Delapan Nyiur Hijau

Sudah sejak lama aku mengamati lambainya. Seingatku, ia tumbuh bersama langkah kaki kecilku. Dahan busuknya pernah menghibur jenuhku kala senja saat itu. Bahkan, ingatan tentang buahnya yang pernah dicuri temanku, sedikit pun tidak berlalu dari kenanganku.

Tidak seperti sekolahan pada umumnya, kami di pondok pesantren tidak memulai hitungan hari dari Senin. Sabtu menjadi langkah awal memulai rutinitas saat di mana orang lain mengakhirinya. Apel pagi hari ini menjadi pertanda baik bahwa kami siap menjalani aktivitas positif selama sepekan ke depan.

“Belakangan ini, anginnya besar mulu nih!”. Ungkap Ustaz Fariz membuka percakapan.

Sehangat mentari yang perlahan mendaki, aku menjawab sapaannya, “Iya, Ustaz. Akhir tahun.” Ucapku singkat.

Lalu beliau menimpali dengan candanya yang khas, “Harusnya, akhir tahun rezeki nih yang besar.”

Sebelum sempat membalas gurauannya, apel ternyata sudah mulai. Akhirnya, hanya seutas senyum sembari dalam hati mengaminkan ucapannya.

Di tengah kekhusuyukan melantunkan lagu Oh Pondokku, sebanjar delapan nyiur hijau mencuri perhatianku. Seakan mereka turut serta merapikan barisan, ikut hanyut menikmati syahdu lagu itu. Bijak sekali Pak Kiai meletakkan mereka tersusun di sana. Aku menduganya ada falsafah luhur dalam tata letaknya. Bukan hanya sekadar tentang keindahan estetika semata. Tapi ini bukan tentang delapan tumbuhan. Ini adalah tentang zaman dan manusianya, tentang tempat dan penghuninya.

Saat ini delapan pohon itu tetap teguh. Tumbuh melintasi generasi, menjadi saksi dari siapa saja yang pernah berdiri menemaninya menghormati bendera merah putih kala dijunjung tinggi. Diamnya tidak bisu. Akan ada saatnya nanti ia mati, namun tidak ada satu pun yang berdiri menjadi saksi. Sebab, kian hari kian sepi. Hanya ada riuh tanpa makna dari anak-anak yang menunggu panutannya tiba sambil berdiri sejak pagi buta.

Amanat Ustaz Iqbal selaku pemimpin apel mengakhiri perenunganku. Tidak lama setelahnya, apel ditutup dengan doa. Di samping itu, hatiku menggerutu. “Tuhan, jika aku lalai dalam memberikan teladan, tolong maafkan. Aku sibuk menyiapkan perangkat pembelajaran. Aku bangun kesiangan karena rapat hingga larut malam. Tuhan, jika aku hanya pandai berbicara tanpa wujud perbuatan nyata, tolong maafkan. Tenagaku sudah habis di kelas. Tuhan, jika ada di antara mereka yang gagal menjadi manusia, tolong maafkan. Aku lelah membentuk batu. Ditekan pecah maka aku biarkan mengeras saja. Tuhan, jika aku benar, tolong kokohkan seperti Engkau mengokohkan delapan pepohonan itu. Jika aku menyimpang, luruskanlah perlahan seperti hembusan angin yang membawa kesejukan.”

Usai apel, langkahku membawaku bergegas ke atas selembar kertas untuk menuliskan apa yang tadi pagi aku renungkan. Tentang keindahan, keselarasan dan nilai pendidikan. Jika pencari makna bertanya kebingungan tentang kemana arah atau apa isi tulisan ini, maka sesungguhnya tulisan ini hanyalah pengejawantahan firman Tuhan, surat Ibrahim ayat 24-25 yang mengumpamakan kalimat yang indah seperti pohon yang indah pula. Akarnya teguh ke dalam dan dahannya menjulang menyentuh langit. Dengan izin Tuhan, pohon itu senantiasa memberikan buahnya setiap saat kepada pemiliknya. Maka semoga tulisan ini hanya rangkaian kalimat yang baik. Kelak, masing-masing hurufnya berbuah pahala bagi penulisnya setiap saat sampai akhirat.