
Selepas Subuh pagi itu, aku duduk di sebuah kursi dibawah tangga . Suasana rumah masih begitu tenang . Udara pagi terasa sejuk, sementara cahaya matahari perlahan mulai masuk melalui celah-celah jendela.
Di tanganku terbuka sebuah buku karya Stephen W. Hawking , Teori Segala Sesuatu : Asala-Usul Alam Semesta. Aku sedang asyik membaca dan mencoba memahami pemikiran Hawking tentang alam semesta–tentang bagaimana semuanya bermula dan bagaimana kelak mungkin akan berakhir.
Tiba-tiba, keheningan pagi itu terusik oleh suara pintu kamar yang berderit.
Kreeek..
Aku menghentikan bacaanku.
Sepertinya ada seseorang yang sedang mendorong pintu.
Aku perlahan memalingkan wajah ke arah suara itu.
” Oh…ternyata Ganesh.”
Cucuku yang perempuan, Ganesh Atiya Parikesit, baru saja keluar dari kamar. Dengan langkah kecil dan berlari-lari kecil menghampiriku , ia datang tanpa berkata apa-apa.
Sesaat kemudian, tubuh mungilnya sudah berada dalam pelukanku.
Ia memelukku dengan erat.
Akupun membalas pelukannya.
Buku yang tadi begitu menarik perhatiannku tiba-tiba terlupakan.
Aku tersenyum.
Dalam hati aku berkata, mungkin pagi itu aku sedang membaca tentang asal-usul alam semesta. Tetapi Tuhan justru menghadirkan kepadaku sebuah “alam semesta kecil ” yang jauh lebih dekat…seorang cucu kecil yang datang membawa kehangatan, kasih sayang, dan kebahagiaan.
Aku memandang wajahnya.
Betap sederhana kebahagiaan itu.
Tidak selau berupa sesuatu yang besar . Kadang ia datang melalui langkah-langkah kecil seorang cucu, lalu berhenti tepat di dalam pelukan seorang kakek.
Dan pagi itu aku kembali diingatkan bahwa di tengah luasnya alam semesta , ada hal-hal kecil yang justru membuat hidup terasa begitu berarti.
Kehangatan pelukan cucuku membawa rasa yang berbeda pada pagi itu. Ada kebahagiaan yang tiba-tiba memenuhi hati, datang dari dekapan tangan mungil yang begitu erat memelukku
Entah mengapa, tanpa terasa sudut mataku mulai basah.
Aku sendiri tidak tahu, apakah air mata itu karena bahagia, terharu, atau karena ada kenangan lama yang tiba-tiba mengetuk pintu hati.
Dalam pelukan Ganesh , tanpa terasa pikiranku melayang pada satu moment dibulan Agustus ini
Bulan ketika almarhumah istriku dilahirkan ke dunia, dari rahim seorang ibu yang begitu bijaksana dan penuh kasih selama hidupnya.
Aku terdiam.
Pelukan kecil Ganesh seakan membuka kembali lembaran kenangan yang selama ini tersimpan jauh di dalam hati.
Ada wajah yang kurindukan .
Ada suara yang sudah tidak kudengar .
Ada seseorang yang pernah berjalan bersamaku begitu lama, melewati suka dan duka kehidupan.
Almarhumah istri Siti Ida Subhiyah Ilyas …Alfatihah
Kini memang tidak lagi berada disampingku. Tetapi pagi itu aku merasa seolah-olah ada sesuatu dari masa lalu yang kembali hadir melalui pelukan cucuku
Aku memeluk Ganesh lebih erat.
Dalam hati aku berkata,
” Mungkin begitulah kehidupan. Orang-orang yang kita cintai boleh pergi, tetapi kasih sayang yang mereka tinggalkan tidak pernah benar-benar pergi.
Kasih sayang itu berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari seorang ibu kepada anaknya.
Dari seorang ibu kepada cucunya.
Dan pagi itu, melalui tangan mungil Ganesh, aku seperti sedang menerima kembali sepotong kehangatan dari seseorang yang sangat kurindukan .
Air mata tanpa terasa kembali menetes.
Namun kali ini aku tidak ingin menghapusnya.
Biarlah air mata itu menjadi saksi bahwa setelah puluhan tahun menjalani kehidupan, masih ada kenanagan yang mampu membuat seorang kakek bergetar.
Aku kembali menatap Ganesh.
Ia hanya seorang anak kecil yang mungkin belum mengerti mengapa kakeknya meneteskan air mata.
Ia hanya tahu satu hal :
Ia mencintai kakeknya dan ingin memeluknya.
Dan mungkin , justru dalam kesedarhanaan pelukan itulah , aku menemukan kembali makna kehidupan yang selama ini kucari dari buku-buku yang kubaca.
Aku membaca tentang luasnya alam semesta.
Tetapi pagi itu , melalui pelukan seorang cucu, aku kembali menemukan alam semesta di dalam hati manusia.
Bangka, 15 Agustus 2026.
Semoga kisah ini bisa kurangkai selanjutnya .