Emosi Rasullah Saw


اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ذِيْ الجَلَالِ وَالكَمَالِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ذَوِيْ الفَضْلِ وَالنَّوَالِ

Semoga selawat dan salam senantiasa Allah haturkan kepada penghulu kami, Nabi Muhammad ﷺ sang pemilik kehormatan dan kesempurnaan, beserta keluarga dan sahabatnya pemilik keutamaan dan anugerah.


Setelah tuntas mengupas fisik Rasulullah ﷺ, serial kali ini akan mengajak pembaca untuk menelaah tentang emosi Rasulullah ﷺ. Selayaknya manusia, Rasulullah ﷺ selain berjasad juga berperasaan. Lagi-lagi meskipun sama tapi tak serupa. Ada kalanya beliau merasakan bahagia, sedih, cinta, benci bahkan marah. Umatnya perlu mengetahui tentang bagaimana Sang Nabi mengelola emosi dengan sangat baik. Perlu tahu kapan harus senang, kapan wajib tenang. Tidak menyimpan dendam, pandai merilis beban pikiran. Untuk itu, tulisan ini hadir menyuguhkan teladan panutan dalam mengendalikan perasaan.


Marah Rasulullah ﷺ
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ sampai membuat bab khusus yang membahas tentang marah. Indah sekali beliau menjabarkan makna marah pada awal pembahasannya. Berikut definisinya:


فإن الْغَضَبَ شُعْلَةُ نَارٍ اقْتُبِسَتْ مِنْ نَارِ اللَّهِ الموقدة التي تطلع على الْأَفْئِدَةَ وَإِنَّهَا لَمُسْتَكِنَّةٌ فِي طَيِّ الْفُؤَادِ اسْتِكْنَانَ الجمر تحت الرماد ويستخرجه الْكِبْرُ الدَّفِينُ فِي قَلْبِ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ كَاسْتِخْرَاجِ الْحَجَرِ النَّارَ مِنَ الْحَدِيدِ وَقَدِ انْكَشَفَ لِلنَّاظِرِينَ بِنُورِ الْيَقِينِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَنْزِعُ مِنْهُ عِرْقٌ إِلَى الشَّيْطَانِ اللَّعِينِ فَمَنِ اسْتَفَزَّتْهُ نَارُ الْغَضَبِ فَقَدْ قَوِيَتْ فِيهِ قَرَابَةُ الشَّيْطَانِ حَيْثُ قَالَ {خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ} فَإِنَّ شَأْنَ الطِّينِ السُّكُونُ وَالْوَقَارُ وَشَأْنَ النَّارِ التَّلَظِّي وَالِاسْتِعَارُ وَالْحَرَكَةُ وَالِاضْطِرَابُ وَمِنْ نَتَائِجِ الْغَضَبِ الْحِقْدُ وَالْحَسَدُ وَبِهِمَا هَلَكَ مَنْ هَلَكَ وَفَسَدَ مَنْ فَسَدَ وَمُفِيضُهُمَا مُضْغَةٌ إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ معها سائر الْجَسَدُ وَإِذَا كَانَ الْحِقْدُ وَالْحَسَدُ وَالْغَضَبُ مِمَّا يَسُوقُ الْعَبْدَ إِلَى مُوَاطِنِ الْعَطَبِ فَمَا أَحْوَجَهُ إلى معرفة معاطبه ومساويه لِيَحْذَرَ ذَلِكَ وَيَتَّقِيَهُ وَيُمِيطَهُ عَنِ الْقَلْبِ إِنْ كان وينفيه ويعالجه إن رسخ في قلبه ويداويه فإن من لا يعرف الشر يقع فيه ومن عرفه فالمعرفة لا تكفيه ما لم يعرف الطريق الذي به يدفع الشر ويقصيه

