
Beragam posisi dan peranan seorang wanita dalam al-Quran seolah menjadi isyarat bahwa perempuan juga tidak kalah fungsi dalam menjalankan peran penting dalam tatanan kehidupan. Al-Quran tidak hanya merepresentasikan perempuan sebagai ibu seperti Hawa atau ahli ibadah seperti Maryam. Namun, ternyata kita juga disuguhkan Zulaikha yang mewakili sosok perempuan sosialita dengan kehormatannya sebagai istri pejabat. Begitu pun Asiyah yang digambarkan dalam al-Quran sebagai ratu yang bertengger di atas singgasana firaun. Tidak berbeda dengan Asiyah, Yohana, ibu kandung Musa juga merupakan istri dari tangan kanan firaun bernama Imran. Dalam kitab Husnu al-Muhadharah fii Tarikh Misr wa al-Qahirah, karya Imam as-Suyuti dikatakan bahwa Asiyah dan Yohana merupakan di antara perempuan Mesir yang diangkat menjadi nabi selain Maryam binti Imran dan Sarah, istri Nabi Ibrahim.
Setelah tuntas mengeja Maryam, kali ini kita akan mengarungi samudera hikmah yang Allah bentangkan dalam kisah Yohana, wanita yang Allah pilih rahimnya untuk membentuk bakal calon nabi pilihan-Nya, Musa. Ia digambarkan sebagai seorang ibu yang hidup dalam kekalutan dan kekhawatiran akan keselamatan putranya yang lahir pada zaman pembantaian bayi laki-laki. Juga Asiyah, wanita salihah yang mengeesakan Allah swt dalam selimut firaun. Benar sekali. Firaun yang kita kenal kejam dan berkuasa pada masanya.
Membayangkan posisi Asiyah berada di sampingnya saja sudah membuat rasa penasaran kita bergejolak: bagaimana bisa firaun tidak menyadari kekufuran yang berada dalam hati orang terdekatnya, yang tidak bukan adalah istrinya? Mari sama-sama kita simak kisahnya untuk kita ambil karakter kewanitaan seorang Yohana yang tabah dan Asiyah yang salehah.
Ibu Musa bernama Yohana. Putri dari Lawi, putra Ya’qub, putra Ishaq, putra Ibrahim alaihimussalam. Beliau merupakan cucu langsung dari Nabi Ya’qub yang juga merupakan ayah dari Nabi Yusuf as. Artinya, Yusuf merupakan paman dari Yohana. Benar-benar masih kerabat dekat para nabi. Kemuliaan nasab yang ia miliki dijaga baik-baik dengan merawat dan melestarikan warisan leluhurnya berupa ajaran tauhid. Meski pun pada saat itu ia hidup di bawah tindasan dan tirani sang raja, firaun. Hal itu tidak lantas membuatnya goyah mempertahankan keyakinannya.
Sementara ratu di istana firaun adalah Asiyah binti Muzahim. Dalam kitab ar-Raudhah al-Faiha’ dikatakan bahwa nasabnya jika ditarik ke atas, ia merupakan generasi ke-empat dari keturunan Nabi Ya’qub, putra Nabi Ishaq, putra Ibrahim alaihimussalam. Sehingga tidak heran, jika nilai-nilai keislaman tertanam dalam di hati Asiyah. Ia lahir dan dibesarkan keluarga yang memegang teguh ajaran tauhid, ajaran yang diwariskan oleh kakeknya yang merupakan para nabi terdahulu. Keanggunan dan kecantikannya semakin sempurna seiring bertumbuh dewasanya Asiyah. Sehingga kabar tentang kesempurnaannya sebagai seorang wanita, sampai kepada firaun yang pada saat itu sudah mulai menguasai negeri Mesir. Lalu kemudian ia mengutus seseorang untuk melamarnya dengan membawakan jumlah harta yang banyak, Asiyah pun dinikahinya. Begitulah bagaimana mereka berdua bisa seatap.
