
Sejak Ahad, 14 Desember 2025 kemarin hingga hari ini, Tim manajemen inti Yayasan Dza Izza membangun dan mempererat kebersamaan melalui kegiatan tracking di daerah Sentul, Bogor. Kegiatan ini dibentuk atas dasar kesadaran akan pentingnya mengenal diri maupun rekan kerja dengan alam sebagai media transparansi yang menyingkap segala yang tersembunyi dan mengungkap rupa-rupa pura-pura. Dengan demikian, momen introspeksi seharusnya lebih tajam menguliti masing-masing pribadi untuk berbenah diri demi kualitas hidup yang lebih baik. Urgensi kegiatan ini nampaknya tidak disadari oleh semua tim. Sehingga Pak Kiai sampai harus susah-payah menegaskan wajibnya keikutsertaan dalam kegiatan positif ini. Meski terdiri dari berbagai latar belakang, beragam usia serta riwayat penyakit yang berbeda, tim manajemen setidaknya berhasil mengaminkan kehendak baik Pak Kiai walau harus ada resiko yang dihadapi. Berkat ketangkasan panitia yang sudah sungguh-sungguh mempersiapkan segalanya dengan baik, mulai dari survei lokasi hingga distribusi konsumsi, tim berhasil melewati semua rintangan kendati terselip sedikit tragedi. Semoga setiap bentuk upaya yang dikeluarkan untuk kesuksesan momen kebersamaan ini, kembali dalam bentuk kebahagiaan hakiki. Terkhusus kepada Pak Kiai, Umi, beserta keluarga yang turut serta melengkapi keseruan kami hari ini.
Sesampainya di tempat penginapan di salah satu komplek perumahan Sentul, kami disuguhi macam-macam kudapan. Ada yang gurih, asin, manis, yang cair maupun yang padat. Semuanya ada. Rumah bertingkat itu juga dilengkapi fasilitas kolam renang yang birunya membuat mata berbinar-binar. Belum lama kami duduk membereskan bawaan, harum rebusan bakso menemukan endusan lapar kami dan memanggil tangan untuk segera menyajikannya dalam sebuah mangkuk. Disana, perut kami tidak diberikan kesempatan untuk lapar. Alhamdulillah.
Hingga tiba saatnya kami bersiap menuju titik mula tracking, jarak tempuh dari penginapan ke sana kurang lebih memakan waktu sekitar 20-30 menitan. Di sepanjang jalan itu, sepasang mataku disuguhkan dengan pemandangan yang mengajak ke dalam perenungan. Di samping penginapan, ada beberapa unit rumah serupa yang ditinggalkan penghuninya. Dijual. Tampak berantakan, kumuh tak terawat. Sejurus kemudian, ketika keluar dari lingkungan komplek, aku seolah masuk ke dalam alam lain. Tidak ada pembatas di antara keduanya. Namun, perbedaannya terlihat jelas sekali. Bangunan rumah di sana tidak semewah yang sebelumnya membuatku terlena. Ada rumah yang dindingnya hanya anyaman bambu, alasnya tanah, atapnya asbes. Terlihat disekitarnya ada koloni ayam yang lalu lalang dan tercium bau kambing dari kandang yang berdiri di sebelahnya. Berbeda dengan yang aku saksikan di rumah istana, rumah yang lebih layak disebut gubuk itu lebih terasa hangat sebab suara sapu lidi dan aroma tanah basah bekas siraman pemiliknya. Dari banyak rumah gubuk yang kulalui, tak satupun ada terpancar dari wajah penghuninya aura sedih. Bahkan yang kutemui adalah seutas senyum sapa sebagai tanda syukur dan penerimaan. Dingin yang menyelinap lewat sela dinding anyaman tidak lantas memudarkan tawanya. Asbes yang menyimpan hawa panas matahari juga tidak menjadi sebab mereka menggerutu kegerahan. Hari-harinya seolah berjalan penuh kenikmatan seperti halnya aku yang dimanja dengan serba ada. Perenungan itu terus membawaku sampai pada pertanyaan: ‘Konsep seperti apa yang Tuhan gunakan dalam pembagian rezeki? Mengapa ada manusia yang kelimpahan, sementara yang lainnya kekurangan? Mengapa harus ada rumah-rumah mewah hampa tak bernyawa, sementara banyak di luar sana yang tinggal di kotak gerobak?’ Sebelum sempat menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, pikiranku terganggu oleh suara ramai panitia yang sedang memberikan arahan.

Keseruan acara ternyata tidak menghapus jejak perenunganku pagi tadi. Maka jari-jariku mencari jawabannya lewat tulisan ini di dalam bus perjalanan pulang saat yang lain terlelap kelelahan. Sampai akhirnya ayat ini menemukanku yang sedang kebingungan mencari.