Sesungguhnya marah itu adalah percikan api dari api Allah swt yang dinyalakan sampai ke dalam hati. Dan sesungguhnya api itu tersembunyi di dalam relung hati seperti api dalam bara di bawah tumpukan abu. Api itu dikobarkan oleh kesombongan yang terkubur di dalam hati yang angkuh lagi pembangkang. Layaknya percikan api yang keluar sebab gesekan batu dan besi. Sungguh telah terungkap bagi orang-orang yang melihat dengan cahaya keyakinan bahwa manusia condong kepada setan yang terlaknat. Maka barang siapa yang terprovokasi oleh api amarah maka sesungguhnya kedekatannya dengan setan semakin kuat. Sebagaimana Allah swt berfirman: ‘Setan berkata: ‘Sesungguhnya Engkau (Allah) menciptakanku dari api dan menciptakannya (Adam) dari tanah.’ Sejatinya, sifat tanah itu adalah damai dan tenang. Adapun api adalah menyala, berkobar, bergerak dan membawa kekacauan. Diantara hal yang dihasilkan amarah adalah kebencian dan kedengkian. Dua sifat inilah yang menyebabkan banyak orang binasa dan celaka. Kedua sifat tersebut bersumber dari segumpal daging yang disebut hati. Apabila segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuh lainnya. Maka apabila kebencian, kedengkian dan marah adalah diantara hal yang menyebabkan seorang hamba terjerumus ke dalam lembah kerusakan, maka betapa butuhnya ia terhadap pengetahuan tentang kerusakan dan keburukan yang dapat ditimbulkan oleh sifat-sifat tersebut. Pengetahuan tersebut akan membuatnya waspada, menjaga dirinya dari sifat tercela. Bahkan, memusnahkannya dari hati apabila di sana terdapat sifat tersebut serta menghilangkan, menyembuhkan dan mengobati hati dari penyakit apabila hati sudah terjangkit sifat tercela. Karena sesungguhnya barang siapa yang tidak mengetahui tentang keburukan, niscaya ia akan terjatuh ke dalamnya, dan barang siapa yang mengetahuinya, maka sungguh mengetahui potensi kerusakannya saja tidak cukup jika tidak mengetahui cara yang dapat mencegah dan menjauhkan seorang hamba dari sifat-sifat tersebut.


Tidak seperti apa yang dideskripsikan oleh al-Ghazali tentang sifat marah yang terdapat pada manusia lainnya, marah Rasulullah ﷺ tidak digolongkan sebagai sifat tercela. Justru, keberadaannya menjadi keagungan yang menyempurnakan kesantunannya sebagai nabi yang penyayang. Berikut beberapa hal yang menjelaskan bagaimana marah berubah menjadi sifat yang terpuji.

Marah karena Allah
Dalam hadits digambarkan bagaimana Rasulullah ﷺ menjadikan amarahnya sebagai bentuk penjagaan terhadap tegaknya hukum Allah di muka bumi. Beliau merupakan sosok yang paling kokoh berdiri untuk menerapkan syariat yang berlaku. Ia tidak pernah marah untuk membela harga dirinya sebagai manusia mulia kala dihina dan direndahkan. Tidak membalas keburukan dengan keburukan. Bahkan, memaafkan dan memberikan kesempatan.


Imam at-Tirmidzi dalam kitab Syamail meriwayatkan sebuah hadits dari Hind bin Abi Halah, anak asuh Rasulullah ﷺ, putra Khadijah dari suami sebelumnya. Ia menceritakan tentang marah Rasulullah ﷺ yang tidak disebabkan oleh hal duniawi. Sebagaimana yang ia ungkapkan dalam hadits.


لا تغضبه الدنيا ولا ما كان لها فإذا تعدى الحق لم يقم لغضبه شيء حتى ينتصر له ولا يغضب لنفسه ولا ينتصر لها
Dunia dan segala hal yang ada di dalamnya tidak pernah membuatnya marah. Apabila haknya dirampas, beliau tidak marah untuk membela haknya. Tidak pula marah untuk kepentingan pribadinya dan membela diri.


Hal serupa juga diterangkan oleh Syekh Yusuf an-Nabhani dalam Wasail al-Wushul


وكان صلّى الله عليه وسلّم يغضب لربّه عزّ وجلّ، ولا يغضب لنفسه

Rasulullah ﷺ hanya marah untuk Allah dan tidak pernah marah demi kepentingan dirinya.

Lalu, bagaimana konsep marah karena Allah? Simaklah penjelasan Imam al-Ghazali yang menjawab pertanyaan ini.


فَفَقْدُ الْغَضَبِ مَذْمُومٌ وَإِنَّمَا الْمَحْمُودُ غَضَبٌ يَنْتَظِرُ إِشَارَةَ الْعَقْلِ وَالدِّينِ فَيَنْبَعِثُ حَيْثُ تَجِبُ الْحَمِيَّةُ وينطفيء حَيْثُ يَحْسُنُ الْحِلْمُ وَحِفْظُهُ عَلَى حَدِّ الِاعْتِدَالِ هُوَ الِاسْتِقَامَةُ الَّتِي كَلَّفَ اللَّهُ بِهَا عِبَادَهُ وَهُوَ الْوَسَطُ الَّذِي وَصَفَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم حيث قال: (خير الأمور أوساطها)

Kehilangan sifat marah adalah hal tercela. Marah menjadi sifat terpuji ketika berada di bawah kendali akal dan agama. Maka ia akan muncul saat dibutuhkan untuk membela agama dan akan mereda pada saat diharuskan untuk bersabar serta menjaganya agar tetap pada batasan yang seharusnya. Pada hal seperti inilah Allah swt mewajibkan hamba-Nya untuk tetap istikamah, sikap moderat yang disifatkan oleh Rasulullah ﷺ sebagaimana beliau bersabda: ‘Sebaik-baiknya perkara adalah pertengahannya.’

