Ibunda Hawa

Nama beliau memang tidak sebutkan secara literal dalam al-Quran. Namun, dalam kitab-kitab tafsir, kita akan mendapatkan bahwa wanita pertama itu bernama Hawa. Seperti yang disebutkan dalam tafsir al-Qurtubi surat al-Baqarah ayat 35.

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!”


Dalam riwayat dikatakan bahwa Adam-lah yang menamakan wanita itu Hawa. Ketika para malaikat bertanya kepada Adam mengapa ia menamakannya demikian, Adam menjawab karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup. Tafsir serupa juga diterangkan dalam tafsir Ibnu Katsir dari riwayat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan sahabat yang lainnya. at-Tabari juga meriwayatkan dalam tafsir kisah penciptaan Hawa. Sebagaimana yang ia riwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra.


ثم أخذ ضِلَعًا من أضلاعه من شِقِّه الأيسر، ولأم مكانه لحمًا، وآدم نائم لم يهبَّ من نومته، حتى خلق الله من ضِلَعه تلك زوجته حوّاء، فسوّاها امرأةً ليسكن إليها. فلما كُشِف عنه السِّنة وهبّ من نومته، رآها إلى جنبه، فقال – فيما يزعمون والله أعلم-: لحمي ودمِي وزوجتي، فسكن إليها

Kemudian Allah swt mengambil seruas tulang dari rusuknya sebelah kiri dan melapisinya dengan daging. Sedangkan Adam tertidur pulas. Sehingga Allah swt menciptakan dari tulang rusuk itu istrinya, Hawa. Allah menjadikannya sesosok wanita agar Adam merasa tenang berada di dekatnya. Ketika kantuk hilang darinya dan ia terbangun dari tidurnya, ia melihat wanita itu berada di sampingnya. Seraya berkata: ‘Ia adalah darah dagingku. Ia adalah istriku.’ Adam pun merasa tentram berada di dekatnya.

Kita sama-sama tahu bahwa kisah romantisme pertama di sepanjang sejarah peradaban manusia dilakoni oleh Adam dan Hawa yang dikisahkan dengan kesetiaan, kemurnian dan cinta sejati. Saat benar-benar tak ada laki-laki mau pun perempuan lainnya. Mereka berdua diciptakan dalam kenikmatan yang Allah sifatkan dalam surat Taha ayat 118 dan 119.

إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَىٰ (118) وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَىٰ (119)

Sesungguhnya (ada jaminan) untukmu bahwa di sana engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang. Sesungguhnya di sana pun engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa terik matahari.

Seharusnya kisah cinta mereka menjadi kisah cinta bahagia yang tanpa duka. Tidak ada perselingkuhan, tidak ada pengkhianatan. Semua disediakan dan diberikan hak penggunaan. Kecuali satu hal: pohon yang tidak boleh dinikmati buahnya oleh Adam mau pun Hawa. Ada banyak sekali tafsir tentang pohon apa yang dimaksud atau tentang apa yang dimaksud dengan pohon pada ayat tersebut. Apakah itu bermakna harfiah atau kiasan dari satu hal yang lain. Bukan tempatnya di sini untuk membahas semua itu. Kita akan lebih menyoroti tentang apa yang terjadi kepada kisah Adam yang hidup dengan wanita pertama yang diciptakan dari dan dengan kebengkokan.

Alih-alih menikmati kedamaian yang dijanjikan, Adam bersama istrinya, Hawa justru malah tergoda melakukan larangan Tuhan. Setelah diberikan was-was oleh Iblis terlaknat, mereka berdua terjerumus ke dalam rayuannya. Dalam surat Taha ayat 120, Allah swt menceritakan bagaimana Iblis menggoda keduanya.

