Kalam Rasulullah Saw

Pada seri yang membahas tentang ciri fisik Rasulullah ﷺ, penulis membahas bahwa salah satu keistimewaan fisik Rasulullah ﷺ adalah Allah Swt menyebutkan tiap bagiannya dalam al-Qur’an. Di antara yang disebutkan adalah lisan Rasulullah ﷺ sebagaimana termaktub pada surat al-Qiyamah ayat 16. Letak kemuliaan lisan Rasulullah ﷺ adalah tidak pernah keluar darinya kebohongan, umpatan, atau bahkan hal tabu untuk disebutkan. Lebih dari itu, setiap kata yang keluar adalah kemutlakan wahyu. Ucapannya menjadi landasan hukum yang mencangkup perintah dan larangan. Seperti yang Allah Swt firmankan pada surat an-Najm ayat 3-4.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى (3) اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ

 dan ia tidak pula berucap berdasarkan hawa nafsu(-nya). Tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya).

Pada tulisan kali ini, kita akan mengulik lebih dalam teladan Rasulullah ﷺ tentang bagaimana adab beliau ketika berbicara dan apa yang menjadi objek pembicaraan beliau. Berikut pemaparannya.

Adab Berbicara

Imam al-Lahji dalam Muntaha as-Sul menggambarkan betapa Rasulullah ﷺ adalah sosok yang paling baik tutur katanya, ungkapannya manis, menyejukkan, menarik kecenderungan hati untuk mendengarkan dan memikat ruh untuk tunduk pada kesantunan kalamnya. Hal yang demikian adalah karena beliau membingkainya dengan keluhuran adab. Sehingga pembicaraannya penuh penghormatan dan bersih dari nada merendahkan.

  1. Tidak Tergesa-gesa

Kecepatan dalam berbicara tidak menjadi ukuran kelihaian seseorang dalam menyampaikan sebuah pesan. Bahkan, ia menjadi tanda ketergesaan yang menunjukkan kesan pendeknya pikiran dalam mengolah kata yang tepat hingga menjadi kalimat yang ringkas, namun jelas. Tempo yang terlalu cepat menyebabkan susunan kata bertindihan. Hal ini mungkin sering kita saksikan di sekitar kita atau bahkan kitalah pelakunya. Kebiasaan berbicara seperti ini akan mengakibatkan miskonsepsi yang berujung pada penyimpangan dan kekeliruan. Bukan kepada kebenaran, terlalu cepat saat bicara hanya menyampaikan pendengar pada kesalahan. Seorang nabi yang lidahnya menjadi panjangan wahyu Tuhan, tidak semestinya tergesa-gesa dalam berbicara. Sebab, pesan yang disampaikan bukan berita biasa. Melainkan kabar langit yang akan menjadi pedoman hidup manusia secara keseluruhan. Akan berbahaya jika tidak disampaikan dengan kefasihan. Dampak kerusakannya bukan saja nampak pada kehidupan dunia, namun akan merambat hingga ke fase kehidupan yang selanjutnya, dan Allah Swt tidak akan membiarkan itu terjadi. Itulah mengapa Allah Swt mengajarkannya agar tidak tergesa-gesa saat berbicara pada surat al-Qiyamah ayat 16.

لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ

Jangan engkau (Nabi Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak tergesa-gesa (menguasai)-nya.

Imam at-Tirmidzi dalam asy-Syamail meriwayatkan hadits dari A’isyah ra. beliau bercerita bahwa Rasulullah ﷺ tidak berbicara dengan tergesa-gesa.

ما كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يسرد كسردكم هذا، ولكن كان يتكلّم بكلام بيّن فصل، يحفظه من جلس إليه

Rasulullah ﷺ tidak berbicara tergesa-gesa seperti kalian ini. Akan tetapi beliau berbicara dengan jelas dan tersusun rapi. Orang-orang yang duduk bersamanya akan mudah menghafal ucapannya.

