
Beberapa hari ini media sosial dipenuhi dengan foto-foto anak yang kembali mengenakan seragam sekolah. Ada yang tersenyum lebar karena akhirnya bertemu kembali dengan teman-temannya. Ada yang masih terlihat mengantuk karena harus kembali bangun pagi. Tidak sedikit pula orang tua yang dengan bangga mengabadikan momen “hari pertama sekolah” sebagai kenangan yang hampir selalu hadir di setiap awal tahun ajaran.
Di sekolah-sekolah, suasana pun berubah. Ruang kelas yang beberapa minggu lalu sunyi kembali dipenuhi suara tawa. Guru-guru menyambut murid dengan energi baru. Halaman sekolah kembali hidup. Tahun ajaran baru akhirnya dimulai. Dan entah mengapa, kali ini saya justru ingin mengucapkan sesuatu yang mungkin terdengar berbeda.
“Hore… liburan telah usai!”
Biasanya orang bersorak ketika liburan dimulai. Namun saya justru ingin merayakan ketika liburan berakhir. Mengapa? Karena bagi saya, liburan bukanlah tujuan. Liburan hanyalah sebuah jeda.
Dalam kehidupan, jeda itu penting. Bahkan sangat penting. Tubuh membutuhkan istirahat. Pikiran membutuhkan penyegaran. Hati membutuhkan ruang untuk bernapas. Namun jeda hanya akan bermakna jika setelahnya kita kembali melangkah.
Jika jeda terlalu lama, ia perlahan berubah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan berhenti sering kali lebih sulit dipatahkan daripada rasa lelah itu sendiri.
Saya teringat ketika pertama kali belajar mengendarai sepeda. Bagian yang paling berat ternyata bukan ketika menempuh perjalanan jauh. Yang paling berat justru adalah kayuhan pertama.
Saat sepeda masih diam, kita membutuhkan tenaga lebih besar untuk menggerakkannya. Setelah roda mulai berputar, kayuhan berikutnya menjadi jauh lebih ringan. Bahkan semakin stabil lajunya, semakin kecil tenaga yang dibutuhkan untuk mempertahankannya.
Begitulah semangat bekerja, belajar, dan berkarya. Yang paling sulit bukan menjalankannya. Tetapi memulainya kembali.
Mungkin karena itulah banyak siswa merasa berat ketika kembali ke sekolah setelah liburan panjang. Banyak guru membutuhkan waktu untuk kembali menemukan ritme mengajar. Bahkan orang dewasa pun sering merasakan hal yang sama ketika harus kembali bekerja setelah cuti panjang.
Bukan karena sekolah berubah. Bukan karena pekerjaan berubah. Tetapi karena momentum sempat berhenti.
Dalam psikologi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep growth mindset yang dikembangkan oleh Carol Dweck. Dweck menjelaskan bahwa individu yang memiliki growth mindset memandang setiap tantangan sebagai kesempatan untuk bertumbuh, bukan sebagai ancaman. Sebaliknya, mereka yang memiliki fixed mindset cenderung melihat perubahan sebagai sesuatu yang mengganggu zona nyaman.
Artinya, tahun ajaran baru bukan sekadar pergantian kalender akademik. Ia adalah kesempatan untuk membangun kembali cara berpikir. Bukan bertanya, “Kenapa liburan sudah selesai?” Tetapi bertanya, “Saya ingin menjadi pribadi seperti apa di tahun ajaran yang baru ini?”
Saya kemudian teringat sebuah permainan video yang sering dimainkan anak-anak. Setiap naik level, tantangannya selalu lebih besar. Musuhnya lebih kuat. Permainannya lebih sulit. Namun pada saat yang sama, pemain juga memperoleh kemampuan baru, pengalaman baru, strategi baru, bahkan perlengkapan baru.
Bayangkan jika setiap naik level, kemampuan pemain tidak pernah bertambah. Tentu permainan akan terasa sangat berat. Begitu pula kehidupan. Liburan seharusnya menjadi waktu untuk naik level, bukan sekadar berhenti bermain.