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ

Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya. Ia berkata, “Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

Imam at-Tabari dalam tafsirnya menyertakan keterangan lain pada ayat ini. Beliau menukil riwayat dari Imam as-Suddi yang berkata bahwa maksud Iblis menggoda mereka adalah agar pakaian yang digunakan untuk menutupi auratnya tersingkap akibat dari pelanggaran yang mereka lakukan.

فأبى آدم أن يأكل منها، فتقدمت حوّاء، فأكلت ثم قالت: يا آدم كل، فإني قد أكلت، فلم يضرّني، فلما أكل آدم بدت سوآتهما

Adam sebenarnya sudah enggan memakan buah tersebut. Namun, Hawa tetap memakannya lalu berkata: ‘Wahai Adam, makanlah. Sesungguhnya aku telah memakannya dan tidak ada apa pun yang menimpaku. Ketika Adam memakannya, tersingkaplah pakaian mereka dan nampaklah auratnya.

Riwayat serupa juga ditemukan dalam kitab al-Uturujjah fii Man Ubtuliya bi Adza az-Zaujah karya Syekh Muhyiddin ath-Tha’mi dari Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab al-Buka’, al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman, dan riwayat ini disahihkan oleh Imam al-Hakim dalam mustadrak-nya dari Ibnu Abbas ra.


لَمَّا أَكَلَ آدَمُ مِنَ الشَّجَرَةِ الَّتِي نُهِيَ عَنْهَا، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: «مَا حَمَلَكَ عَلَى أَنْ عَصَيْتَنِي؟» قَالَ: رَبِّ زَيَّنَتْ لِي حَوَّاءُ. قَالَ: «فَإِنِّي أَعْقَبْتُهَا أَنْ لَا تَحْمِلَ إِلَّا كَرْهًا وَلَا تَضَعَ إِلَّا كَرْهًا وَدَمَيْتُهَا فِي الشَّهْرِ مَرَّتَيْنِ» . فَلَمَّا سَمِعَتْ حَوَّاءُ ذَلِكَ رَنَّتْ فَقَالَ لَهَا: عَلَيْكِ الرَّنَّةُ وَعَلَى بَنَاتِكِ

Ketika Adam memakan buah terlarang, Allah swt berfirman kepadanya: ‘Apa yang membuatmu bermaksiat kepada-Ku?’ Adam berkata: ‘Wahai Tuhan-ku, sesungguhnya Hawa membujukku.’ Maka Allah swt berfirman: ‘Kalau begitu, Aku akan menghukumnya agar ia tidak hamil dan melahirkan melainkan dalam kepayahan serta membuatnya mengeluarkan darah dalam sebulan sebanyak dua kali.’ Ketika Hawa mendengar itu, ia menjerit sedih. Allah berfirman kepadanya: ‘Engkau dan putri-putrimu akan terbiasa menjerit kesedihan.’

Dalam tafsir surat al-Baqarah ayat 34, al-Baghawi menukil kalam Sa’id bin al-Musayyib, seorang ulama dari kalangan tabi’in, salah satu di antara tujuh ahli fikih kota Madinah. Beliau bersumpah dengan nama Allah, lalu berkata:


مَا أَكَلَ آدَمُ مِنَ الشَّجَرَةِ وَهُوَ يَعْقِلُ وَلَكِنْ حَوَّاءُ سَقَتْهُ الْخَمْرَ حَتَّى إِذَا سَكِرَ قَادَتْهُ إِلَيْهَا فَأَكَلَ

Adam tidak memakan buah terlarang itu sedang ia dalam keadaan berakal. Akan tetapi, Hawa memberinya minum khamar hingga ia menjadi mabuk. Lalu Hawa membujuknya dan ia pun memakannya.

Sementara dalam tafsir lain, al-Qurtubi menjelaskan ayat 35 surat al-Baqarah dengan menyertakan berbagai riwayat. Antara lainnya adalah sebagai berikut.