Manajemen Emosi yang Baik
Untuk sampai kepada titik dimana kita bisa marah karena Allah, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk lebih dulu handal mengendalikan api amarah yang kapan saja mampu melahap kesadaran kita. Dalam banyak hadits, para sahabat mengabarkan kepada kita tentang bagaimana Rasulullah ﷺ mengelola amarahnya. Diantara hadits tersebut adalah sebagai berikut.


و أخرج أبو بكر بن أبي الدنيا في كتاب «ذم الغضب» ؛ عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال: كان رسول الله صلّى الله عليه وسلم إذا غضب وهو قائم جلس، وإذا غضب وهو جالس اضطجع فيذهب غضبه

Abu Bakar bin Abi ad-Dunia dalam kitab Dzam al-Ghadhab meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ra. beliau bercerita bahwa Rasulullah ﷺ apabila sedang marah dalam keadaan berdiri, maka beliau segera duduk. Apabila beliau sedang marah dalam keadaan duduk, maka beliau segera berbaring. Sehingga marahnya mereda.


Syekh al-Lahji menjelaskan dalam Muntaha as-Sul bahwa hadits di atas merupakan pelajaran bagi umat islam dalam mengendalikan amarahnya. Sebab keadaan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ ketika marah, akan menekan dan menahannya dari bertindak gegabah pada saat itu. Beliau juga menambahkan bahwa terkadang pada saat marah, Rasulullah ﷺ mengambil air wudhu untuk memadamkan api amarah.


Meski dibenarkan, marah karena Allah bukan berarti dapat dilakukan tanpa syarat dan ketentuan. Kalau pembaca memperhatikan kalam al-Ghazali, beliau menekankan agar amarah tetap berada di bawah kendali akal sehat dan syariat. Marah karena Allah mendidik diri untuk tidak bersumbu pendek. Justru, dari marah karena Allah, jiwa belajar untuk berhati besar. Meluaskan pandangan agar tidak mudah terpancing kebencian yang darinya lahir kemarahan. Tidak mudah mempermasalahkan hal duniawi dan banyak memaklumi. Al-Ghazali juga menyingkap rahasia bahwa ternyata marah karena sesuatu merupakan tanda bahwa kita menganggapnya sebagai sebuah hal yang penting dan perlu diperjuangkan. Itulah mengapa Rasulullah ﷺ hendak mengajarkan umatnya agar memandang dunia tidak lebih berharga dari sebelah sayap seekor nyamuk. Tidak perlu marah karena kehilangannya, tidak pula terlalu bahagia bila mendapatkannya. Tidak ada yang pantas untuk membuat hati seorang mukmin merasakan nyalanya api amarah selain perkara yang berkaitan dengan perintah dan larangan Allah swt yang menjadi kepentingan hidupnya. Itulah yang Abu Bakar lakukan ketika memerangi kaum muslim yang enggan menunaikan kewajiban zakat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Abu Bakar yang menonjol dengan kelembutannya, tidak menghalangi beliau untuk tegas menjaga satu di antara pilar-pilar agama. Apa yang beliau bijaki pada saat itu, tidak lain adalah buah hasil dari tarbiyah Rasulullah ﷺ.


Selain itu, sifat marah pada asalnya adalah sifat tercela yang patut dihindari oleh seorang muslim. Hal tersebut disebabkan karena potensi besar yang terdapat pada sifat marah dalam merusak jiwa, akal, ucapan dan tindakan seseorang. Imam al-Ghazali menguraikan secara detail tentang dampak negatif yang ditimbulkan dari sifat marah secara zahir pada anggota tubuh maupun secara batin pada hati. Di antara pengaruh buruk tersebut adalah kedua matanya memerah, perubahan prilaku yang tidak wajar, serta berbicara tanpa teratur. Kemudian beliau mengatakan, marah benar-benar mengubah rupa seseorang menjadi buruk. Sehingga seandainya orang yang marah melihat bagaimana rupa mereka ketika marah, niscaya marahnya akan meredam karena malu menyaksikan betapa buruk rupanya saat marah. Adapun dampak yang nampak pada anggota tubuh lainnya dan hati adalah sebagaimana yang beliau paparkan berikut ini.


