Bersin dan Kuap Rasulullah Saw

Hal lain yang menunjukkan sisi kemanusiaan Rasulullah ﷺ adalah bersinnya. Sebagaimana yang dinukil oleh Imam al-Lahji dalam kitab Muntaha as-Sul, bahwa bersin khusus hanya untuk manusia. Tidak untuk makhluk lainnya. Kesempurnaan Rasulullah ﷺ bukan halangan bagi umat untuk meneladaninya. Justru, kesempurnaan itu menjadi tanda kemutlakan untuk meneladani tuntunannya yang menjalar ke setiap jantung kehidupan. Meski mustahil menapaki semua ajarannya, paling tidak ada hal-hal dasar yang mudah dan tidak memberikan kita alasan untuk tidak mengikutinya. Salah satunya adalah adab ketika bersin dan menguap yang pada kesempatan kali ini, kita akan membahasnya.

Bersin Rasulullah ﷺ

Imam an-Nabhani dalam kitab Wasail al-Wushul mengkhususkan satu bab yang membahas tentang bersin dan kuap Rasulullah ﷺ. Di sana, beliau banyak meriwayatkan hadits yang menggambarkan bagaimana adab Rasulullah ﷺ saat bersin. Di antara hadits tersebut adalah berikut ini.

Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, at-Tirmidzi, al-Hakim dan adz-Dzahabi dari Abu Hurairah ra. beliau menceritakan apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ ketika bersin.

فقد كان صلّى الله عليه وسلّم إذا عطس وضع يده أو ثوبه على فيه، وخفض بها صوته

Sesungguhnya apabila Rasulullah ﷺ bersin, ia meletakkan tangan atau pakaiannya di atas mulutnya serta memelankan suaranya.

Hadits ini mengajarkan kepada kita tentang adab saat bersin:

  1. Menutup mulut dengan tangan

Bahkan Rasulullah ﷺ bukan hanya menutup mulutnya saja dengan tangan atau pun bajunya. Dalam riwayat Abu Nu’aim dikatakan bahwa Rasulullah ﷺ saat bersin menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangan atau pakaiannya. Imam at-Turibisyti (661 H) menjelaskan bahwa ini adalah salah satu adab majelis ketika berada di antara orang-orang. Karena sebenarnya orang cenderung tidak menyukai mendengar suara bersin yang berlebihan serta merasa jijik apabila mereka melihat ada sesuatu yang keluar dari mulut orang yang bersin. Itulah mengapa diajarkan oleh Rasulullah ﷺ untuk menutup wajah ketika bersin.

  1. Merendahkan suara

Tidak seperti kebanyakan orang yang bersuara keras ketika bersin, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar menahan suara hingga tidak meninggi dan menganggu orang lain. Adab seperti ini tidak lain adalah tanda bagaimana Rasulullah ﷺ menjunjung tinggi hak orang lain yang menyangkut kenyamanan dan keamanannya. Bahkan, seharusnya adab ini menjadi dasar penolakan normalisasi bersuara besar saat bersin. Selain karena mengganggu, mengeraskan suara saat bersin merupakan di antara hal yang tidak disukai oleh Rasulullah ﷺ (makruh). Terlebih lagi jika itu adalah di masjid seperti yang disimpulkan oleh Munawi dan ‘Azizi. Imam al-Baihaqi dalam Sunan-nya dan asy-Syu’ab al-Iman, meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra.

وكان صلّى الله عليه وسلّم يكره العطسة الشّديدة في المسجد

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ tidak menyukai bersin dengan suara besar di masjid.

وكان صلّى الله عليه وسلّم يكره رفع الصّوت بالعطاس

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ  memakruhkan mengangkat suara saat bersin.

Pada hadits yang lain, Abdullah bin Ja’far ath-Thayyar ra. menceritakan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir bahwa Rasulullah ﷺ senantiasa memuji Allah setiap kali usai bersin.

