
Hari cepat sekali berlalu. Tak terasa, sudah setengah lebih Ramadan berlalu tanpa menyisakan apa pun selain penyesalan karena telah menyia-nyiakan suguhan ampunan Tuhan. Sampai detik ini, kelalaian masih merantai hati dari kekhusyukan dan membelenggu kaki dari langkah ketaatan. Semoga hari-hari yang tersisa dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya demi menyongsong hari kemenangan yang hampir tiba. Sehingga kemenangan benar-benar berhak diraih oleh tangan-tangan yang sungguh-sungguh berjuang.
Hari raya Idulfitri sering kali disebut sebagai hari kemenangan. Namun, kemenangan pada hari itu banyak disalahpahami sebagai sebuah bentuk kemerdekaan, kebebasan dari kekangan kewajiban puasa selama berada di bulan Ramadan. Sehingga, seolah-olah puasa adalah bentuk lain dari ‘penyiksaan’ yang menekan diri dari rasa lapar. Kelelahan yang dibuatnya seakan menjadi kelemahan yang merenggut kebebasan. Itulah mengapa akhirnya ketika terbit matahari pertama di bulan Syawal disebut sebagai sebuah kemenangan. Namun, apakah benar demikian? Benarkah kemenangan seperti itu yang dimaksud? Untuk itu, mari kita cari jawabannya di antara tumpukan ayat al-Qur’an. Melalui ayat-ayat itu, kita akan menemukan apa arti kemenangan, siapa itu pemenang dan dengan apa kita merayakan kemenangan.
Apa Arti Kemenangan?
Dalam Bahasa Arab, kemenangan berasal dari bentuk kata kerja (فاز – يفوز – فوزا). Al-Qur’an memuat 19 ayat yang menyinggung kata tersebut. Setidaknya, dari 19 ayat itulah kita akan menjawab pertanyaan di atas satu per satu. Mulai dari definisi kemenangan perspektif al-Qur’an.
Allah swt berfirman dalam surat al-Ma’idah ayat 119:
قَالَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْۗ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Allah berfirman, “Ini adalah hari yang kebenaran orang-orang yang benar bermanfaat bagi mereka. Bagi merekalah surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.”
Begitu pula pada ayat 72 dan 89 surat at-Taubah, Allah swt berfirman:
وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍۗ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, surga-surga yang sungai-sungai mengalir di bawahnya, mereka kekal di dalamnya, dan tempat-tempat yang baik di surga ‘Adn. Rida Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung. (at-Taubah : 72)
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang sungai-sungai mengalir di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang agung. (at-Taubah : 89)
Sementara dalam surat ash-Shaffat, Allah swt berfirman:
أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ (58) إِلَّا مَوْتَتَنَا الْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (59) إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (60) لِمِثْلِ هَٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ (61)
Apakah kita tidak akan mati, kecuali kematian kita yang pertama saja (di dunia) dan kita tidak akan diazab (di akhirat ini)?” Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang agung. Untuk (kemenangan) seperti ini, hendaklah beramal (di dunia) orang-orang yang mampu beramal. (ash-Shaffat : 58-61)
Selain itu, Allah juga berfirman dalam surat al-Fath ayat 5. Dia menyebutkan bahwa bentuk kemenangan lain adalah digugurkannya kesalahan dan dosa hamba. Ayat serupa juga difirmankan dalam surat ash-Shaff ayat 12.
لِّيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْۗ وَكَانَ ذٰلِكَ عِنْدَ اللّٰهِ فَوْزًا عَظِيْمًاۙ
(Hal itu) agar Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dia pun akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Yang demikian itu menurut Allah suatu keuntungan yang besar. (al-Fath : 5)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ (11) يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (12)
Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang (dapat) menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Caranya) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Jika kamu beriman dan berjihad,) niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung. (ash-Shaff : 10-12)
Setelah Allah hilangkan noda dosa yang menggelapkan seorang hamba, Dia menyingkap tabir dari mereka sehingga memancar dari arah depan dan kanan mereka cahaya terang benderang. Seperti yang termaktub dalam surat al-Hadid ayat 12.
يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِم بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Pada hari engkau akan melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. (Dikatakan kepada mereka,) “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (dan) mereka kekal di dalamnya. Demikian itulah kemenangan yang sangat agung.” (al-Hadid : 12)
Berdasarkan ayat-ayat di atas, kemenangan menurut al-Qur’an diartikan sebagai kependudukan dan kekalan di dalam surga serta keridaan Tuhan terhadap apa yang mereka lakukan di dunia. Makna kemenangan itu kemudian disempurnakan dengan perlindungan dari siksa neraka. Adakah kemenangan yang lebih besar yang didapatkan seorang hamba dari pada ini semua? Jika ada yang menyanggah dengan pernyataan bahwa hal tersebut adalah perkara gaib dan menuntut bentuk kemenangan nyata di dunia, maka jawabannya adalah tidak ada. Sebab dunia bukan tempat kemenangan dan pembalasan. Ia adalah tempat beramal dan perjuangan. Jika ada yang menyangka dirinya telah meraih kemenangan dengan beragam bentuknya, maka sesungguhnya itu bukanlah kemenangan hakiki dan tidak lebih dari sekadar khayalan semu. Sebab kemenangan yang sejati, seharusnya tidak kemenangan yang tidak ada usaha lagi setelahnya. Jika bersifat sementara dan melahirkan perjuangan lainnya, maka sesungguhnya itu hanyalah perpindahan dari satu tahap ke tahap lainnya. Bukan kemenangan yang mengakhiri perjalanan. Sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-An’am ayat 165 yang menerangkan bahwa dunia adalah tempat Allah menguji hamba-Nya.
وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْۗ اِنَّ رَبَّكَ سَرِيْعُ الْعِقَابِۖ وَاِنَّهٗ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu beberapa derajat atas sebagian (yang lain) untuk menguji kamu atas apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Jangankan untuk mengira mendapat kemenangan sementara di dunia, lebih dari itu, Allah swt menyinggung hamba yang mengira bahwa ia akan masuk ke dalam surga yang mana itu adalah bentuk kemenangan sejati ketika ia mengharapkannya tanpa kesungguhan perjuangan dan kesabaran. Sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-Baqarah ayat 214 dan Ali Imran ayat 142:
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (al-Baqarah : 214)
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصّٰبِرِيْنَ
Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata pula orang-orang yang sabar. (Ali Imran : 142)
Jika pembaca memperhatikan dengan seksama, di antara 19 ayat yang menyinggung kata al-Fauz, Allah menyebutkan 3 macam bentuk kemenangan: al-Fauz al-Mubin, al-Fauz al-Kabir & al-Fauz al-‘Azhim. Tentu penggunaan tiga kata itu memiliki perbedaan berdasarkan konteks ayat.
Seperti yang dijelaskan oleh Dr. Fadhil Saleh dan Dr. Ridha Jundiyyah, keduanya merupakan akademisi asal Mesir. Bahwa ketiganya merupakan tingkatan kemenangan yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an. Tingkat kemenangan terendah adalah al-Fauz al-Mubin. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam surat al-An’am ayat 16. Berdasarkan ayat itu, yang dimaksud al-Fauz al-Mubin adalah jaminan perlindungan dari Allah swt kepada seorang hamba dari siksa neraka. Sedangkan al-Fauz al-Kabir hanya disebut pada satu tempat, yaitu surat al-Buruj ayat 11. Ia adalah tingkatan kemenangan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Berdasarkan ayat itu, yang dimaksud dengan al-Fauz al-Kabir adalah akses khusus untuk masuk ke dalam surga yang Allah berikan kepada seorang hamba. Tingkatan kemenangan yang paling tinggi adalah al-Fauz al-‘Azhim. Hal yang menjadikannya kemenangan tertinggi yang diraih seorang hamba adalah karena ia bukan hanya diberikan perlindungan dari pedihnya siksa neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Lebih dari itu, Allah swt juga menganugerahkan kepada mereka keabadian surga dan keridaan-Nya. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam surat al-Maidah ayat 119.
Siapakah Para Pemenang?
