
Degradasi Budaya Literasi di Indonesia
Menurunnya budaya literasi di Indonesia menjadi perbincangan hangat beberapa tahun terakhir ketika The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) merilis data tentang minat baca buku Indonesia yang memasuki peringkat ke-60 dari 61 negara, yang mana negara Finlandia menduduki peringkat pertama. Data yang cukup menohok ini berdasarkan penelitian oleh Central Connecticut State University, New Britain yang berjudul “The World’s Most Literate Nations Ranked” dan dirilis pada 9 Maret 2016. Melalui penelitian ini juga disebutkan bahwa hanya 0,001 persen atau 1 dari 1000 orang di Indonesia yang rajin membaca.
Dikutip dari (Adhiyasa & Berlian, 2022) disebutkan bahwa menurut Uli Silalahi, selaku Presiden Direktur Big Bad Wolf Indonesia dalam press conference Big Bad Wolf Indonesia di kawasan Menteng Jakarta Pusat, “Minat baca kita di tahun 2016 sampai sekarang belum berubah”. Lebih lanjut dijelaskan Uli berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 disebutkan tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia secara keseluruhan berada di angka 59,52 dengan durasi membaca yang hanya 4–5 jam per minggu dan 4–5 buku per triwulan.
Data-data di atas menunjukkan betapa mirisnya situasi Indonesia dalam dunia literasi. Walaupun, pada hakikatnya sudah kita ketahui bahwa literasi memegang peranan penting dalam perkembangan sejarah peradaban umat manusia. Berawal dari zaman prasejarah umat manusia yang dulunya berkomunikasi menggunakan gambar, simbol serta lukisan di dinding-dinding gua, hingga zaman modern yang banyak memanfaatkan kertas. Terlebih lagi, kita pun sudah memasuki masa digitalisasi informasi. Sebelum memahami lebih lanjut pentingnya literasi, terkhususnya dalam Islam, perlu kita pahami terlebih dahulu pengertian literasi itu sendiri.
Apa Itu Literasi?
Literasi, secara etimologi berasal dari bahasa Latin “literatus”, artinya adalah orang yang belajar. Menurut (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, 2020) disebutkan bahwa literasi juga sangat berkaitan dengan proses membaca dan menulis. National Institute for Literacy, mendefinisikan literasi sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Melalui pengertian ini, kita dapat mengambil poin penting dari literasi, bahwa tidak hanya membaca dan menulis, tetapi bagaimana individu memanfaatkan ilmu pengetahuan melalui praktik literasi untuk diri sendiri maupun lingkungan masyarakat.
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (رواه بخاري)
“Sebaik-baik di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”.
Hadits di atas tentu sudah tidak asing di telinga para penuntut ilmu. Melalui hadits ini pun kita dapat mengetahui betapa pentingnya pengamalan ilmu yang sudah dipelajari. Seperti kata pepatah Arab yang berbunyi:
العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر
“Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah.”
Literasi dan ilmu pengetahuan menjadi satu kesatuan pembangun peradaban manusia yang tidak dapat terpisahkan. Ilmu pengetahuan sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Menurut (Hasyim, 2013), salah satu yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap ilmu (sains). Al-Qur’an dan Al-Sunnah mengajak kaum Muslimin untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi. Apabila kita memperhatikan ayat Al-Qur’an mengenai perintah menuntut ilmu, kita akan temukan bahwa perintah itu bersifat umum, akan tetapi yang ditekankan dalam Al-Qur’an adalah apakah ilmu itu bermanfaat atau tidak.
Literasi dalam Perspektif Islam
Literasi dalam Islam berarti mempelajari ilmu pengetahuan yang sudah diturunkan oleh Allah Swt. untuk dipelajari serta diamalkan. Sehingga, literasi Islam tidak hanya terbatas pada membaca buku-buku sejarah tetapi merupakan bagian dari pola pikir (mindset), tindak-tanduk, pandangan hidup dan identitas umat Islam.
Perkembangan literasi Islam sudah dimulai dan diajarkan oleh para Nabi dan Rasul. Awal mula ilmu pengetahuan berkembang, dimulai pada masa Nabi Idris as. Sesuai dengan asal kata nama beliau dalam bahasa Arab yaitu “Darasa” yang berarti belajar, Nabi Idris as. merupakan Nabi yang mula-mula pandai baca-tulis, fasih berkomunikasi dengan 72 kabilah, berkuda, mahir menjahit pakaian, ahli dalam ilmu falaq, matematika dan bahkan merupakan salah satu Nabi yang mempelopori dalam pembangunan 188 kota pada masanya.
