
Kekuatan Rasulullah ﷺ tidak hanya nampak pada kemampuan berpikirnya yang di atas rata-rata. Kecerdasan itu, berdampak pada bagaimana ia mengelola tubuhnya. Dia bukan hanya pandai mengolah rasa, meski tidak secara langsung, kegiatan hari-harinya adalah bentuk pengolahan raga. Seperti berperang, berpanah, berkuda dan lain sebagainya. Hal ini menandakan keseimbangan antara akal, jiwa dan raga. Ketiga komponen itu tidak ada yang dianaktirikan oleh Rasulullah ﷺ. Masing-masing ditunaikan hak dan kewajibannya. Akal diberi nutrisi ilmu serta tafakur, jiwa disuburkan dengan zikir, dan raga bukan hanya dimanjakan dengan makanan, tetapi dilatih agar dapat beradaptasi pada setiap keadaan. Sehingga ketiganya saling menyempurnakan untuk mengoptimalkan kegiatan sehari-hari. Begitulah seharusnya seorang muslim menjalani hidupnya. Memperhatikan dan memberikan hak pada masing-masing komponen dirinya sebelum menuntutnya memenuhi kewajiban.
Imam al-Lahji mengatakan bahwa kekuatan fisik Rasulullah ﷺ mencapai kesempurnaan. Hal itu karena beliau menggunakannya untuk kepentingan Islam dan membela kebenaran. Kekuatan itu melahirkan keberanian menegakkan hukum Allah dan menghabiskan rasa takut kepada selain-Nya. Kendati demikian, Rasulullah ﷺ tetap menjadi sosok ramah dan penyayang. Abu asy-Syaikh al-Ashbahani (369 H) memastikan bahwa kelembutan Rasulullah ﷺ tidak sirna meskipun ia adalah sosok yang gagah dan perkasa. Beliau mengatakan hal itu adalah karena Rasulullah ﷺ senantiasa berakhlak dengan akhlak Allah Swt. Allah Swt tidak pernah menanggalkan kelembutan setelah ancaman-Nya. perhatikanlah bagaimana Dia berfirman pada salah satu ayat yang menjadi bukti.
اِعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۙ وَاَنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۗ
“Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Maidah : 98)
Ada banyak riwayat yang menunjukkan betapa kuatnya fisik Rasulullah ﷺ. Diantaranya adalah sebagai berikut.
Rasulullah ﷺ Pegulat Handal
Muhammad bin Ishaq dalam as-Sirah an-Nabawiyyah meriwayatkan bahwa dahulu, ada seorang pegulat handal bernama Rukanah bin Abdu Yazid bin Hasyim. Kehebatannya dalam bergulat terdengar seantero Hijaz. Sehingga orang-orang dari berbagai tempat berbondong-bondong menemuinya hanya untuk bertanding dengannya dan ia pun mengungguli semuanya. Suatu hari, ia sedang melewati sebuah lembah di kota Mekkah. Di sanalah ia bertemu Rasulullah ﷺ. Setelah menyapanya, Rasulullah ﷺ berkata padanya: ‘Wahai, Rukanah. Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah Swt? Sudikah kiranya engkau menerima apa yang aku dakwahkan padamu?’ Rukanah menjawab: ‘Wahai, Muhammad. Adakah engkau memiliki bukti atas kebenaran yang kau dakwahkan?’ Dengan sederhana, Rasulullah ﷺ memberikan jawaban: ‘Bagaimana pendapatmu, jika aku mengalahkanmu dalam gulat, apakah engkau mau beriman kepada Allah?’ Merasa tertantang, Rukanah mengiyakan tawaran Rasulullah ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ menyuruhnya untuk bersiap dan ia pun mendekatinya. Baru saja pertandingan dimulai, Rukanah sudah dikejutkan dengan kehebatan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ mengalahkannya. Merasa tidak puas dan penasaran, Rukanah memintanya untuk membatalkan kesepakatan yang di awal mereka lakukan dan mengulang pertandingan. Rasulullah ﷺ pun mengaminkan permintaannya. Hingga yang ketiga kalinya, Rukanah tetap dikalahkan Rasulullah ﷺ. Ia terheran-heran menghadapi kekalahan yang tidak pernah ia alami selama ini. Sebab ia menganggap mustahil ada orang yang mampu mengalahkannya. Ternyata ia mendapatkannya dari Rasulullah ﷺ. Rukanah memberikan kesaksian seraya berkata: ‘Engkau sungguh hebat, wahai Muhammad !’ al-Baladzuri (279 H) mengatakan bahwa Rukanah masuk Islam pada saat penaklukan Mekkah. Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa ia berislam setelah kalah gulat melawan Rasulullah ﷺ. Ia wafat pada masa kekhalifahan Ustman ra.
