Empat Sifat Rasulullah di Era Informasi

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، فَمَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نبيَّ بعده.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

فَيَايُّهَا الـمسلمون، أوْصيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي اْلقُرْاٰنِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ:
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
و قال أيضا: يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُوْهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ صَدَقَ اللهُ العَظِيمُ، وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الحَبِيْبُ الكَرِيمُ، وَنَحْنُ عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
أَمَّا بَعْدُ

Sidang jum’ah yang dirahmati Allah.
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri juga kepada seluruh jemaah untuk terus meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa yang dengannya kita dapat terus mengarahkan setiap amal perbuatan untuk menggapai ridho-Nya serta senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk meneladani laku hidup Rasul-Nya.

Jamaah jum’ah rahimakumullah.
Di penghujung bulan Rabi’ul Awal ini, khatib ingin mengajak jemaah untuk meneladani kembali sifat-sifat wajib yang ada pada diri Rasulullah SAW. dan menjadikan sifat-sifat tersebut sebagai pedoman utama dalam menjalankan seluruh aktivitas, khususnya di tengah kehidupan yang kian berlari dalam menghadirkan berbagai terobosan teknologi multifungsi serta menjajakan berbagai sistem penyebaran informasi multiteritori seperti sekarang ini.

Allah berfirman di dalam surat Al-Ahzab:21.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا
Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.

Allah SWT. telah menyematkan empat sifat wajib pada diri rasul-Nya, Shiddiq , amanah, tabligh, fathanah, dimana empat sifat tersebut bukan hanya sebatas pengetahuan teoritis yang hanya kita hafalkan dan ajarkan kepada anak-anak kita di sekolah maupun di madrasah, melainkan emapt sifat tersebut juga merupakan model karakter yang perlu diimplementasikan di dalam diri seorang muslim guna membentuk integritas manusia yang kuat di era kehidupan yang serba kompetitif dan penuh dengan informasi yang distrubtif.

Adapun sifat pertama yang wajib kita teladani, yaitu sifat Shiddiq .
Dalam beberapa literatur ilmu tauhid, Shiddiq sering dimaknai dengan
الإخبار بما وقع أو مطابقة الخبر للواقع. Yaitu keselaran antara apa yang disampaikan dengan apa yang terjadi. Sejarah hidup nabi besar Muhammad SAW. menunjukkan bahwa sifat Shiddiq yang ada pada dirinya telah mendarah daging bahkan jauh sebelum beliau diangkat sebagai seorang rasul. Sejak muda ia dijuluki sebagai al-Amin, yaitu orang yang terpercaya. Pengakuan ini datang dari masyarakat bukan dari klaim sepihak, dimana pada saat itu mereka melihat langsung bagaimana seorang Muhammad muda tidak pernah sekalipun menyampaikan berita dusta dan tidak ada satupun perbuatannya yang menyimpang dari apa yang beliau ucapkan. Teladan inilah yang harus dimiliki oleh setiap muslim, terlebih bagi kita yang mengenyam pendidikan pesantren. Sifat Shiddiq sudah harus ada sejak dalam pikiran dan perbuatan. Artinya, pekerjaan apapun yang kita lakukan harus terlebih dulu didasari oleh semangat kejujuran dan berorientasi pada kebenaran.

Di dalam lingkungan pesantren, berani untuk melaporkan setiap tindakan indisipliner yang ditemui di asrama adalah wujud nyata dari keberadaan sifat Shiddiq pada diri seorang santri. Selain itu, dengan meneladani sifati Shiddiq ini diharapkan seorang santri tidak akan pernah berani untuk menyontek atau mengambil apapun yang bukan haknya termasuk melakukan plagiarisme, yaitu menjiplak dan megambil karya ilmiah milik orang lain.

Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW. bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam konteks yang lebih luas, sifat Shiddiq merupakan pondasi utama dalam menjaga kebenaran informasi publik, memberantas berita hoaks, dan menjaga agar ekosistem informasi tersebut tetap bernilai positif dan membangun.