Firaun pada zaman Musa bernama al-Walid bin Mus’ab. Imam ar-Razi dalam tafsirnya mengatakan bahwa firaun yang ada di zaman Nabi Yusuf berbeda dengan firaun yang ada pada zaman Nabi Musa. Jarak waktu yang terbentang di antara keduanya lebih dari empat abad. Dalam kitab Husnu al-Muhadharah, diterangkan bahwa wilayah kekuasaannya mencakup Mesir hingga negeri Afrika. Kerajaan firaun bertahan sepanjang lima abad lamanya sebelum akhirnya Allah swt menenggelamkannya. Itulah hari yang kita kenal hari ini dengan hari Asyura, hari ke-sepuluh dari bulan Muharam disebut sebagai hari ditenggelamkannya firaun dan diselamatkannya Musa bersama kaumnya dari kejaran firaun dan bala tentaranya. Imam ar-Razi juga menambahkan keterangan bahwa ketika Musa diperintahkan Tuhan untuk lari membawa enam ratus ribu umatnya pada malam hari, firaun mengumpulkan pasukannya hingga mencapai satu juta dua ratus ribu pasukan berkuda untuk mengejar Musa beserta umatnya. Allah swt mengisahkan cerita lengkapnya dalam surat asy-Syu’ara mulai dari ayat 10.
وَإِذْ نَادَىٰ رَبُّكَ مُوسَىٰ أَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (10) قَوْمَ فِرْعَوْنَ ۚ أَلَا يَتَّقُونَ (11)
(Ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya), “Datangilah kaum yang zalim itu. (Yaitu) kaum Fir‘aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?” (asy-Syu’ara : 10-11)
Sebelum melanjutkan gambaran kehebatan firaun, kita beri jeda sejenak untuk memberi ruang dalam pikiran untuk dua pertanyaan: bagaimana tiba-tiba Musa hadir dan menjadi ancaman yang menjadi awal runtuhnya kezaliman firaun? Hubungan seperti apa yang terjalin antara Asiyah dengan Musa? Kita mulai dari pertanyaan yang terakhir. Dalam surat al-Qasas ayat ke-tiga, Allah swt mengisahkan bagaimana awal mula pertemuan Musa dan Asiyah. Namun sebelum itu, pada ayat ke-empat, Allah swt lebih dulu menarasikan tentang kekejaman firaun yang membijaki pembunuhan anak laki-laki yang baru lahir dan membiarkan hidup anak perempuan.
اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ
Sesungguhnya Firʻaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil). Dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuannya. Sesungguhnya dia (Firʻaun) termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
Dalam tafsir ath-Thabari diterangkan bahwa hal tersebut dilandasi oleh sebuah mimpi yang dilihat oleh firaun sendiri tentang kabar akan lahirnya seorang anak laki-laki yang akan membawa kehancuran bagi kekuasaannya. Sehingga perbuatan tersebut merupakan upaya firaun untuk mempertahankan kerajaan yang sudah dibangun beradab-abad lamanya dan mencegah hidupnya anak lelaki yang diramalkan tersebut. Anak yang dimaksud tidak lain adalah Musa yang akan datang membawa risalah ketuhanan. Lantas, bagaimana bisa Musa selamat dari kematian saat mata-mata dan tentara firaun habis-habisan membantai anak lelaki mana pun yang terlahir? Inilah bagian dari rencana dan kuasa Allah swt yang ingin ditunjukkan kepada firaun yang mengklaim kedigdayaan. Sebagaimana Allah swt nyatakan dalam firman-Nya:
وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ
Kami pun (berkehendak untuk) meneguhkan kedudukan mereka (Bani Israil) di bumi dan memperlihatkan kepada Firʻaun, Haman, dan bala tentaranya apa yang selalu mereka takutkan dari mereka (Bani Israil). (al-Qasas : 6)
Dalam kitab ar-Raudhah diceritakan bahwa setelah melihat mimpi tersebut, firaun benar-benar brutal membabibuta: menyembelih bayi laki-laki yang baru lahir sebanyak tujuh puluh anak. Tidak sampai di sana, ia juga menyiksa dan memaksa para ibu hamil agar menggugurkan kandungannya. Firaun menyebar para peramal dan bidan untuk mencari dan masuk ke dalam rumah-rumah kaum Israel guna menggugurkan bayi laki-laki yang terlahir. Atas perlindungan Allah swt, rumah Yohana tidak dimasuki oleh utusan firaun. Hingga tibalah saatnya melahirkan. Seperti perempuan melahirkan pada umumnya, Ibu Musa dibuat menderita oleh sakitnya. Hanya saja, pada saat itu ada ketakutan lain yang lebih dahsyat dari pada ketakutan melahirkan: takut firaun mengetahui kabar kelahirannya. Pada titik ini kita boleh membayangkan bagaimana kondisi kejiwaan ibu Musa. Seharusnya hari melahirkan menjadi saat yang paling berbahagia menyambut kedatangan buah hati tercinta, ibu Musa justru diliputi ketakutan yang luar biasa. Ia tak punya hati untuk sejenak saja membayangkan putranya lahir kemudian diambil paksa oleh kekejaman firaun. Kalau pun kelahirannya selamat, ia harus sembunyikan di mana tangisan bayi lelakinya? Jika harus pergi, kemana jalan yang aman dari kejaran firaun dan pasukannya? Di tengah kebuntuan itu, Allah swt mengilhamkan petunjuk padanya.
وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِۚ فَاِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَلْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚاِنَّا رَاۤدُّوْهُ اِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ
Kami mengilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia (Musa). Jika engkau khawatir atas (keselamatan)-nya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil dalam sebuah peti yang mengapung). Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih. Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul.” (al-Qasas : 7)
اِذْ اَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّكَ مَا يُوْحٰىٓ (38) أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّي وَعَدُوٌّ لَّهُ ۚ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً
مِّنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي (39)
(yaitu) ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan. (Ilham itu adalah perintah Kami kepada ibumu,) ‘Letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Maka, biarlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi. Dia akan diambil oleh (Fir‘aun) musuh-Ku dan musuhnya.’ Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang dari-Ku467) dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku. (Taha : 38-39)
Lagi-lagi, pada peristiwa ini Allah swt mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya bersikap kepada seorang perempuan. Sama seperti Maryam yang dihibur langsung oleh Allah swt di tengah kecemasannya melahirkan Isa. Begitu pula yang dialami Yohana ketika rasa takut menguasai dirinya, Allah swt menjamin keamanan dan menenangkannya. Namun, cara Allah swt menghilangkan kekhawatiran Yohana atas keselamatan Musa sedikit berbeda dan nampak tidak wajar. Yohana sedang mencari jalan keluar agar putranya yang baru lahir selamat dari kematian, alih-alih menunjukkan tempat bersembunyi, Allah swt malah memerintahkannya agar melemparkan anaknya dalam peti dan menghanyutkannya ke sungai Nil serta memberi tahunya bahwa Musa akan dipungut oleh keluarga firaun. Dia berjanji akan mengembalikan Musa ke dalam pangkuannya. Bukankah itu hanya cara kematian yang berbeda? Bukan menjauhkannya dari bahaya, justru Allah membawanya ke dalam istana firaun. Apa hikmah di balik dari perintah Allah yang tidak lazim itu? Dalam kitab ar-Raudhah disebutkan beberapa hikmah dari peristiwa tersebut.
وأراد أيضاً أن يبين لأمه حفظه، فقال: ألقيه في التلف لأنجيه بالتلف من التلف. وقال أيضاً: سلميه إليَّ صبياً أسلمه لك نبياً، وأيضاً: فكما
مجاه في البحر في الابتداء، كذلك أنجاه في الانتهاء، وأغرق فرعون في البحر
Dengan perintah itu, seolah Allah swt hendak memperjelas jaminan penjagaan-Nya terhadap Musa sehingga Dia berfirman: ‘Lemparlah Musa ke dalam kebinasaan, agar Aku menyelamatkannya dengan kebinasaan yang kamu kira dari kebinasaan lainnya.’ Atau firman serupa: ‘Berikanlah kepada-Ku Musa kecil, niscaya Aku akan mengembalikan kepadamu sebagai seorang nabi.’ Sebagaimana Allah swt membuatnya mengapung di sungai pada permulaan kisahnya, niscaya Allah swt akan menyelematkan Musa pada akhirnya, dan Dia akan menenggelamkan firaun di dasar samudera.
Romantis sekali cara Allah swt menghibur ibu Musa. Lihatlah bagaimana Allah swt memberikan ketenangan pada suasana yang amat genting. Perintahnya untuk melempat Musa seolah menjadi simbol untuk melempar kegundahan, kekhawatiran dan kesedihan hanya kepada Allah swt. Bahwa sebenarnya banyak ketakutan dalam hidup hanya sebatas dalam pikiran dan perkiraan kita saja sebagai manusia. Pada kebuntuan semacam itu, justru Allah swt memerintahkan agar kita melepaskan apa yang kita khawatirkan. Allah swt mengerti sekali bahwa rasa takut kehilangan lahir karena kita mulai merasa memiliki apa yang sebenarnya hanya Allah titipkan. Perintah itu sekaligus merupakan tes seberapa besar keimanan Yohana yang tersisa kepada Allah swt kala musibah datang dari segala arah. Masihkah ia percaya kepada janji-Nya? Janji Tuhan yang tidak pernah ingkar. Benarlah Allah dengan segala janji-Nya.
