin Ahmad bin Thulun, penguasa Mesir saat itu. Kisah hidupnya menjadi teladan bahwa tugas utama seorang penuntut ilmu adalah belajar dengan sungguh-sungguh, sementara kecerdasan hanyalah bonus. Ia juga membuktikan kebenaran pepatah santri: min asbāb al-futūḥ al-khidmah, bahwa salah satu kunci terbukanya pemahaman adalah melayani guru dengan sepenuh hati.

Sepenggal kisah itu mengajarkan, bahwa dalam menuntut ilmu dibutuhkan ketekunan, kesabaran, dan keyakinan. Ilmu akan masuk ke hati siapa saja yang tidak berhenti berusaha, apa pun kesulitannya, selama ia terus mengetuk pintu pemahaman dengan tekad yang kuat.

Bagi seorang santri, hikmah yang dapat dipetik adalah: jangan pernah mengukur nilai diri dari cepat atau lambatnya memahami, tetapi dari seberapa besar usaha dan keistiqamahan dalam belajar. Kesungguhan yang dibarengi adab kepada guru akan mendatangkan keberkahan ilmu yang tak ternilai.

Bagi seorang guru, kisah ini menjadi pengingat bahwa mendidik bukan sekadar menyampaikan ilmu, melainkan menanamkan semangat dan keyakinan dalam hati murid. Kesabaran, kelembutan, dan keikhlasan dalam membimbing adalah bagian dari tarbiyah yang akan membekas jauh melampaui usia dan zaman.

Wallāhu a’lam bishawab