Berlanjut hingga Nabi dan Rasul selanjutnya yang tetap menyampaikan literasi Islam dalam hal ini adalah ajaran dan petunjuk dari Sang Maha Pencipta. Hingga sampailah diturunkannya wahyu pertama dari Allah Swt. melalui malaikat Jibril untuk Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad saw. Ayat pertama yang diturunkan oleh-Nya adalah Surah Al-‘Alaq (1–5). Ayat pertama yang dimulai dengan kata “Iqra’” yang berarti bacalah memiliki makna yang sangat mendalam terutama dalam dunia literasi Islam. Bermula dari ayat inilah, turunlah selanjutnya ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi mukjizat Nabi Muhammad saw yang kemudian sampai di tangan kita hari ini. Nabi Muhammad saw, dapat kita katakan juga merupakan tokoh literasi yang paling sukses, karena beliaulah yang menyempurnakan ajaran para Nabi dan Rasul pendahulunya. Bermula dari beliau lah, peradaban Islam mulai berkembang sangat pesat hingga tersebar ke seluruh penjuru dunia. Sesuai dengan misi beliau untuk menjadikan agama Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin.
Tidak berhenti sampai di situ, literasi dan ilmu pengetahuan baik agama maupun umum, sedikit banyak dipelopori oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim ternama. Al-Jabr, sistem penomoran dalam matematika yang ditemukan oleh seorang ulama Muslim bernama Al-Khawarizmi. Ibnu al-Haitsam yang di dunia barat lebih dikenal sebagai Alhazen, merupakan penemu ilmu optik dan konsep kamera. Jauh sebelum Albert Einstein menemukan teori relativitas, Abu Yusuf Ibn Ishaq al-Kindi, seorang filsuf asal Yaman, pertama kali mencetuskan teori ini. Lalu sikat gigi yang asal muasal pengembangannya adalah dari siwak, juga dipopulerkan oleh Nabi Muhammad saw.
Literasi Islam begitu berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak diadaptasi dan dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan dunia barat. Namun ironisnya, banyak dari umat Islam terutama pemuda-pemudanya yang tidak lagi memperdalam atau bahkan meninggalkan literasi Islam sehingga menjadi penyebab utamanya kemunduran peradaban.
Era Digital dan Minat Baca Tulis
Teknologi informasi dan komunikasi menjadi peran utama yang salah satunya dalam memudahkan manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam belajar, bekerja, berkomunikasi ataupun mencari informasi dan berita-berita terkini. Kemudahan ini dapat disajikan dalam berbagai cara dan metode. Hasil survei mengatakan, di Indonesia, 73,9% penduduknya memanfaatkan teknologi digital. Ini setara dengan 202 juta orang dari total 270 juta penduduk Indonesia. Dilansir dari (Direktorat Sekolah Dasar, 2021), di balik masifnya angka pemanfaatan teknologi informasi di Indonesia, ada dua sisi yang patut diwaspadai di balik potensi besar ini. Digitalisasi seakan memiliki dua mata pisau. Pada satu sisi membawa manfaat yang besar bagi kemajuan umat manusia, tapi di sisi lain ada sisi negatif yang ditimbulkan.
Mengutip dari Prof. Dr. Gufran A. Ibrahim, Guru Besar Antropolinguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Khairun dalam webinar “Paradigma Literasi Baca Tulis di Era Digital”, beliau menyampaikan bahwa masyarakat saat ini sedang mengalami dua lompatan besar dalam perilaku atau tradisi baca tulis, dari wahana kertas menjadi wahana kaca alias teknologi digital. “Yang terjadi pada dua lompatan itu, pertama, perpindahan wahana perilaku membaca dari membaca tanpa jari kepada membaca dengan sentuhan jari pada gawai. Kemudian dari peralihan ini juga ada pengalaman dan pembelajaran kecerdasan kinestetik, ada peluang mendapatkan bacaan lebih banyak. Kemudian dari perpindahan ke wahana digital akan lahir pula komunitas baru yaitu warga net alias netizen. Negatifnya adalah akan terjadi komunikasi yang semakin lancang, cerewet, sedikit-sedikit berkabar dan berbagai perilaku kelisanan lain,” tutur Gufran. Sehingga dengan terjadinya disrupsi digital ini, Gufran menilai literasi baca tulis menjadi berkurang dan justru melahirkan kebiasaan baru yaitu kebiasaan lisan, memutakhirkan status, banyak bertutur dengan jari tanpa berpikir terlebih dulu, hingga akhirnya menurunkan minat membaca buku.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia dengan jumlah populasi sebanyak 275,77 juta penduduk pada 2022, sampai saat ini masih menjadi negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia. Sungguh menjadi faktor penyebab yang besar jika umat Islam di Indonesia tidak mengedepankan budaya literasi Islam karena dapat menjadi cerminan buruk umat Muslim.
Oleh karena itu, seiring majunya peradaban dan diperbantukan dengan pesatnya perkembangan teknologi, walaupun saat ini tentu sedikit banyaknya diprakarsai oleh dunia barat, tidak dapat dipungkiri bahwa umat Islam pun secara otomatis perlu mengikuti perkembangannya agar tentu saja tidak terjerumus ke dalam mudarat dikarenakan kebodohan dan ketidaktahuan.