Tentu bukan mereka yang mengira telah mendapatkan kemenangan semu di dunia. Sebab pemenang sejati tidak berhenti pada pencapaian kecil lalu puas merayakannya dengan berlebihan. Ia takkan berhenti sampai titik akhir perjuangan yang menyudahi segala lelah dan jerih payah. Jika bukan mereka, lalu siapa? Simaklah bagaimana al-Qur’an menggambarkan mereka.
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ يُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ وَذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Siapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Mereka) kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar. (an-Nisa : 13)
قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (15) مَّن يُصْرَفْ عَنْهُ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمَهُ ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ (16)
Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut azab pada hari yang besar (kiamat) jika aku durhaka kepada Tuhanku.” Siapa yang dijauhkan darinya (azab) pada hari itu, maka sungguh Dia telah merahmatinya. Itulah keberuntungan yang nyata. (al-An’am : 15-16)
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (Ali Imran : 185)
وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (at-Taubah : 100)
اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan surga yang Allah peruntukkan bagi mereka. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka membunuh atau terbunuh. (Demikian ini adalah) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka, bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Demikian itulah kemenangan yang agung. (at-Taubah : 111)
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64)
Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (ketetapan dan janji) Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung. (Yunus : 62-64)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71)
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar. (al-Ahzab : 70-71)
وَقِهِمُ السَّيِّاٰتِۗ وَمَنْ تَقِ السَّيِّاٰتِ يَوْمَىِٕذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهٗۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Lindungilah mereka dari keburukan. Siapa yang Engkau lindungi dari keburukan pada hari itu, sungguh, Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Ghafir : 9)
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ (51) فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (52) يَلْبَسُونَ مِن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَقَابِلِينَ (53) كَذَٰلِكَ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ (54) يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَاكِهَةٍ آمِنِينَ (55) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ إِلَّا الْمَوْتَةَ الْأُولَىٰ ۖ وَوَقَاهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ (56) فَضْلًا مِّن رَّبِّكَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (57)
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-mata air. Mereka memakai sutra yang halus dan sutra yang tebal seraya (duduk) berhadapan. Demikianlah (keadaan penghuni surga) dan Kami menjadikan mereka berpasangan dengan bidadari yang bermata elok. Di dalamnya mereka dapat meminta segala macam buah-buahan dengan aman dan tenteram. Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya selain kematian pertama (di dunia). Allah melindungi mereka dari azab (neraka) Jahim sebagai karunia dari Tuhanmu. Itulah kemenangan yang sangat agung. (ad-Dukhan : 51-57)
فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَيُدْخِلُهُمْ رَبُّهُمْ فِيْ رَحْمَتِهٖۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْمُبِيْنُ
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Tuhan akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah kemenangan yang nyata. (al-Jatsiyah : 30)
يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
(Ingatlah) hari (ketika) Allah mengumpulkan kamu pada hari berhimpun (hari Kiamat). Itulah hari pengungkapan kesalahan. Siapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (at-Taghabun : 9)
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ەۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيْرُۗ
Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah kemenangan yang besar. (al-Buruj : 11)
Ayat-ayat di atas menyebutkan satu per satu identitas mereka para hamba yang berhak mendapatkan predikat pemenang di sisi Allah swt. Di antara banyak ayat itu, Allah swt menyebutkan secara umum ciri khas para juara adalah mereka beriman dan bertakwa kepada Allah swt. Tanda keimanan mereka tercermin dari bagaimana mereka mentaati perintah Allah dan rasul-Nya seperti pada surat an-Nisa ayat 13 dan al-Ahzab ayat 71. Ketaatan mereka membawanya kepada kedudukan yang mulia sebagaimana Allah swt memuliakan para sahabat Rasulullah ﷺ yang mendahulukan mereka dalam islam. Hal itu tidak lain adalah karena mereka tidak taat dengan caranya sendiri. Melainkan dengan mengikuti langkah luhur para pewaris Rasulullah ﷺ seperti yang Allah sifatkan mereka dalam surat at-Taubah ayat 100. Kemudian secara khusus, Allah swt menyebutkan dalam surat at-Taubah ayat 111 bahwa para pejuang di medan perang yang menjual nyawanya untuk Allah swt, merekalah para pemenang. Akibat keimanan dan amal salehnya, Allah swt memberikan kepada mereka jaminan perlindungan dari azab neraka dan segala rupa keburukan yang terjadi di dalamnya seperti yang Allah firmankan dalam surat Ali Imran ayat 185, al-An’am ayat 16 dan Ghafir ayat 9.
