Kumaafkan, Tapi Aku Tidak Akan Melihat Wajahmu Lagi

Diriwayatkan oleh Thabrani, dari Ibnu Abbas r.a., katanya: Rasulullah saw. mengirim seorang utusan kepada Wahsyi bin Harb – pembunuh Hamzah r.a. – agar ia memeluk Islam. Maka Wahsyi balik mengutus seseorang dengan kata-kata: “Wahai Muhammad! Bagaimana Engkau menyeru aku (untuk memeluk Islam) sedangkan engkau mengatakan bahwa barangsiapa membunuh atau mempersekutukan Allah dengan sesuatu atau melakukan zina, maka ia berdosa dan siksa untuknya akan digandakan pada hari Kiamat nanti dan kekal di dalam neraka dalam kehinaan, sedangkan aku telah melakukan perbuatan-perbuatan itu? Apakah engkau menjumpai satu keringanan bagiku?”

Inilah yang menyebabkan Allah Swt. menurunkan wahyu:

اِلَّامَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلً صَالِحًا فَاُولٰٓئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنَاتٍۗ وَكَانَ اللهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70)

Setelah Fathul Makkah, perkembangan Islam sangat pesat. Banyak di antara para pembesar Quraisy yang akhirnya memeluk agama Islam. Pengikutnya pun semakin bertambah dari hari ke hari. Namun, setiap kali Islam bertambah kuat, Wahsyi justru semakin diliputi kesedihan. Hatinya didera rasa takut dan gelisah yang tak kunjung reda. Perasaan itu terus menghantuinya, hingga akhirnya Rasulullah saw. bersama pasukannya yang besar berhasil menaklukkan kota Makkah.

Saat itu, Wahsyi melarikan diri ke Thaif untuk mencari tempat aman. Namun tak lama kemudian, kebanyakan penduduk Thaif juga memeluk Islam. Mereka bahkan menyiapkan utusan untuk menghadap Nabi Muhammad saw. dan mengikrarkan keislaman mereka.

Wahsyi pun semakin menyesal dan kebingungan. Dunia yang luas terasa sempit baginya. Semua jalan seolah tertutup. Ia berkata dalam hati, “Aku akan pergi ke Syam, ke Yaman, atau ke negeri-negeri lain.”

Ketika ia dalam perjalanan menuju Syam, tiba-tiba seorang lelaki menghampirinya. Wahsyi berkata, “Demi Allah, ketika aku dalam keadaan yang sangat kesusahan seperti ini, tiba-tiba datang seorang yang mau berbelas kasihan dan memberikan nasihat padaku.”

Lelaki itu berkata, “Celakalah kamu wahai Wahsyi! Sungguh Muhammad tidak akan membunuh seorang pun yang masuk ke dalam agamanya dan mau bersyahadat dengan benar.” Mendengar nasihat itu, ia seketika tersentuh. Tanpa berpikir panjang, ia segera berangkat menuju Madinah untuk menemui Nabi Muhammad saw.

Setibanya di Madinah, ia mencari tahu keberadaan Rasulullah saw, dan ternyata beliau sedang berada di masjid. Dengan rasa takut dan khawatir yang luar biasa, Wahsyi memberanikan diri melangkah masuk. Ia mendekat hingga berdiri di hadapan Rasulullah saw, lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Mendengar ucapan dua kalimat syahadat itu, Rasulullah saw menatapnya. Ketika beliau menyadari bahwa yang mengucapkan syahadat adalah wahsyi, beliau menundukkan pandangan.

Rasulullah saw. bertanya kepadanya, “Apakah engkau Wahsyi?” Ia menjawab, “Betul, wahai Rasulullah.” Lalu beliau berkata, “Duduklah dan ceritakanlah kepadaku bagaimana engkau membunuh Hamzah.” Maka Wahsyi pun duduk dan menceritakan seluruh peristiwa pembunuhan Hamzah kepada beliau.