روي أن الملائكة سألته عن ذلك لتجرب علمه ، وأنهم قالوا له : أتحبها يا آدم ؟ قال : نعم ، قالوا لحواء : أتحبينه يا حواء ؟ قالت : لا ، وفي قلبها أضعاف ما في قلبه من حبه . قالوا : فلو صدقت امرأة في حبها لزوجها لصدقت حواء

Diriwayatkan, bahwasanya suatu hari para malaikat bertanya kepada Adam untuk menguji pengetahuannya: ‘Wahai Adam, apakah engkau mencintai Hawa?’ Adam menjawab jujur: ‘Ya. Tentu saja.’ Kemudian mereka bertanya hal serupa kepada Hawa seraya berkata: ‘Wahai Hawa, apakah engkau mencintai Adam?’ Kemudian ia menjawab: ‘Tidak.’ Padahal di hatinya terdapat cinta yang berkali lipat dari pada yang ada dalam hatinya Adam.’ Mengetahui hal tersebut, para malaikat berkata: ‘Sekiranya saja seorang wanita mampu untuk jujur tentang perasaan cintanya terhadap suaminya, niscaya Hawa akan menjawab pertanyaan tersebut dengan jujur.’

Menggelitik sekali ketika menemukan riwayat semacam ini dalam kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh tangan-tangan ulama besar. Sulit sekali membayangkan mereka sampai mau repot-repot membahas hal yang mungkin kita anggap remeh dan sepele. Terlepas dari keabsahan riwayat-riwayat yang mereka kemukakan dalam tubuh kitabnya, saya kira kita lelaki sepakat akan hal ini. Bahwa di antara bentuk keunikan wanita adalah kata ‘tidak’ yang keluar dari mulutnya lebih sering mengandung arti yang sebaliknya. Inilah salah satu yang mungkin membuat kita tambah kesulitan memahami perempuan yang ini dimengerti. Mereka terlalu berat hati untuk mengungkapkan kebenaran yang sebenarnya tidak pahit. Bukan hanya soal perasaan saja. Untuk perkara makanan apa yang mereka inginkan saja, terkadang mereka tidak jujur. Mereka lebih menuntut kita untuk dapat mengetahui apa yang sedang diidamkan lambungnya tanpa memberikan ciri-cirinya. Sehingga pada akhirnya, sering kali kita lelaki berujung pada kesalahpahaman yang berakibat fatal. Sebab, acap kali kita bertanya dan menawarkan sesuatu, mereka lebih memilih untuk berkata ‘terserah.’ Ironisnya, kita memahami itu sebagai bentuk kebebasan memilih dan saat disuguhkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kemauannya, mereka berkata sedang tidak menginginkannya.

Selain itu, al-Qurtubi juga menukil kalam ulama yang mengatakan alasan keunikan karakter seorang wanita adalah karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits riwayat Muslim.


إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ لَنْ تَسْتَقِيمَ لَكَ عَلَى طَرِيقَةٍ فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلَاقُهَا

Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ia tidak akan pernah menjadi lurus bagimu. Apabila engkau hendak bersenang-senang dengannya, maka bersenang-senanglah dan ingat bahwa pada dirinya ada kebengkokan. Namun, apabila engkau hendak meluruskannya, niscaya engkau hanya akan mematahkannya. Dan bentuk patahnya seorang wanita adalah dengan engkau mentalaknya.


Menjelaskan makna hadits di atas, an-Nawawi berkata dalam kitabnya al-Minhaj bahwa kebengkokan yang ada pada diri seorang dalam bahasa Arab memiliki makna kebengkokan yang ada pada akhlak, agama, gaya hidup, pola pikir dan perasaannya. Tidak ada cara yang dapat dilakukan untuk meluruskannya. Kemudian lebih jelas lagi, Imam an-Nawawi menjelaskan kandungan hadits di atas dengan ungkapan berikut ini.


وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ مُلَاطَفَةُ النِّسَاءِ وَالْإِحْسَانُ إِلَيْهِنَّ وَالصَّبْرُ عَلَى عِوَجِ أَخْلَاقِهِنَّ وَاحْتِمَالُ ضَعْفِ عُقُولِهِنَّ وَكَرَاهَةُ طَلَاقِهِنَّ بِلَا سَبَبٍ وَأَنَّهُ لَا يُطْمَعُ بِاسْتِقَامَتِهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Hadits di atas mengandung pesan moral agar kita para lelaki bersikap lemah lembut kepada wanita, berbuat baik padanya, sabar atas kebengkokan akhlaknya, memaklumi kelemahan daya nalarnya dan menjauhi keputusan menceraikan mereka tanpa sebab. Karena sesungguhnya, talak pun belum tentu menjadikannya lurus. Allahu a’lam.

Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani juga mengambil bagian dalam hal ini. Dalam kitab besarnya, Fathu al-Bari syarah Shahih al-Bukhari, beliau menjelaskan hadits serupa dengan menyertakan hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan ath-Thabrani dari Samurah, Rasulullah ﷺ bersabda:


خُلِقَتِ الْمَرْأَةُ مِنْ ضِلَعٍ، فَإِنْ تُقِمْهَا تَكْسِرْهَا، فَدَارِهَا تَعِشْ بِهَا

Perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Apabila engkau memaksakan diri untuk meluruskannya, niscaya engkau akan mematahkannya. Maka berlemah lembutlah kepadanya, niscaya engkau akan hidup tenang bersamanya.

Ibnu Hajar juga menjelaskan makna kebengkokan yang dinisbahkan kepada kaum wanita adalah sebagai bentuk penekanan dari Rasulullah ﷺ ketika menyifatkan mereka. Lanjutnya, beliau menduga bahwa maksud ucapan Rasulullah ﷺ yang mengatakan bahwa tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagiannya yang paling atas, merupakan isyarat tentang kebengkokan akhlak yang berasal dari bagian tubuhnya yang paling atas: kepala. Karena di dalam kepala terdapat lisannya yang darinya keluar kata-kata yang menyakitkan.

Jauh sebelum hari ini, Rasulullah ﷺ dengan kalam wahyunya sudah mengabarkan kepada kita tentang tabiat wanita yang seperti itu adanya. Bukan hanya itu, beliau juga memberikan solusinya menghadapi situasi dan kondisi emosionalnya yang tidak menentu: berlemah lembut padanya.

Jika menilik sabda Rasulullah ﷺ, kita akan mendapatkan bahwa Rasulullah ﷺ menempatkan laki-laki pada posisi yang serba salah: diluruskan patah, dibiarkan tetap bengkok. Lalu, bagaimana seharusnya kita berbuat?.


كَأنَ فِيهِ رَمْزًا إِلَى التَّقْوِيمِ بِرِفْقٍ بِحَيْثُ لَا يُبَالِغُ فِيهِ فَيَكْسِرُ وَلَا يَتْرُكُهُ فَيَسْتَمِرُّ عَلَى عِوَجِهِ… فَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنْ لَا يَتْرُكَهَا عَلَى الِاعْوِجَاجِ إِذَا تَعَدَّتْ مَا طُبِعَتْ عَلَيْهِ مِنَ النَّقْصِ إِلَى تَعَاطِي الْمَعْصِيَةِ بِمُبَاشَرَتِهَا أَوْ تَرْكِ الْوَاجِبِ، وَإِنَّمَا الْمُرَادُ أَنْ يَتْرُكَهَا عَلَى اعْوِجَاجِهَا فِي الْأُمُورِ الْمُبَاحَةِ. وَفِي الْحَدِيثِ النَّدْبُ إِلَى الْمُدَارَاةِ لِاسْتِمَالَةِ النُّفُوسِ وَتَأَلُّفِ الْقُلُوبِ. وَفِيهِ سِيَاسَةُ النِّسَاءِ بِأَخْذِ الْعَفْوِ مِنْهُنَّ وَالصَّبْرِ عَلَى عِوَجِهِنَّ، وَأَنَّ مَنْ رَامَ تَقْوِيمَهُنَّ فَإِنَّهُ الِانْتِفَاعُ بِهِنَّ مَعَ أَنَّهُ لَا غِنَى لِلْإِنْسَانِ عَنِ امْرَأَةٍ يَسْكُنُ إِلَيْهَا وَيَسْتَعِينُ بِهَا عَلَى مَعَاشِهِ، فَكَأَنَّهُ قَالَ: الِاسْتِمْتَاعُ بِهَا لَا يَتِمُّ إِلَّا بِالصَّبْرِ عَلَيْهَا