Sayangnya, banyak orang memandang liburan hanya sebagai waktu untuk “menghabiskan hari”. Padahal hakikat liburan adalah mengisi ulang energi agar kita kembali dengan kapasitas yang lebih besar.
Kalau setelah liburan semangat kita tetap sama… Disiplin kita tetap sama.. Pengetahuan kita tetap sama… Karakter kita tetap sama… Maka bisa jadi yang berubah hanya tanggal di kalender. Bukan kualitas diri kita.
Di sinilah menarik menghubungkannya dengan penelitian Angela Duckworth mengenai grit. Duckworth menemukan bahwa keberhasilan jangka panjang lebih banyak ditentukan oleh kombinasi ketekunan (perseverance) dan konsistensi terhadap tujuan daripada sekadar bakat. Orang-orang yang berhasil bukanlah mereka yang tidak pernah berhenti, melainkan mereka yang selalu mampu memulai kembali setelah berhenti.
Maka sesungguhnya, liburan bukanlah lawan dari produktivitas. Liburan justru bagian dari produktivitas itu sendiri. Seperti busur panah yang harus ditarik ke belakang sebelum melesat lebih jauh. Seperti baterai yang perlu diisi ulang sebelum kembali digunakan. Seperti petani yang memberi waktu tanahnya beristirahat sebelum musim tanam berikutnya. Jeda bukan tanda kemunduran. Jeda adalah persiapan. Namun persiapan yang baik selalu menghasilkan perubahan.
Karena itu saya sering bertanya kepada diri sendiri setelah sebuah liburan selesai.
Apa bekal baru yang saya bawa?
Apakah saya pulang dengan ide yang lebih segar?
Apakah hubungan saya dengan keluarga menjadi lebih hangat?
Apakah saya membaca buku yang memperkaya wawasan?
Apakah saya menemukan inspirasi baru?
Apakah saya kembali dengan semangat yang lebih besar?
Jika jawabannya “ya”, maka liburan itu telah menjalankan fungsinya. Namun jika tidak ada yang berubah, mungkin kita perlu mendefinisikan ulang arti sebuah liburan. Karena sejatinya, liburan bukanlah tentang berhenti. Liburan adalah tentang BERSIAP. Bersiap menghadapi tantangan yang lebih besar. Bersiap menjadi pribadi yang lebih matang. Bersiap naik ke level berikutnya.
Maka bagi para siswa, tahun ajaran baru adalah kesempatan menjadi pelajar yang lebih baik daripada tahun sebelumnya.
Bagi para guru, ini adalah kesempatan untuk kembali menginspirasi dengan semangat yang baru.
Bagi para orang tua, ini adalah kesempatan untuk kembali mendampingi perjalanan anak-anak menuju masa depan.
Dan bagi kita semua, ini adalah pengingat bahwa hidup memang membutuhkan jeda.
Tetapi hidup tidak pernah meminta kita berhenti terlalu lama. Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan ditentukan oleh seberapa lama kita beristirahat. Melainkan oleh seberapa siap kita bangkit setelah beristirahat.
Maka hari ini, izinkan saya mengucapkan sesuatu yang mungkin terdengar tidak biasa.
Selamat… liburan telah usai.
Saatnya mengayuh lagi. Saatnya belajar lagi. Saatnya bermimpi lebih tinggi. Saatnya naik ke level berikutnya. Karena hidup akan selalu memberikan kesempatan baru bagi mereka yang berani memulai kembali.
Dan seperti mengayuh sepeda… kayuhan pertama memang selalu yang paling berat. Tetapi justru dari kayuhan pertama itulah… seluruh perjalanan besar dimulai.
Referensi
Carol Dweck. Mindset: The New Psychology of Success. Random House, 2006.
Angela Duckworth. Grit: The Power of Passion and Perseverance. Scribner, 2016.
Mihaly Csikszentmihalyi. Flow: The Psychology of Optimal Experience. Harper & Row, 1990.
Stephen R. Covey. The 7 Habits of Highly Effective People. Free Press, 1989 (Habit 7: Sharpen the Saw).