Belajar dari Sudut Pandang Berbeda
Silhouette of a head filled with layered scenes: a family in prayer, a sunlit forest with deer, birds and a stream, and a family sharing a meal.

Libur Lebaran 2026 menjadi salah satu momen sederhana yang terasa hangat. Saya, istri, dan Salman memutuskan untuk menonton film Hoppers. Awalnya hanya ingin menikmati waktu bersama di tengah suasana libur, duduk berdampingan, berbagi tawa, dan sesekali saling menoleh ketika ada adegan yang menarik. Namun seperti banyak pengalaman sederhana lainnya, justru dari momen itulah muncul refleksi yang lebih dalam.

Film Hoppers merupakan karya animasi dari Pixar yang disutradarai oleh Daniel Chong. Film ini mengangkat konsep yang unik: seorang gadis muda yang memiliki kemampuan untuk “berpindah” ke tubuh hewan menggunakan teknologi tertentu. Dari situ, ia mulai melihat dunia dari perspektif yang berbeda—tidak hanya sebagai manusia, tetapi juga sebagai makhluk lain yang selama ini hidup berdampingan, namun jarang benar-benar dipahami.

Secara sekilas, film ini tampak ringan, penuh warna, dan khas animasi keluarga. Namun di balik itu, ada pesan yang cukup dalam tentang empati, perspektif, dan bagaimana memahami kehidupan tidak selalu bisa dilakukan hanya dari satu sudut pandang.

Saat menonton bersama Salman, saya menyadari bahwa film ini bukan sekadar hiburan. Ada ruang refleksi yang terbuka. Tentang bagaimana kita selama ini menjalani hidup, berinteraksi dengan orang lain, dan sering kali merasa sudah cukup memahami—padahal sebenarnya belum.

Konsep “berpindah tubuh” dalam film ini terasa seperti metafora yang sangat kuat dalam kehidupan nyata. Kita mungkin tidak bisa benar-benar masuk ke tubuh orang lain, tetapi dalam komunikasi, kita sebenarnya dituntut untuk mampu melakukan hal yang serupa—berpindah perspektif.

Dalam ilmu komunikasi, ini berkaitan dengan empati dan perspective-taking, yaitu kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Namun dalam praktiknya, hal ini tidak mudah. Kita sering kali lebih cepat menilai daripada memahami. Lebih mudah bereaksi daripada mencoba merasakan.

Film ini seolah mengingatkan bahwa memahami tidak cukup hanya dengan melihat. Kita perlu “merasakan”, meskipun tidak secara harfiah berpindah tubuh seperti dalam cerita.
Di titik ini, saya juga melihat bagaimana Salman menyerap cerita tersebut. Cara ia bertanya, cara ia merespons, menunjukkan bahwa pengalaman menonton bersama bukan hanya tentang cerita di layar, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai itu perlahan terbentuk.

Saya kemudian berpikir, mungkin inilah salah satu bentuk core memory yang sering kita bicarakan. Momen sederhana, tetapi mengandung makna. Bukan hanya tentang filmnya, tetapi tentang kebersamaan, percakapan, dan refleksi yang terjadi setelahnya.

Film Hoppers juga mengajarkan bahwa kehidupan tidak bisa dipahami hanya dari satu sisi. Dalam dunia yang semakin cepat dan penuh opini, kita sering merasa cukup dengan perspektif kita sendiri. Padahal, bisa jadi yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang lebih luas.

Dalam konteks sosial, banyak konflik terjadi bukan karena perbedaan semata, tetapi karena ketidakmampuan untuk memahami perspektif lain. Kita berbicara, tetapi tidak benar-benar mendengar. Kita melihat, tetapi tidak benar-benar memahami.

Di sinilah relevansi film ini terasa nyata. Bahwa memahami membutuhkan usaha. Membutuhkan kerendahan hati. Dan terkadang, membutuhkan keberanian untuk keluar dari cara pandang kita sendiri.

Maka mungkin, dari sebuah film animasi yang kami tonton di masa libur Lebaran, ada satu pelajaran sederhana yang bisa kita bawa pulang: bahwa hidup bukan hanya tentang bagaimana kita melihat dunia, tetapi juga tentang seberapa jauh kita mau mencoba memahami dunia dari sudut pandang yang berbeda.

Karena pada akhirnya, kedewasaan bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi tentang kemampuan untuk memahami orang lain dengan lebih utuh.

Dan mungkin, kita memang tidak bisa benar-benar “berpindah tubuh” seperti dalam film. Tetapi setidaknya, kita bisa belajar untuk “berpindah hati”—merasakan, memahami, dan melihat lebih luas dari apa yang selama ini kita yakini.

Di situlah, komunikasi menjadi bukan sekadar pertukaran kata, tetapi jembatan untuk memahami kehidupan dengan cara yang lebih manusiawi.

Referensi
Chong, D. (Director). (2026). Hoppers. Pixar.
Rogers, C. R. (1961). On Becoming a Person. Houghton Mifflin.
Davis, M. H. (1994). Empathy: A Social Psychological Approach. Westview Press.
Adler, R. B., Rodman, G., & du Pré, A. (2018). Understanding Human Communication. Oxford University Press.
Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. Bantam Books.