فَرَجَعْنٰكَ اِلٰٓى اُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ ەۗ
Maka, Kami mengembalikanmu kepada ibumu agar senang hatinya dan tidak bersedih. (Taha : 40)
Setelah pasrah melepaskan kepergian Musa, Yohana merasa kehampaan luar biasa jika saja ia tidak menguatkan imannya terhadap apa yang Allah janjikan padanya bahwa Dia akan segera mengembalikan Musa.
وَاَصْبَحَ فُؤَادُ اُمِّ مُوْسٰى فٰرِغًاۗ اِنْ كَادَتْ لَتُبْدِيْ بِهٖ لَوْلَآ اَنْ رَّبَطْنَا عَلٰى قَلْبِهَا لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
Hati ibu Musa menjadi hampa. Sungguh, hampir saja dia mengungkapkan (bahwa bayi itu adalah anaknya), seandainya Kami tidak meneguhkan hatinya agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah).
Meski meyakini janji Tuhan, Yohana tidak begitu saja melepaskan kepergian Musa tanpa upaya. Sang ibu menyuruh putrinya, Kultsum, kakak Musa untuk mengikuti jejak adiknya di dalam istana.
وَقَالَتْ لِاُخْتِهٖ قُصِّيْهِۗ فَبَصُرَتْ بِهٖ عَنْ جُنُبٍ وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ۙ
Dia (ibu Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, “Ikutilah jejaknya.” Kemudian, dia melihatnya dari kejauhan, sedangkan mereka (pengikut Firʻaun) tidak menyadarinya. (al-Qasas : 11)
Pada adegan ini, kita dikenalkan lagi dengan tokoh wanita mulia dalam kisah teladan Musa. Kultsum namanya. Dalam al-Quran disebut sebagai saudari Musa. Pada saat ibunya tengah kehilangan Musa, hanya ada Kulstum yang berada di samping membantunya. Di manakah Imran sang ayah saat keluarga sangat membutuhkan kehadirannya? Dalam kitab ar-Raudhah diterangkan bahwa ayahnya wafat tepat ketika umur Musa baru genap empat puluh hari, sebelum ia dihanyutkan ke sungai Nil. Nah, bertambah lagi informasi kita untuk membayangkan betapa terasa sempitnya kehidupan menghimpit Yohana dan putrinya. Mereka berdua dihadapkan pada kondisi yang seharusnya diselesaikan dengan kebijaksanaan dan keberanian laki-laki.
Sekali lagi, melalui kisah heroik mereka berdua, al-Quran berhasil merepresentasikan ketangguhan perempuan. Ada saatnya makhluk yang seharusnya terlahir untuk dilindungi, menjadi pelindung terbaik untuk lelaki yang menanggung perlindungan perempuan. Kisah ini juga membenarkan dan melandaskan apa yang dirasakan oleh anak laki-laki yang berlindung di dalam rengkuhan ibunya. Kita merasakan pembelaan yang mati-matian di balik hangat pelukannya. Detak jantungnya yang kami dengar menjelma menjadi melodi yang menenangkan. Tidak ada tempat senyaman pelukan ibu. Penulis yakin, anak laki-laki yang baik sepakat akan hal itu.
Sesuai yang dijanjikan, aliran sungai Nil menghantarkan Musa di dalam peti ke tempat pemandian istana dan Asiyah melihatnya. Ia pun lantas meminta pelayannya untuk mengangkat peti itu dari sungai. Ketika berada di hadapannya, Asiyah yang telah lama menunggu hadirnya buah hati, mendapati peti itu berisi bayi mungil yang berbalut kain kedinginan.
فَالْتَقَطَهٗٓ اٰلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُوْنَ لَهُمْ عَدُوًّا وَّحَزَنًاۗ اِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا كَانُوْا خٰطِـِٕيْنَ
Kemudian, keluarga Firʻaun memungutnya agar (kelak) dia menjadi musuh dan (penyebab) kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Firʻaun, Haman, dan bala tentaranya adalah orang-orang salah.
