Dunia yang Asyik Sendiri
Busy airport lounge with passengers, luggage trolley, flight board and planes visible outside.


Catatan dari Bandara Menjelang Lebaran.

Pagi ini saya duduk di ruang tunggu Bandara Internasional Soekarno–Hatta. Menjelang Idul Fitri, bandara penuh oleh para pemudik. Orang-orang membawa koper, tas, oleh-oleh, dan wajah yang menyimpan kerinduan untuk segera pulang ke rumah.

Di sekitar saya ada keluarga-keluarga kecil: pasangan suami istri, orang tua dengan anak-anak mereka, juga beberapa orang yang bepergian bersama keluarga besar.

Namun ada satu pemandangan yang hampir sama di setiap kelompok.

Mereka duduk bersama, tetapi sebagian besar menunduk menatap layar handphone.

Seorang ayah membuka media sosial. Ibunya sibuk membalas pesan. Anak-anak memainkan game di tablet. Pasangan muda di depan saya pun duduk berdampingan tanpa banyak percakapan, masing-masing tenggelam dalam ponsel mereka.

Mereka bersama, tetapi tidak benar-benar terhubung.

Fenomena ini pernah digambarkan oleh Sherry Turkle dalam bukunya Alone Together. Ia menjelaskan bahwa teknologi membuat manusia tampak selalu terkoneksi, tetapi pada saat yang sama justru semakin sering mengalami kesendirian dalam keramaian.

Dalam kajian ilmu komunikasi, kondisi seperti ini juga dapat dipahami melalui konsep “absent presence” yang diperkenalkan oleh Kenneth J. Gergen. Istilah ini menggambarkan situasi ketika seseorang hadir secara fisik di suatu tempat, tetapi secara psikologis dan komunikatif berada di tempat lain—di dalam percakapan digital yang terjadi melalui perangkat teknologi.

Artinya, tubuh kita ada di ruang yang sama, tetapi perhatian kita tidak benar-benar ada di sana.

Jika dilihat dari perspektif teori Media Richness Theory yang dikembangkan oleh Richard L. Daft dan Robert H. Lengel, komunikasi tatap muka sebenarnya adalah bentuk komunikasi yang paling “kaya”. Ia memungkinkan ekspresi wajah, bahasa tubuh, intonasi suara, dan respon spontan yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh media digital.

Namun dalam praktik kehidupan modern, media yang lebih “miskin” justru sering menggantikan komunikasi yang paling kaya.

Di sisi lain, fenomena ini juga berkaitan dengan Uses and Gratifications Theory yang dikembangkan antara lain oleh Elihu Katz. Teori ini menjelaskan bahwa manusia secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan tertentu—hiburan, informasi, identitas diri, maupun interaksi sosial.

Ironisnya, upaya memenuhi kebutuhan sosial melalui media sering kali justru mengurangi interaksi sosial yang nyata di sekitar kita.

Bandara pagi ini menjadi semacam cermin kecil dari kehidupan komunikasi manusia modern. Ribuan orang sedang melakukan perjalanan pulang untuk bertemu keluarga. Tetapi di tangan mereka ada sebuah dunia digital yang juga menuntut perhatian.

Kita menempuh perjalanan jauh untuk kembali kepada orang-orang yang kita cintai, tetapi kadang kita tetap membawa satu dunia lain yang membuat kita sedikit menjauh dari mereka.

Mungkin teknologi bukan masalah utamanya. Teknologi hanyalah alat komunikasi. Ia bisa memperluas hubungan manusia, tetapi juga bisa menyempitkan ruang percakapan jika kita tidak menggunakannya dengan sadar.

Di tengah keramaian bandara ini, saya justru merasa diingatkan pada satu hal sederhana dalam komunikasi manusia: kehadiran.

Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir secara penuh—dalam perhatian, dalam percakapan, dan dalam kebersamaan.

Kadang yang kita butuhkan bukan teknologi baru, tetapi hanya keberanian kecil untuk menutup layar sejenak dan membuka percakapan.

Karena pada akhirnya, perjalanan pulang bukan hanya tentang sampai di kampung halaman, tetapi juga tentang kembali hadir untuk orang-orang yang kita sayangi.

Selamat beraktivitas,
Hidup Sekali, Hiduplah penuh Arti..

Bandara Soeta, 14.03.2026.