Mereka Menyebutnya Sebagai Kimia, Aku Memahaminya Sebagai Cinta

“Karena kita hidup di semesta kimia, dengan segala keelokan dan keajaibannya yang dirancang sempurna oleh Sang Pencipta”.

“Kimia?” Ketika mendengar kata tersebut, banyak orang beranggapan bahwa kimia itu berbahaya, mengerikan, ataupun merusak. Padahal dalam kehidupan ini, kita tidak bisa terlepas dari kimia. Kimia ada di dalam maupun luar diri kita. Contoh sederhananya adalah oksigen (O2) yang melimpah di udara. Oksigen itulah yang dibutuhkan kita untuk bernafas. Oksigen jugalah yang menjadi komponen utama dalam reaksi pembakaran yang menghasilkan api. Sehingga dengan api tersebut kita bisa manfaatkan untuk berbagai hal seperti memasak. Kimia akan menjadi berbahaya ketika terjadi penyalahgunaan, seperti kasus beberapa remaja menyalahgunakan narkotika yang seharusnya digunakan untuk medis.

Kimia berasal dari bahasa Arab “al-kīmiyā” (الكيمياء), yang berarti perubahan materi. Kimia merupakan cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari materi, termasuk susunan, struktur, sifat, komposisi, perubahan, dan energi yang menyertai perubahan tersebut. Ilmu ini mempelajari atom, molekul, dan senyawa, serta bagaimana interaksi antara mereka menyebabkan perubahan. Kimia secara luas dibagi menjadi beberapa bidang seperti kimia organik, anorganik, fisik, dan analitik.

Pada perkembangannya, kimia menyajikan teori dan bukti ilmiah yang menyingkap rahasia berbagai reaksi dan fenomena alam. Dari Jabir bin Hayyan yang dijuluki sebagai “Bapak Kimia” hingga Omar M. Yaghi sang peraih Nobel bidang kimia tahun 2025. Menariknya, Omar M. Yaghi adalah ilmuwan muslim keturunan imigran asal Palestina. Omar dianugerahi Nobel karna penemuannya tentang Kerangka Logam-Organik atau Metal Organic Frameworks (MOF) yang berfungsi untuk mengekstrak air minum dari udara gurun, menangkap dan mengubah karbon dioksida (CO2), serta menyimpan gas (hidrogen dan metana).

Omar menjadi penerus generasi ilmuwan muslim yang memiliki semangat serta banyak manfaat melalui berbagai eksperimen di bidang kimia seperti yang telah dilakukan oleh Jabir bin Hayyan pada sekitar abad ke-8 M. Pada era tersebut dikenal sebagai “Abad Keemasan” peradaban Islam. Jabir bin Hayyan menghasilkan ratusan karya ilmiah serta model laboratorium eksperimen yang menjadi pedoman di era modern saat ini. Penemuan-penemuan Bapak Kimia tersebut mampu mengubah perspektif masyarakat dunia tentang kimia. Dari mitos atau sihir menjadi cabang ilmu alam yang sangat bermanfaat bagi kehidupan.

Chemistry adalah cinta?

Tidak jarang, chemistry dikaitkan dengan rasa cinta. Hal itu seperti sudah menjadi istilah umum, khususnya bagi para pujangga cinta. Chemistry merupakan istilah kimia dalam bahasa inggris yang tentu sama maknanya secara terminologi. Kimia memang berkaitan dengan reaksi serta ikatan antar unsur atau molekul. Ikatan kimia umumnya terjadi karena satu tujuan, yakni mencapai kestabilan. Seperti Na+ sebagai ion positif dengan Cl– sebagai ion negatif membentuk NaCl (garam dapur) yang stabil dan bermanfaat bagi kehidupan. Oleh karena itulah, banyak orang mengumpamakan chemistry sebagai ikatan cinta.

Dari partikel sekecil atom hingga sebesar alam semesta, semuanya berpadu dengan reaksi dan fenomena kimia. Bahkan menurut ilmuwan kimia fisika dari Eropa bernama Neils Bohr, atom digambarkan seperti tata surya. Bohr menyatakan proton (inti atom) dikelilingi oleh elektron berdasarkan orbitalnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa atom pun memiliki semestanya sendiri. Dilansir dari laman https://www.thoughtco.com/, tentang “How Many Atoms There Are in the Human Body” menyajikan data bahwa dalam tubuh manusia rata-rata memiliki sekitar 70 triliun atom, atau 7×1027  atom, yang terdiri dari unsur-unsur utama seperti hidrogen (H), oksigen (O), karbon (C), dan nitrogen (N). Itu berarti ada banyak sekali semesta kimia di dalam tubuh kita.

Begitupun juga dengan alam semesta yang diciptakan sangat elok dan presisi oleh Sang Maha Kuasa. Alam semesta seolah beratraksi memberikan fenomena-fenomena yang menakjubkan. Itulah bahasa alam, tanda-tanda kekuasaan Sang Pencipta. Ilmu kimia memberikan kita alat untuk memahami bagaimana fenomena alam bekerja. Mulai dari reaksi pembakaran, reaksi penguapan yang menghasilkan hujan, reaksi elektrokimia, sampai pernafasan pada manusia. Sehingga dengan kimia kita bisa merasakan bentuk cinta Sang Maha Kuasa yakni Allah Swt melalui alam semesta yang tiap partikel demi partikelnya memberikan banyak manfaat bagi kehidupan.

Dengan air kita bisa minum,  dengan oksigen kita bisa bernapas, dengan api kita bisa memasak, dan dengan tanah kita bisa membuat berbagai alat atau bangunan. Beberapa elemen atau unsur tersebut Allah Swt berikan kepada kita dengan sangat berlimpah di alam ini. Bentuk cinta yang luar biasa dari Sang Pencipta untuk ciptaan-Nya. Oleh karena itu, kimia memberikan pemahaman tentang manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta. Sehingga kita bisa memaknai kimia dengan cinta.

Lantas, bukankah kimia begitu indah?