Sifat kedua yang wajib bagi para rasul yaitu, Amanah.
Dalam penggunaan sehari-hari, kata “Amanah” diartikan dengan dapat dipecaya. Seperti ketika kita menitipkan barang kepada salah seorang teman dan ia mampu menjaga barang tersebut dengan baik, maka kita menyebutnya sebagai seorang yang amanah. Amanah merupakan kepercayaan yang diberikan seseorang untuk dijalankan dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab.

Dalam kitab Fathul Majid Syarah Durrul Farid, Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Amanah” dalam konteks sifat yang wajib ada pada diri seorang rasul, adalah:


عصمتهم مِن الوقوع في محرّمٍ أو مكروه و هي حفظ الله لرسلهم مِن التلبّسِ بمنهي عنه ظاهرأو باطنا

Yaitu penjagaan Allah atas para rasul-Nya dari hal-hal yang dilarang baik yang secara lahir seperti berdusta atau mencuri, juga secara batin seperti hasad atau munculnya rasa sombong maupun riya’.

Di era modern, sikap amanah tampil sebagai profesionalisme kerja, akuntabilitas, penjagaan atas privasi, dan tidak menyalahgunakan kepercayaan. Dengan memahami dan meneladani sifat “Amanah” tersebut, diharapkan seorang muslim mampu menjaga kepercayaan sosial terhadap dirinya dan meningkatkan kualitas personal serta integritas diri yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.

Berikutnya yaitu, sifat Tabligh.
Pensyarah kitab Jala’ul Afham Syarah ‘Aqidatul ‘Awam menjelaskan arti “Tabligh” sebagai pengajaran yang disampaikan oleh para rasul kepada manusia atas syariat atau hukum-hukum Allah guna menunjukkan mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Keberwujudan sifat ini pada diri seorang rasul Allah tegaskan di dalam QS. Al-Ma’idah: 67.
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang rasul memiliki tugas untuk menyampaikan kepada umat tentang pesan-pesan langit yang diturun kepada mereka. Dan mustahil bagi mereka untuk menyembunyikan apa yang seharusnya disampaikan. Sebab jika para rasul terbukti menyembunyikan apa yang seharusnya disampaikan kepada umat manusia berati dapat dikatakan bahwa mereka tidaklah amanah sebab telah meninggalkan apa yang diperintahkan kepada mereka sedangkan meninggalkan suatu perintah Tuhan sama dengan mengerjakan sesuatu yang dilarang-Nya. Dan jika mereka mereka tidak amanah dalam menjalankan tugas tersebut dimana ada pesan-pesan langit yang mereka sembunyikan dari umat, itu menunjukkan bahwa mereka telah berdusta. Dan jika mereka terbukti berdusta, maka kredibilitas setiap pesan-pesan langit tersebut perlu dipertanyakan keabsahannya dan ini akan berdampak pada kesimpulan yang dapat menunjukkan bahwa pesan yang diturunkan kepada mereka tersebut merupakan pesan-pesan palsu. Dengan kata lain, berarti Allah telah berdusta atas nama mereka sebab Allah telah menyatakan bahwa para rasul adalah orang-orang yang Shiddiq. Sedangkan mustahil bagi Allah untuk berdusta. Jika demikian, maka benarlah bahwa seorang rasul sudah pasti orang yang Shiddiq dan Amanah. Oleh karena itu, mustahil bagi mereka untuk menyembunyikan apa yang seharusnya disampaikan kepada umat dari semua pesan-pesan langit yang diturunkan kepada mereka.