Ketika Wahsyi selesai bercerita, Rasulullah saw. memalingkan wajahnya seraya berkata, “Celakalah kamu, wahai Wahsyi! Sembunyikanlah wajahmu dariku. Aku tidak akan melihat wajahmu lagi setelah hari ini.”

Sejak hari itu, Wahsyi selalu berusaha agar wajahnya tidak terlihat oleh Rasulullah saw. Setiap kali para sahabat duduk di hadapan beliau, ia memilih duduk di belakang. Ia terus menjaga hal itu hingga Rasulullah wafat.

Meskipun ia tahu bahwa Islam menghapus seluruh dosa sebelum seseorang memeluknya, namun perbuatan yang telah ia lakukan tetap menghantui pikirannya. Bayangan masa lalunya tak pernah lenyap. Ia terus mencari kesempatan untuk menebus kesalahan besar yang telah diperbuatnya.

Ketika Rasulullah saw wafat dan kepemimpinan kaum muslimin berpindah ke tangan sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra., muncul gelombang kemurtadan di kalangan Bani Hanifah, para pengikut Musailamah al-Kadzdzab. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. pun mengerahkan pasukan kaum muslimin untuk memerangi Musailamah dan mengembalikan Bani Hanifah kepada Islam.

Saat itu, Wahsyi berkata dalam dirinya, “Wahai Wahsyi, demi Allah, sungguh ini merupakan kesempatan yang harus kau gunakan. Jangan sampai kesempatan ini lepas darimu.” Lalu ia keluar bersama tentara kaum muslimin, membawa tombak yang dahulu digunakannya untuk membunuh pemimpin para syuhada’, Hamzah bin Abdul Muthalib. Ia meneguhkan hati untuk melemparkan tombak itu ke tubuh Musailamah hingga mati, atau dirinya sendiri yang akan syahid di medan perang.

Ketika kaum muslimin bertempur dengan para pengikut Musailamah dan menyerang musuh-musuh Allah di kebun kematian, ‎ia mengawasi gerak-gerik Musailamah. Wahsyi melihat Musailamah berdiri dengan pedang di tangannya. Ia juga melihat ada salah seorang sahabat dari kalangan Anshar yang juga mengintainya seperti dirinya.

Keduanya bertekad membunuh musuh Allah itu. Saat Wahsyi menemukan posisi yang tepat, ia menyiapkan tombaknya. Begitu siap, ia melemparkannya dengan sekuat tenaga. Tombak itu menembus tubuh Musailamah. Pada waktu yang sama, sahabat Anshar itu menebas tubuhnya dengan sekali libasan pedang.

Allah lebih tahu, siapa sebenarnya yang membunuhnya. Jika ternyata Wahsyi yang berhasil membunuhnya, maka sungguh ia sudah membunuh sebaik-baik orang sesudah nabi Muhammad saw dan juga membunuh sejelek-jelek manusia.

Salman bin Yasar meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Saya mendengar teriakan saat perang Yamamah: ‘Budak hitam itu telah membunuhnya!’.” Sementara menurut penuturan A’idz bin Yahya dari Muhammad bin Umar, Wahsyi dan Abdullah bin Zaid al-Anshari bersama-sama membunuhnya.

Ketika kaum muslimin mengadakan ekspedisi ke Syam, Wahsyi pun ikut serta hingga akhirnya menetap di Homs, Suriah, sampai wafat. Ia dimakamkan di sana, berdampingan dengan makam Tsauban, pembantu Rasulullah saw.

Masjid yang dibangun dekat makamnya dikenal dengan nama Masjid Jami’ Wahsyi Tsauban. Namun kini, bangunan masjid itu hancur akibat peperangan.

Teladan dari kisah ini, kita memahami bahwa sebesar apa pun dosa yang pernah kita lakukan, jangan pernah takut untuk meraih hidayah dan ridha Allah serta Rasul-Nya. Setiap manusia pasti pernah berbuat salah, baik disengaja maupun tidak. Namun ketika seseorang benar-benar bertaubat, Allah akan menggantikan keburukannya dengan kebaikan.

Yubdilullahu sayyiatihim hasanaat