  1. Mengulang Perkataan

Kesabaran Rasulullah ﷺ bukan hanya nampak dari bagaimana beliau menghadapi pembecinya. Namun, juga terlihat dari bagaimana beliau tidak sungkan mengulang kalamnya sebanyak tiga kali kala mengajar dan membimbing para pecintanya hingga mereka memahami sabdanya dengan baik serta menghafalnya. Padahal, adab sebelumnya mengajarkan untuk pelan-pelan berbicara agar informasi yang disampaikan utuh. Ditambah lagi dengan mengulangnya sebanyak tiga kali. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Ahmad dan Imam at-Tirmidzi dari Anas bin Malik ra. beliau mengatakan:

وكان صلّى الله عليه وسلّم إذا تكلّم بكلمة أعادها ثلاثا حتّى تفهم عنه

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ apabila mengatakan sebuah kata, beliau akan mengulangnya sebanyak tiga kali agar dapat dipahami dengan baik.

Dalam kitab Syarah asy-Syifa, Syekh Mulla Ali al-Qari menjelaskan alasan mengapa Rasulullah ﷺ mengulang ucapannya sebanyak tiga kali. Kali pertama adalah kesempatan untuk mendengarkan, kedua kali untuk menegaskan pesan, kali terakhir adalah kesempatan untuk mencerna sabdanya dengan berpikir. Alasan lainnya adalah karena Rasulullah ﷺ mengetahui keragaman tingkat kemampuan sahabatnya dalam memahami sebuah ilmu pengetahuan. Syekh al-Lahji memberikan pandangan serupa bahwa Rasulullah ﷺ mengetahui ada di antara sahabatnya yang kurang baik pemahamannya. Sehingga beliau mengulang ucapannya agar mereka mampu memahaminya dengan baik dan melekat dalam pikiran mereka. Selain itu, bisa jadi karena dalam ucapannya mengandung beberapa hal ambigu, sehingga beliau mengulangi penjelasannya agar tidak lahir penafsiran liar. Ibnu Battal juga mengemukakan pendapatnya tentang alasan Rasulullah ﷺ mengulang perkataannya adalah karena Rasulullah ﷺ khawatir ada yang tidak mendengar maupun kurang memahaminya dengan baik, atau beliau hendak memaksimalkan pengajaran serta menegaskan pesan dalam nasehatnya. Ibnu at-Tin (611 H) ahli hadits asal Shafaqus, Tunisia, mengatakan bahwa pengulangan sebanyak tiga kali menjadi batas maksimal dalam menjelaskan suatu perkara.  Beliau mengatakan bahwa seseorang yang belum paham setelah dijelaskan sebanyak tiga kali, maka akan tetap tidak paham meski dijelaskan lebih dari itu. Syekh al-Lahji menguatkan pendapat Ibnu at-Tin mengutip sebuah riwayat dikatakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak mengulangi perkataannya setelah yang ketiga kalinya. Hal yang demikian adalah sanggahan bagi orang yang tidak menyukai pengulangan dalam ucapan, juga bagi guru yang mengingkari muridnya saat meminta pengulangan.

Dikisahkan dalam Shahih Muslim bahwa A’isyah ra. bercerita kepada keponakannya, ‘Urwah bin az-Zubair: ‘Suatu hari Abu Hurairah ra. mengajar ahli shuffah di serambi Masjid Nabawi yang persis berada di samping rumah Rasulullah ﷺ. Aku mendengarnya menyampaikan hadits Rasulullah ﷺ dengan tempo yang sangat cepat. Ketika itu, aku sedang bertasbih. Tak lama kemudian, Abu Hurairah mengusaikan majelis sebelum aku sempat menyelesaikan tasbihku. Seandainya sempat, niscaya aku akan mengatakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah berbicara dengan cara seperti itu.’ Menanggapi kisah ini, al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani menampakkan uzur Abu Hurairah yang berbicara seperti yang digambarkan dalam hadits di atas. Beliau mengatakan bahwa Abu Hurairah memiliki riwayat yang luas serta hafalan hadits yang banyak. Karenanya tidak memungkinkan bagi beliau mengajar dengan tartil. Sementara itu, al-Munawi memetik faedah dari hadits di atas untuk para guru. Hendaknya bagi setiap guru agar tidak terburu-buru ketika berbicara menjelaskan pelajaran. Jelaskan secara bertahap, perlahan. Hiasi ucapan dengan diksi yang baik dan memberikan jeda untuk berpikir di antara pemaparan. Apabila ia telah selesai dari sebuah pembahasan, hendaknya ia berdiam sejenak untuk memberikan kesempatan bertanya bagi para pendengar.