Dengan meneladani sifat Tabligh ini kita dapat membentuk kebiasaan positif untuk menyebar luaskankan semua bentuk informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Rasulullah SAW bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. al-Bukhari)

Sifat ini mengajarkan kita bahwa setiap ilmu pengetahuan serta informasi positif yang kita miliki merupakan sumber daya yang harus kita bagikan. Namun, Tabligh juga bukan berarti berbicara tanpa ilmu, memposting sesuatu tanpa mempertimbangkan keabsahannya, atau berpendapat di depan umum tanpa sumber ilmiah yang jelas. Secara ilmiah, efektifitas penyampaian pesan bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri melainkan bergantung dan dipengaruhi oleh kredibilitas si penyampai pesan. Tentu, bagi seorang yang berakal dan berpindidikan tidak akan mudah mempercayai suatu informasi yang sumbernya tidak jelas atau tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Karenanya, paling tidak ada tiga faktor yang dapat membentuk dan mempengaruhi kredibilitas seseorang, yaitu keterpercayaan, keahlian, dan daya tarik, hal ini sebagaimana disampaikan oleh Hovland, dkk, dalam teori kredibilitas yang mereka kemukakan. Dengan demikian maka agar apa yang kita sampaikan dapat diterima oleh publik maka kita perlu memiliki integritas sebagai sosok yang layak dipercaya, keahlian dalam bidang tertentu, serta kemampuan untuk menarik perhatian masyarakat dengan cara yang benar. Inilah alasan mengapa seorang rasul diminta untuk menyampaikan berita langit dengan penuh hikmah dan dengan cara yang bijaksana.

Dengan begitu, Tabligh dalam konteks hari ini merupakan soft skill yang harus dimiliki untuk melanggengkan dakwah, edukasi, dan komunikasi yang mencerahkan, bukan yang menimbulkan permusuhan.

Yang terakhir yaitu sifat “Fathanah” yang dalam bahasa Indonesia berarti “cerdas”. Adapun dalam konteks kenabian, Imam Nawawi menjelaskannya sebagai sifat yang menunjukkan ketajaman berpikir dalam menyampaikan argumentasi yang tidak memiliki celah untuk dibantah sehingga mengharuskan lawan bicara menerima konsekuensi logis dari pendapatnya, sekaligus membatalkan klaim-klaim mereka yang tidak benar.

Argumentasi rasional yang menunjukkan keberadaan sifat ini pada diri seorang rasul yaitu dapat dikatakan bahwa seandainya rasul adalah orang yang bodoh maka mereka tidak akan mampu membangun argumentasi yang kuat untuk menghadapi kaum yang menentangnya, hal ini tentu bertentangan dengan martabat kerasulan itu sendiri. Sebagai contoh, di dalam Q.S. Al-Anbiya: 63 Allah mengkisahkan bagaimana Nabi Ibrahim menunjukkan kekuatan argumentasinya saat berhadapan dengan para penyembah berhala.

Dalam perkembangan ilmu psikologi kognitif modern, Robert Sternberg dalam karyanya “Wisdom: Its Nature, Origins, and Development” (1990) menegaskan bahwa kecerdasan yang sesungguhnya bukan sekadar diukur dari kapasitas kognitif seseorang, melainkan sejauh mana kemampuan yang ia miliki untuk mengintegrasikan pengetahuan dengan konteks sosial dan nilai yang berlaku untuk membuat suatu keputusan yang baik dan benar (wisdom). Penjelasan tersebut sejalan dengan makna Fathanah yang dapat diartikan sebagai sebuah kecerdasan, kecerdikan, dan kebijaksanaan, sebagaimana tertuang dalam Q.S. Al-An’am: 83 yang menjelaskan bagaimana nabi Ibrahim dianugerahkan kemampuan untuk ber-hujjah (berargumentasi) saat menghadapi pembangkangan dari kaumnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، سَيِّدُ الخَلَائِقِ وَالبَشَرَ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَصَابِيْحِ الْغُرَرِ

عِبَادَ الله ! إِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيمًا)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللَّهِ أَجْمَعِينَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ وَ فِيهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، اللَّهُمَّ انْصُرِ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالْمُعْتَدِينَ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