Dengan Apa Kita Merayakan Kemenangan?
Tentu bukan dengan melakukan sesuatu yang menyelisihi makna kemenangan dan berlawanan dengan sifat-sifat para pemenang yang disebutkan dalam al-Qur’an. Penyebutan kedua hal tersebut seharusnya cukup menjelaskan bagaimana mestinya kita mengisi hari kemenangan. Jika diringkas dalam sebuah kalimat, cara terbaik mensyukuri nikmat besar pada hari raya Idulfitri adalah dengan melaksanakan beragam ketaatan dan menghindari macam-macam kemaksiatan. Itulah yang akan menghantarkan seorang hamba pada kemenangan yang sesungguhnya. Sampai sini, kita menemukan jawaban terakhir yang terselip di antara tiga pertanyaan besarnya: menjadi pemenang, memang siapa yang dikalahkan? Ramadan beserta perangkat pendidikannya dan ayat-ayat kemenangan menjawab lantang pertanyaan itu bahwa lawan yang harus kita kalahkan adalah setan yang merayu dan hawa nafsu yang membelenggu. Saat ia mampu mengalahkannya, saat itulah ia berhak meraih gelar juara. Al-Bushiri berkata dalam bait syair burdah-nya:
وخالف النفس والشيطان واعصهما … وان هما محضاك النصح فاتهم
Dan hendaklah kamu menyelisihi hawa nafsu dan setan serta bermaksiatlah kepada keduanya. Meski pun mereka berdua nampak menasihatimu, hendaklah engkau mencurigainya
ولا تطع منهما خصما ولا حكما … فانت تعرف كيد الخصم والحكم
Jangan turuti mereka berdua, baik sebagai lawan mau pun kawan. Sedangkan kamu mengetahui tipu muslihat lawan mau pun kawan
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya, Lathaif al-Ma’arif fiimaa Limawasim al-‘Aam min al-Wazhaif menjelaskan dan mengabarkan bagaimana mereka orang-orang saleh memaknai hari kemenangan dan dengan apa mereka merayakannya. Beliau mengisahkan ada suatu kaum yang sedang berjalan bersama pendeta di antara mereka melewati sebuah surau, kemudian mereka bertanya kepada penghuninya: ‘Kapan hari raya penghuni surau ini?’ Mereka menjawab:
يوم يغفر لأهله ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب إنما العيد لمن غفرت له الذنوب في ليلة العيد تفرق خلق العتق والمغفرة على العبيد فمن ناله فمنها شيء فله عيد وإلا فهو مطرود بعيد
Hari raya adalah hari pengampunan Tuhan kepada hamba-Nya. Hari raya bukan bagi mereka mengenakan pakaian baru. Sesungguhnya hari raya adalah bagi hamba yang ketaatannya bertambah. Hari raya bukan bagi mereka berhias dengan pakaian dan kendaraan mewah. Sesungguhnya hari raya hanya bagi hamba yang diampuni dosa-dosanya. Pada malam hari raya, Tuhan membagikan pembebasan siksa neraka serta pengampunan bagi hamba-hamba-Nya. Barang siapa yang mendapatkannya meski sedikit, maka sungguh ia berhak mendapatkan kemenangan. Jika tidak, maka sungguh ia telah terusir jauh dari makna kemenangan.
Dengan makna kemenangan ini, semoga kita dimampukan untuk berhak meraihnya dengan memanfaatkan sebaik-baiknya hari-hari mulia yang tersisa di bulan Ramadan ini. Sehingga hari raya bukan hanya dua hari: 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah. Namun, setiap hari kita mampu menambah ketaatan dan menghindari kemaksiatan merupakan hari raya kecil yang pantas untuk syukuri. Dengan hati yang tulus dan kesadaran utuh, penulis memohon maaf atas segala salah dan khilaf. Semoga setiap tulisan ini cukup mewakili permohonan maaf yang tidak sederhana. Kembali dengan hati suci, putih dengan ilmu dan amal saleh. Amin.