وكان صلّى الله عليه وسلّم إذا عطس حمد الله، فيقال له: يرحمك الله، فيقول: يهديكم الله ويصلح بالكم

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ apabila bersin, beliau selalu mengucapkan hamdalah. Maka dikatakan kepadanya: ‘Semoga Allah swt merahmatimu.’ Kemudian beliau membalas: ‘Semoga Allah memberi kalian hidayah dan memperbaiki pikiran kalian.’

  1. Saling mendoakan kebaikan

Islam tidak pernah memandang rendah sesuatu yang bahkan mungkin kita anggap sebagai hal yang remeh seperti bersin. Bersin yang dikira tidak bernilai, justru dijadikan momen untuk saling mendoakan antar sesama muslim oleh Rasulullah ﷺ. Hal demikian disebut dalam bahasa hadits dengan istilah Tasymit al-‘Athas. Ulama fikih menjabarkan bahwa Tasymit al-‘Athas tidak disunnahkan melainkan apabila orang yang bersin mengucapkan hamdalah. Jika tidak berhamdalah, maka disunnahkan mengingatkannya agar berhamdalah seperti yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Musa, Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا عطس أحدكم فشمّتوه، وإن لم يحمد الله فلا تشمتوه

Apabila salah seorang di antara kalian bersin maka bertasymitlah untuknya. Namun, jika ia tidak mengucapkan hamdalah, kalian tidak perlu bertasymit untuknya.

Adakah kalian pernah bertanya mengapa saat bersin, kita dianjurkan untuk mengucapkan hamdalah yang mana kalimat tersebut biasanya digunakan untuk mengungkapkan rasa syukur atas sebuah nikmat. Dimanakah letak kenikmatan bersin? Imam al-Qastallani membantu kita menemukan jawaban atas pertanyan ini. Dalam kitabnya, Irsyad as-Sari beliau membuat satu bab khusus membahas soal bersin. Hal ini menunjukkan betapa Islam memperhatikan setiap rinci kehidupan hingga tidak menjadikan satu pun darinya melainkan memiliki nilai ibadah yang berada dalam bingkai adab. Pada awal babnya, beliau mengutip kalam al-Halimi (403 H) yang mencoba menunjukkan letak kenikmatan bersin hingga pantas untuk disyukuri dengan ucapan ‘alhamdulillah’.

إن العطاس يدفع الأذى عن الدماغ الذي فيه قوّة الفكر، ومنه منشأ الأعصاب التي هي معدن الحس وبسلامته تسلم الأعضاء فيظهر بهذا أنه نعمة جليلة يناسب أن تقابل بالحمد لما فيه من الإقرار لله بالحق والقدرة

Sesungguhnya bersin itu mencegah penyakit dari otak yang di dalamnya terdapat kekuatan untuk berpikir. Otak menjadi pusat saraf yang merupakan sumber pengindraan. Ketika kondisi otak baik-baik saja, maka anggota tubuh lainnya pun demikian. Dengan ini, dapat diketahui bahwa bersin adalah nikmat yang besar. Pantas untuk disyukuri dengan mengucapkan alhamdulillah sebagai bentuk pengakuan atas kebenaran dan kuasa Allah swt.

Hikmah lainnya, Tasymit adalah bentuk ungkapan rasa syukur seorang hamba kepada Allah swt yang senantiasa menjaga perangkat kepalanya sebagai alat vital tubuhnya dari kecacatan. Al-Qadhi Abu Bakar Ibn al-‘Arabi menjelaskan bahwa saat sedang bersin, seluruh saraf yang ada pada bagian kepala terurai. Maka ketika seseorang mengatakan Yarhamukallah kepada orang yang bersin, seolah-olah dia mengatakan bahwa Allah telah merahmatimu karena Dia telah mengembalikan keadaan badanmu sebagaimana sebelum bersin tanpa ada perubahan.

