
Beberapa waktu lalu saya memperhatikan sebuah fenomena yang mungkin juga sering kita alami.
Saat membuka media sosial, kita melihat seorang teman sedang liburan ke luar negeri. Beberapa menit kemudian muncul unggahan teman lain yang baru membeli rumah. Lalu muncul foto keluarga yang terlihat harmonis dan bahagia. Tidak lama kemudian ada yang membagikan pencapaian karier, wisuda, bisnis yang berkembang, atau anak yang berhasil meraih prestasi.
Tanpa sadar, hati mulai berbisik.
“Enak ya hidupnya…”
“Kok hidup orang lain terlihat lebih bahagia?”
“Kenapa mereka selalu beruntung?”
Dan dari situlah kebahagiaan kita perlahan mulai berkurang. Bukan karena hidup kita memburuk. Tetapi karena kita mulai membandingkan hidup kita dengan kehidupan orang lain.
Ada sebuah ungkapan lama yang sangat terkenal:
“Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau.”
Namun mungkin hari ini ungkapan itu perlu diperbarui. Bukan lagi rumput tetangga. Melainkan:
“Timeline orang lain selalu terlihat lebih hijau.”
Karena sebagian besar perbandingan yang kita lakukan bukan lagi dengan tetangga sebelah rumah, melainkan dengan orang-orang yang muncul di layar ponsel kita. Padahal ada satu hal yang sering kita lupakan. Media sosial adalah etalase. Dan tidak ada orang yang memajang gudang di etalase.
Yang ditampilkan biasanya adalah bagian terbaik dari kehidupan. Foto saat tersenyum. Momen saat berhasil. Pencapaian yang membanggakan. Liburan yang menyenangkan. Perayaan yang membahagiakan.
Sangat jarang orang mengunggah kegagalan, kecemasan, konflik rumah tangga, tekanan pekerjaan, hutang, kesepian, atau tangisan yang mereka alami.
Akibatnya, kita membandingkan “belakang layar” kehidupan kita dengan “sorotan panggung” kehidupan orang lain. Tentu hasilnya tidak akan pernah adil.
Dalam teori komunikasi dan psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai Social Comparison Theory yang diperkenalkan oleh Leon Festinger. Teori ini menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai kondisi dirinya.
Masalahnya, media sosial membuat proses perbandingan itu terjadi hampir tanpa henti. Dulu kita mungkin hanya membandingkan diri dengan beberapa orang di sekitar kita. Hari ini kita membandingkan diri dengan ratusan bahkan ribuan orang setiap hari. Akibatnya, muncul apa yang disebut sebagai comparison trap atau jebakan perbandingan.
Kita mulai merasa kurang bersyukur. Merasa tertinggal. Merasa tidak cukup sukses. Merasa hidup orang lain selalu lebih baik. Padahal kenyataannya belum tentu demikian.
Saya teringat sebuah percakapan dengan seorang teman yang secara ekonomi sangat mapan. Dari luar, hidupnya terlihat sempurna. Kariernya bagus, rumahnya besar, bisnisnya berkembang. Namun ketika berbincang lebih dalam, ternyata ia sedang menghadapi tekanan yang luar biasa dalam keluarganya.
Di kesempatan lain, saya bertemu seseorang yang terlihat bahagia di media sosial karena sering bepergian ke berbagai negara. Belakangan saya tahu bahwa perjalanan itu justru menjadi cara untuk mengalihkan diri dari kesepian yang sedang ia rasakan.
Di situlah saya belajar. Bahwa Setiap orang memiliki cerita yang tidak terlihat. Seorang memiliki perjuangannya masing-masing. Dan setiap orang menyimpan beban yang tidak selalu dipublikasikan.
Ironisnya, sering kali kita merasa kurang bahagia bukan karena hidup kita buruk. Tetapi karena kita terlalu fokus melihat kehidupan orang lain. Kita lupa menghitung nikmat sendiri. Kita lupa melihat sejauh apa perjalanan yang sudah kita tempuh. Kita lupa mensyukuri apa yang sudah kita miliki.
Dalam psikologi positif, rasa syukur (gratitude) terbukti menjadi salah satu faktor yang paling kuat dalam meningkatkan kebahagiaan. Orang yang fokus pada apa yang dimilikinya cenderung lebih bahagia dibanding orang yang terus fokus pada apa yang belum dimilikinya.
Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki ambisi. Bukan berarti kita tidak boleh belajar dari kesuksesan orang lain. Tetapi ada perbedaan besar antara terinspirasi dan iri hati.
Inspirasi membuat kita bertumbuh. Perbandingan yang tidak sehat membuat kita mengeluh. Inspirasi membuat kita bergerak. Iri hati membuat kita kehilangan kedamaian.
Mungkin karena itulah kebahagiaan sering kali tidak ditemukan dengan melihat ke luar. Melainkan dengan melihat ke dalam. Melihat keluarga yang masih menemani kita. Melihat kesehatan yang masih diberikan Tuhan. Melihat pekerjaan yang masih bisa dijalani. Melihat teman-teman yang masih peduli. Melihat perjalanan hidup yang sudah berhasil kita lalui.
Karena jika kita terus melihat ke halaman orang lain, kita tidak akan pernah sempat merawat halaman kita sendiri. Dan pada akhirnya, saya semakin yakin bahwa kebahagiaan bukanlah soal memiliki kehidupan yang lebih baik daripada orang lain. Tetapi tentang kemampuan untuk mensyukuri kehidupan yang telah Tuhan titipkan kepada kita.
Sebab bisa jadi, saat kita sibuk mengagumi rumput yang terlihat lebih hijau di seberang sana…ada orang lain yang justru sedang berharap memiliki halaman seperti yang kita miliki hari ini.