Metode ajar yang dirumuskan oleh leluhur Pondok Pesantren Daar el-Qolam dalam kegiatan ‘Amaliyah at-Tadris (praktik mengajar) yang diperagakan oleh tiap santri kelas akhir sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ serta penuturan al-Munawi di atas. Dalam proses pembuatan perencanaan pembelajaran, santri diajarkan untuk menyiapkan tiga penjelasan berulang mengenai suatu pembahasan dengan menggunakan bahasa yang lebih mudah dan sederhana dari penjelasan sebelumnya. Hal ini tentunya bertujuan untuk memastikan ilmu sampai kepada objek secara utuh. Pengulangan penjelasan sebanyak tiga kali dilatarbelakangi oleh tingkatan kemampuan anak dalam menyerap sebuah informasi. Sehingga dengan cara ini, seluruh santri dapat memahami pelajaran yang disampaikan dengan baik. Selain itu, mereka juga dibekali dengan kemampuan public speaking yang menopang keterampilan berbicara dihadapan audiens dengan memperhatikan tempo bicara serta penggunaan intonasi yang tepat. Penjabaran singkat ini menyingkap betapa arifnya pendahulu kita yang tidak sederhana merumuskan sesuatu. Ada ilmu yang menjadi landasan, serta hikmah yang menjadikannya tetap relevan. Semoga Allah swt merahmati semuanya.

  1. Berpaling dari Pembicaraan yang Sia-Sia

Syekh Mulla Ali al-Qari menggarisbawahi bahwa yang dimaksud berpaling artinya tidak menanggapi pembicaraan yang tidak bermakna dan hanya sebatas pada perkara yang ringan kemakruhannya. Adapun terhadap perkara yang berat makruhnya, terlebih pada yang haram, maka wajib bagi seorang utusan Tuhan untuk mengingatkan dan menegurnya. Al-Qadhi Iyadh meriwayatkan sebuah hadits dalam asy-Syifa’.

وكان صلّى الله عليه وسلّم كثير السّكوت، لا يتكلّم في غير حاجة، ويعرض عمّن تكلّم بغير جميل

Rasulullah ﷺ adalah sosok yang banyak diam, tidak berbicara kecuali seperlunya dan beliau akan berpaling dari ucapan yang kurang elok.

Objek Pembicaraan

  1. Hal yang Bermanfaat

Al-Munawi meriwayatkan hadits dalam kitabnya Kunuz al-Haqaiq dari Ibnu Majah, bahwa Rasulullah ﷺ tidak berbicara melainkan pada perkara yang mengandung manfaat. Seperti seputar keagamaan, amal saleh, ilmu pengetahuan dan nasehat yang mengarahkan.

وكان صلّى الله عليه وسلّم يخزن لسانه إلّا فيما يعنيه

Rasulullah ﷺ senantiasa mengunci lisannya kecuali terhadap sesuatu yang bermanfaat.

Hal ini bukan hanya pada pembicaraannya saja, melainkan juga berlaku pada seluruh laku Rasulullah ﷺ. Beliau tidak pernah melakukan sesuatu yang sia-sia. Apabila beliau melakukannya, pasti ada hikmah dan manfaat di dalamnya. Sebagaimana beliau juga bersabda dalam hadits yang seharusnya dijadikan prinsip utama bagi setiap muslim dalam menjalani kehidupannya. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

Diantara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak ada manfaatnya.

