Kuat Pada Hakikatnya Lemah

Kisah Perang Khaibar merupakan salah satu peperangan yang dialami umat Muslim pada saat di bawah kepemimpinan Rasulullah saw., yang terjadi pada awal bulan Rabiul Awal tahun ke-7 Hijriah.

Berkali-kali umat Muslim mencoba merebut benteng Khaibar yang merupakan benteng terkuat di Kota Madinah. Hingga akhirnya Rasulullah saw. bersabda, “Besok akan kuberikan bendera Islam ini kepada orang yang hanya kembali bila benteng pertahanan Yahudi itu telah dikuasai.”

Pagi harinya, Rasulullah saw. memanggil Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Beliau menyerahkan bendera Islam itu kepadanya dan menugaskannya menaklukkan benteng Khaibar.

Sayyidina Ali lantas menerima tugas ini dengan penuh semangat. Ia bersama pasukannya bergerak mendekati pintu gerbang Khaibar. Pintu gerbang itu dijaga dua saudara yang gagah berani, Al-Haris dan Marhab. Mereka merupakan dua pahlawan Yahudi terkuat pada zamannya.

Sebagai komandan perang, Sayyidina Ali segera menghadang kedua bersaudara itu. Dengan kegagahan dan keperkasaannya, beliau mampu mengalahkan kedua pahlawan Yahudi tersebut.

Kematian kedua pahlawan itu membuat orang-orang Yahudi yang berada di balik benteng ketakutan dan panik. Mereka tergesa-gesa menutup pintu gerbang dan bersembunyi di baliknya. Pasukan Muslimin yang tadinya kocar-kacir, setelah melihat Sayyidina Ali mengalahkan dua orang tersebut, segera kembali dan bersiaga di belakang sang komandan. Sayyidina Ali maju mendekati pintu gerbang Khaibar lalu mencabut dan mengangkat gerbang benteng yang sangat besar dan berat itu, yang konon dikatakan seberat 900 kg. Kemudian beliau menjadikan gerbang benteng tersebut sebagai perisai dan jembatan pasukan Muslimin untuk menaklukkan benteng Khaibar tersebut.

Tentang kekuatannya, Sayyidina Ali menuturkan, “Aku tidak mampu menjebol gerbang itu dengan kekuatan manusia biasa. Tapi aku melakukannya dengan kekuatan Allah Swt.”

Akhirnya, pasukan Muslimin berhasil menguasai seluruh benteng di sekitar Khaibar dan mengalahkan pasukan Yahudi. Sisa-sisa pasukan Yahudi memohon kepada Rasulullah saw. untuk diperbolehkan tinggal. Mereka ingin tetap mengolah tanah di situ untuk pertanian dan perkebunan. Mereka berjanji akan menyumbangkan setengah dari hasil panennya kepada kaum Muslimin. Beliau mengabulkan permohonan tersebut.

Betapa kuatnya Sayyidina Ali mengangkat pintu benteng Khaibar yang beratnya hampir satu ton tersebut. Kekuatan fisiknya yang menakjubkan menjadikannya sosok yang dihormati dan dipuja oleh banyak orang, bahkan hingga saat ini. Namun, di balik kekuatan fisiknya yang luar biasa, beliau juga menyimpan kesedihan mendalam yang membuatnya lemah dan tak berdaya. Ketika Sayyidina Ali harus menghadapi kehilangan terbesar dalam hidupnya, yaitu wafatnya Sayyidah Fatimah. Meskipun dikenal sebagai seorang pahlawan yang begitu gagah berani namun ia merasa tak berdaya saat harus menghadapi perpisahan dengan istri tercintanya.

Diriwayatkan Sayyidah Fatimah selesai mandi dan mengenakan pakaian yang indah lalu pergi tidur. Beliau berbaring menghadap suaminya, Sayyidina Ali, lalu memberitahukan bahwa kematiannya sudah dekat dan beliau tidak menginginkan ada upacara pemakamannya. Menangislah Sayyidina Ali mendengar kabar tersebut. Tak lama kemudian tiba waktu salat dan bergegaslah Sayyidina Ali untuk ke masjid.

Pada saat Sayyidina Ali berada di masjid itulah Sayyidah Fatimah meninggal. Kedua anaknya yakni Sayyidina Hasan dan Husain memberitahukan ayahnya yang berada di masjid bahwa sang Ibu telah meninggal. Sayyidina Ali pun kembali dengan hati yang penuh duka. Sayyidah Fatimah pun dimakamkan sesuai dengan wasiatnya, yakni dimakamkan tanpa ada pelayat atau kerabat dekat.

“Zahra… aku Ali… aku Ali, berbicaralah kepadaku walau sedikit saja, aku rapuh jika kau meninggalkanku… Sekuntum bunga turun dari surga, kembali ke surga meninggalkan wanginya dalam pikiran.” ucapnya lirih pelan dibarengi isak tangis di samping jenazah Sayyidah Fathimah az-Zahra.

Beliau bahkan menangis dan berkata kepada para keluarganya, “Tolong bantu aku untuk membawanya”. Ini membuktikan bahwa begitu terpukul dan lemah dirinya atas kepergian istrinya.

Kisah ini mengungkap sebuah pelajaran tentang kekuatan manusia yang terbatas. Meskipun seseorang memiliki kekuatan luar biasa, namun pada saat yang sama, ia bisa merasa tak berdaya dalam menghadapi kehilangan yang mendalam, bahkan orang terkuat sekalipun akan lemah jika menyangkut perihal ‘cinta’ terutama cinta pada orang terkasih. Kecintaannya pada Sayyidah Fatimah adalah hal yang tiada duanya setelah cintanya kepada Allah Swt. Cinta yang didasari karena Allah adalah cinta yang paling mulia dan abadi.

Hati akan lelah dan rapuh saat persoalannya menyangkut orang yang kita cinta. Langkah kaki akan terasa berat. Dan tak ada yang lebih berat daripada perpisahan dengan orang yang kita cintai.

Memang tidak dapat dipungkiri betapa besarnya kekuatan dari cinta itu sendiri. Terkadang bisa menjadi obat yang mampu menyembuhkan dan membawa kebahagiaan bagi yang mendapatkannya, namun juga bisa menjadi senjata yang menyakiti dan memberikan luka yang memilukan bagi yang kehilangannya.

Alhubb yuqwiika wa yudh’ifuka wal hub fillah lan yadh’afa abadan…