Imam an-Nawawi mengatakan bahwa ulama sepakat akan kesunnahan Tasymit al-‘Athas. Adapun lafaz hamdalah setelah bersin menurut riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah ra. adalah ‘Alhamdulillah’. Dalam riwayat an-Nasa’i, at-Tirmidzi, al-Bazzar dan ath-Thabrani dari Abu Malik al-Asy’ari dikatakan bahwa lafaznya adalah ‘Alhamdulillah ‘ala kulli hal’. Sedangkan menurut riwayat al-Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad dari Ibnu Mas’ud lafaznya adalah ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.’ Di antara ketiga lafaz ini, kita diberikan pilihan untuk mengucapkannya setelah bersin. Al-Hafiz Ibnu Hajar memberikan peringatan bagi yang membiasakan membaca al-Fatihah atau menambahkan kalimat syahadat setelah melafalkan hamdalah. Bahwa yang demikian hukumnya adalah makruh.

Namun, bagaimana jika bersin terjadi karena gejala flu? Apakah Tasymit al-‘Athas tetap berlaku dalam keadaan seperti ini? Menjawab pertanyaan ini, Imam al-Qastallani mengutip sebuah hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad.

وإذا تكرر منه العطاس فزاد على الثلاث ففي حديث أبي هريرة عند البخاري في الأدب المفرد قال: يشمته واحدة واثنتين وثلاثًا فما كان بعد ذلك فهو زكام. ومعناه أنك لست ممن يشمت بعدها لأن الذي بك مرض وليس من العطاس المحمود الناشئ عن خفة البدن فيدعى له بالعافية.

Apabila bersin berulang lebih dari tiga kali, maka dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, beliau mengatakan: Tasymit al-‘Athas hanya berlaku pada bersin pertama, kedua dan ketiga. Lebih dari pada itu adalah gejala flu. Artinya, pada saat itu, kamu bukan termasuk orang yang berhak mendapatkan Tasymit. Sebab, bersin yang ada terjadi padamu adalah gejala penyakit dan bukan bersin yang baik yang muncul karena ringannya badan. Pada saat itu, hendaknya didoakan agar sehat kembali.

Kuap Rasulullah ﷺ

Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan makna (التثاؤب) at-Tastaub artinya adalah gerakan membuka mulut yang biasanya disertai dengan mengolet sebagai tanda kemalasan dan kekenyangan. Ia juga pertanda datangnya kantuk yang membuat orang terjerat ke dalam salah satu perangkap setan yaitu tidur. Itulah mengapa Rasulullah ﷺ tidak menyukainya.

فقد كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يكرهه من غيره، وقد حفظه الله تعالى منه، وما تثاءب نبيّ قطّ

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ tidak menyukai kuap karena sesuatu yang menyebabkannya terjadi. Allah swt telah menjaganya dari hal tersebut. Sehingga tiada satu pun para nabi yang menguap.

Berdasarkan hadits ini, menguap dihukumi makruh. Ibnu al-‘Arabi menjelaskan bahwa segala sesuatu yang makruh dinisbatkan oleh syariat kepada setan. Hal itu dibenarkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits yang akan pembaca temukan pada pembahasan setelahnya. Sedangkan Imam al-Lahji menyebutkan, di antara hal yang menyebabkan kantuk adalah banyak makan. Karena ia akan mengakibatkan kemalasan dalam beribadah. Orang yang banyak makan, ia pun akan banyak minum. Orang yang perutnya kenyang akan banyak tidurnya. Sehingga banyak kebaikan yang luput darinya ketika ia terlelap dalam tidurnya. Berikut adab ketika sedang menguap.

  1. Menutup mulut

Ketika seseorang dikuasai keinginan untuk menguap, hendaklah ia menahannya sebisa mungkin. Sebab, jika tidak setan akan menertawainya. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah ra.

وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَثَاءَبَ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

Adapun menguap, sesungguhnya ia berasal dari setan. Apabila salah seorang di antara kalian menguap, tahanlah semampunya. Karena sesungguhnya apabila kalian menguap, setan akan tertawa.