  1. Mengkiaskan Hal yang Tabu

Jika terpaksa membahas sesuatu yang dianggap tabu, beliau akan menggunakan bahasa kias untuk menyebutnya. Hal ini tidak lain hanya menunjukkan kesantunan Rasulullah ﷺ dalam berbicara dan rasa malunya menyebutkan sesuatu yang dianggap kurang pantas disebutkan secara terus terang. Tentunya, tanpa mengurangi kejelasan makna ungkapan yang beliau sampaikan.

كان يعرض عن كلّ كلام قبيح، ويكني عن الأمور المستقبحة في العرف إذا اضطرّه الكلام إلى ذكرها

Rasulullah ﷺ selalu berpaling dari setiap rupa perkataan yang buruk. Beliau akan menggunakan kias saat terpaksa menyebutkan sesuatu yang dianggap tabu oleh masyarakat setempat.

Di antara contoh kata kias yang digunakan Nabi Muhammad ﷺ dalam haditsnya adalah sebagai berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلَّى الله عليه وسلَّم قَالَ: إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ، فَلاَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي الإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثاً، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra. beliau mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: ‘Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam sebuah wadah hingga ia mencuci tangannya sebanyak tiga kali. Karena sesungguhnya ia tidak mengetahui dimana semalam tangannya berada.’ (HR. Muslim)

Kalimat yang berada di ujung hadits (Karena sesungguhnya ia tidak mengetahui dimana semalam tangannya berada) merupakan kiasan dari ungkapan yang bermakna (Kalian tidak mengetahui apakah semalam tangan kalian menyentuh najis atau tidak). Hal ini dipahami dari perintah Rasulullah ﷺ untuk mencuci tangan ketika bangun tidur. Perintah tersebut merupakan ajaran luhur yang menuntun umat agar terbiasa hidup bersih mulai sejak bangun tidur.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا جلس بين شُعَبها الأربع، ثم جَهَدها، فقد وجب الغسل (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: ‘Apabila seseorang duduk di antara keempat sisi istrinya kemudian berjihad dengannya, maka ia wajib mandi hadats.’ (HR. Al-Bukhari)

Contoh lain, datang dari hadits di atas tentang hal yang mewajibkan seseorang mandi hadats. Pada hadits tersebut, Rasulullah ﷺ menggunakan kata jihad sebagai bentuk kiasan dari berjimak.

Sebagai penutup, penulis akan menyajikan kebiasaan unik Rasulullah ﷺ saat sedang berbicara yang direkam baik oleh para sahabatnya saat berada di majelisnya. Semoga pengetahuan tentangnya bukan hanya menuntun kita pada teladannya, melainkan juga memupuk cinta yang menunjukkan jalan ke arah pertemuan bahagia.

وكان صلّى الله عليه وسلّم إذا جلس يتحدّث يكثر أن يرفع طرفه إلى السّماء

Rasulullah ﷺ apabila sedang duduk berbicara, sering mengangkat matanya ke arah langit.

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab Dalail an-Nubuwwah dari sahabat Abdullah bin Salam. Imam ath-Thibi (743 H) menyebutkan alasan beliau melakukan itu adalah karena kerinduannya kepada Sang Pencipta dan menunggu datangnya wahyu dari-Nya.

وكان صلّى الله عليه وسلّم يذكر الله تعالى بين كلّ خطوتين

Rasulullah ﷺ senantiasa berzikir kepada Allah Swt di antara kedua langkahnya.

Ungkapan di atas selaras dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahih-nya dari A’isyah ra. beliau berkata:

كانَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ علَى كُلِّ أحْيَانِهِ

Rasulullah ﷺ senantiasa berzikir kepada Allah Swt dalam setiap keadaannya.