Syekh Yusuf an-Nabhani menambahkan keterangan dalam Wasail bahwa selain dengan Rukanah, Rasulullah ﷺ juga pernah tarung gulat dengan pegulat lainnya. Seperti Yazid, anak Rukanah dan Abu al-Aswad al-Jumahiy. Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqallani dalam kitabnya, al-Ishabah fii at-Tamyiz ash-Shahabah, menceritakan bagaimana Yazid bin Rukanah bertanding gulat dengan Rasulullah ﷺ. Ibnu Abbas mengisahkan, suatu hari Yazid bin Rukanah mendatangi Rasulullah ﷺ bersama tiga ratus ekor kambing yang ia bawa, seraya berkata: ‘Wahai Muhammad. Maukah engkau bertarung denganku?’ Menerima tantangan itu, Rasulullah ﷺ berkata: ‘Apa yang bisa kau berikan untukku jika aku mengalahkanmu?’ Ia menjawab: ‘Aku akan memberimu seratus ekor kambing ini.’ Maka mereka berdua memulai pertandingan hingga Rasulullah ﷺ mengalahkannya. Sama seperti yang dialami oleh ayahnya, Yazid merasa tidak puas dan meminta Rasulullah ﷺ untuk tanding ulang. Rasulullah ﷺ mengulang pertanyaan yang sama, apa yang beliau dapatkan jika mengalahkannya. Yazid menjawab bahwa ia akan memberikan seratus ekor kambing lainnya. Hasilnya tidak berubah setelah ia mengulangnya tiga kali. Ia tetap digulung oleh Rasulullah ﷺ. Kemudian Yazid berkata: ‘Wahai Muhammad, sebelummu tidak ada seorang pun yang mampu menjatuhkanku, dan tidak ada seorang pun yang lebih aku benci selain dirimu.’ Kemudian ia mengikrarkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasulullah ﷺ: ‘Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah.’ Rasulullah ﷺ pun berdiri sebagai bentuk penghormatan dan mengembalikan seluruh kambingnya kepadanya. Rasulullah ﷺ telah bertarung dengan Rukanah juga anaknya dan beliau mengalahkan keduanya. Adapun Abu al-Aswad al-Jumahiy, Mushtafa bin Abdullah al-Qastantini (1067 H) dalam kitabnya, Sullam al-Wushul Ilaa Thabaqat al-Fuhul menyebutkan riwayat yang mengatakan bahwa kekuatannya digambarkan dengan peristiwa ketika ia menantang sepuluh orang untuk menarik kulit sapi yang diinjaknya. Mereka tidak mampu memindahkannya sejengkal pun. Abu al-Aswad tidak bergerak dari tempatnya, dan kulit sapi itu robek karenanya. Kekuatan sebesar itu ditaklukkan oleh Rasulullah ﷺ.
Ragam Media Dakwah, Memperluas Medannya
Di antara pelajaran penting yang dipetik dari kisah di atas adalah bahwa Rasulullah ﷺ tidak membatasi media dalam berdakwah. Selama tidak berlawanan dengan prinsip syariat, maka tidak ada larangan. Banyaknya media dakwah hanya akan memperluas jangkauan dakwah. Bergulat yang kita bayangkan hanya tentang siapa yang menang dengan kekuatan, ternyata dijadikan media dakwah oleh Rasulullah ﷺ untuk menjaring petarung hebat yang kekuatannya bisa lebih bermanfaat untuk kepentingan Islam kala itu. Lebih dari itu, Rasulullah ﷺ seolah ingin mengajarkan umatnya agar seluas-luasnya mengajak manusia kepada ajaran Islam dengan beragam media yang ia geluti dalam keseharian. Sebab, setiap jengkal di atas muka bumi ini adalah medan dakwah. Kesibukan seorang muslim menjalani apa pun profesinya, seharusnya tidak menghalanginya untuk tetap mensyiarkan akhlak islami. Justru, di sanalah lapang juang dakwahnya. Dakwah tidak selalu menjadi tugas dan tanggung jawab mereka yang berdiri di atas mimbar. Selagi mampu dan memiliki pengetahuan tentang kebenaran Islam, maka kewajiban itu melekat padanya.