Seakan-akan dalam sabdanya, Rasulullah ﷺ mengisyaratkan kepada kita agar tetap meluruskan wanita dengan lemah lembut dan tidak melakukannya dengan berlebihan sehingga dapat mematahkannya. Tidak pula meninggalkan dan membiarkannya tetap bengkok. Maka pemahaman yang benar adalah tidak meninggalkan dan membiarkannya melakukan hal menyimpang yang sampai pada taraf pelanggaran maksiat atau melalaikan kewajiban. Ada pun pada perkara-perkara yang mubah, maka hendaknya seorang laki-laki memaklumi kebengkokan wanitanya. Dalam hadits tersebut juga melandaskan kesunnahan untuk memanjakan perempuan demi mengambil kecondongan hati dan ketenangan jiwanya. Selain itu, di dalamnya juga terdapat cara bagaimana menyiasati kaum wanita. Yaitu dengan membujuknya, sabar menghadapi kebengkokannya. Dan sesungguhnya barang siapa yang hendak meluruskan wanita, maka sesungguhnya ia sedang mengambil manfaat darinya. Karena tidak ada satu pun laki-laki yang tidak membutuhkan wanita, sosok yang membuatnya tentram dan tumpuannya dalam kehidupan. Seolah-olah Rasulullah ﷺ ingin berpesan kepada kita: ‘Bersenang-senang dengan wanita tidak akan sempurna tanpa bersabar terhadapnya.’

Dari kisah Adam dan Hawa terdapat banyak pelajaran yang dapat kita petik. Di antaranya adalah yang disadur dari kitab al-Utrujjah.

  1. Seorang laki-laki tidak harus mempercayai semua cerita yang diucapkan istrinya. Tidak perlu mematuhi semua perintahnya. Karena bisa jadi terdapat penyesalan di dalamnya.
  2. Terkadang seorang istri menasihati suaminya dengan niat yang baik. Namun, di dalamnya pasti terdapat sesuatu yang menyakitkan bagi suaminya. Hal itu terjadi karena bisa jadi ia tidak benar-benar memahami apa yang diucapkan.
  3. Hendaknya seorang suami melihat akibat dari setiap ucapan dan saran dari istrinya. Senantiasa memprediksi apa yang akan terjadi dari setiap keputusan dan kejadian. Karena bisa jadi jika tidak demikian, terdapat banyak penyesalan.
  4. Tidak baik seorang laki-laki yang selalu menuruti istrinya tanpa pengecualian. Sesekali suami harus menyelisihi kemauan istrinya. Hal itu baik untuknya dan bisa jadi di dalamnya terdapat keselamatan baginya.
  5. Seorang laki-laki harus menunjukkan jiwa kepemimpinannya dalam rumah tangga. Hal itu dilakukan dengan menunjukkan pendapatnya dalam sebuah perkara, ia yang menentukan keputusan akhir dan memilih pilihan terbaik. Suami laksana nahkoda dalam bahtera. Bahtera itu tidak akan berlayar dan selamat berlabuh kecuali dikendalikan oleh nahkoda yang handal.
    والصبر على لسان النساء مما يمتحن به الأولياء
    ‘Dan bersabar atas lisan wanita adalah di antara ujian para kekasih Allah.’ – Al-Ghazali –