Kebetulan sekali. Asiyah sontak berbahagia menemukan bayi lelaki yang kelak akan tumbuh menjadi Musa pengemban risalah. Bukan tidak tahu suaminya akan membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir di tanah kekuasaannya. Asiyah justru dengan sadar dan berani menggendong bayi laki-laki ini ke hadapan sang suami lalu berkata:
وَقَالَتِ امْرَاَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّيْ وَلَكَۗ لَا تَقْتُلُوْهُۖ عَسٰٓى اَنْ يَّنْفَعَنَآ اَوْ نَتَّخِذَهٗ وَلَدًا وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ
Istri Firʻaun berkata (kepadanya), “(Anak ini) adalah penyejuk hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya. Mudah-mudahan dia memberi manfaat bagi kita atau kita mengambilnya sebagai anak.” Mereka tidak menyadari (bahwa anak itulah, Musa, yang kelak menjadi sebab kebinasaan mereka). (al-Qasas : 9)
Dalam tafsir Ibnu Katsir diceritakan bahwa pada saat itu, firaun hampir saja membunuh Musa. Namun, Asiyah lebih dulu tiba dan mengiba sambil mengambil Musa ke dalam pelukannya dan menghalangi firaun agar tidak membunuhnya. Ia bergeming dari tempatnya berdiri hingga pada akhirnya Asiyah berkata dengan ucapan seperti yang ada pada ayat di atas.
Di sinilah kita beri jeda untuk menuangkan pertanyaan yang memenuhi isi kepala: dengan cara apa dan bagaimana Asiyah berhasil membujuk suaminya? Mengapa suaminya yang merupakan firaun mau begitu saja menuruti kemauan istrinya? Bukankah sangat mudah baginya menolak permintaan istrinya yang sangat bertentangan dengan prinsipnya saat itu? Mengapa firaun malah mengambil resiko? Padahal ia tahu, kerajaannya diramalkan akan hancur di tangan anak laki-laki dari Bani Israil. Apakah pertimbangannya kurang matang? Mengapa tiba-tiba kewaspadaannya melemah setelah ia membunuh tujuh puluh anak bayi laki-laki yang malang? Sebesar itukah pengaruh seorang wanita? Apa yang menghalangi seorang firaun untuk menolak permintaan istrinya? Memangnya apa yang akan terjadi jika ia tidak menuruti rengekan istrinya?
Kita tidak akan menemukan satu pun jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas secara eksplisit dalam al-Quran. Namun, pertanyaan semacam ini patut dipertanyakan. Karena dengan pertanyaan semacam inilah hikmah akan ditemukan. Penulis juga tidak akan menjawab pertanyaan di atas dengan uraian pada tubuh tulisan. Terutama pertanyaan terakhir. Biarkan ia menjadi refleksi yang menggelitik tentang dugaan jawaban yang pasti ada dalam benak laki-laki dewasa. Penulis yakin, pasti kita sama-sama paham mengapa firaun menuruti kemauan istrinya yang pada akhirnya ternyata itulah yang akan menjadi kebinasaan untuk dirinya bersama pasukan dan kekuasaannya.
Jika para pembaca menyadari, bagian awal dari tulisan ini banyak menggambarkan tentang kehebatan dan kekejaman firaun dengan adidayanya, itu bertujuan untuk menguatkan sebuah kesimpulan yang akan kita tarik pada paragraf ini. Bahwa sebagaimana yang sama-sama kita ketahui, firaun berada pada puncak kekuasaan sebagai seorang manusia yang wilayah kerajaannya membentang ke berbagai benua, prajuritnya tak terhingga, kekayaannya melimpah dan kehebatan lainnya yang membawa dirinya sampai pada keberanian mengklaim ketuhanan dirinya. Tapi tetap saja ketika berada di dalam bilik kamar singgasananya, dihadapkan dengan kewanitaan istrinya, ia tidak punya jawaban lain selain ‘iya’. Sungguh kisah ini menjadi jenaka terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia yang secara tersirat ingin Allah tunjukkan kepada setiap orang beriman. Peristiwa itu benar-benar mematahkan klaim ketuhanan firaun. Sehingga, andai saja pada saat itu rakyatnya mengetahui kisah ini, niscaya mereka akan berkata: ‘Masa iya, tuhan bisa diatur istrinya?’
“Perang telah mengekang segala sesuatu, kecuali mulut istriku.”
– Jean Jacques Rousseau –