أما أَثَرُهُ عَلَى الْأَعْضَاءِ فَالضَّرْبُ وَالتَّهَجُّمُ وَالتَّمْزِيقُ وَالْقَتْلُ والجرح عند التمكن من غير مبالاة… وأما أثرة في القلب مع المغضوب عليه فَالْحِقْدُ وَالْحَسَدُ وَإِضْمَارُ السُّوءِ وَالشَّمَاتَةُ بِالْمَسَاءَاتِ وَالْحُزْنُ بِالسُّرُورِ وَالْعَزْمُ عَلَى إِفْشَاءِ السِّرِّ وَهَتْكِ السِّتْرِ وَالِاسْتِهْزَاءُ وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنَ الْقَبَائِحِ فَهَذِهِ ثَمَرَةُ الْغَضَبِ الْمُفْرِطِ

Dampak negatif yang nampak pada anggota tubuh saat marah adalah memukul, menghancurkan, meluluhlantahkan, membunuh dan melukai selagi mampu tanpa peduli. Sedangkan dampak negatif pada hati kepada orang yang dimurkai adalah kebencian, kedengkian, menyembunyikan niat buruk, senang melihat orang lain tertimpa musibah, sedih melihat orang lain senang, terobsesi untuk menyebarkan rahasia, membongkar aib, merendahkan dan hal buruk lainnya. Inilah dampak negatif dari marah yang melampaui batas.

Keburukan sisi batin yang diakibatkan oleh amarah lebih besar dari pada keburukan yang bersifat lahiriah. Sebab apa yang timbul pada fisik merupakan cerminan dari apa yang tersembunyi dalam batin. Maka kerusakan yang ditimbulkan oleh sifat marah yang berlebihan bermula dari dalam, hingga kerusakan tersebut nampak pada permukaan fisik. Segala macam bentuk perubahan yang terjadi pada fisik adalah hasil dari perubahan yang lebih dulu terjadi pada batin. Sebab pohon tidak pernah salah menghasilkan buahnya. Demikian ungkap al-Ghazali.


Itulah mengapa Rasulullah ﷺ melarang umatnya untuk menjadi pemarah. Bukan hanya itu, bahkan ia menjanjikan surga bagi siapa saja yang mampu menahan dirinya dari angkara murka. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan ath-Thabrani.


وروى أبو هريرة أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي بِعَمَلٍ وَأَقْلِلْ قَالَ لَا تَغْضَبْ ثُمَّ أَعَادَ عليه فقال لا تغضب

Dari Abu Hurairah ra. beliau bercerita bahwa dahulu ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah ﷺ seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, perintahkanlah aku untuk mengerjakan sebuah amalan dan ringkaslah. Beliau menjawab: ‘Jangan marah.’ Kemudian beliau mengulangnya lagi dan berkata: ‘Jangan marah.’


قال أبو الدرداء قلت يا رسول الله دلني على عمل يدخلني الجنة قال لا تغضب

Suatu hari Abu Darda’ bertanya kepada Rasulullah ﷺ: ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.’ Kemudian beliau menjawab: ‘Jangan marah.’


Pada hadits lain yang juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa diantara amalan yang dapat menyelamatkan seorang hamba dari murka Allah adalah tidak mudah marah. Rasulullah ﷺ juga mengabarkan bahwa tanda kuatnya seseorang bukan ada pada kekuatan fisiknya yang tidak mampu dikalahkan oleh orang lain. Melainkan pada kekuatan dirinya menahan dan menguasai dirinya dari amarah. Hadits riwayat Imam Muslim.


Imam al-Ghazali membuat perumpamaan indah sekali tentang sifat marah. Beliau mengatakan bahwa sebuah bahtera yang terombang-ambing di tengah lahapan ombak dan terjangan angin masih lebih baik keadaanya dan lebih diharapkan keselamatannya dari pada jiwa yang digerogoti oleh api amarah. Sebab bahtera tersebut di dalamnya terdapat nahkoda serta awaknya yang membantu mengendalikan, menyeimbangkan dan mengarahkan pelayaran. Sedangkan hati, ia adalah pemilik bahtera yang kapan saja dapat karam ketika dibutakan dan ditulikan oleh amarah.


Sedikit pengetahuan ini semoga menjadi alamat yang menunjukkan kita pada muara teladan kemuliaan yang terkandung dalam bingkai hadits:


كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم أبعد الناس غضبا، وأسرعهم رضا

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling jauh dari amarah dan paling cepat merelakan.