Dalam dunia tinju, kita sama-sama tahu petinju kelas dunia, Mohamad Ali yang menyatakan keislamannya di atas ring tinju setelah mengalahkan Sonny Liston pada tahun 1964 pada laga perebutan juara dunia kelas berat. Ia mengumandangkan kedua kalimat syahadat di hadapan banyak orang dan ini tidak diragukan memiliki pengaruh yang besar terhadap pengikut dan pendukungnya. Contoh lain yang ada pada era ini, adalah pegulat profesional asal Rusia bernama Khabib Nurmagomedov. Dia memenangkan dua puluh sembilan pertandingan dan memiliki rekor juara tak terkalahkan sepanjang karirnya di MMA (Mixed Martial Arts). Ritual sujud syukur dan gema kalimat ‘Alhamdulillah’ di atas Octagon tidak pernah luput dari setiap kemenangan yang ia dapatkan. Setiap kesempatan yang ia miliki dijadikan momen untuk menampilkan keindahan ajaran Islam. Salah satunya adalah ketika ia menghadiri konferensi pers pra-pertandingan, pada momen itu ia tidak malu menunjukkan identitasnya sebagai muslim yang berkomitmen untuk tidak mengkonsumsi minuman keras. Meski kadang hal itu menjadi bahan cemoohan lawannya, keteguhannya terhadap ajaran Islam tidak goyah karenanya.
Hal serupa juga terjadi dalam dunia sepak bola. Siapa yang tidak kenal dengan Mohamed Salah? Pemain sepak bola profesional kelahiran Mesir ini mencuat namanya setelah bergabung dengan klub-klub besar di Eropa seperti Liverpool pada tahun 2017. Dilansir pada laman resmi Cambridge University Press dalam artikel yang dipublikasikan pada 07 Juni 2021, sebuah penilitian mengatakan bahwa kehadiran Salah di tengah klub Liverpool mampu memberi pengaruh positif yang menangkis pemahaman negatif tentang Islam dan menyembuhkan penderita islamophobia di negeri Eropa. Dia tidak berdakwah dengan ayat al-Qur’an dan Hadits. Tidak pula menampakkan keislamannya lewat simbol-simbol keagamaan. Dia hanya bermain bola dengan sebaik-baiknya, menghasilkan skor sebanyak-banyaknya dan memberikan kemenangan bagi klubnya. Hal itu benar-benar mengubah cara pandang fans klub Liverpool yang mayoritas mengidap islamophobia. Lewat prestasinya, Salah secara tidak langsung menggiring banyak orang untuk mengenal lebih jauh tentang siapa yang menciptakan kakinya hingga membawa klub kesukaannya ke puncak klasemen. Dalam riset tersebut, disertakan juga yel-yel yang secara kreatif diciptakan oleh fans klub tersebut sebagai ungkapan rasa senang akan kehadiran Salah yang membawa keberuntungan. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut.
If he scores another few .. Then I’ll be Muslim, too.. If he’s good enough for you,.. He’s good enough for me.. Sitting in a mosque,.. That’s where I wanna be.
Hal di atas cukup menjadi bukti bahwa media dakwah tidak terbatas. Bahkan tidak jarang, dakwah seperti itu yang lebih efektif karena mudah diterima. Jika dakwah hanya terbatas pada tempat-tempat ritual keagamaan saja, maka siapa yang akan mendakwahi mereka yang tidak mengenal jalan ke masjid dan majelis kajian? Sampai kapan kita harus menunggunya datang? Tidak ada salahnya jika kita yang memediasi hidayah untuknya dengan cara yang sesuai tentunya. Begitulah seharusnya dakwah disampaikan. Dengan kelembutan dan kesantunan Islam. Menyentuh sisi kemanusiaan sebelum mengikatnya dengan ketentuan hukum halal-haram. Itulah juga yang dimaksud Tuhan dalam al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125 yang mengapit perkara dakwah dengan Hikmah dan al-Mau’izah al-Hasanah. Para mufassir mengatakan bahwa makna hikmah artinya menyesuaikan kondisi dan keadaan subjek dan objek dakwah. Kisah tentang Rasulullah ﷺ yang mengalahkan jawara tetap tanah Arab barangkali menginspirasi pegulat muslim di seluruh dunia. Hal ini berlaku juga pada aspek yang lainnya. Bahwa di mana pun kaki ini berpijak, di sanalah keislamannya dipertanggungjawabkan. Seperti yang selalu digaungkan oleh Pak Kiai Almarhum Ahmad Syahiduddin dalam ungkapannya:
في أيّ أرض تطأ فأنت مسؤول عن إسلامها
“Di belahan bumi manapun engkau berpijak, engkau akan dimintakan pertanggungjawaban tentang keislamannya.”