Imam al-Lahji mengajarkan adab ketika menguap adalah hendaknya seseorang menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Beliau juga menjelaskan alasan mengapa para nabi tidak menguap adalah karena kuap berasal dari setan. Sedangkan para nabi dilindungi oleh Allah swt dari setan dan perbuatannya. Sebab lainnya adalah para nabi hanya makan sekadarnya, perutnya lebih sering lapar dari pada kenyang, akalnya selalu bertafakur, hatinya tidak lalai dari mengingat-Nya meski keduanya matanya nampak tertidur. Imam Muslim bin Abdul Malik mengatakan bahwa tidak ada seorang nabi yang menguap. Karena itu adalah salah satu tanda kenabian.

  1. Tidak bersuara

Imam al-Qastallani dalam kitabnya, Irsyad as-Sari syarah Shahih al-Bukhari, menukil perkataan Abu Sa’id dari Ibnu Majah tentang hal ini.

إذا تثاءب أحدكم فليضع يده على فيه ولا يعوي فإن الشيطان يضحك منه

Apabila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia meletakkan tangannya di atas mulutnya dan janganlah melolong. Sebab setan akan tertawa karenanya.

Sebagaimana yang Rasulullah ﷺ contohkan kepada kita saat bersin, beliau menahan suaranya agar tidak mengganggu orang disekitarnya. Begitu pun pada hal ini. Tidak sepatutnya orang berakal yang menjaga marwahnya dengan sengaja membuka mulutnya lebar-lebar saat menguap lalu mengeraskan suaranya. Meski agak kasar, Imam al-Qastallani mengibaratkan orang yang melakukan hal demikian layaknya anjing yang sedang melolong. Semoga Allah berikan kita kemudahan untuk menapaki jalan cahaya teladan sempurna.

Di penghujung tulisan ini, simaklah kisah nyata yang dialami oleh salah satu Imam dalam ilmu hadits, Imam Abu Dawud. Kisah ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih sebagaimana yang dinukil oleh al-Qastallani dalam syarahnya.

أخرج ابن عبد البر بسند جيد عن أبي داود صاحب السنن أنه كان في سفينة فسمع عاطسًا على الشط حمد فاكترى قاربًا بدرهم حتى جاء إلى العاطس فشمّته ثم رجع فسئل عن ذلك فقال: لعله يكون مجاب الدعوة فلما رقدوا سمعوا قائلاً يقول: يا أهل السفينة إن أبا داود اشترى الجنة من الله بدرهم ذكره في الفتح.

Ibnu Abd al-Barr meriwayatkan kisah ini dengan sanad yang baik dari Abu Dawud, pengarang kitab as-Sunan. Suatu hari beliau sedang berada di atas kapal berlayar. Sayup-sayup terdengar suara orang bersin di tepi pantai lalu berhamdalah. Mendengar itu, Abu Dawud bergegas menyewa sebuah sampan seharga satu dirham untuk menghampiri orang yang bersin itu. Sehingga beliau dapat bertasymit untuknya. Kemudian setelah itu, beliau lekas kembali ke kapalnya. Menyaksikan hal yang tidak wajar ini, penumpang kapal bertanya kepada Sang Imam atas apa yang telah ia lakukan. Beliau hanya menjawabnya singkat dengan alasan sederhana: ‘Barangkali itu merupakan saat doa diijabah.’ Ketika para penumpang tertidur, di tengah samudera mereka mendengar suara seraya berkata: ‘Wahai penumpang kapal, sesungguhnya Abu Dawud telah membeli surga dari Allah swt seharga satu dinar.’ Kisah ini juga diriwayatkan oleh al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathu al-Bari syarah Shahih al-Bukhari. Semoga tulisan ini bukan hanya sekadar kumpulan informasi. Melainkan ilmu pengetahuan yang mewariskan amal perbuatan. Amin.