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
Seandainya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi. Akan tetapi, Dia menurunkan apa yang Dia kehendaki dengan ukuran (tertentu). Sesungguhnya Dia Mahateliti lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (Asy-Syura : 27)
Sepintas, ayat ini sudah jelas menjawab pertanyaan di atas. Pengetahuan Tuhan akan akibat dari sebuah sebab, membuat-Nya menghendaki pembagian rezeki yang tidak merata. Akan tetapi dibagi sesuai porsi kebutuhan masing-masing dengan hikmah yang tidak diketahui selain-Nya. Merasa tidak cukup dengan jawaban sederhana, rasa penasaran membujukku untuk menjelajahi tafsir ayat itu. Ath-Thabari memberi tahu bahwa ayat ini turun untuk kaum miskin dari golongan muslim. Ketika mereka menginginkan kekayaan, Allah SWT menghibur hatinya dengan ayat yang menjelaskan alasan atas kemiskinannya. Lalu, apakah artinya orang kaya dibiarkan begitu saja oleh Tuhan berbuat berlebihan di muka bumi dengan kekayaannya? Apakah artinya menjadi orang kaya itu sebuah cela dalam Islam? Apakah menjadi miskin adalah puncak pencapaian seorang muslim sejati?
Menjawab pertanyaan ini, Rasulullah Saw memberikan penjelasan. Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Rasulullah Saw bersabda sesungguhnya yang paling ia takuti menimpa umatnya adalah perhiasan dunia. Kemudian di sela-sela nasehatnya itu, seorang sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apakah artinya ketika kita mendapat harta halal yang melimpah itu tercela?’ Rasulullah terdiam sejenak. Lalu kemudian menjawab: ‘Jika benar itu harta yang baik, seharusnya akan membawa kepada kebaikan pula.’ menambahkan penjelasan, Rasulullah membuat perumpamaan: ‘Sesungguhnya bumi yang menumbuhkan banyak tumbuhan berpotensi membunuh hewan yang terus memakannya tanpa membuang sisanya. Kecuali jika ia hanya makan sekadar memenuhi kebutuhannya. Lalu jika perutnya sudah penuh, ia membuang sisanya lewat kotorannya. Barangsiapa yang menggunakan harta dengan semestinya, semoga hartanya diberikan keberkahan, dan barangsiapa yang menggunakannya untuk hal yang tidak seharusnya, maka perumpamaannya sama seperti orang makan yang tak pernah merasa kenyang.’
Secara tersirat, hadits ini menjelaskan bahwa ukuran baik-buruk ternyata bukan terletak pada jumlah harta seorang hamba. Terlepas dari nasib apa yang sedang ia perankan, menjadi hamba yang kaya atau hamba yang miskin, keduanya adalah cara Tuhan menguji hamba-Nya lewat kelebihan dan keterbatasan. Dia menguji syukur si kaya dan sabar si miskin. Apakah yang kaya akan lalai dengan kekayaan sehingga tenggelam dalam tipu daya dunia, ataukah yang miskin akan membuatnya meninggalkan Tuhan yang mengujinya dengan kemiskinan. Keduanya sama-sama memiliki potensi ibadah dan dosa. Seperti yang Allah firmankan dalam al-Fajr ayat 15-16. Hanya bagaimana seorang hamba memandang keduanya.
Jika demikian, apakah artinya usaha seseorang tidak memiliki pengaruh? Tentu, Islam sangat mendorong pemeluknya agar memaksimalkan pekerjaan yang digeluti sebagai salah satu hal yang dicintai Allah. Walau begitu, Islam juga menuntut umatnya agar senantiasa bertawakal di setiap usaha yang dilakukan. Di antara dua kutub ini, seorang muslim harus menjadi poros di tengah. Berusaha bukan karena ia bisa mengubah takdir, tapi karena Allah yang menyuruhnya dan Allah menyukainya. Sedangkan tawakal tanpa usaha adalah kemasan yang digunakan untuk menutupi kemalasan. Indah sekali Rasulullah Saw menggambarkan dalam sebuah hadits tentang burung yang setiap pagi keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, lalu sore kembali ke sarang sedang perutnya kenyang. Begitulah perumpamaan orang yang benar tawakalnya.
Aku bersukacita mengakhiri acara ini dengan tulisan yang mengabadikan momen berharga yang pernah ditoreh oleh tinta kita bersama. Semoga setelah tau warna asli masingmasing, kita bisa lebih saling mengerti, memahami dan memaklumi. Kita mungkin mudah memperbaiki yang salah. Namun tidak sedikit yang masih belum selesai dengan dirinya. Daripada menuntut orang lain melakukan kebaikan subjektif, lebih baik memahaminya sebagai keberadaan lain yang harus diterima atau diletakkan pada posisi yang sesuai. Aku bersyukur mengikuti petualangan yang membawaku pada kenyataan bahwa kita hidup di alam yang di dalamnya ada orang yang hidup tanpa pelukan dinding dan naungan atap. Dengan sadar bersyukur sepulang dari tempat itu, alhamdulillah masih ada banyak kenyamanan yang meliputi hidup.
Team Building Dza Izza
14-15 Desember 2025
Sentul, Bogor